
Ketika Ares membuka mata, dia merasa kalau kepalanya sangatlah sakit. Mendesah pelan dan bangun sambil memegangi bagian belakang kepalanya. Sampai Ares menyadari ada perban di sana, dia membulatkan mata dan langsung berlari menuju cermin untuk melihatnya. Benar saja, di bagian belakang kepalanya ada perban di sana. “Apa ini….? apa aku bertengkar dengan seseorang di klab? Apa aku membunuhnya? Atau apa yang aku lakukan?”
Karena demi Tuhan, Ares belum pernah semabuk itu sebelumnya sampai membuat dirinya sendiri tidak ingat apa yang terjadi. Ares mulai panic, dia menghubungi Samuel di kamarnya sambil menatap frustasi. Mana sekarang sudah menunjukan pukul Sembilan pagi. Bagaimana kalau Cantika curiga karena dirinya tidak masuk kerja? Samuel memang sang asisten yang tidak bisa diandalkan, membuat Ares kesal sendiri.
“Hallo? Ada apa, Boos?”
“Siapa orang yang gue bunuh semalam?”
“Hah?” ditodong pertanyaan seperti itu secara tiba tiba membuat Samuel kaget.
“Gue liat ini kepala gue pake perban. Gue khawatir gue pitak, tapi gue lebih khawatir sama keadaan orang yang gue pukul. Dia mati atau gimana? Jelasin cepetan, gue mau tanggung jawab.”
“Ares, lu kenapa sih? tenang dulu kenapa?”
“Gimana gue bisa tenang kalau gue udah bikin seseorang mati hah? Lu sendiri yang salah harusnya jagain gue pas gue lagi mabuk. Kenapa bikin gue terluka? Mana gue bunuh orang lagi.” Citranya bisa buruk, Ares menarik kepalanya sendiri sampai berteriak sendiri karena rasa sakit di dalam perban tersebut.
“Ar, lu gak bunuh orang,” ucap Samuel dengan santai.
Terdengar di telinga Ares kalau Samuel sedang berada di keramaian, ada suara tawa juga di sana. “Lu dimana? Pasti lu lagi seneng seneng kan? Ninggalin gue di dalam kekacauan? Iya?”
“Ar, coba lu keluar dari kamar lu deh. Semuanya bakalan terjawab.” Samuel mematikan panggilan. Ketika Ares menghubunginya, pria itu mematikan panggilannya. Ares kesal bukan main, memangnya ada apa di balik pintu itu? apa ada polisi?
Kini Ares menjadi was was, bagaimana kalau benar ada polisi? Dia menjadi khawatir, apalagi dari dalam kamar Ares tidak bisa mendengar apapun akibat peredam suara. Bagaimana jika saat dirinya keluar, polisi dan wartawan di sana? jadi, demi meminimalisir kekhawatiran, Ares memutuskan untuk mengintip dulu lewat balkon. Dia mencondongkan tubuhnya ke balkon samping demi melihat apa yang terjadi di sana. memang terdengar ramai. Sampai akhirnya Ares mendengar suara tawa Oma yang membuat tubuhnya menegang.
Seketika Ares berlari dan membuka pintu kamar secara tiba tiba dan menimbulkan suara. Hal itu berhasil membuat semua orang di sana langsung terdiam dan menatap pada Ares. “Kau sudah bangun?” tanya sang Daddy yang sedang menonton TV bersama dengan Alden.
Mommy nya, Oma dan juga Athena ada di dapur. Oh, jangan lupakan Samuel yang juga ada di sana. dia terus mendekati Athena hingga memperjelas raut wajah kesal sang kembaran. “Ares, temanmu ini menggangguku. Darimana kau mendapatkan spesies seperti ini?”
“Kenapa kalian di sini?” tanya Ares dengan mata yang berkaca kaca.
Lily yang sedang membawa piring itu mendekati sang anak dulu, mengelus pipi Ares dan berkata, “kami memberikanmu kejutan semalam. Tapi kau mabuk dan hendak menyakiti Athena dengan membawa pisau. Jadi, Oma memukul kepalamu, maaf ya. kami lakukan ini untuk membuat kejutan. Tanpa menyadari kalau sebenarnya membuatmu tertekan.” Lily mengakhiri kalimatnya dengan memberikan kecupan di pipi sang anak.
