STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Satu langkah lebih dekat


__ADS_3

Ares malu bukan main karena saat dia bangun, lampu bioskop sudah menyala. Yakin kalau dia sudah dari tadi tidur dan dilihat orang lain. Oh tidak, bagaimana dengan kondisinya ketika terlelap? Ares menjadi khawatir. Kasihan juga pada Cantika. Dia menatap sang kekasih yang masih memperhatikannya dengan manik bulat yang menggemaskan itu.


“Kenapa tidak membangunkanku sejak tadi?”


“Filmnya baru saja berakhir. Kau merasa bosan ya dengan film yang kita tonton?”


“Tidak juga, aku hanya mengantuk akibat lampu yang gelap,” ucapnya mencari alibi. “Ayo jalan jalan lagi. Sudah lama kita tidak melakukan ini kan?”


Cantika mengangguk, Ares bahkan tampan dengan upil yang ada di ujung matanya. “Tunggu sebentar,” ucap Cantika menahan tangan Ares kemudian tangannya terangkat dan membuang upil tersebut.


Ares terkejut bukan main. Ya ampun, seberapa memalukannya dia sejak tadi?


“Kau masih terlihat tampan.”


Namun melihat bagaimana respon Cantika, sepertinya dia sudah tersulap lagi dengan sosok Ares yang tampan dan juga menaklukan hatinya. Membuat Ares gemas sendiri dan memilih untuk merentangkan tangannya, dimana Cantika terkekeh dan langsung masuk ke dalam pelukan Ares. Rasanya begitu hangat dan nyaman.


“Sekarang kau mau kemana? Jangan terserah lagi, kau mau apa? Bilang padaku, Cantika.”


“Kurasa kita membeli dimsum dulu sebelum pulang bagaimana.”


“Boleh, mau dimana?”


“Di alun alun. Bagaimana?”


Alun alun itu padat, Ares tidak suka tempatnya. Pasti akan ada banyak jamet di sana, dia tidak siap. Namun demi sang kekasih, Ares mengangguk juga, dia akan mengajak Cantika pergi ke sana. dengan menggunakan sepeda motor, Ares membelah jalanan.


Sesuai dugaannya, alun alun begitu penuh dengan orang orang yang beraneka ragam. Kencan impian Ares adalah di sebuah tempat mewah dan melayani Cantika layaknya tuan putri. Untung saja dia tidak datang ke rumah kekasihnya dengan memakai jas, bisa bisa salah kostum dengan datang ke tempat seperti ini.


“Aku tidak tau tempatnya,” ucap Ares.


“Aku tau, ada di sana. kau pasti menyukainya, rasanya enak.”


Ketika Cantika hendak melangkah lebih dulu, Ares menahannya dan langsung menggenggam tangan sosok tersebut. tidak boleh berpisah, mereka harus bersama sama. “Aku khawatir kau hilang. Jangan jauh jauh dariku.”


“Aku tidak sekecil itu, Ares.”


“Kau kecil.” Ares terkekeh sambil menyeringai. “Aku hentak sedikit saja sudah berguncang seluruhnya.”


Plak! Cantika memukul bahu Ares dan menatapnya dengan kesal. “Jangan berbicara vulgar seperti itu,” bisinya dengan menahan rasa kesal.


“Tidak sabar untuk menikah denganmu. Ini adalah impianku, ayo kita buat tujuh anak. Bagaimana?”


“Berhenti mengatakan hal seperti itu.” pipi Cantika memerah karenanya. “Ayo nikmati saja mala mini.”


Sudah Ares katakana di sini ada banyak sekali hal hal yang aneh. Bahkan ada monyet yang diikat dan dijadikan pertunjukan, Ares sampai shock melihat hal seperti itu masih ada di sini. “Bukankah itu termasuk ke dalam tindak pidana karena ekploitasi hewan?”


“Ares mau pesan rasa apa saja?” tanya Cantika yang lebih focus pada dimsum yang akan dia pesan.


Namun mata Ares menatap terus monyet yang sekarang sedang beristirahat. Sampai mata mereka bertemu, Ares menyipit. Dia melihat monyet itu menantangnya hingga akhirnya Ares melotot karena kesal, dan itu berhasil membuat hewan tersebut langsung mundur kepada pemiliknya.


Ares terkekeh, “Aman, tidak akan ada yang mengganggu kita,” ucapnya.


Ketika menatap Cantika, Ares menaik turunkan alisnya. “Kenapa?”


“Tidak ada,” ucap Cantika kembali focus pada makanan di depannya. “Kau tidak banyak berubah ya.”


