STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Arah Keduanya


__ADS_3

Karena Ares memang berniat membuat Galuh jarang melakukan komunikasi dengan Cantika. Oke, ini terdengar sangat mengerikan memang. Tapi percayalah, Galuh juga akan diberi imlaban sebuah Yayasan pendidikan di sana jika berhasil membantu anak anak dan juga warga yang ada di pelosok. Ares hanya ingin bersama dengan Cantika. Namun, sepertinya hal itu disalah artikan oleh Cantika.


Ares mengirim emoticon love pada Samuel. Padahal, artinya dia meminta Samuel untuk bekerja lebih cepat dan jangan hanya diam saja.


Sesampainya lagi di hotel tempat mereka menginap, Ares dan Cantika melangkah beriringan. “Istirahat saja dulu, gaun milikmu akan diantarkan nanti malam. Sekalian dengan periasnya juga. Tidak masalah kan?”


“Tentu.” Senyuman Cantika mengembang. “Terima kasih banyak, Ares. Keluargamu sangat hebat, kerinduanku sudah berkurang sekarang.” Kemudian melangkah menuju pintu kamarnya untuk bisa beristirahat sebelum menghadapi malam yang panjang nantinya.


Ares masih berdiri di sana sampai pintu kamar Cantika. Dia menggelengkan kepalanya. “Tapi kerinduanku belum juga berkurang di sini, Cantika. Rasanya masih sama, sama sama menyesakan. Haha.” Menertawakan dirinya sendiri adalah hal yang menjadi kebiasaan untuk Ares.


Dia juga masuk ke dalam kamar, menelpon Samuel dan langsung mengatakan, “Lu pokoknya harus bikin Galuh susah komunikasi sama Cantika, soalnya gue sama Cantika dalam proses pendekatan.”


“Ar.” Di sana Samuel menarik napasnya dalam, bahkan deru napasnya saja terdengar tersenggal. “Lu tau gak gue abis dikejar kebo?”


“Bukan urusan gue.”


“Gimana kalau misalnya gue nyuruh yang lain buat gantiin gue sebentar?”


“Gue Cuma percaya sama lu. Lu gak usah turun juga kali, coba aja lu lakuin beberapa kekuasaan yang kita punya.”


“Gak semudah itu. lu bilang mau tau apa yang mereka omongin, jadi selama ini gue berkeliaran di sekitar si Galuh.”


Ares tersenyum. “Oke, laporannya gimana?”


Dimana Samuel menceritakan secara detail tentang percakapan Galuh dan Cantika. Bukan hanya itu, Samuel juga menceritakan bagaimana bagusnya kinerja Galuh yang dipastikan mampu membuat orang orang dipelosok akan terbantu olehnya.


“Res, biar lu gak kaget, gue mau bilang permintaan gue.”


“Oke, lu mau apa?”


“Kalau misalnya Athena mau, gue mau nikah sama dia.”


Seketika Ares terdiam. Membuat Samuel yang ada di sana juga diam, menegang takut Ares akan marah padanya. namun, Ares justru malah tertawa kuat. “Kenapa gak bilang dari dulu kalau lu mau itu badut satu? Ambil aja, satu bulan nikah aja udah cerai. Lu gak akan tahan.”


“Gue serius.”


“Ya gue juga. Kerja yang bener,” ucap Ares kemudian menutup panggilan.


Dia membaringkan tubuhnya menatap langit langit. Baru saja semalam dia berada di rumah keluarganya, pikirannya terasa remuk. “Trio macan itu mengerikan,” ucapnya mengingat bagaimana David bersama dengan dua temannya yang absurd.


“Oke, Ares. Focus dengan malam ini. Kau harus membuat Cantika terpukau,” ucapnya sambil melangkah ke kamar mandi.


Acaranya mungkin berlangsung nanti malam, tapi Ares akan mulai merendam tubuhnya sejak sekarang supaya kulitnya halus, wangi semerbak; intinya membuat Cantika tertarik dengannya.


“Supaya Glowing layaknya gigi Oma,” ucap Ares mengingat Oma pernah mengganti giginya dengan butiran Kristal dikarenakan stok gigi palsunya membosankan.


