
Cantika ingin mengonfirmasi apa yang dirinya dengar barusan. Dengan memegang bahu Ares. “Kau sakit?” tatapan matanya terlihat sangat khawatir. “Ares, berhenti mempermainkan aku.”
“Aku tidak mempermainkanmu. Lihatlah kertas itu. coba kau baca di sana, mengatakan aku mengidap penyakit itu bukan?”
Cantika ingin menanyakannya lebih lanjut, namun pintu kacanya lebih dulu diketik. Saking dirinya terfokus pada kertas itu sampai tidak sadar kalau dirinya sudah sampai di basement. Ares menurunkan kaca mobil Cantika dan berbicara dengan orang itu. “Aku Ares Fernandez.”
“Tuan Lincoln sudah menunggu anda, Tuan. Mari saya antar.”
Ares mengangguk dengan wajahnya yang dingin. “Ayok keluar dulu, aku akan menjelaskan sisanya nanti.”
“Tidak bisakah sekarang?”
“Kita harus menghasilkan uang dulu, Cantika,” ucap Ares sambil terkekeh. Tidak ada raut wajah menyebalkan. Yang ada, dia terlihat sangat mengenaskan di mata Cantika.
Jadi, perempuan itu melangkah keluar dari mobil dan mengikuti langkah Ares.
“Saya Kent, ajudan Tuan Lincoln. Senang bertemu dengan anda, Tuan Ares.”
Ares menjabat tangan itu sebelum. “Ini asistenku, namanya Cantika.”
“Senang bertemu dengan anda, Nona Cantika.”
Cantika memaksakan senyuman, meskipun pada kenyataannya dia benar benar khawatir dengan Ares. Dipaksa melangkah mengikuti Ares yang sedang bicara dengan ajudan itu. jujur saja, pikiran Cantika berkecamuk. Matanya tidak lepas dari punggung lebar Ares, benarkah pria itu akan meninggal?
“Cantika, kau baik baik saja?”
“Harusnya aku yang menanyakan itu padamu,” gumam Cantika sambil menunduk. Dia menarik napasnya dalam.
“Aku baik baik saja, percaya padaku. Nanti aku akan memberitahumu apa yang terjadi denganku. Okay?”
Cantika hanya memaksakan senyumannya ketika Ares mencoba menenangkannya. Ares sendiri merasa gemas, dia ingin segera menjelaskan. Namun, kali ini bukan waktu yang tepat karena dirinya sudah masuk ke dalam salah satu ruangan di resto Jepang. Sudah ada dua orang yang menunggu di sana. seorang pria tua dan putrinya.
“Tuan Ares Fernandez, lama tidak bertemu dengan anda. Dulu anda masih belasan tahun.”
“Ya, senang bertemu dengan anda lagi, Tuan Lincoln. Ini Cantika, sekretarisku yang akan ikut membahas tentang bisnis kita.”
“Oh ya ampun. Kita akan berbisnis? Aku pikir kita akan membicarakan hubungan anttara dirimu dan putriku Debby.” Kalimat yang dikatakan Tuan Lincoln membuat putrinya yang ada di sampingnya itu tersenyum malu malu.
“Hai, Ares.” Debby Lincoln, nama dari perempuan yang seusia dengan Ares. “Lama tidak bertemu.”
“Ya, senang bertemu denganmu lagi.”
Tuan Lincoln duduk dan terkekeh. “Kalian akan mencoba bersama?”
Saat jawaban Ares hanya senyuman, itu membuat Tuan Lincoln tertawa. “Hanya bercanda, tapi aku benar benar berharap kau tertarik pada Debby.”
Bahkan Debby menimpali dengan kalimat, “Aku bisa menjadi apapun yang kau suka, Ares. Aku akan mencoba yang terbaik untukmu.”
“Berhenti menggodanya, Nak.” Tuan Lincoln memberi instruksi.
Sementara Cantika? Dia hanya memandang Ares dengan rasa kasihan. Dan hal itu disalah artikan oleh Ares, dirinya menatap Cantika dengan alis yang naik. “Kenapa?” senyumannya yang begitu manis.
