
“Apa masih lama?” tanya Cantika lagi.
Ares gemas bukan main, sadar kalau Cantika tidak sabaran untuk bertemu dengan sahabatnya itu. karena Ares tidak ingin Athena dipandang buruk olehnya, jadi Ares mengatakan betapa Athena sering berusaha untuk menemui Cantika ke Indonesia. Sayangnya, dia tidak bisa dikarenakan ada saja hal yang menahannya. “Dia benar benar merindukanmu. Aku yakin saat dia bertemu denganmu, dia akan pingsan, kejang dan muntah muntah.”
Sontak saja senyuman di wajah Cantika memudar, bukankah itu keterlaluan?
“Nanti kita makan siang di area kampus Athena oke. Kau pasti suka dengan kari yang ada di sana.”
Cantika mengangguk antusias, senyumannya kembali terbit. “Jadi Thea jarang pulang ke rumah ya?”
Ares mendengus, tertawa dengan tatapan yang tetap focus ke depan. “Dengarkan aku, Cantika. Jarak antara kampus dan juga rumah kami itu sangatlah dekat. Dan Athena? Dia hanya diam di asrama jika marah atau terjadi sesuatu di rumah. anak itu memang seperti itu.”
“Jangan begitu, dia saudaramu.”
“Awalnya aku pikir dia adalah anak tetangga karena sifatnya yang begitu aneh. Kau tau? Bahkan Athena beberapa kali ganti cita cita, aku sampai pusing mendengarnya. Hehehehe.”
“Ares, tidak baik membicarakan adikmu pada orang lain.”
“Kau bukan orang lain. Kau….” Ucapannya menggantung seiring dengan mobil yang melambat. “Kau teman.” Tersadar oleh kalimatnya sendiri. “Hehehehe.”
Miris memang, tapi Ares harus berusaha. Akhirnya, mobil itu memasuki area kampus yang membuat Cantika terpukau. Dirinya belum pernah menginjakan kaki di kampus sebesar ini, dengan bangunan yang tua dan estetik. Cantika menyukainya sangat.
Bahkan saking dirinya mengagumi sekitar, Cantika tidak sadar saat tangannya digenggam oleh Ares yang membawanya melangkah. “Ini indah sekali.”
“Ya, memang indah,” ucap Ares sambil memandang wajah Cantika. “Cantika, Thea katanya sudah berada di luar kelas. Ayok kita kejutkan dia.”
Menatap kembali Ares dan menganggukan kepala, sampai Cantika sadar kalau tangannya digenggam. Tidak ingin membuat Ares tersinggung, Cantika menariknya perlahan.
“Um, tadi kau terlalu mengagumi sekitar. Aku khawatir kau terjatuh, jadi aku pegang tanganmu.”
“Tidak apa apa.” Cantika paham dan memberikan senyuman, sementara wajah Ares tegang, dia khawatir kalau Cantika malah ilfeel.
Ketika memasuki fakultas kedokteran dan hendak menaiki lift, salah satu pegawai di sana mengatakan, “Lift nya sedang dalam perbaikan. Tunggu tiga puluh menit lagi jika ingin menggunakan lift.”
“Baik, terima kasih,” ucap Cantika padanya. Itu terlalu lama jika menunggu. “Apa ada tangga darurat?”
“Ada, tapi Athena ada di lantai enam. Kau akan kelelahan.”
__ADS_1
“Akan lama kalau kita menunggu. Aku khawatir Athena di sana semakin larut dalam kesedihannya. Ayo ke sana saja. tidak masalah kan?”
“Tidak,” ucap Ares berjalan di belakang Cantika yang melangkah menuju arah tangga darurat. Bagaimana mungkin dirinya tidak mencintai sosok yang begitu baik hati ini.
Jantung Cantika berdebar kencang, tidak sabaran bertemu dengan sosok yang akan membuatnya banjir air mata. Bahkan saking exitednya, Cantika sampai tidak merasakan lelahnya. Berbeda dengan Ares di belakangnya, napas pria itu terlihat lelah dan berat.
Namun saat Cantika menoleh, Ares langsung menegakan tubuhnya dan tersenyum. “Aku baik baik saja,” ucapnya di saat Cantika belum menanyakan apapun.
Sampai di lantai yang dimaksud, Cantika melangkah semakin cepat. Hingga matanya menangkap sosok yang sedang duduk di koridor sambil menunduk hingga rambut menutupi wajah. cantika hendak pergi ke sana, tapi Ares menahannya.
“Tolong, aku hanya ingin memberinya sedikit rasa kesal. Sudah lama aku tidak melihat Athena kalah.”
