
Malam itu, Ares tidak bisa tidur, dia menceritakan kejadian apa yang dialaminya pada Oma. Bahkan Ares bercerita hal ini di kamar mandi karena khawatir Cantika akan mendengar apa yang dirinya katakan bersama dengan sang Oma. Hanya untuk berjaga jaga, bisa bisa Cantika kembali benci padanya. karena kenyataannya, sekarang Ares menyesal dan menangis.
“Nanti kalau kau datang ke sini, akan Oma berikan beberapa resep supaya kau bisa kembali bersama dengan Cantika. Jangan khawatir.”
“Tapi aku mau sekarang.”
“Ares, tidak semuanya harus instant. Lihat Daddymu yang menikah di usia senja nya, Uncle Sebastian apalagi, lalu Luke? Belajar dari mereka, jangan memaksakan kehendak.”
“Tapi aku tidak mau menikah di usia senja, aku sudah kaya, tampan dan juga siap menjadi seorang ayah.”
“Katakan itu pada Daddymu. Apa kau berani?”
Menggelengkan kepalanya kuat, enggan sekali melakukan hal itu. “Oma….,” rengeknya lagi.
“Berhenti. Oma ingin tidur, kalau kau masih ingin mendengar nasehat dari Oma, datang saja ke sini. oma malas keluar.” Kemudian Oma tiba tiba mematikan panggilan yang mana membuat Ares berdecak karenanya. Terpaksa, malam itu dirinya harus tidur dan berharap besok pagi tidak menyebalkan lagi. Ares harus bersikap biasa saja, tidak boleh membuat Cantika kesal lagi.
Setelah sekian lama dirinya menatap langit langit kamar, akhirnya mata itu perlahan terpejam dan tidur begitu dalam. Ada beban yang terangkat tatkala mengingat Cantika sudah mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu.
Namun tetap saja, kata seandainya masih terngiang ngiang di kepalanya. Kalau saja dirinya tidak bodoh dan membuat Cantika sakit hati, pasti mereka masih bersama.
Sambala sambala sambalado terasa pedas terasa panas!
Ares langsung mematikan alarmnya, matanya berbinar. Ini sudah jam tujuh, hari baru untuk menemui Cantika bukan? Dia melompat dari ranjang menuju conection door. Namun baru juga hendak mengetuknya, Ares langsung terdiam. “Tidak boleh menjadi orang yang antusias seperti itu. nanti Cantika ilfeel. Lebih baik kau mandi, lalu menjadi tampan supaya Cantika terpesona.” Berucap demikian sambil melangkah ke kamar mandi.
Menahan diri untuk tidak menggila dengan keramas dan mendinginkan kepalanya. “Astaga, aku tidak boleh seperti itu. aku tidak boleh menjadi ganas.” Berucap pada diri sendiri seperti itu.
Mungkin Ares harus mengeluarkan jurus dinginnya seperti saat pertama kali mereka bertemu, dimana Cantika yang akan mengejar nantinya. “Oke, harus hot n cool.”
Sampai Ares siap, dia mengirimkan pesan terlebih dahulu pada Cantika supaya sosok itu tidak marah padanya yang masuk begitu saja.
“Kenapa dia tidak membalasnya? Apakah dia sudah pergi lebih dulu?” khawatir bukan main.
TRINg! Satu pesan masuk berhasil membuat Ares melompat gembira. Apalagi dengan Cantika yang menjawab : “Belum, aku masih bersiap siap. Kalau kau lapar, duluan saja ke bawah. Nanti aku menyusul.”
“Tidak,” ucap Allen sambil mengetik. “Lebih baik kita turun bersama demi kepentingan bersama.”
Ares bahkan menunggu di pintu luar Cantika, tidak berani masuk dan membuat sosok itu kembali marah padanya. saat pintu terbuka, Ares mencoba untuk tidur terlalu lebar dan membuatnya takut.
“Hallo, Tuan Ares.”
__ADS_1
“Berhenti bicara formal,” ucap Ares. “Kita kan berteman.” Mengatakan kalimat itu sambil menelan salivanya keras. Takut jika status ini akan bertahan lama.
“Ayok cepat kita sarapan. Kita akan pergi mengunjungi Thea kan?”
***
Berbeda dengan sebelumnya, dimana Cantika selalu menatapnya dengan tajam, kini Cantika bahkan mau bicara dengannya saat sedang sarapan bersama. Melihat bagaimana mulut itu mengunyah sambil bicara membuat Ares gemas. Boleh tidak dirinya mencium pipi Cantika?
“Ares, kau mendengarkanku atau tidak?”
“Dengar, kupingku masih berfungsi.” Ares menusuk daging dan menyuapkannya. Pandangan dinginnya mengedar untuk bisa menahan diri.
Namun, hal itu disalah artikan oleh Cantika. Melihat bagaimana Ares kembali dingin seperti dulu malah membuat Ares semakin tampan, bernilai lebih banyak juga.
“Kita langsung berangkat saja oke? Aku sudah bicara dengan pengajar yang akan mengajar Athena hari ini. aku ingin sedikit memberikannya lelucon.”