“Tidak ada.” Kembali focus pada tamu di depannya.
“Kami belum memesan makanan, tidak tau apa yang kalian mau.” Tuan Lincoln berucap.
Dan selama makan malam itu, Tuan Lincoln dan putrinya selalu berusaha mengarahkan percakapan pada arah hubungan Ares dan Debby. Yang Cantika dengar, ternyata mereka itu adalah teman saat sekolah bisnis juga.
“Bukankah hal yang baik kalau kalian bersama?” Tuan Lincoln kembali berucap. “Dan kita dua perusahaan besar, akan sangat bagus jika melakukannya bukan?” kemudian ketika mendapatkan senyuman tipis dari Ares, Tuan Lincoln segera berucap, “Kami hanya bercanda, tapi akan senang jika kau juga mengharapkannya.”
__ADS_1
Cantika sedari tadi tidak terlibat percakapan karena Tuan Lincoln tidak menyinggung perihal bisnis. Merasa kalau dirinya tidak terlalu diperlukan, Cantika rasa tidak masalah kalau dirinya pergi ke kamar mandi untuk melepaskan rasa sesak di dadanya.
“Aku ingin ke kamar mandi dulu, permisi sebentar,” ucap Cantika pamit dengan baik dari sana.
Ares menatap khaawatir. Ah, dia harusnya tidak memberitahukan ini lebih cepat dan membuat pikiran Cantika menjadi kacau sekarang.
***
Di dalam kamar mandi, Cantika merenung. “Apa yang Ares rasakan sekarang tidak sebanding dengan yang aku rasakan, dia berjuang dengan hidupnya. Apa aku wanita yang jahat karena telah melakukan hal ini padanya?” air matanya menetes. Bukan karena cinta, tapi karena Cantika merasa iba pada Ares. Dia tau betapa baiknya pria itu, dan Cantika sediri mengaguminya dulu.
Hanya saja, sekarang Ares menyebalkan dan pergi tanpa kejelasan. Itu yang membuat Cantika selalu berusaha mendorong agar Ares menjauh pergi darinya. Ketika mengingat masa masa manis dengan Ares, saat pria itu datang menjemputnya dengan motor besar, mencarikan anak ayam untuknya, kemudian makan roti dan susu, bahkan ketika dirinya sakit, dia selalu ada.
“Hiks….” Cantika merasa bersalah karena dia telah memandang Ares sebagai pria paling jahat di dunia. “Hiks… Hiks…”
Di bilik kamar mandi itu, Cantika menangis sendirian. Enggan untuk kembali ke tempat makan, dia tidak bisa menghentikan tangisannya.
“Cantika… kau baik baik saja?” itu Ares! Kenapa dia masuk ke kamar mandi perempuan? Apa dia gila?
“Ayo kita bicara, aku akan menjelaskan semuanya.”
Belum juga Cantika menjawab, lebih dulu terdengar kalimat, “Kau tidak seharusnya masuk kamar mandi wanita!”
“Maaf, istriku sedang hamil dan dia ada di dalam, dia sedikit sensitive. Aku tidak bisa meninggalkannya,” ucap Ares membalas kalimat wanita tersebut.
Cantika terkekeh di dalam sana, bagaimana bisa dia tetap tengil saat sekarat?
“Oh astaga, benarkah?” terdengar oleh Cantika kalau wanita itu datang ke arahnya kemudian mengatakan, “Keluar dari bilik toilet ini dan temui suamimu. Kau bisa terkurung di sana dan terjadi sesuatu dengan bayimu.”
Karena Cantika enggan membuat ketidaknyamanan, makannya dia keluar dari bilik tersebut dengan wajah yang sembab.
“Ya ampun, semoga pernikahan kalian baik baik saja,” ucap wanita tersebut masuk ke dalam bilik yang lain.
Cantika mengikuti Ares saja, dan sedikit heran saat Ares melangkah ke halaman belakang restaurant ini. “Tuan Lincoln? Apa kau meninggalkannya?”
