STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Belahan Jiwa


__ADS_3

Sambil menunggu Cantika mandi, Ares tersenyum sendiri. merasa bahagia kalau sekarang statusnya adalah calon suami Cantika, mereka juga berpacaran. Nikmat mana yang bisa Ares dustakan? Sampai senangnya, Ares ampai tiba tiba mengangkat tangannya ke udara. “Tuhan,” panggilnya.


“Ares sedang apa?” tanya Cantika yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Ares yang mengangkat tangannya ke udara.


Seketika Ares menegakan tubuhnya dan menggelengkan kepala. “Hanya sedang pemanasan saja,” jawab Ares dengan tatapan mata terpaku pada Cantika yang hanya memakai handuk melilit di tubuhnya. Sepertinya perempuan itu lupa membawa pakaian. Karena sekarang dia mengambilnya dari lemari dan melangkah kembali ke kamar mandi. Daripada berganti pakaian di walk in closet yang masih memperlihatkan siluet tubuhnyaa, Cantika mending ke kamar mandi saja lagi.


“Kenapa tidak ganti di sana saja?”


“Hah?”


“Tidak, lupakan apa yang aku katakan,” ucapnya memalingkan wajah.


Setelah apa yang Cantika lakukan dengan memutuskan Galuh, perempuan itu terlihat agak sensitive. Sepertinya dia khawatir dengan tanggapan Galuh, dan Ares memakluminya mengingat mereka sudah bersama dalam waktu yang tidak sebentar. Ares juga berniat untuk membuat Galuh kembali lebih cepat ke Indonesia supaya Cantika bisa berbicara dengannya secara langsung. Namun, Ares tidak memiliki kesempatan dikarenakan Cantika selalu ada di sekitarnya setelah tangisan tadi.


“Sudah siap?”


“Belum, Ares. Aku harus merapikan rambut dan berdandan dulu.”


“Kau sudah cantik, tidak perlu melakukan apapun lagi.”


“Tapi aku ingin terlihat lebih cantik,” ucapnya dengan suara murung.


Membuat Ares menyesal mengatakan itu. “Lupakan apa yang aku katakan, berdandanlah dan lakukan apa yang kau mau,” ucapnya dan memilih menunggu sambil sesekali memeriksa jam. Karena sebelumnya Cantika mengatakan kalau dia hanya akan bersiap sebentar, tapi kenyataannya dia begitu lama.


Dasa perempuan, batin Ares. Tapi sepertinya menunggu Cantika membuatnya merasa senang, karena dia bisa melihat bagaimana proses sang kekasih mendandani dirinya sendiri. semakin cantik dan menggemaskan.


Cantika yang sadar sedang ditatap itu segera mengalihkan pandangannya merasa malu, dia berdehem. “Jangan tatap aku dengan mata itu.”


Ares yang sedari tadi tersenyum mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya begitu saja, “Lalu? Aku harus melihatmu dengan mata kaki?”


“Ares?” cantika sampai berbalik dengan alis yang mengkerut, dirinya sedang sensitive. Tapi pria itu malah mengatakan hal itu?


Tapi sepertinya Ares yang sudah mulai merasa unggul itu kembali dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Karena sekarang dia melangkah mendekati Cantika, duduk di bibir ranjang dan menggenggam tangan sang kekasih. “Kau sudah terlihat Cantik dengan atau tanpa make up. Jika kau semakin cantik, semua mata di dalam diriku tidak bisa berpaling, bahkan mata kakiku.”


Ini romantic, tapi aneh. “Oke,” ucap Cantika menarik tangannya dan melakukan finishing pada wajah.


“Kita harus bergegas, aku takut kau kelaparan.”


Karena setelah sarapan, mereka akan berkendara di kota yang Indah ini. meninggalkan kenangan yang baik. Sengaja tidak meminta sarapan dibawa ke lantai atas karena mereka akan langsung pergi. Namun, Cantika menaruh kecurigaan ketika pria itu berulang kali mengatakan, “Ayo, cepat. Nanti kau kelaparan. Lambung itu inti dari kesehatan kita.” Sambil merangkul bahu Cantika.


Dan kecurigaannya terobati saat mereka sampai di resto, Ares reflex melepaskan rangkulan pada Cantika dan melangkah menuju ke bar dengan tulisan, Indonesian food. Dan Ares menatap jajaran pete, jengkol dan sambal di sana.


Benar bukan, bukan karena dia mengkhawatirkan Cantika saja, tapi juga mengkhawatirkan dirinya yang akan ketinggalan menu ini.


***


“Tidak apa apa, makan saja itu kalau kau mau,” ucap Cantika memaklumi Ares.


Namun pria itu menggelengkan kepala. Dulu dia pernah makan makanan itu dan membuat mulutnya bau bukan main. Itu semua gara gara Oma yang meengatakan kalau olahannya tidak akan pernah gagal. Tapi jujur saja, rasanya begitu enak.


“Tidak apa, Ares, kau menginginkannya?” tanya Cantika lagi.


