STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Kencan Malam


__ADS_3

Istirahat di rumah, Ares dan Cantika hanya bertukar kabar lewat pesan dan juga telpon. Ares ingin sekali mengajak Cantika keluar, tapi sayang juga jika kekasihnya ini kelelahan akibat sering melayaninya jika jalan jalan keluar dengannya. Inginnya sih Ares keluar. Hei! Malam minggu masa di rumah saja. Tiang listrik juga di luar. Apalagi melihat postingan postingan galau untuk jomblo. 


"Tapi aku bukan jomblo lagi. Aku sudah punya kekasih sekarang," Ucapnya berdecak pada ponselnya sendiri dan memilih untuk makan malam setelah makanannya datang. 


Senin nanti, Ares akan mengatakan kepada orangtua Cantika tentang keinginannya untuk menikahi sosok itu. Tau kalau ini terlalu terburu buru. Tapi Ares benar benar sudah tidak bisa lagi menunda kebahagiaannya. Dia ingin segera memiliki keluarga bersama dengan Cantika sesuai dengan impiannya, menetap di Indonesia juga menguasai harta sang Daddy. 


"Hoammmm! Haruskah aku mengajaknya keluar? Tapi aku takut kalau dia masih lelah," Ucapnya seperti itu. 


Memberanikan diri, Ares melakukan video call ketika dirinya sedang makan. Menunggu sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut. "Kenapa dia tidak mengangkatnya? Apa sedang sibuk? Belum beres memasak?" Ares bertanya tanya sendiri. 


Sampai akhirnya suara sering menunggu tidak lagi terdengar, Ares langsung mengatakan, "Hallo Cantikku, maaf aku mengganggumu ya," Ucapnya sambil menyuapkan makanan ke mulut. Saat Ares menoleh pada layar ponselnya… "uhuk! Uhuk! Uhuk!" Terbatuk batuk mengetahui siapa yang mengangkatnya. 


"Ya ampun, Ares. Kau tidak apa apa?"


"Nenek! Uhuk! Uhuk!" Serius! Ares kaget melihat wajah Nenek yang full di layar ponselnya. "Bisakah Nenek memundurkan wajah Nenek dari layar ponsel? Ini membuatku kaget."


"Ya? Kenapa menghubungi Cantika."


Kini Ares malah melihat telinga Nenek, sepertinya sosok itu mendekatkan speaker pada telinga. Ares menarik napasnya dalam. "Cantika dimana, Nek? Aku ingin mengajaknya jalan jalan mengingat ini malam minggu. Tapi kalau Cantika sedang beristirahat, aku tidak akan memaksanya."


"Tidak, dia sedang makan di dapur sambil menonton televisi. Datang saja ke sini ya. Dia pasti mau karena tadi dia ingin jalan jalan."


"Benarkah?" Ares bertanya dengan antusias. 


"Ya, datang saja ke sini. Berhentilah menerka nerka, dia sama sekali tidak kelelahan dan mau kau ajak keluar."


"Baiklah. Aku akan segera datang ke sana." Ares mematikan panggilan dan langsung menghabiskan makan malamnya. 


Seperti biasa, dia mandi dengan sabun yang berulang kali dia gosokan pada tubuh. Demi mendapatkan pelukan dari Cantika, Ares memilih menggunakan motor. Dia suka ketika dadaa Cantika menempel pada punggungnya. Membuat Ares merasa hangat apalagi ketika menaikan gas, Cantika memeluknya dengan erat. 


Begitu Ares keluar dari apartemen, bertepatan dengan Samuel yang hendak mengetuk nya. "Lu mau kemana?"


"Malam mingguan. Emangnya lu jomblo."


"Lah, terus ini kerjaan gimana? Gak mau lu cek?"


"Simpen aja di dalem. Gue mau berangkat."


"Ar, boleh ikut gak? Gue boring di sini."


"Gak ada," Ucap Ares dengan tajam. "Tunggu di sini. Jangan ganggu gue. Gue mau malam mingguan. Dasar Jomblo," Ucapnya meledek. 


Samuel hanya tersenyum, dia menarik napasnya dalam. Jika saja Ares yang dia katai seperti itu, maka dia yakin dirinya tidak akan hidup lagi. 


"Tapi jangan deh, lu mending simpen berkas terus abis itu pulang. Ngerti gak?"


"Iya, ngerti kok, Pak Boss."