“Dia sudah pulang karena anaknya harus pergi ke klinik kecantikan.”
“Lalu? Bagaimana tentang bisnis?”
“Kami memutuskan untuk bertemu lagi nanti tanpa Debby. Tuan Lincoln sadar kalau dirinya tidak bisa focus kalau ada anaknya di sana,” ucap Ares duduk di salah satu bangku taman di sana.
Karena restaurant ini berada di atap gedung, jadi pemandangan yang mereka lihat sekarang adalah city light. Ares menghela napasnya dalam dan tersenyum, pandangannya tetap pada keindahan kota. Cantika duduk di sampingnya, membuat Ares merasa senang.
“Aku menyebalkan ya?”
“Aku senang kau menyadarinya,” gumam Cantika.
“Maaf, aku tidak bisa menahan diriku ketika berada di samping wanita yang aku sayangi. Aku menjadi bodoh, kadang aku merasa IQ tidak berguna, aku memang idiot kalau urusan cinta.”
Cantika terdiam, memainkan jemari kukunya. Dia menarik napasnya dalam dan bertanya, “Dokter bilang berapa lama?”
“Hmm?”
“Kau mati kapan katanya?” tanya Cantika dengan mata berkaca kaca, bahkan air mata itu sudah turun. Karena pemeriksaan dokter itu dilakukan beberapa tahun lalu, tepat di saat Ares meninggalkannya. sudah bertahun tahun. Itu artinya kankernya semakin parah bukan karena sudah lama. “Apa kau bahkan menggunakan rambut palsu, Ares?”
“Tidak, Cantika.” Ares terkekeh. “Aku sehat sekarang.”
“Kau sembuh?”
Ares menatap langit langit. “Saat kita sekolah dulu, Daddyku mengajak aku dan Athena untuk pergi ke Amerika. Untuk melihat sekolah bisnis yang akan kami tempuh. Aku tidak memberitahumu karena aku ingin mengejutkanmu, karena di Amerika aku memesan safir yang sangat kau suka. Tadinya aku akan pulang saat kau lomba piano, dan aku yakin kau akan memenangkannya, lalu aku akan memberikan hadiah itu padamu.”
__ADS_1
Cantika kaget, bahkan Ares ingat saat dirinya lomba piano. Namun di hari itu, Cantika menangis karena ibunya sudah meninggal dan Ares tidak ada di sana.
“Namun sebelum itu terjadi, aku pingsan saat sedang diajak berdiskusi bersama dengan kolega Daddy. Athena membawaku ke rumah sakit, bersama dengan Daddy. Dan disanalah aku dinyatakan kalau aku kanker.”
Kini Cantika tidak bisa memalingkan wajahnya dari Ares.
“Aku takut, Cantika. Aku tau kau begitu mencintaiku, aku khaawatir kau akan menangisi kepergianku. Jadi, aku memutuskan untuk menetap di Amerika dan tidak berhubungan dengan siapapun lagi. Aku memutuskan hubungan kita secara sepihak dan menimbulkan sakit hati.” Ares juga mengatakan kenapa saudaranya yang lain tidak bisa dihubungi. Karena Athena kehilangan ponsel dan juga laptopnya, lalu dia masuk ke asrama untuk menghilangkan kesedihannya atas Ares. “Athena menangis karena kondisiku. Dan selama itu, aku hanya berada di rumah bersama dengan Oma dan Mommy. Bahkan adik bungsuku yang begitu dingin sampai menangis. Kau ingat Alden?”
Cantika terkekeh dan mengangguk, air matanya tetap turun.
“Satu bulan pertama, aku menangis dan enggan berobat karena aku tau akhirnya akan mati.” Ares menggigit bibir bawahnya. “Tapi Mommy memaksaku di bulan kedua karena dia curiga aku tidak seperti penderita kanker. Bahkan Oma menjambak rambutku karena aku tidak rontok rontok, tidak ada gelaja apapun juga.”
“Lalu?”