“Ares, jangan,” ucap Cantika seolah tau apa yang ada di dalam pikiran pria itu.
“Tidak, aku hanya akan membuatnya dihukum. Dengan itu kita bisa bicara dengannya.”
“Athena akan sedih.”
“Tidak bisakah aku dan Athena bertemu secara normal?”
Berhenti mengunyah sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepala. Dirinya dan Athena sudah terbiasa bertemu dengan cara tidak lazim, saling melemparkan penderitaan adalah bentuk kasih sayang mereka. “Nanti aku akan mengganti rasa penyesalanku dengan memberikannya ice cream dan dibawa pulang ke rumah. aku mohon, aku sudah lama tidak melihatnya menangis. Pasti akan sangat menakjubkan.”
Cantika heran dengan pikiran Ares. “Jangan keterlaluan, dia adikmu.”
“Iya, aku dan dia sudah bersama sejak menjadi bubur di saluran daddy. Jadi aku tau apa yang terbaik.”
“Bubur? Saluran?”
“Tidak, lupakan itu. ayok makan yang ini, ini sangat enak.”
Hampir saja Ares membuat Cantika menjadi ilfeel padanya. dia tidak boleh membuat perempuan itu memandangnya dengan cara berbeda. Ares harus kembali pada dirinya di masa lalu, dimana pesonanya membuat Cantika pingsan padahal hanya karena mengedip saja.
Setelah sarapan, mereka langsung naik ke mobil dan menuju ke tempat dimana Athena belajar. Bahkan Ares sudah meminta pada sang dosen untuk sedikit mengerjai adiknya itu. cantika sampai tidak paham, kenapa Ares begitu suka mempermainkan adiknya tersebut. hal yang menakjubkan lagi, ternyata Ares memiliki kekuasaan. Ketika dia bicara, terdengan berwibawa.
“Tidak tidak,” ucap Cantika secara tidak sadar.
__ADS_1
“Apa yang tidak?” tanya Ares bingung.
“Tidak ada.” Huh, mungkin Cantika harus membayangkan Ares yang menyebalkan seperti sebelumnya atau dirinya akan jatuh ke dalam dekapan pria itu lagi. Bukan apa apa, hanya Cantika masih memiliki ketakutan, khawatir akan ada sesuatu yang terjadi. Dan juga… Galuh.
“Cantika, jangan melamun. Setan ada dimana mana,” ucap Ares seperti itu.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya berbincang seperlunya saja. hingga Ares menyalakan music dan ikut bernyanyi, suaranya begitu merdu. Sekali lagi, Cantika berharap kalau suara Ares jelek.
“Ingin berhenti dulu di rest area?”
“Apakah masih jauh?”
“Tidak, sekitar dua jam lagi kita sampai. Dan karena jalanan tidak macet, aku rasa kita bisa sampai dalam waktu yang lebih cepat.”
“Aku ingin berhenti sebentar.”
“Okey.” Berhenti di tempat pengisian bahan bakar. Mata Ares tidak berhenti mengawasi ketika Cantika masuk ke dalam salah satu kamar mandi di sana. khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya, apalagi di depan kamar mandi itu terlihat seorang pria bertato dengan tubuh besar dan terlihat sedang mengamati sekitar.
Oke, Ares tidak bisa membiarkan wanita cantiknya dalam bahaya. Dia tau apa yang dipikirkan oleh pria itu. dia akan melakukan sesuatu yang jahat di sini.
Jadi, setelah Ares mengisikan bahan bakar, dirinya melangkah mendekat ke area tersebut untuk berdiri di depan pintu kamar mandi wanita. Sialnya, di sini sangatlah sepi. Bagaimana tidak, ini adalah jalan raya dan tempat Ares berhenti memang tidak terlalu bagus. Jadi tidak ada orang yang berhenti selain dirinya dan orang bertato itu.
Ares pura pura mengangkat telponnya, kemudian mengatakan, “Hallo? Aku masih dalam perjalanan.”
“…..” padahal tidak ada suara apapun dari dalam ponselnya.
“Hmm, aku sedang menunggu istriku. Apa? Tidak, aku hanya membawa kepalanya saja untuk pajangan di dalam kamar. Ini akan menarik untuk diawetkan bukan?”
Dan apa yang dikatakan Ares itu berhasil membuat pria besar di sana sedikit kaget.
“Jual saja, jangan diberikan dengan harga yang murah.” Kemudian Ares terkekeh, layaknya psikopat kemudian matanya bertabrakan dengan pria besar di sana, dimana lawan Ares langsung memalingkan wajahnya.
“Kuliti saja, aku suka melihatnya tanpa busana kulit. Kalau bisa, bawakan padaku malam harinya. Aku tidak sabar memotongnya menjadi beberapa bagian. Aku ingin mata dan juga kakinya untuk serigala peliharaanku.”
Kalimat yang Ares katakan itu berhasil membuatnya takut. Pria itu berdiri kemudian melangkah pergi dari sana dengan deheman.
“Heheheh.” Ares antuasias ketika melihat sosok itu pergi tergesa gesa. “Untung saja ku selalu menemani Oma menonton film telenovela. Dramatis sekali.”
****
__ADS_1