Sementara itu Ares hanya mematung tidak percaya.
“Kau hampir membunuhku, aku membencimu.” Athena mengibarkan bendera perang.
“Kenapa kalian melakukan ini? kenapa tiba tiba?”
“Tidak tiba tiba, saat kau mengatakan ingin mempertemukan dua keluarga, kami langsung berangkat,” jelas David yang kini bermain game bersama dengan sang anak bungsu. “jangan menunda nunda lagi, kami tidak ingin kalian terjerumus pada hal hal yang aneh.”
“Kalian peduli padaku… hiks…” Ares menyeka air matanya tidak percaya dengan apa yang terjadi di sini.
***
Untungnya, Athena sudah menghubungi Cantika untuk mempersiapkan malam ini dimana keluaga Fernandez akan datang ke sana dengan maksud membicarakan perihal pernikahan. Cantika sendiri tidak masuk kerja karena David yang melarang. Sementara ini, yang memegang kendali adalah asisten pribadinya David. Jadi Ares maupun Cantika hanya mempersiapkan diri sendiri.
“Lu suka sama adek gue kan? Sana deketin dia, sekalian bantuin gue juga biar dia maafin gue karena semalem gue gak sadar mau nyakitin dia,” ucap Ares pada Samuel yang ada di sini. sosok itu enggan pergi dengan alasan ingin membantu Ares, padahal kenyataannya Ares tidak membutuhkan apapun. Berbicara dengan bisikan juga, Ares khawatir akan dipukul oleh Oma.
“Gue mau coba, tapi dianya menghindar mulu. Soalnya dia tau kalau gue mantan Arin.”
“Ya iyalah semua orang tau.”
“Ares,” panggil Oma. “Sini, Nak.”
Ares segera beranjak dari duduknya. Dia melewati sang Mommy yang sedang mendiskusikan apa yang haruss dia bawa ke rumah Cantika nantinya. “Ares, kalau kita bawa ini bagaimana? Kau suka?”
__ADS_1
“Iya, Mom. Lakukan apa yang Mommy suka ya. Ares mau berbicara dulu dengan Oma.” Segera mendekati sosok tua yang kini duduk di balkon sendirian. Athena dan Alden sendiri sibuk dengan memilah benda yang akan dibawa untuk Cantika nantinya.
“Oma? Aapakah Oma kelelahan? Wajah Oma agak keriput.”
“Anak nakal. Kemari peluk Oma.”
Ares langsung melakukannya, dia menyesal karena sudah salah paham pada keluarganya sendiri. “Oma, bisakah Oma abadi dan jangan tinggalkan Ares?”
“Semua orang punya waktunya sendiri. saat kau mendapatkan sesuatu, maka kau juga harus siap kehilangan. Oma berharap kau bisa bahagia dengan pilihanmu. Kau akan menjadi seorang kepala keluarga, kau juga akan menjadi seorang suami. Jika nanti Oma tidak ada, minta nasehat pada Sebstian ya. walau bagaimanapun, dia mendapatkan semua nasehat Oma di masa mudanya. Jadi, dia adalah warisan terbesar Oma. Ingatannya akan nasehat nasehat Oma, nantinya akan diucapkan padamu jika kau punya masalah.”
“Oma berhenti membicarakan kematian. Aku tidak siap kehilangan Oma.”
“Oma tidak membicarakan kematian.” Tangan keriput itu mencubit Ares. “Oma sedang membicarakan kemungkinan Oma sibuk dengan komunitas Oma sendiri. makannya nanti kau harus bertanya pada Sebastian karena Oma tidak bisa diganggu. Kau pikir untuk apa Oma ikut komunitas komunitas itu? tentu saja untuk menikmati kekayaan kalian. Oma harus menghabiskan setidaknya setengahnya.”
Ares tertawa, mengingat kalau Oma memang kerja keras di masa mudanya. “Iya, dan uang Ares tidak akan pernah habis. Makannya Oma harus menghabiskan semuanya dan panjang umur untuk melakukannya.”
Oma mengecup pipi Ares. “Jadi, Cantika sudah hamil belum?”