“Aku baru mendapatkan kabar kalau ternyata aku tidak menderita penyakit kanker. Dokter yang memeriksaku waktu itu adalah dokter penderita Alzheimer yang seharusnya sudah pensiun. Dan dia salah mendiagnosisku.”
Mulut Cantika terbuka tidak percaya.
“Tadinya aku akan langsung pulang ke Indonesia dan menjelaskan semuanya pada kalian semua, khususnya padamu. tapi perusahaan Daddy tiba tiba down, dia ditipu. Giliran Daddy yang sakit karena merasa gagal. Di sanalah aku bekerja sama dengan Uncle Sebastian dan Uncle Luke untuk membangunkan lagi Fernandez Inc. jadi aku melupakanmu. Maafkan aku.” Air matanya menetes, merasa bodoh dan juga menyesal.
“Setelah aku didiagnosis itu, yang aku lakukan hanya menulis mengungkapkan isi hatiku.” Ares terkekeh. “Setelah tau apa yang terjadi padaku adalah kesalahan, Oma bahkan sampai menerbitkan catatan catatan mengenaskan milikku. Nanti aku akan memberikannya padamu.”
Ares baru berani menatap Cantika yang sedari tadi hanya menatapnya. Dalam pikiran Cantika, dia ingat sebuah berita yang menyebutkan Fernandez INC akan mennyelesaikan masa kejayaannya. Namun berita itu dibantah oleh CEO bernama Sebastian dan Luke.
Ternyata, Ares yang berjuang untuk menegakan semuanya lagi.
Tapi, tatapan Cantika disalah artikan oleh Ares. Yang mana membuat Ares langsung mengambil ponselnya. “Aku tidak berbohong.” Sambil menggelengkan kepala. “Lihat, aku akan menelpon Oma sekarang.”
Ares melakukannya, dan menekan loudspeaker supaya bisa didengar oleh Cantika. “Oma?”
“Ohh cucuku tersayang. Nada suaramu terdengar kalau kau sedang gelisah. Tidakkah kau ingin menuangkannya lagi dalam bentuk puisi? Catatan milikmu itu sangat laris, Nak.”
“Oma, aku terkena kanker.”
“Ares.” Suara Oma tiba tiba datar. “Sebelum kau pergi ke dokter, pastikan dulu dokter itu sehat.”
Kemudian mata Ares menatap Cantika seolah mengatakan kalau dirinya tidak berbohong.
“Oma, sudah dulu ya?”
“Kapan kau ke sini? kau sedang di California bukan?”
“Oma, nanti Ares telpon lagi ya.”
“Nak, nada suaramu terdengar berbeda? Apa kau sedang menahan buang air? Jangan seperti itu, Ares. Berapa kali Oma bilang, menahan BAB tidak baik.”
“Oke, Bye, Oma.” Langsung mematikan panggilan. Ares tidak diberik kesempatan bicara oleh Oma.
Kemudian diam diam Ares menatap Cantika. “Maaf karena aku terlalu bodoh. Harusnya aku menjelaskan padamu waktu itu, tapi aku malah terfokus pada pekerjaan dan mengganggap kau akan kembali menerimaku kapanpun aku keembali.”
Cantika menarik napasnya dalam. “Ares kau hebat,” ucapnya. “Orangtua memang harus diutamakan. Aku baik baik saja sekarang. Terima kasih atas penjelasannya.”
Ares tahu, bukan waktu yang baik untuk memaksakan perasaannya.
Jadi, malam itu mereka hanya menatap pada pemandangan yang begitu indah. Dengan mata keduanya yang sembab karena menangis. Berharap tangan Tuhan berbaik hati pada Ares, supaya dirinya mendapatkan Cantika lagi.
“Ah iya, ini safir yang aku buat untukmu.” Mengeluarkan sebuah kalung kecil dari sakunya. “Ini mungkin terlambat, tapi aku ingin mengatakannya padamu.” posisinya dibetulkan dengan menghadap Cantika. Ares tersenyum. “Selamat atas kemenangannya. Jemari indahmu melantunkan melodi yang memikat hati. Cantika, ini hadiah untukmu.”
Manis.
__ADS_1
****