
Ares paham, Nenek dan Papah mertuanya begitu hati hati dengan Aeri karena dia adalah anak pertama Cantika. Bahkan disayangkan, Ares juga merasa kasihan jika Papa mertuanya sampai bergadang untuk menjaga Cantika.
Ketika Cantika akan dibawa pulang ke apartemen, akhirnya dia orang itu mengatakan, "Maaf ya, Nenek tidak bisa ikut. Tapi Nenek akan sering berkunjung."
"Papa juga. Ada banyak pekerjaan. Nanti kalau sudah selesai, Papa akan mengunjungimu lagi."
Cantika mengangguk tanpa berhenti menepuk nepuk pantat anaknya. "Jangan khawatir, kami punya pengasuh dan pembantu yang akan membantu. Papa dan Nenek jaga kesehatan. Jangan terlalu memikirkan Cantika."
Ketika pada Cantika berkata dengan penuh kelembutan, berbeda pada Ares yang sangat tegas. "Ingat apa yang Nenek katakan, Ares. Kau harus berada di samping Cantika ya? Dan tentang bagaimana mengurus anak."
"Nenek." Cantika membela sang kekasih dengan mengatakan. "Ares sudah lelah mencari uang. Jangan membebaninya dengan hal lainnya lagi. Sudah ada pengasuh dan juga pembantu yang nantinya meringankan pekerjaan Cantika."
"Tenang saja, Nek." Ares yang kini mengatakannya sambil merangkul bahu sang istri. "Aku ini seorang Fernandez, yang memiliki banyak uang dan juga hal hal ajaib lainnya. Contohnya, Cantika saja menjadi milik Ares."
"Udah jangan ngomong lagi." Cantika malah malu karenanya.
Dia sudah bisa berdiri, sudah bisa menggendong Aeri sambil berjalan jalan. Setelah sebelumnya memeluk Nenek dan Papanya. Mereka berdua bahkan mengantarkan Cantika ke basement. Dimana Ares yang akan membawa pulang perempuan cantik selain istrinya bernama Aeri.
Ketika sampai di basement, Cantika cukup terkejut. Begitupula dengan Nenek dan Papanya yang melihat limosin di sana. papanya Cantika sampai terbatuk batuk dan bertanya, “Ares, kenapa ada limosin di sana?”
“Itu untuk membawa Aeri pulang, Papa Mertua. Dia harus mendapatkan yang terbaik.” Kemudian tatapannya beralih pada anak yang ada di dalam gendongan Cantika, dia mengatakan, "Selamat datang, Anak Papa. Selamat menikmati fasilitas sebagai seorang Fernandez.” Dengan senyuman yang manis dan mencium pucuk kepala sang anak.
Cantika tidak bisa berkata kata, begitupula dengan Nenek.
“Apa ini tidak berlebihan?” tanya Papa mertuanya.
“Tidak ada yang namanya berlebihan,” ucap Ares masih dengan wajahnya yang membanggakan diri. “Aku sengaja melakukannya supaya Aeri terbiasa dengan semua kemewahan seorang Fernandez ini.”
Cantika hanya tersenyum, sepertinya pola asuhnya dan Ares akan agak lain. Namun, bukan hal yang tepat untuk diperdebatkan sekarang. Jadi Cantika menggandeng tangan Ares dan membawanya masuk setelah berpamitan kepada orang orang terkasih.
Hal mengejutkan lainnya, di dalam limosin itu banyak sekali makanan yang dikhususkan untuk ibu menyusui. “Aku sengaja mengumpulkan makanan makanan yang baik untukmu, juga untuk kesehatanmu, Sayang. kau boleh makan, Aeri bisa aku gendong.”
Cantika menggeleng. “Tidak apa, aku sudah kenyang.”
“Ya ampun, tapi aku sudah menyiapkan semuanya. Masa tidak mau dicicipi sedikit?”
Kasihan juga pada sang suami, akhirnya Cantika memberikan Aeri pada sang suami dan memakan salah satu biscuit. Enak, Cantika juga suka diperlakukan layaknya Tuan Putri, tapi dia tidak suka semua yang berlebihan. Maka dari itu, Cantika mengutarakan pendapatnya untuk meminta Ares tidak membeli hal hal yang berlebihan. “Aku khawatir jika aku tidak menyukai beberapa biscuit di sini, maka mereka akan dibuang sia sia.”
“Tentu tidak, kita akan memberikannya pada orang lain.”
“Ares,” rengek Cantika. “Aku tidak terbiasa dengan semua kemewahan ini. membuatku…. Merasa berbeda.”