“Oma jangan berisik,” bisik Ares dengan wajahnya yang penuh ketakutan. Dia khawatir orangtuanya akan mendengar kejadian itu.
***
Sementara di sisi lain, Cantika sedang kewalahan karena mempersiapkan kedatangan Ares dan juga keluarganya, mendadak sekali seperti ini. meskipun tidak dipungkiri kalau rasa bahagia menghampiri. Cantika akan bersama dengan Ares dengan cepat. Memang benar kata orang, jodoh tidak akan kemana mana.
“Cantika, cepat bantu Nenek, kenapa kau malah diam tersenyum sendiri di sana?”
Memasak sendiri dengan bantuan beberapa chef yang menjadi kenalan neneknya. Mereka akan datang saat jam makan malam. Athena yang memberitahukan kenyataan kalau keluarga Fernandez memang menyiapkan kejutan untuk Ares.
“Tunggu, Cantika. Kau tidak boleh membantu, lebih baik kau ke kamar saja dan beristirahat. Kalau kau kelelahan, nanti wajahmu jadi jelek,” ucap sang Nenek membuat Cantika kaget. “Maksudnya, nanti kau tidak segar. Malam nanti kau harus jadi tuan putri.” Memaksanya masuk bahkan sampai Cantika hendak dikunci dari luar jika tetap membantu.
Dia memejamkan matanya perlahan sampai ponselnya tiba tiba berdering. Oh, itu telpon dari Ares, sepertinya pria itu sudah sadar. “Hallo, Ares? Kau baik baik saja?”
“Cantika, apa yang kau dengar dari Athena?”
“Hehehe, semuanya. Athena bilang kau hampir membunuhnya.”
“Itu karena aku tidak sadar, aku tidak tau apa yang aku lakukan,” ucap Ares tidak senang karena dipandang seperti itu.
“Tidak apa, kau pasti kecewa ya ketika mereka bilang tidak akan datang.”
“Hmm, begitulah. Tapi sekarang semuanya terbalaskan. Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Ares mengalihkan pembicaraan.
“Aku sedang berbaring, nenek melarangku membantu.”
“Memang harusnya seperti itu. aku tidak sabar untuk datang ke sana dan merencanakan pernikahan kita.”
Satu lagi yang mengganjal di hati Cantika, yaitu tentang Galuh. Bukan sebentar pria itu mendampinginya, tapi Cantika yakin kalau dia akan memahami apa yang Cantika pilih.
“Cantika, apa sudah ada tanda tanda mual?”
“Demi Tuhan Ares, ini baru beberapa minggu. Tidak mungkin secepat itu, dan mungkin aku tidak hamil.”
“Tapi aku sehat, bibitku premium. Aku jarang merokok dan juga minum alcohol. Milikku pasti berlarian dengan cepat dan tidak gugur di jalan.”
Membicarakan hal seperti ini berhasil membuat pipi Cantika memerah. “Aku ingin istirahat dulu ya. kita berbicara lagi nanti.” Memutus percakapan seperti itu. untungnya Ares menurut dan mematikan telpon.
__ADS_1
Sampai malam hari tiba, semua kehebohan di mulai apalagi Neneknya yang kini berdandan lebih lama dari Cantika. Sejak satu jam yang lalu, Neneknya berada di depan cermin menatap dirinya sendiri. “Nenek ini kenapa? yang akan menjadi pengantin kan Cantika, kenapa Nenek yang berdandan sangat lama?”
“Bukankah Neneknya mertuamu itu awet muda dan cantik? Nenek ini umurnya lebih muda, jadi tidak boleh kalah dari Oma nya Ares.”
Ya ampun, sudah tua tetap saja memikirkan hal seperti itu. sampai Cantika mendengar suara mesin mobil, dirinya bergegas keluar bersama dengan sang Papa yang sejak tadi sudah ada di sana. melihat bagaimana mobil mobil mewah itu memasuki pekarangannya, dengan Ares yang keluar dari mobil dengan penampilannya yang tampan.
“Dad, Mom, tolong pegangi aku. Di sini licin, aku takut terpeleset,” ucap Ares yang sekarang memperhatikan setiap langkah yang dirinya ambil.