“Tidak, Sayang, aku tidak menginginkannya, hanya mengerikan mengingat aku pernah memakannya. Dan itu gara gara Oma.”

__ADS_1


Focus Cantika adalah saat dirinya dipanggil sayang, terasa sangat menyenangkan sekali. Membuatnya malu malu menunduk dan mencoba focus pada makanannya sendiri. kenapa Cantika merasa dirinya kembali ke masa lalu dmana baru berpacaran dengan Ares? Karena sekarang Cantika yang menciut, merasa malu dan kecil. Sedangkan Ares sudah mengembalikan kepercayaan dirinya lagi dengan menaklukan Cantika hanya dalam waktu hitungan malam. Dia mengibaskan rambutnya berkali kali dan menyisirnya dengan tangan.


Haduh, Cantika lemah jika sudah seperti ini, makannya dia memilih memalingkan pandangannya dari Ares. Tampan dan keren.


“Coba makan ini. rasanya enak dan unik.” Ares menyauapi Cantika. Dan tidak ada kesempatan untuk Cantika menutup mulutnya. "Enak“kan?”


“Iya, enak.”


Damage Ares itu ketika dia melakukan hal hal manis dengan tingkahnya yang dingin! KERENNNN! Cantika suka.


“Aduh, kenapa cream nya masuk ke lubang hidung?” gumam Ares menusukan telunjuknya pada lubang hidung mengambil cream yang tidak sengaja menerobos ke sana.


Mengherankannya lagi untuk Cantika, kenapa dia sampai tidak ilfeel melihat Ares yang seperti ini? apa dirinya sudah benar benar jatuh ke dalam perangkapnya lagi?


“Apa semua pekerjaan sudah benar benar selesai?”


“Sudah, berhenti mengkhawatirkannya. Semuanya sudah selesai. Ini giliran kita untuk menikmati waktu di sini.” Ares meyakinkannya. Tadinya Ares ingin membawa Cantika kembali ke rumahnya, kini dengan statusnya sebagai calon istrinya. Namun Cantika ingin Ares mengatakan hal itu keepada kedua orangtuanya dulu, Cantika khawatir jika nanti akan langsung dinikahkan saat itu juga.


Cantika tau bagaimana kekuasaan seorang Fernandez yang bisa mengadakan pernikahan keesokan harinya. Dan dapat dipastikan keluarganya akan diboyong ke sini untuk pesta. Nenek dan Papanya pasti akan marah dan kecewa jika mendapatkan kabar mendadak seperti ini.


“Hanya ini yang mau kau kunjungi?” tanya Ares kembali memperlihatkan ponselnya.


“Ah, masih ada satu lagi. Lokasinya di sini,” ucap Cantika membuka ponsel dan memperlihatkan padanya. “Ini museum, aku ingin ke sana. boleh?”


“Tentu saja. kita akan bersenang senang sampai sore hari. Ayo, katakan lagi kemana kau ingin pergi di sekitar sini.”


“Aku punya satu gambar, katanya di daerah sini. tapi aku tidak tau. Mencarinya di google juga tidak ketemu.”


“Biar aku lihat.”


“Nah itu tempatnya, itu perpustakaan juga.”


Ares tersenyum kecut, tempat tempat yang ingin dikunjungi Cantika adalah tempat yang membuatnya mengantuk.


***


“Cantika, bolehkah aku mengganti namaku di ponselmu?”


“Hah?” Mereka baru saja sampai lobi, sudah menghentikan langkah karena kalimat yang Ares katakan barusan. “Mau apa?”


“Namaku, jangan hanya boss. Kita kan sudah berpacaran sekarang. Boleh ya?”


“Tentu,” ucap Cantika mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Ares. “Kau bisa menamainya sesuai yang kau inginkan.”


“Terima kasih, Sayang.” ares tersenyum dengan lebar kemudian merubahnya. Setelah itu mengembalikan pada Cantika dan keduanya kembali melangkah menuju motor yang sudah ada di sana. menunggunya. Si gagah merah dengan volet hitam. Wah ini lebih bagus dari yang dulu, Ares suka. Semoga saja dengan mengendarai motor akan mengingatkan Cantika pada perjuangan Cinta mereka di masa lalu.


“Ayo naik.”


“Sebentar, agak susah.”


Gemas juga melihat Cantika yang memiliki tinggi badan lebih pendek darinya yang kesusahan untuk naik, Ares membuka step untuk sang kekasih hingga dengan mudah dia berpijak pada benda itu. dia memeluk Ares sambil tersenyum, benar benar membawa Cantika untuk berwisata masa lalu.


“Siap?” tanya Ares yang dibalas anggukan oleh Cantika.

__ADS_1


Mesin motor dinyalakan, Ares melepaskan kupling perlahan dan motor berjalan. Namun baru juga satu meter, motor tiba tiba berhenti. “Ares, kenapa?”


“Kurasa karena aku sudah sangat lama tidak memegang motor seperti ini, terasa sedikit asing sekarang.”


“Ingin latihan dulu? aku bisa turun.”