“Tidak apa, kau harus terbiasa. Aku juga punya batasan, Sayang. jangan khawatir, aku tidak akan mendidik Aeri menjadi sosok yang manja dan tergantung dengan asset orangtua. Akan aku bentuk karakternya supaya dia bisa dengan mudah menolak laki laki, dia tidak akan mudah tergoda oleh laki laki manapun. Pokoknya, Aeri akan hidup sebagai sosok yang berbeda.”
Yang mana berhasil membuat Cantika terkekeh, dia mengelus pipi Ares dan mengecupnya. “Bukan hanya kau yang khawatir dengan masa depannya. Tidak apa apa, kita memiliki satu sama lain.”
***
Begitu sampai di apartemen, Cantika merasakan atmosphere yang berbeda. Dulu dia masuk dengan kondisi perut yang besar. Kini, dia pulang dengan bayi yang sudah ada di pangkuan suaminya. Terasa ada yang berbeda dan hilang darinya. Cantika merasa kosong di bagian perutnya, sebuah keajaiban sekali dirinya mengandung selama Sembilan bulan dan lahirlah sang malaikat.
“Duduk dengan pelan pelan, Nona.” Sang pengasuh di sana membantu Cantika untuk duduk di sofa. Meskipun sudah bisa bergerak dengan leluasa mengingat Ares menyiapkan perawatan terbaik untuk sang istri, tetap saja Cantika masih merasakan ngilu di beberapa titik. “Nona membutuhkan sesuatu?”
“Buatkan saja susu hangat ya, Bi. Terima kasih.” Kemudian tatapannya jatuh pada Ares yang kini duduk di sampingnya sambil menggendong Aeri. Bayi itu terlihat nyaman di pangkuan Ares, bahkan tidurnya tidak terganggu sama sekali padahal suara televise cukup keras. “Aku akan menyusuinya, berikan padaku.”
“Tentu, Sayang.”
Mata Ares pun tidak bisa lepas dari sosok mungil itu. jatuh cinta padanya, melihat bagaimana klonning dirinya dalam bentuk perempuan. Cantik sekali.
“Kapan Mommy akan ke sini pastinya?”
“Um, disegerakan,” jawab Ares mengingat jadwal keluarganya terus saja bentrok.
“Katakan pada mereka tidak perlu datang semuanya jika memiliki kepentingan.”
“Tidak bisa, Cantika. Ini anak pertamaku, mereka harus datang ke sini dan melihat betapa premiumnya bibitku karena menghasilkan anak yang begitu cantik.”
__ADS_1
Kalimat yang menurut Cantika vulgar itu berhasil membuat si istri menatap tajam pada Ares. “Jangan mengatakan hal itu secara sembarangan. Kau lupa di sini ada pembantu dan yang lainnya.”
Ares mengangkat bahunya. “Mereka akan terbiasa.”
Inilah alasan Cantika yang terkadang enggan memiliki seseorang yang bekerja di dalam apartemennya. Mereka memiliki batasan. Namun mengingat Aeri yang membutuhkan orang lain, Cantika juga perlu belajar menjadi orangtua, itu menjadi bahan pertimbangan.
Sampai terdengar bel pintu, sang pembantu yang sudah memberikan susu pada Cantika itu segera membukanya. “Hallo, Tuan Samuel.”
“Hallo, aku datang untuk menjenguk keponakanku,” ucapnya dengan membawa buket.
Ares mendengar suara sosok yang tidak asing, dia berjalan menuju Samuel yang tersenyum di sana. “Gue pengen liat Aeri.”
“Jangan bocorin apapun.”
“Ya ampun kagak, emang gue keliatan ember? Itu sih elu,” ucap Samuel kemudian mendorong pelan tubuh Ares supaya dirinya bisa melangkah masuk mendekati Cantika dengan bayi cantiknya. “Cantika, maaf aku baru datang ya. ares memberikanku pekerjaan yang cukup jauh dan berat.”
“Ya ampun, apa kau kesusahan?”
“Lumayan, tapi sebanding dengan uang yang dia berikan,” ucap Samuel menyimpan buket di meja. “Selamat sudah menjadi Ibu ya.”
“Terima kasih.”
“Dia sangat cantik, mirip dengan Athena.”
“Dia mirip denganku,” ucap Ares tidak terima.
***
Malam pertama bersama dengan sang anak yang ada di kamar mereka. baik Ares maupun Cantika setuju kalau anaknya akan tidur di boxnya sendiri, tapi box itu diletakan di dalam kamar mereka sampai setidaknya usia Aeri satu bulan untuk dipindahkan ke kamarnya sendiri. membiarkan sang anak beradaptasi dengan box kecil yang mengelilingi tubuhnya.