“Hmm, Daddyku bukan satria baja hitam. Jadi, darah setia kami tetap mengalir dan kami diciptakan menjadi orang yang sama untuk wanita yang kami cintai.”


Cantika hanya tersenyum dengan kaku kemudian mengangguk sendiri. “Oke,” ucapnya. Ketika Ares hendak memelototi lagi monyet di sana, Cantika segera menggenggam tangan Ares. “Perhatikan aku, ayo makan dulu.”


***


Mereka pulang sebelum tengah malam dikarenakan langit yang mulai meneteskan air mata. Enggan untuk basah basahan dan membuat masalah, Ares memilih mengantarkan Cantika pulaang kembali ke rumaah. Dalam perjalanan, mereka berbagi cerita. Khususnya Cantika yang mengatakan kalau Galuh mengajak bertemu jika nanti dia kembali. “Bisa kau menemaniku jika saat itu tiba?”

__ADS_1


“Tentu saja, aku akan menemanimu dan menjelaskan padanya. jangan khawatir, yang perlu disalahkan di sini adalah aku yang merebutmu darinya.”


“Kau tidak merebutku, aku belum menjadi miliknya,” ucap Cantika mengeratkan pelukan pada Ares.


Begitu sampai di rumah, hujan malah datang dengan deras hingga Cantika menarik Ares untuk masuk ke teras rumah. “Hujannya deras, mau berteduh dulu di sini?”


“Tidak, aku khawatir Papa dan Nenek akan berfikiran yang tidak tidak.” Apalagi lampu di dalam sudah mati, dipastikan mereka sudah tidur. “Aku akan memesan taksi online saja, motornya akan dibawa besok oleh asistenku.”


“Apa tidak apa apa?”


“Tidak apa apa,” ucap Ares mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut sang kekasih. “Terima kasih untuk malam ini.”


“Hmm, aku yang seharusnya berterima kasih, Ares.”


“Besok, kau mau kemana?”


“Entahlah, aku rasa di rumah saja menghabiskan hari bersama Nenek sebelum bekerja lagi.”


“Boleh aku mendapatkan pelukan? Aku khawatir besok tidak akan bisa datang ke sini karena ada beberapa hal yang harus dikerjakan.”


Cantika mendekat dan memeluk Ares, posisinya sebagai kekasih dan juga sekretaris rasanya membuat Cantika merasa terjebak. Karena tidak seperti sebelumnya dimana Cantika selalu mendapatkan tugas dari Ares. “Aku masih sekretarismu, Ares. Jangan lupa berikan aku tugas jika kau membutuhkannya.”


Ares terkekeh kemudian menganggukan kepalanya. “Tentu saja, kau tetap menjadi sekretarisku.” Hanya saja, Ares ingin nantinya Cantika berhenti bekerja jika sudah menikah dengannya. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk dirinya membicarakan hal itu.


Dia merangkup pipi Cantika, masih saja terasa mimpi mendapatkan lagi sosok ini. membuat Ares tidak tahan untuk menundukan kepalanya dan hendak mencium Cantika, dimana perempuan itu menutup matanya akibat debaran yang kencang. Ketika bibir mereka baru bersentuhan, suara pintu terbuka membuat keduanya kaget dan melepaskan diri satu sama lain.


Di sana Papanya menghela napas dalam. “Cantika, masuk ke dalam.”


“Papa…”


“Masuk. Papa mau berbicara dulu dengan Ares.”


Ares menatap Cantika seolah meyakinkan kalau dirinya akan baik baik saja. “Jangan khawatir, kalau aku mati, aku sudah menyiapkan asuransi atas namamu,” bisiknya pada Cantika yang berhasil membuat perempuan itu membulatkan mata.


“Tentu,” ucap Ares duduk di sofa yang ada di luar rumah, menatap hujan dan kegelapan di depannya. “Maaf pulang agak larut, tadi kami ke alun alun dulu.”


“Ares, apa kau serius dengan anakku?”


“Tentu saja, aku menginginkan Cantika menjadi istriku. Niatnya, aku akan membicarakan ini hari senin nanti. Tapi, aku rasa lebih baik sekarang saja.” ares mengatakan niatnya untuk menikahi Cantika bulan depan, dia akan membawa keluarganya datang ke Indonesia dan mengadakan pesta yang besar. Melihat raut wajah papanya Cantika membuat Ares khawatir, dia terlihat tidak setuju. “Apakah ada masalah?”