***
Makan malam itu menjadi milik Cantika dan juga Ares, kedua belah keluarga sama sama membahas mereka. yang paling penting, mereka menanyakan kesiapan Cantika dan juga Ares dalam berumah tangga.
“Ares, dimana kau nantinya akan tinggal jika sudah menikah? Daddy membutuhkanmu di Amerika, apa kau akan ke sana dan membawa istrimu?” tanya David yang mana membuat Ares menegang. Dia tau kalau Cantika enggan meninggalkan keluarganya yang hanya tersisa Papa dan juga Neneknya.
“Ares rasa akan tinggal di sini, Dad. Namun jika suatu saat nanti Daddy membutuhkan Ares, Ares akan ke sana, tapi tidak untuk tinggal di sana.” dengan pintarnya, Ares menjelaskan bagaimana pasar di Indonesia kembali berkembang. Dan membuatnya akan mudah lagi mendapatkan keuntungan.
“Dan Cantika sendiri? apa akan berhenti bekerja jika sudah menikah?” tanya Lily, dia ingin anaknya dilayani seperti dirinya melakukan hal itu pada David. Karena dibalik pria yang sukses, ada istri Cantik di dapur.
“Tidak masalah untuk Ares jika Cantika ingin tetap bekerja,” ucap Ares, dia enggan membuat Cantika tidak nyaman.
“Cantika yang ditanya,” ucap Athena dengan tajam.
Akhirnya Cantika menjawab. “Um, aku rasa aku akan berhenti bekerja. Tujuan kami menikah adalah membangun keluarga, jadi kami akan focus pada hal itu.”
“Mommy ingat kalau kau ingin jadi pianis. Dengan menikah bersama Ares, kau mendapatkan kesempatan untuk itu, Cantika. Apa nantinya kau akan bermain piano keliling dunia?”
“Tidak harus keliling dunia. Pianis menurutku bisa membuat orang sekitar bahagia, dan orang sekitar yang paling berharga untukku adalah keluarga.”
Cantika dan Ares sendiri malah merasa sedang diwawancarai, agak tegang jadinya. Papanya Cantika berdehem. “Karena kami melihat bagaimana cara mereka berpacaran sedikit ektrem, kami berharap keduanya segera menikah saja sebelum hal yang iya iya terjadi.”
Membuat Oma bergumam. “Mereka sudah melakukan hal yang tidak tidak pada kenyataannya.”
“Oma mengatakan sesuatu?” tanya Athena penasaran.
“Tidak, lupakan apa yang Oma katakan.” Panic sendiri karenanya. “Jadi, kapan mereka berdua akan menikah?”
Semua orang menatap pada David, karena keputusan ada di pria itu. anak anak mengatakan mereka siap melakukan pernikahan secepatnya, itu artinya anggaran saja yang perlu ditekankan untuk melangsungkan acaranya. “Minggu depan saja bagaimana? Supaya kita kembali ke Amerika, anak anak sudah menikah.”
Cantika tersedak, dia terbatuk batuk.
“Astaga, kau baik baik saja, Nak?” Oma memberikan minum.
Cantika meminumnya dan mengangguk. Dia hanya terkejut karena ini terlalu cepat. Demi Tuhan, dirinya memang siap menikah dengan Ares tapi tidak secepat ini. bukankah ada banyak hal yang harus disiapkan?
“Tapi, apa tidak terlalu cepat?”
“Jangan khawatir, Mommy sudah mengatur semuanya dari jauh jauh hari. Dekorasi dan semacamnya, kau bisa memilihnya dari yang terbaik yang sudah Mommy siapkan,” ucap Lily dengan antusias. “Ya?”
Cantika mengangguk juga, memangnya pilihan apa yang bisa dia ambil?
“Nah, akhirnya kita bisa menghela napas lega karena mereka akan menikah minggu depan. Dan selama itu juga, Cantika jangan bekerja ya,” ucap Davis.
“Iya, Dad.” Tapi yang menjawab adalah Ares.
Membuat David menatap tajam anaknya dan berkata, “Kau tidak termasuk, kau harus tetap bekerja bersama dengan Daddy.”
__ADS_1
“Ya ampun.”