“Ares, tidak baik seperti itu.”
“Tolong…” ares memohon. “Terakhir kali, Thea membuat mangkuk kesayanganku menjadi pispot anjing.”
Mata Cantika membulat kaget. Sebelum mendapatkan jawaban darinya, Ares melangkah lebih dulu dan berhenti di samping Athena yang menunduk. Pria itu berdehem kemudian mengatakan dengan suara berat yang dibuat buat, “Athena, atas kesalahanmu, kupikir kau harus pergi ke lembaga. Kau tidak focus, nilaimu menurun. Apa kau pikir kau cocok menjadi dokter?”
Yang Ares harapkan, Athena menangis kencang secara tiba tiba. Namun ternyata… BRUK! Seseorang memukul bagian belakang kepala Ares dengan buku.
“Aw!” ares menoleh dan matanya membulat. Itu Athena.
“Uhuk! Anu!” ares menunjuk belakang Athena.
“Jangan pikir aku tertipu lagi oleh ulahmu.”
“Thea, jangan lakukan itu. nanti Ares bisa terluka.”
Athena seketika berbalik dan matanya membulat. “My Bestie? Huaaaa!” langsung berlari ke arah Cantika dan memeluknya erat. Benar saja, Athena menangis kencang.
Sementara Ares membenarkan kerahnya yang kusut akibat ulah Athena. Kemudian dirinya menoleh pada perempuan yang dia pikir adiknya. Tangannya terulur untuk mengguncang bahu sosok tersebut. sampai dia mengangkat kepalanya.
“Oh, sepertinya aku tertidur.” Membuka headset yang terpasang di telinga kemudian pergi meninggalkan Ares begitu saja.
Membuat pria itu menghela napasnya dalam. “Gagal membuat Athena kejang kejang.” Dengan penuh kekecewaan saat mengatakan hal tersebut.
***
__ADS_1
Seperti yang direncanakan Ares, mereka makan siang di resto yang tidak jauh dari sana. namun, keberadaan Ares sekarang seolah tidak ada karena Cantika dan Athena terus saja bicara berdua. Jikapun Ares hendak bicara, Cantika tidak menanggapinya banyak karena Athena menarik perhatian lagi dengan cerita ceritanya yang lain.
“Lihat. Dia seperti apa yang aku katakan, mulutnya berbusa,” ucap Ares ketika melihat Athena yang terus bicara.
Sadar kalimat itu untuknya, Athena menatapnya dengan tajam. “Kau membicarakanku?”
Ares memutar bola matanya malas, menggapai minuman sebelum akhirnya berdiri.
“Kemana?” tanya Cantika.
“Ke kamar mandi sebentar,” menjawab dengan nada suara yang begitu halus sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut. duduk laama lama di sana membuat Ares pegal juga.
Sementara Cantika dan Athena saling bertatapan dan melemparkan senyuman. “Masih banyak yang ingin aku ceritakan padamu,” ucap Athena karena barusan dia hanya menceritakan tentang kesehariannya di kampus.
“Kurasa kita masih memiliki banyak waktu. Aku di sini selama seminggu.”
“Besok, apa kau ada pekerjaan?”
“Ada pesta kalau tidak salah. Tapi itu dilakukan di malam hari, jadi kita bisa bersama.”
Athena mengangguk antusias. “Kalau begitu, menginap di rumahku bagaimana? Kau pasti sangat merindukan keluargaku juga kan?”
“Apa tidak apa apa?” tanya Cantika, dia sebenarnya tidak siap ke sana dan menemui orang orang itu. bukan apa apa, hanya saja…. Cantika terlalu merindukan sampai rasanya sesak. Apalagi Oma yang bawel.
“Tidak apa apa, nanti aku yang bilang pada Ares. Oke?”
Cantika mengangangguk.
“Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Apa?”
Sejak tadi Athena hanya menceritakan tentang dirinya saja. “Um, apa kau dan Ares kembali bersama? Menjadi pacar lagi?”
“Tidak, kami berteman sekarang.”
Tiba tiba senyuman Athena mengembang sampai membuat giginya terlihat. Oh, Cantika agak ketakutan untuk hal ini. “Maka kau benar benar harus pergi ke rumahku dan menginap di sana!” begitu antusias mengatakannya.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, Ares sedang buang air besar. Karena kata Oma tidak baik menahannya, maaka Ares harus menuntaskannya. “Sudah keluar. Tapi kenapa perasaanku masih tidak enak saja ya?” gumamnya seperti itu.
***