“Jangan, aku sudah menguasainya sekarag,” ucap Ares menyalakan mesin motor kemudian kembali membelah jalanan. Untuk kali ini, Cantika agak tegang karena Ares bilang dirinya merasa asing menaiki motor. Namun semakin lama, Cantika semakin rileks. Dia tersenyum dan memeluk Ares dengan erat, menikmati perasaan yang bergemuruh di dadanya.


Mencoba untuk menyampingkan Galuh terlebih dahulu, Cantika tidak mau menjadi pembohong dengan mengabaikan perasaanya terhadap Ares. Dia bahkan memejamkan mata saat angina membelai rambutnya yang keluar dari helm. Menikmati aroma kota, tapi aroma tubuh Ares lebih mendominasi.


Baru juga Cantika sedang membayangkan kehidupannya ke depan, motor kembali berhenti. “Kenapa? masih asing lagi?”


“Kita sudah sampai, ini tempat yang tadi kau inginkan bukan? Tidak sangka akan mendapatkan perpustakaan ini di sini,” ucap Ares menatap bangunan tua di depannya.


Padahal Cantika ingin jalan jalan dulu, tapi dia turun karena Ares sudah melepaskan helm. Tempat pertama yang Cantika kunjungi adalah perpustakaan music. Di sana banyak memuat tentang buku buku music yang membuat maniknya berbinar. Dan dengan kekuasaan Ares, Cantika bisa membeli buku yang ada di sana. padahal peraturannya sangat jelas kalau buku hanya bisa dipinjam. Kekuasaan Ares memang tidak main main.


Untuk destinasi selanjutnya, Cantika meminta pada Ares untuk jalan jalan dulu saja tanpa turun dari motor. Tentu Ares akan mengabulkan dengan senang hati, dipekuk Cantika sepanjang perjalanan. Terkadang mereka bertukar pikiran saat melihat hal hal aneh di jalanan.


Sampai akhirnya Cantika merasa pegal, dia rasa ini waktunya untuk pergi ke museum. “Bagaimana kalau kita ke museum yang aku inginkan?”


“Apapun untukmu tuan putri,” ucap Ares membelokan motor secara tiba tiba yang berhasil membuat Cantika memekik pelan,


Sampai di sana, Ares membereskan rambut kekasihnya yang berantakan. Batas tinggi Cantika yang mungil membuat Ares gemas. “Ayo.” Menggenggam tangan Cantika dan masuk ke dalam.


Cukup terkejut saat melihat tempat itu sepi, Ares menelan salivanya kasar. dia mengeluarkan permen asam dari sakunya, mengingat tadi di perpustakaan saja mengantuk, apalagi di museum yang sepanjangnya adalah benda benda membosankan.


“Tuan Ares, senang bertemu dengan anda,” ucap sosok pengurus museum di sana. “Begitu saya mendengar anda akan datang, saya mengosongkan tempat ini khusus untuk anda.”


“Benarkah?” padahal Ares ingin ramai supaya dirinya tidak mengantuk. “Senang bertemu denganmu juga. Kenalkan, ini Cantika. Dia kekasihku, sekaligus sekretarisku.”


“Wah, benarkah? Saya mengirimkan email pada Nona sekretaris ini, apakah sudah sampai?”


“Ya ampun maaf, saya melupakannya. Saya belum mengirimkannya pada Tuan saya.”


Seketika Ares merangkul bahu Cantika. “Kami ke sini untuk berkunjung, bukan menjalin kerja sama. Hal itu bisa dibicarakan nanti. Sekarang, saya permisi dulu,” ucapnya kemudian membawa Cantika melangkah dari sana.


“Ares, aku akan mengirimkannya padamu ya, dia melakukan penawaran kerjasama yang bagus.”


“Lakukan saja.”


Tapi cantika tidak menemukan nama kontak Ares, padahal dia sudah mencari dengan kata, “sayangku.” “Kesayangan.” “Ares tampan.” “Cintaku.” Tapi tidak ada. “Ares, nama kontakmu apa?”


“Oh, kemari,” ucapnya mengambil ponsel Cantika dan memberikannya kembali setelah beberapa detik. Ares merangkul lagi sang kekasih.


Tatapan Cantika naik, melihat nama kontak Ares yang kini berubah menjadi emoticon hati, uang, wine dan hantu yang berjajar: ❤💸🥂👻.


“Ini apa artinya?”


“Artinya, aku adalah cintamu, uangmu, hidupmu dan jiwamu. Heheh, aku melihat orang orang di internet menamakan kontak kekasihnya dengan satu emotikon yang mewakili. Dan aku merasa, aku mewakili semuanya.”


“Tapi yang terakhir ini hantu.”


“Tidak ada emoticon jiwa. Hantu itu jiwa yang keluarr dari tubuh kan?”

__ADS_1


Cantika membuka mulutnya sambil mengadah heran menatap Ares yang begitu percaya diri mengatakannya. “Oke.” Akhirnya memaklumi Ares.


***


__ADS_2