“Tidak, Ares. Aku tau kau bisa menjaga Cantika dengan baik. Dilihat sekarang juga, Cantika sepertinya sudah membuka hati dan tidak menutup nutupinya lagi. Akan lebih baik jika kalian bersama sebelum terjadi hal yang tidak tidak.” Sosok itu menarik napasnya dalam. “Tidak perlu ada acara pertunangan. Kalau kau dan keluargamu siap, lakukan saja pernikahannya bulan depan. Tapi sebelumnya, sebagai papanya Cantika, aku sangat berharap bisa bicara dengan kedua orangtuamu. Bisa mereka datang ke sini setidaknya sebelum kalian menikah?”


“Tentu,” ucap Ares dengan mata yang berbinar. “Saya akan membawa keluarga Fernendez ke sini untuk memperlihatkan keseriusanku.”


“Bagus. Cantika memang sudah cukup umur, aku pun ingin punya cucu.”


Mendengar hal itu, Ares jadi exited. “Tenang saja, Papa mertua. Cucumu akan bisa membentuk tim sepak bola.”


***


Cantika mendengar apa yang dibicarakan oleh Ares dan juga Papanya, senyumannya mengembang mendengar bagaimana Ares meyakinkan Papanya supaya bisa menikahinya. Pria itu memang konyol, tapi selama ini jelas sekali kalau Ares setia hanya padanya. belum pernah ada wanita yang menempel pada Ares kecuali dirinya saja.


“Sedang apa?”


“Hah! Hmmpphh!” cantika menutup mulutnya sendiri supaya tidak menimbulkan suara. Menatap Neneknya yang juga menunduk. Dia berbisik pada sosok itu, “Sedang mendengarkan percakapan Papa dan Ares, Nenek jangan berisik.”


Berakhir dengan sang Nenek yang ikut mendengarkan di sana. bahkan ikut tersenyum saat melihat Ares berpamitan dengan sopannya. “Beruntung sekali, apa yang kau lakukan di masa lalu, Cantika? Sampai Tuhan memberimu pria yang begitu tampan dan kaya.”


Cantika menggelengkan kepala.


Di sana, Papanya menghela napas lega setelah bicara dengan Ares, dirinya enggan untuk menunda lagi. Orang yang kasmaran biasanya akan melakukan hal hal diluar batas. Dirinya khawatir jika Cantika hamil lebih dulu, itu akan sangat mengecewakan.


“Huaa!” kaget ketika berbalik dan menatap ujung kaca, melihat Ibunya dan juga sang anak di sana. “Kalian sedang apa?”

__ADS_1


Cantika terkekeh, begitu juga Nenek. Dia langsung berkata, “Jadi akan ada pesta besar ya sebentar lagi?” begitu sang anak masuk ke dalam rumah.


“Kita hanya tinggal menunggu keluarga Ares saja. jika benar dia serius, keluarganya akan datang.”


“Tapi, Pa, bagaimana kalau keluarga Ares itu sibuk. Papa sendiri tau bagaimana mereka?”


“Meskipun mereka sibuk, mereka akan mementingkan hal ini karena Ares adalah anak pertamanya. Sudah jangan dipikirkan, Papa ingin melihat seberapa seriusnya Ares.”


Saking seriusnya Ares, begitu dia sampai di apartemen, dirinya mendapati Samuel yang tidur di sofa. Obyek yang bagus untuk Ares jadikan tempat minta tolong. Dia langsung mengguncang tubuh Samuel dan berkata, “Tolongin gue. Cepetan bangun tolongin gue.”


Tidak kunjung bangun, Ares kesal dan memilih untuk mengambil obat penurun panas miliknya. Samuel tidur denngan mulut terbuka, sebuah kesempatan bagus untuk memasukan tablet itu ke dalam mulutnya dan menunggu reaksinya selama beberapa detik. Sampai akhirnya.. “Hoekkk! Pahit!” teriaknya dan berlari ke kamar mandi.


Ares terkekeh, dia mengikuti dengan santai dari belakang. “Sam, mau ketemu sama Athena gak?”


Sosok itu sibuk muntah muntah di westafel.


“Bantuin gue ya, biar nanti keluarga gue pada ke sini. nah, kan nanti ada Thea, lu bisa kalau mau sama dia. Pendekatan gitu. Ya?”


Samuel tau obat dalam mulutnya itu ulah siapa, dia menarik napas dalam dan membalikan tubuhnya menatap tajam pada Ares.


“Kenapa lu liatin gue kayak gitu?” ares mengerutkan kening. “Kalau Cantika yang liatin sih wajar, kalau elu enggak. Udah jangan liatin, gue sadar kalau gue ganteng kok.”