***


Cantika kaget ketika pintu kamarnya diketuk dengan brutal. Dia sedang tertidur begitu nyenyak, langsung melompat dari atas ranjang dan membukanya. Itu orang asing yang tidak dia kenal. “Hallo, Nona Cantika. Saya penata busana, dan adik saya ini penata rias anda malam ini. maaf membangunkanmu dengan tidak sopan. Tapi kami benar benar harus mendandanimu supaya anda siap malam ini.”


“Ini masih siang, kenapa kalian datang awal sekali?” tanya Cantika kebingungan.


“Um, ini hampir memasuki jam makan malam.”


“Apa?” cantika membalikan badannya menatap jendela luar, benar saja ini sudah malam. Langit sudah gelap, dan dirinya belum bersiap? Ya tuhan, berapa lama Cantika tidur sampai tidak ingat kalau ada acara penting?


“Tidak usah panic, Tuan Ares meminta saya mengatakan itu pada anda.”


“Dimana Ares?”


“Beliau juga sedang bersiap. Sekarang izinkan kami masuk ya,” ucap wanita itu, dengan tatapan yang terlihat kesal pada Cantika.  “Sekarang anda mandi dulu ya, supaya kami bisa menyiapkan anda.”


Cantika menurut, dia tidak mau membuat Ares kecewa setelah apa yang pria itu lakukan sebelumnya. Cantika mandi dengan cepat, kamudian duduk dan membiarkan dua wanita itu mendandaninya.


Pakaiannya masih dengan piyama mengingat gaun belum datang. Cantika bahkan mengabaikan perutnya yang keroncongan karena tidak diisi sejak tadi siang. “Bagaimana bisa ku tidur sangat lama,” gumamnya pada diri sendiri.

__ADS_1


“Ya, ternyata anda tidur ya? kami pikir anda mati tadi.”


Kalimat itu diabaikan oleh Cantika, dia lebih mengkhawatirkan mereka akan datang terlambat. Memeriksa ponselnya untuk melihat jam, mereka akan telat. Belum lagi Cantika tidak makan. “Tidak apa, aku tidak perlu makan,” ucapnya.


“Apa anda memang suka berbicara sendiri?”


Hingga dua orang wanita itu berhenti bicara saat connection door terbuka dan menampilkan Ares di sana. “Maaf masuk tiba tiba. Aku teringat kau belum makan,” ucap Ares mendekat dengan piring yang ada di tangannya.


Cantika melirik dengan tatapan, mengingat rambutnya sedang ditata hingga tidak bisa menoleh dengan mudah, tangannya yang lain juga sedang dipakaikan kutek. “Ares, aku minta maaf karena tidur terlalu lama.”


“Hei, tidak usah minta maaf. Kau pasti kelelahan dan kelaparan. Ini, makanlah.”


“Terima kasih.” Matanya berbinar menatap kentang tumbuk dengan taburan sayuran kering, juga hidangan lainnya yang membuat perutnya keroncongan. Namun posisinya sekarang menyulitkannya bergerak.


“Ingin aku bantu? Disuapi?”


“Hah? Tidak us- am!” satu sendok kentang tumbuk itu masuk ke dalam mulut Cantika.


“Ayolah, aku tau kau kepalaran tapi susah bergerak.”


“Terima kasih, Ares,” ucapnya dengan mata berbinar merasa bahagia.


Tidak tau saja kalau Ares lebih bahagia, dia rela berdiri dan menyuapi Cantika seperti ini. merasa berguna untuk sang kekasih. Bahkan jantung Ares berdetak dengan begitu kencang setiap Cantika membuka mulutnya menerima suapan.


Andai saja mereka masih sepasang kekasih, pasti kalimat yang akan terlontar adalah,


“Enak tidak, Sayang?”


“Ini enak sekali, tapi terasa special karena yang menyuapiku adalah kau, Ares.”


Bayangan yang indah bukan. Dan demi memendam keinginan itu, Ares menatap dan bersikap dengan dingin. Dia harus kembali ke karekter yang membuat Cantika akan menyukainya lagi dan mengejarnya.


“Aw!”


“Hei hati hati!” Ares memperingati saat Cantika merasa sakit ketika sebuah konde menusuk gulungan rambutnya.


***


Ketika pakaian Ares dan Cantika datang, mereka berganti pakaian masing masing. Ares selesai duluan, dia menunggu di kamarnya sendiri. dia ingin keluar bersama dengan Cantika.


