
“Maaf, untuk hal itu aku belum berani memberitahumu kenapa aku pergi. Intinya, itu adalah kesalahan yang besar, jadi aku harus menyimpan semuanya untuk diriku sendiri.”
Cantika menatap tidak percaya pada pria di hadapannya. Daripada membicarakan masa lalu yang tidak kunjung selesai, Cantika memilih menghabiskan makanan di depannya. Sayang sekali jika makanan mahal ini terbuang begitu saja.
“Jadi, bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?”
“Setelah ini, anda ada pertemuan dengan teman anda. Jadi saya sarankan anda untuk makan lebih cepat, Tuan.”
Ares menarik napasnya dalam, dia tidak bisa melakukan apapun jika Cantika sudah seperti ini. “Aku tidak berani membangunkan singa yang tidur.”
“Anda mengatakan sesuatu?”
“Tidak,” ucap Ares segera memakan makanan di depannya. Sambil mengunyah, dia berbicara, “Berikan aku kesempatan satu kali saja, untuk membuktikan kalau aku bisa meluluhkan lagi hatimu, aku akan memperbaiki semuanya.”
Seolah tidak ada Ares di sana, Cantika terus memakan makanannya. Hingga akhirnya bagiannya selesai, Cantika mengusap bibirnya menggunakan tissue. “Kau sudah selesai? Makananku masih banyak. Ingin mencoba yang ini?”
“Saya akan menunggu diluar, Tuan,” ucap Cantika berdiri dari duduknya kemudian bergegas keluar dari ruangan itu. Satu helaan napas terdengar ketika Cantika keluar dari ruangan private, dia memilih untuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin kemudian terkekeh, sampai kapan dia bisa bertahan di dalam pendiriannya? Cantika membenci Ares, dia ingin sekali memukul pria itu.
Untuk menghalau perasaan itu datang lagi, Cantika menghubungi Galuh. Dia menghabiskan beberapa menit di kamar mandi perempuan untuk melakukan panggilan dengan pria yang katanya akan membuktikan kesungguhan padanya.
“Hallo, Galuh? Bagaimana kabarmu?”
“Cantika, aku baik baik saja. Kebetulan sekali kau menelpon, aku berada di zona sinyal sekarang.”
Cantika terkekeh mendengarnya, karena memang Galuh dipindahkan ke tempat yang sangat sulit sinyal hingga komunikasi diantara mereka sangatlah rancu.
“Bagaimana?” Tanya Galuh di sana.
__ADS_1
“Apanya?”
“Ares?”
“Menyebalkan, dia bilang ingin memulai semuanya dari awal lagi.”
“Lalu? Jawabanmu?”
“Aku harus konsisten padamu bukan? Kita sedang dalam masa percobaan?”
Galuh tertawa. “Yang aku takutkan adalah dirimu yang berpaling dariku, karena banyak menghabiskan waktu bersama dia.”
“Negative sekali pikiranmu.”
“Bilang saja padaku.”
“Bilang saja jika hatimu bukan milikku, akan lebih baik jika seperti itu. Tapi sebelum kau mengatakannya, maka aku akan berjuang untukmu,” ucap Galuh meyakinkan. Yang mana membuat Cantika tersenyum mendengarnya.
Dia juga berharap kalau hatinya tidak mudah luluh oleh Ares yang pada kenyataannya sudah menyakiti hatinya.
***
ares dituntut untuk bisa professional, dia harus bekerja dan mengelola perusahaan sementara pikirannya terpaku pada sekretarisnya yang sedang menjelaskan di hadapannya. Ares menelan salivanya berulang kali. Padahal Cantika di dalam balutan seragam yang biasa saja, tapi dia terlihat begitu menawan.
“Keputusan ada di tangan anda.”
“Terima kasih, saya akan meminta yang lain untuk mengambil alih.” Ares menerima berkas dari tangan Cantika. “Pekerjaanmu sudah selesai?”
__ADS_1
“Ada pabrik yang harus saya tinjau dan juga mengubah jadwal anda, mengingat saya mendapatkan pesan dari seketaris sebelumnya kalau anda harus ke dokter gigi.”
Ares terdiam seketika, dia memegang mulutnya. “Aku lupa,” gumamnya akan hal tersebut.
“Ada yang anda perlukan lagi, Tuan?”
“Tidak ada, kau bisa kembali bekerja. Terima kasih.”
Namun sebelum Cantika keluar, alarm di ponsel Ares lebih dulu berbunyi. Dia langsung tersenyum senang. “Waktunya pulang, ayo aku akan mengantarmu.”
“Terima kasih sebelumnya, silahkan pulang duluan. Ada beberapa hal yang harus saya kerjakan.”
Senyuman Ares langsung luntur seketika, apalagi saat Cantika melangkah pergi darinya sebelum memberinya kesempatan untuk berbicara.
Bergumam kesal sendirian di sana, Ares langsung menghubungi Samuel.
“Hallo, Boss?”
“Lu gimana sih? Kerja gak becus. Kan gue udah minta kalau lu harus saring dulu kerjaan sebelum nyampe ke Cantika, biar dia kerjanya dikit gitu. Lu kerja apa enggak sih?”
“Pak Bosss! Ini gue lagi di pelosok lagi bikin si Galuh itu banyak kerjaan!” teriak Samuel di sana. “Lu tau gak gimana sulitnya gue akusisi itu yayasan hah?! Sampe ke pelosok beginian juga! Mana harus sembunyi dari si Galuh! Lu tau gak gue masuk kali saking mau sembunyi dari dia biar gak ketauan! Mana gue nyamar jadi cewek buat bisa dengerin obrolan dia sama si Cantika!”
Ares berdehem karenanya, kemudian dalam satu tarikan napas dia berkata, “Dua millyar?”
Hening beberapa saat. “Baik, Tuan. Akan saya kerjakan, saya pastikan besok Nona Cantika tidak lagi mendapatkan pekerjaan bertubi-tubi.”
***
__ADS_1