“Ar, kayaknya Cantika bakalan kena musibah kalau nikah sama lu nantinya.”


***


Hari kerja tiba, Ares tersenyum lebar karena sudah menyampaikan keinginannya pada keluarga besarnya. Dia hanya tinggal menunggu respon, karena semuanya saling berkata, “Sebentar, dilihat dulu apakah ada agenda atau tidak. Tapi akan kami prioritaskan dirimu, jangan khawatir.”


Meskipun ada agenda besar, tapi Ares yakin kalau dirinya akan diprioritaskan oleh mereka. oma sendiri, Ares tidak bisa menghubunginya. Daddy nya bilang Oma sedang melakukan treatment lepas dari media social dengan pergi bersama temannya dalam komunitas Yoga. Karena beberapa hari terakhir ini, Oma memang selalu meng-update apapun yang ada di depan matanya. Bahkan story Oma di instagram sudah seperti semut.


Ketika Ares sampai di basement, dia buru buru melangkah ke ruangannya. Cantika bilang dirinya sudah tiba ketika Ares hendak menjemputnya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya. “Cantika,” panggilnya dari ujung koridor, membuat Cantika kaget dan menoleh pada Ares yang berjalan padanya dengan senyuman lebar. “Kenapa tidak menungguku? Aku ingin bersama denganmu. Lain kali, tunggu aku. Jangan begitu.”


“Ares, ayok professional di tempat kerja. Aku tidak nyaman jika ada yang tau kalau kita menjalin hubungan. Lebih baik, kita simpan untuk diri kita sendiri ya. bersikap layaknya atasan dan juga bawahan. Bisa?” tanya Cantika. Dirinya sudah tidak disukai keberadaannya di sini. statusnya dengan Ares juga dikhawatirkan akan membuat citra Ares buruk. “Nanti saja jika kita sudah menikah mengumumkannya ya.”


“Oh, ingin main rahasia rahasiaan dengan mereka?”


“Bukan begitu. Aku hanya tidak nyaman saja.”


Ares mengangguk menghargai keputusan Cantika. “Tentu saja, lakukan apapun yang membuatmu nyaman. Aku tidak masalah.” Bersikap cool dan tenang seperti inilah yang selalu membuat Cantika terpesona dengan Ares, apalagi ketika tangannya terulur menyentuh rambut Cantika. “Sudah makan?”


“Sudah, tadi aku berangkat dari rumah Nenek.”


“Ahh, iya. Orangtuaku akan memberikan jawabannya hari ini. mereka akan datang ke rumahmu secepatnya.”


Cantika mengangguk dengan senyuman yang membuat Ares ingin segera menerjangnya, tapi dia mencoba untuk tetap waras. Dimana Cantika juga demikian, dia melepaskan tangan Ares dari kepalanya dan berkata, “Lekaslah masuk, periksa berkas yang sudah aku siapkan.”


“Okay.” Ares mengecup pipi Cantika sebelum masuk. Dengan semangat penuh, Ares mengerjakan pekerjaannya. Kini tidak ada lagi malas malasan, Ares akan membuat Cantika bangga dengan pencapaiannya.


“Pemanasan dulu sebelum rapat rapat yang lainnya,” ucap Ares membuka jasnya.


Tadi pagi dia tidak sempat olahraga, jadi dia melakukannya di sini. push up, sit up. Merasa bebas karena Ares membawa baju ganti sendiri. jadi tidak masalah jika nanti berkeringat.


Setelah setengah jam berolahraga, Ares terdiam sejenak dan menyentuh perutnya. Ini dia puncak dirinya mendapatkan kenikmatan, yaitu saat kentut keras hingga menimbulkan suara yang kuat juga bau yang menyengat. “Bau uang,” ucapnya karena dengan sehatnya Ares, menghasilkan banyak uang.


Cantika mengetuk pintu. Ares sedikit panic dan langsung memakai jasnya, menyeka keringatnya sebelum mengatakan, “Masuk.”


Dimana Cantika memberikan senyumannya dan masuk. “Ada surat masuk, ini dari kampus yang mengadakan seminar dan menginginkanmu menjadi pematerinya.”


“Terima kasih, Cantika.”


Di sana, Cantika mengendus sekitarnya kemudian berkata, “Ares, sepertinya ada bangkai cicak di sini. baunya busuk sekali.”


“Oh iya, aku juga menciumnya,” ucap Ares melupakan dirinya baru saja kentut.

__ADS_1


__ADS_2