STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Masih sama


__ADS_3

Sebelum semuanya membully, Ares memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua. Melihat tiga pria dewasa itu membuatnya takut untuk menemui Cantika yang entah berada dimana. Saat masuk, Ares melihatnya di dapur. Tapi saat matanya mengedar, sudah tidak ada. 


Berdiam diri di kamar dengan harapan kalau Luke dan Sebastian akan pulang sebelum makan malam hingga bebannya hanya sang Daddy dan keluarganya saja. 


Tok tok tok. 


"Siapa?"


"Saya, Tuan Muda." Itu suara pelayan. Jadi Ares izinkan masuk dimana dia membawa nampan di tangannya. Itu kue cokelat dan susu hangat. Pasti kiriman Oma. "Ini dari Nyonya Besar, katanya istirahatkan diri anda dan turunlah saat makan malam tiba."


"Apa kau tau tentang tiga pria dewasa itu?"


"Bagaimana maksud anda, Tuan?"


"Apa mereka akan pulang? Atau makan malam di sini?" Ares menerima nampan itu dan langsung memakan kue yang tersaji dengan lahap. 


"Saya kurang tau, Tuan Muda. Tapi sepertinya mereka akan pulang."


Mendengar itu, Ares jadi bersemangat lagi. "Apa Cantika juga ada di bawah?'

__ADS_1


"Ya, Nona Cantika sedang bersama Nona Athena. Apakah ada yang harus saya bantu lagi, Tuan?"


"Tidak ada, kau boleh keluar." Ares membaringkan tubuhnya sambil memakan cookies. Ada kekhawatiran jika Cantika mendengar hal hal yang aneh tentang dirinya. Namun, dia akan mempebaikinya lagi nanti. "Tidak apa, aku dan Cantika bisa memulai lagi dan masih memiliki banyak waktu. Jika tiga pria itu sudah tidak bersama, aku akan baik baik saja."


Bergulang guling ke sana sini, sampai akhirnya Ares terlelap juga. Entah berapa lama dirinya tertidur, karena saat dirinya bangun, Ares merasakan pelukan dari arah belakangnya. Ketika menoleh, oh ini dia si bungsu. Tunggu! Si bungsu?! Tidak bisanya dia memeluk Ares. 


"Alden, bangun. Apa yang kau lakukan di sini?"


Anak itu bangun, dia menyipitkan matanya menatap sang Kakak. "Abang…," Panggilnya dengan suara yang parau. 


"Kau ini kenapa? Tidak biasanya seperti ini."


"Abang… "


"Alden, katakan ada apa? Biasanya kau bahkan malas untuk bicara? Kenapa sekarang memeluk?"


Alden bangun dan mendudukan dirinya. Dia menarik napasnya dalam. "Tadi ada Uncle Sebastian, dia mengejekku karena dia tahu aku mengompol dia tahun yang lalu."


"Pfftttt… . Mereka sedang membicarakanmu?"

__ADS_1


"Hmmm aku hanya ingin mengadu nasib dengamu. Apa kau belum tahu apa yang sedang mereka bicarakan tentangmu?"


Ares langsung menelan salivanya kasar. "Memangnya apa yang mereka bicarakan tentang ku?"


"Wah, kau benar benar belum tau ya." Alden kembali mengatakannya dengan wajahnya yang datar dan berdiri. "Mungkin kau harus mendengarnya dulu nanti. Baru kita bisa beradu nasib."


"Alden, katakan apa yang mereka bicarakan tentangku."


"Lebih baik kau habiskan air matamu sekarang, Kak. Atau mereka akan mengejekmu habis habisan."


"Alden, jangan keluar. Katakan pada kakakmu apa yang mereka bicarakan?!"


Brak! Alden malah keluar dengan santainya, meninggalkan Ares yang mulai berspekulasi yang aneh aneh. Di sisi lain, Ares terkadang merinding dengan sikap sang adik yang terasa sangat aneh. "Bagaimana ini, apa mereka sudah pulang ya?"


"Tuan Ares, Tuan David meminta anda untuk turun. Makan malamnya sudah siap."


Ares langsung melimopat dan membuka pintu. "Apa kedua pamanku sudah pulang?"


"Belum, Tuan. Mereka akan makan malam di sini."

__ADS_1


Ares menelan salivanya kasar. 


***


__ADS_2