Tok. Tok. Tok. “Tuan, Nona Cantika sudah selesai berpakaian.”


Mendengarnya saja membuat Ares senang bukan main, dia tidak sabaran untuk melihat wajah cantik dari wanita pujaannya. Sesuai dugaan, saat Ares masuk ke pintu koneksi itu, matanya tidak bisa lepas dari Cantika yang tengah duduk di bibir ranjang dengan gaun biru selutut dan rambut yang dicepol. Cinderella vibes.


Sementara Cantika sendiri melihat Ares yang menawan, rambutnya yang pirang disisir ke belakang. Tampan sekali.


“Ayo,” ucap Ares mengulurkan tangannya..


Cantika ragu ragu, tapi dia menerimanya juga. Mereka berjalan menuju ke lobi, dimana supir sudah menunggu di depan. “Nanti apa yang harus aku lakukan di sana?”


“Kenapa kau begitu tegang? Kau hanya perlu menikmati pembicaraan.”


“Ares, aku tidak mengusai tentang bisnis.”


“Kalau begitu tetap berada di sekitarku dan dengarkan apa yang aku bicarakan dengan sekitar, kau bisa mengingatnya karena aku pelupa,” ucap Ares sambil terkekeh.


Karena pesta itu diadakan di ballroom hotel lain, jadi mereka harus pergi ke sana dengan menggunakan mobil. Ares enggan menyetir sendiri, dia khwatir jasnya kusut. Diam diam juga, Cantika melirik Ares. Dia benar benar menawan, kenapa vibes nya sekarang Ares seperti pasangan Belle?


“Buruk rupa,” ucap Cantika tanpa sadar.


“Kau mengatakan sesuatu?”


“Hmm? Tidak,” jawabnya mengalihkan perhatian. Bisa bisanya dia memuji Ares mirip dengan pangeran buruk rupa yang sudah berubah menjadi manusia dalam film beauty and the beast.


Sementara Ares sebenarnya mendengar apa yang dikatakan oleh Cantika, membuatnya memegang wajahnya sendiri dan bergumam dalam hati, “Apa pesonaku sudah luntur? Buruk rupa?”

__ADS_1


“Ares kau menawan,” ucap Cantika tidak tahan untuk mengatakannya.


Ares menahan diri untuk tidak terbang. “Terima kasih, kau juga sangat Cantik.” Memilih mengatakan itu dengan wajah biasa saja dan senyuman kecil sebelum kembalu menatap ke depan.


Begitu sampai di lokasi pesta, Cantika tidak pernah jauh jauh dari Ares, selalu berada di sekitarnya apalagi saat memasuki area pesta. Dimana banyak sekali orang orang penting di sana.


Dan sesuai apa yang dikatakan Ares, Cantika mengikutinya. Jika ada yang bertanya, “Pasangan anda, Tuan Ares?”


Cantika yang akan menjawab, “Saya sekretarisnya.”


“Well, kalian terlihat serasi.”


Yang mampu membuat Cantika atau Ares sama sama membisu. Mereka bertemu beberapa orang, berbicara tentang bisnis sambil berdiri. Ares sama sekali tidak focus pada acara dansa di sana, dia hanya membicaakan bisnis dan bisnis padahal Cantika ingin sekali duduk.


Pria itu buta ketika sedang berada di lingkungan bisnis, karena hal ini mengingatkan Ares ketika Daddy nya sakit. Semangat untuk menggaet mereka menjadi partnernya tiba tiba saja menggebu.


“Cantika, aku akan ke balkon menemui Tuan Mortez. Tapi dia sedang merokok, tidak baik untukmu. Di sini saja tunggu ya. ah, duduk dimanapun kau mau. Mereka sudah tau kalau kau sekretarisku.”


“Baiklah, hubungi aku kalau perlu sesuatu,” ucap Cantika yang dibalas anggukan oleh Ares.


Karena Ares bilang boleh duduk di mana saja, Cantika duduk di meja bunda dengan nomor Sembilan. Di sana juga ada beberapa orang yang Cantika temui sebelumnya, jadi mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya Cantika ditinggalkan karena mereka memilih untuk masuk ke lantai dansa.