Untungnya, Aeri seperti kehamilan Cantika yang tidak rewel. Bayi itu mudah ditidurkan dan tidak ada drama menangis. Si kecil hanya menangis ketika dirinya haus saja, atau popoknya yang penuh.
Peran pengasuh di sini juga tidak sepenuhnya mengambil alih. Cantika mengerjakan semuanya sebisa dia, jika sudah merasa lelah dan butuh bantuan, baru pengasuh campur tangan. Mungkin yang tidak Cantika lakukan sekarang adalah menyiapkan barang barang bayi, menyeduh susu untuknya sendiri dan beres beres seperti yang selalu Cantika lakukan sebelumnya.
“Sayang, kakimu akan pegal. Kemarilah tidur,” ucap Ares yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati sang istri yang tengah menatap dalam sang anak. “Dia tidur nyenyak kan?” mendekat untuk memeluk Cantika dari belakang. Melihat obyek yang sama yaitu anak mereka.
“Iya, dia mirip denganmu.”
“Kau bilang dia mirip denganmu, bukan denganku,” ucap Cantika yang berhasil membuat Ares tertawa.
“Ya, dia mirip denganmu, gendernya saja.”
Yang berhasil membuat Cantika menyikut perut Ares dengan kesal.
“Ayo tidur, kau pasti kelelahan seharian ini.”
Cantika menurut ketika dia ditarik oleh Ares dan dibaringkan dengan pelan di atas ranjang. Sampai Cantika ingat, dia harus mengoleskan gel ke perutnya untuk menyamarkan luka. Dimana Cantika sudah melakukannya secara rutin sejak beberapa bulan belakang ini. namun, sekarang dia merasa malu jika melakukannya. Ares akan melihat bagaimana perutnya rusak.
“Oh iya, aku lupa kau belum mengoleskan gel.” Ares malah ingat dan beranjak untuk mengambil gel tersebut di nakas. dia duduk di samping sang istri dan berniat menyingkab pakaian yang dikenakan Cantika. “Kenapa?” tanya Ares saat Cantika menahannya.
“Aku malu.”
“Malu kenapa?”
Cantika mengalihkan pandangan dengan tangan yang tetap menahan Ares supaya tidak menaikan bajunya.
“Karena strechmark?”
Keterdiaman Cantika menjawab semuanya.
“Sayang, apapun yang aku lihat, itu adalah hasil perjuanganmu merawat anak kita. Tidak perlu malu.”
“Nanti kau jiji.”
“Bajjingan apa yang merasa jijik dengan istrinya yang sudah menanggung beban selama Sembilan bulan? Merasakan kesakitan dan juga mempertaruhkan nyawa?”
__ADS_1
Kalimat itu berhasil membuat manik Cantika berkaca kaca, dia menatap Ares dalam. Pria itu memperlihatkan kesungguhannya. “Buka bajunya ya, biar aku oleskan.”
Akhirnya, dengan berat hati Cantika melepaskan pegangan tangannya. Membiarkan Ares menatap lama bekas kehamilannya yang di mata Cantika sendiri terasa menjijikan. “Terlihat lebih jelas setelah melahirkan karena perutnya menjadi kosong seperti ini.”
Cantika pikir, Ares akan memberikan respon yang sama dengan pemikirannya. Tapi, pria itu malah menudnukan kepala dan mencium perut Cantika tanpa rasa jijik. “Jangan berkecil hati, aku tetap mencintaimu apapun yang terjadi. Bekas bekas ini tidak akan menjadi penghalang untuk cintaku tetap mengalir padamu.”
Manik Cantika berkaca kaca merasa panas, hingga akhirnya air matanya menetes. Ares melihatnya langsung mendekap sang istri dan berkata, “Jangan berfikiran seperti itu lagi ya. apa yang kau pikirkan, sama saja dengan meragukan cintaku.”
“Iya, maafkan aku, Ares.”
“Tidak, Sayang. jangan meminta maaf.”
***
Kedatangan keluarga Fernandez belum berkabar lagi, Cantika tidak tau kapan mereka akan datang. Dia sendiri memaklumi, karena semua orang di sana memiliki peran penting. Terlebih lagi, kesehatan Oma yang utama. Cantika sempat menelpon Oma untuk tidak memaksakan diri datang. Cantika khawatir kesehatan Oma malah menurun karenanya.
Keseharian Cantika berubah di sini. dimana dia selalu bangun lebih pagi lagi untuk mengajak anaknya berjemur. Terkadang di malam hari, Aeri juga akan bangun. Namun bahagianya Cantika karena saat dirinya membuka mata, Ares sudah dalam posisi menggendong Aeri kemudian berkata, “Cantika tidur saja lagi, Aeri akan aku jaga ya.”