Sebelum Ares pergi ke rumah Nenek, dia membeli dulu martabak. Supaya terlihat khas pria yang akan mengajak malam mingguan kekasihnya. 


"Martabak rasa apa, Mas?" Tanya sang tukang martabak ketika Ares mempir. 


"Rasa sayang ada, Mang?"

__ADS_1


"Maaf, Mas. Saya masih normal," Ucapnya memundurkan langkah ketakutan melihat Ares yang tersenyum sejak tadi. 


Benar benar antuasias dengan malam mingguan pertama setelah sekian lama, Ares sampai tidak waras seperti ini. 


***


Cantika sedang berbaring di atas kasur lantai. Bernostalgia masa lalu dengan menonton TV, sambil makan goreng pisang dan kaki yang terangkat ke dekat rak TV. Malam minggu yang nikmat. 


Sebenarnya Cantika berharap dirinya diajak keluar oleh Ares. Tapi Cantika sadar kalau pria itu memiliki banyak pekerjaan yang membuatnya tidak bisa fokus hanya pada dirinya saja. "Nenek, Papa bilang akan pulang jam berapa?"


"Nenek tidak tau. Nenek pikir, Papamu akan menginap diluar."


"Kenapa Papa terus saja bekerja walaupun di akhir pekan?"


"Kita semua butuh uang."


Kalimat yang berhasil membuat Cantika mengembangkan pipinya. "Cantika akan menghasilkan banyak uang, jadi Papa tidak usah bekerja lagi."


"Sebenarnya Papamu hanya bosan di rumah, kau tau dia punya tabungan. Berdiam saja malah mengingatkannya pada Mamamu. Jadi biarkan saja," Ucap sang Nenek sambil membuka tirai dan mengintip keluar


Yang mana membuat Cantika curiga. "Kenapa Nenek terus mengintip? Apa Nenek sedang menunggu seseorang?"


"Tidak ada." Menjawab seperti itu. Sengaja tidak memberitahu Cantika kalau Ares akan datang. Karena Nenek penasaran apa yang akan dibawa Ares, apakah sama seperti sebelumnya. "Cantika kenapa kau tidak keluar bersama dengan Ares?"


"Dia mungkin sedang sibuk. Aku tidak mau mengganggunya."


"Ya ampun, kalian berdua sama saja," Gumam Nenek seperti itu. Sampai akhirnya senyuman Nenek mengembang ketika melihat sebuah motor memasuki pekarangan rumah. "Itu dia datang."


"Nenek lupa memberitahumu, tadi dia menelpon dan mengajakmu untuk keluar. Nenek mewakilimu mengatakan iya."


"Nenek! Bahkan Cantika belum bersiap."


"Maka kau harus segera bersiap. Sana cepat."


Cantika mendengus kesal karena Neneknya mengatakan secara tiba-tiba setelah Ares berada di sini. Dia berlari ke kamarnya untuk memeriksa ponsel. Dan benar saja, kalau ternyata di sana ada panggilan dari Ares yang terjawab. 


Sementara itu, manik Nenek berbinar ketika melihat Ares datang dan membawakan makanan yang banyak di sana. "Hallo, Nenek. Dimana Cantika?"


"Sedang bersiap. Tadi Nenek memberitahunya secara mendadak."


"Apakah dia marah atau merasa terganggu?" Tanya Ares khawatir. 


"Tidak, dia suka kejutan. Dia masih sama seperti sebelumnya, Ares." Mata Nenek berbinar, dia mencium aroma martabak di sana. "Itu untuk Nenek?"


"Tentu saja. Ini untuk Nenek. Ini juga ada beberapa makanan yang lain." Ares duduk ketika dipersilahkan. Sudah lama sekali dirinya tidak menunggu Cantika di sini. 


Rumah tua yang menjadi saksi bisu bagaimana hubungannya dengan Cantika dahulu, masih apik berdiri sampai sekarang. 


"Cantika akan keluar sebentar lagi. Tunggu saja ya. Nenek akan ke belakang dulu. Kau sudah makan?"


"Sudah, Nek."


"Nenek akan makan sup iga darimu. Kau benar benar cucu menantu idaman yang mengetahui apa yang Nenek butuhkan." Nenek melangkah pergi meninggalkan Ares sendirian di ruangan itu. 