***


Bukan sekedar pesta saja, akan ada pelelangan yang dilaksanakan nanti malam. Namun, Cantika rasanya tidak kuat ketika mendengar pelelangan akan dimulai setelah lewat tengah malam. Dirinya sudah mengantuk, apalagi sendirian seperti itu. hanya duduk di meja nomor Sembilan sambil melihat orchestra dan orang orang yang berdansa.


Di sisi lain, di bagian dapur pesta, seorang pelayan pesta mendekati barista. “Aku mendapatkan pesan dari Tuan Moelle, dia akan mengajak istrinya bergulat di ranjang malam ini. dia meminta untuk memasukan bubuk perangsang ini ke dalam minuman istrinya.”


“Yang mana istrinya?” tanya bartender tersebut.


“Dia duduk di meja nomor Sembilan, tapi aku tidak tau yang mana.”


“Memangnya Tuan Moelle sudah datang ke sini?”


“Tentu saja, dia mengatakannya padaku tadi. Dia sedang berada di toilet, dan aku yakin istrinya adalah yang bergaun biru itu.”


“Kau yakin? Kita belum pernah melihat Nyonya Moelle.”


“Benar, memangnya siapa lagi yang berani duduk di kursi nomo 39 karena itu khusus untuk istrinya. Lihat, busanya begitu empuk dan lebih tebal dari yang lain.”


Setelah percakapan dan serangkaian perdebatan, akhirnya sang pelayan membawakan minuman yang sudah diracik oleh barista dengan obat perangsang di sana. “Nyonya Moelle, selamat menikmati ini,” ucapnya di saat Cantika sedang melamun.


“Ah, terima kasih banyak.” Dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan tadi. Jadi Cantika meminumnya perlahan lahan. Rasanya yang enak membuat mata Cantika membulat, dia menghabiskannya kemudian melangkah menuju ke bagian bar di ujung ruangan. “Boleh aku minta yang seperti ini lagi?”


“Tentu, Nyonya.”


Dan posisi duduk Cantika di kursi bar itu menghalangi sang bartender hingga tidak melihat kalau pemilik kursi nomor 39 yang sebenarnya baru saja turun dari kamarnya karena sakit perut. Jadi bartender itu terus saja menambahkan dosis yang membuat Cantika selalu ketagihan dengan rasanya. Sementara itu di sisi lain, Ares juga terus dicekoki alcohol bersama dengan pengusaha yang seumuran dengannya. Mereka saling tertawa sampai akhirnya tumbang di sana.


Sang sopir yang sedang menunggu di mobil itu mendapatkan laporan dari salah satu pelayan di sana kalau kedua majikannya hampi tidak sadarkan diri karena alcohol yang mereka minum. Membuatnya harus masuk ke dalam dan membawa pulang Cantika juga Ares yang tumbang di sana.


Kedua benar benar sulit dibawa karena terus meracau, bahkan sang supir harus menelpon asisten pribadi Ares untuk membantu kedua orang itu naik ke kamar mereka.


Dengan Cantika yang benar benar sudah pingsan, dibawa ke kamarnya dan ditidurkan di sana. sementara Ares yang masih setengah sadar itu terus meracau ketika direbahkan. “Aduhh, siapa yang membuat pantatku sakit dengan terpentuk oleh kasur?”


Bahkan susunan kalimatnya saja sudah tidak bisa dimengerti.


Membuat sang asisten menggelengkan kepala. “Ayo kita tinggalkan mereka,” ucapnya memilih membiarkan keduanya terlelap.


Namun, Cantika terbangun setelah beberapa menit, mulai merasakan aneh di sekujur tubuhnya. “Panas,” ucapnya berdiri dengan penuh perjuangan, kepalanya pusing dan tidak bisa berfikir jernih.


Cantika membuka pintu, mengharapkan kalau itu adalah kamar mandi. Namun ternyata itu adalah pintu yang menghubungkan dengan kamar Ares.


Dan entah kenapa, Cantika malah melanjutkan langkahnya sampai dia melihat Ares yang tidur dengan kancing bagian atas yang terbuka.


“Ares,” panggil Cantika dengan manja. Kemudian dia merebahkan dirinya di samping Ares, memeluk pria itu hingga Ares yang masih mabuk menoleh. Ketika menoleh, Ares langsung mendapatkan ciuman di bibirnya disertai ******* ******* kecil.

__ADS_1


***


__ADS_2