Ares membuktikan keseriusannya bahwa dia akan menjadi sosok ayah yang baik dan hebat untuk keluarganya. Karena sekarang, Cantika sendiri mengagumi Ares yang begitu sabaran dengan tingkahnya yang terkadang aneh. Dimana Cantika selalu meminta dimanja oleh Ares ketika pria itu selesai bekerja. Padahal posisi Ares juga lelah, tapi dia bisa memanjakan dua perempuannya di saat bersamaan.
Terbiasa dengan kabar di setiap jam dari Ares, kini Cantika curiga karena Ares pulang terlambat dan tidak memberitahukan alasannya. Ponselnya juga mati, Cantika menjadi khawatir dan berakhir menelpon Samuel untuk menanyakan kebenarannya. “Hallo, Samuel. Maaf mengganggumu.”
“Tidak, Cantika. Ada apa?”
“Apa Ares bersamamu?”
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Dia belum pulang, apa dia punya jadwal yang lain? Biasanya dia bilang padaku kalau memiliki jadwal tambahan. Kali ini tidak, aku mengkhawatirkannya.”
“Ah, aku benar benar tidak tau, Cantika. Aku berada di luar kota sekarang. Nanti aku cari tau ya. dan mengirimkan kabar padamu segera.”
“Baik, terima kasih.”
Cantika sendiri merasa heran dengan Samuel yang tidak mengetahui jadwal Ares. Padahal, pria itu yang selalu mengingatkan Ares pada semua langkah yang harusnya dia ambil. Yang Cantika takutkan itu, Ares kecelakaan atau sejenisnya. Diia tidak mau menjadi janda.
Sampai sebuah telpon masuk, Cantika pikir itu dari Samuel, tapi ternyata dari Nenek.
“Hallo, Nek?”
“Cantika, Nenek melihat Ares bersama dengan seorang wanita memasuki sebuah rumah.”
“Apa?” Cantika tidak mendengarnya dengan jelas, berharap dia salah mendengar.
“Ares sepertinya selingkuh. Kau harus datang ke sini membawa Aeri membuktikan kalau kau adalah istrinya.”
“Tidak mungkin Ares selingkuh, Nek. Dia sangat mencintaiku.”
“Siapa yang sangka bukan? Nenek juga sama terkejutnya.”
“Nenek dimana sekarang?” tanya Cantika mulai terpancing.
“Nenek akan mengirimkan alamat dimana Ares masuk ke rumah seorang wanita ya. bye.”
Kemudian panggilan tiba tiba terputus. Tidak lama kemudian, Nenek mengiriminya pesan sebuah alamat di perumahan elite. Cantika enggan mempercayai, tapi yang mengiriminya pesan adalah sang nenek. Dia menarik napasnya dalam dan akhirnya memutuskan meminta supir bersiap. Dia pergi bersama dengan Aeri dan juga pengasuhnya.
Sepanjang perjalanan, Cantika tidak berhenti berdoa supaya hal hal itu bukanlah sebuah kenyataan. Tidak mungkin Ares tega melakukan hal ini padanya. Ares sangat mencintainya bahkan terus menantinya. Mana mungkin dia selingkuh.
Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah rumah, Cantika bergegas melangkah ke sana dengan membawa Aeri. “Tolong bantu Mama meyakinkan kalau ini bukan kenyataan,” ucap Cantika dengan manik berkaca kaca.
Dia menekan bel rumah besar tersebut berulang kali. Sampai akhirnya pintu terbuka dan menampilkan… “Athena?” tanya Cantika tidak percaya.
Sosok itu sama terkejutnya, dia menarik napas dalam kemudian berkata. “Guysss! Sepertinya Nenek menelpon Cantika terlalu cepat! Dia di sini sekarang!” Athena membuka pintu rumah hingga Cantika bisa melihat keberadaan keluarganya dan keluarga Fernandez di sana sedang bergelut dengan balon.
DOR! Salah satu balon yang dipegang Samuel meledak dan berhasil membuat Aeri menangis.
__ADS_1
Seketika Ares menatap tajam pada Samuel sebelum akhirnya mendekati sang anak. “Ini Papa, Nak,” ucapnya mendekat dan mengambil alih dari pangkuan Cantika.
Sementara sosok tersebut masih bingung, belum paham apa yang terjadi. “Apa aku berhalusinasi karena ketakutan kalau Ares benar benar selingkuh?” tanya Cantika pada udara.