__ADS_1


Karena tau jam dandan Cantika cukup memakan waktu, Ares merebahkan dirinya di atas sofa. Baru juga dia mendesah nyaman di atas sofa, Cantika lebih dulu keluar dari kamarnya dengan penampilan yang begitu lucu. Persis seperti saat dirinya sedang SMA. "Ya tuhan, apa aku baru sedang memimpikan bidadari?"


"Berhenti mengatakan hal aneh," Ucap Cantika malu malu. "Ayo berangkat."


***


Mengendarai motor dengan Ares, Cantika senang bukan main karenanya. Dia memeluk pria itu erat, merasa jiwanya kembali lahir setelah ditinggalkan Mama dan juga Kakeknya. "Kita mau kemana?"


"Kau mau kemana? Aku akan ikut kemanapun kau ingin pergi."


Yang mana membuat Cantika terkekeh. "Datangi tempat yang akan membuatku terpukau. Kau yang mengajak. Kau sendiri yang harus berfikir kemana ingin pergi."


"Mau makan?"


"Ares aku bisa gendut kalau makan terus."


"Astaga baiklah. Bagaimana kalau menonton? Jalan jalan di mall?" Jujur saja Ares sendiri bingung kemana akan membawa Cantika pergi karena ini pertama kalinya mereka jalan jalan lagi. Tempat yang indah belum disiapkan oleh Ares. Harusnya dia menyewa tempat memang, yang indah dan akan membuat Cantika terpukau. 


"Terserah"


"Aku khawatir kalau aku mengajakmu ke suatu tempat, kau tidak akan menyukainya. Jadi katakan kemana kau ingin aku bawa sekarang?"


"Terserah."


Bukannya kesal, Ares malah senang mendapatkan kata itu. Karena seperti inilah orang yang berpacaran, akhirnya Ares merasakan lagi euphoria itu bersama dengan Cantika. Dia suka bukan main mendapatkan jawaban terserah. 


"Kita menonton ya? Bagaimana?"


"Boleh"


Karena Cantika pecinta musik, Ares mengajaknya untuk menonton drama musikal yang sedang tayang di seluruh bioskop. Dia memesan tempat yang ada di belakang supaya bisa saling berpegangan dan melakukan hal yang lebih. 


Dari covernya, Ares merasa kalau ini film romantis. Yang pastinya nanti akan ada adegan romatis yang menyulut perasaan Cantika juga dirinya. Biasanya jika seperti ini, keduanya akan berakhir berciuman. 


"Kenapa kau terlihat tegang?" Tanya Ares pada sang kekasih. 


"Mereka bilang kalau film ini menegangkan, aku jadi tidak sabaran."


"Benarkah? Bukannya ini film romantis."


Cantika menggeleng, membuat Ares merasa lesu ketika masuk ke dalam bioskop dan menghadapi kenyataan kalau ini memang bukan film romantis. Di sana hanya ada orang orang yang sedang menyanyi, kemudian kisah kisah  tragis dan menyedihkan melanda si peran utama. Yang mana membuat Ares menghela napasnya dalam. Kapan ada adegan ciuman? 


"Apa tidak ada adegan ciuman?"


"Hah? Ares jangan berisik," Ucap Cantika tanpa mengalihkan pandangannya dari film yang membuat dia sangat tertarik. Senyumannya bahkan sampai terlihat ketika dia melihat bagaimana adegan intimidasi dimulai. Ares merasa dirinya ditinggalkan. Tapi bagaimana lagi, dia tidak mau Cantika menjadi bosan dan kesal karenanya. Jadinya dia diam saja dan menunggu Cantika selesai menikmatinya. 


Lama lama, Ares mengantuk juga. Dia memejamkan mata sejenak dan yakin akan bangun sebelum film beres nantinya. 


Namun kenyataannya, sampai film beres pun Ares tetap memejamkan matanya. Bahkan ketika lampu dinyalakan dan Cantika sadar kalau Ares sejak tadi tidak bicara, ternyata saat menoleh dia mendapati Ares yang tidur sambil bersandar dengan kepala mengadah hingga membuat mulutnya terbuka dan sedikit keluarnya air liur dari mulutnya. 


Membuat Cantika menatapnya dalam, dia menyeka air liur itu dengan sapu tangan di tangannya. Tersenyum dan mengatakan, "Ya ampun tampan sekali," Ucap Cantika tanpa sadar. 


***

__ADS_1


__ADS_2