STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Sekretaris


__ADS_3

“Apa kau merindukanku?”


“Bukankah kita akan membicarakan tentang pekerjaan, Tuan Ares?” tanya Cantika yang membuat Ares berdehem seketika. Sekejam itu mantan kekasihnya, membuatnya menghela napas berulang kali. Andai saja dulu dia tidak bertindak secara ceroboh.


“Hei, mau mendengar ceritaku?”


“Bukankah kita akan membahas tentang pekerjaan?”


Oke, Ares akan berhenti sekarang. melihat bagaimana telinga Cantika merah pasti karena marah, karena mustahil jika sosok itu sedang merasa malu sekarang.


“Jadi…..” Ares menghela napasnya dalam. “Ingin pesan kopi?”


Dan barulah Cantika berani menatap Ares; dengan tatapan yang lebih tajam. Seolah dirinya ingin mengunyah sosok di hadapannya itu. “Tuan, tolong bersikap professional. Ini sudah diluar jam pekerjaan saya, saya tidak bisa berlama lama di sini. Ada urusan yang harus saya lakukan. jika memang ada pekerjaan, lebih baik katakana sekarang.”


Harusnya karyawan semacam ini dipecat saja, tapi Ares terlalu sayang pada Cantika. Lagipula dia tidak ingin berbuat hal yang bodoh. Jadi berulang kali Ares meminta dirinya sendiri untuk bersikap lebih professional. Menahan segala keinginan untuk memeluknya, duh, Ares kan rindu pada Cantika.


“Jadi, ada beberapa alat music yang harus didesain dengan lebih modern dan cantik.”


“Boleh saya minta berkas yang mereka ajukan?”


“Um, saya akan mengirimkannya karena itu dalam bentuk file.”


“Baiklah, saya akan menunggunya. Tuan pasti sudah mengetahui email saya, jadi… tidak ada yang harus dikatakan lagi bukan?”


“Ada,” ucap Ares seketika. Sebenarnya tidak, tapi dia harus mencari cara lain. “Boleh minta nomor whatsapp nya?”


“Untuk apa?”


“Untuk mengirimkan file?”


“Lewat email saja, Tuan.”


Risih sekali Ares mendengar Cantika memanggilnya seperti itu. Kenapa tidak memanggilnya dengan nama sayang saja? “Tapi saya perlu komunikasi lebih intens, ini menentukan masa depan perusahaan.”


“Apa maksudnya?”


“Karena sebenarnya, hal ini bis—”


“Baik, akan saya berikan,” potong Cantika dengan cepat. Oh, dia tau apa yang akan Ares lakukan. manusia penuh modus di dunia ini. dia pasti tidak akan berhenti sampai mendapatkannya, jadi Cantika memberikan nomornya, dengan harapan dia tidak akan diterorr karena hal ini. “Ada hal lain yang ingin bapak sampaikan pada saya?”


“Tidak, kau boleh pergi. terima kasih sebelumnya.”

__ADS_1


Cantika berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun. Hati Ares teriris melihatnya, bagaimana bisa dia diacuhkan seperti itu. Tangannya mengambil sebuah cermin dari laci, dan menatap dirinya sendiri. “Apa aku kurang tampan? Aku sudah tidak tampan ya?”


Sementara itu, Cantika bergegas turun dan mengabaikan beberapa orang yang menyapanya. Dia benar benar ingin menangis saat ini, betapa menyakitkannya saat kau mencintai dan membenci di saat bersamaan.


“Cantika, kau baik baik saja?”


“Cantika apa yang terjadi?”


“Hei, apa kau menangis?”


Begitu ketika teman temannya bertanya. Cantika hanya tersenyum sebagai jawaban. Dia memilih untuk mempercapat Langkah, ingin keluar dari tempat ini.


Begitu keluar, Cantika mendapati Galuh di sana. Menatapnya dengan penuh tanya sambil menduduki motornya.


“Astaga, apa kau baru saja menangis? apa yang terjadi?”


“Ayo kita pergi saja,” ucap Cantika menahan tangan Galuh yang hendak turun. Dia bergegas naik ke atas motor, dan meminta Galuh dengan cepat membawanya dari sini. Dia tidak akan kuat berlama lama di sini.


Dan tanpa disadari oleh mereka, Ares melihat dari lantai atas. Sakit juga ternyata mendapati sosok yang dia sukai bersama dengan orang lain.


“Hufttt… bagaimana ini? haruskah menculik dia saja?”


*****


“Mentalku tidak selemah itu, Galuh. Aku akan bertahan, tempat ini sangat cocok untukku. Aku suka music, dan aku nyaman dengan lingkungannya.”


Galuh menghela napasnya dalam. “Syukurlah kalau kau berfikiran begitu, jangan biarkan satu keburukan menghalangi kebaikan lainnya.”


Cantika menganggukan kepalanya, sambil menarik napasnya dalam.


“Makan dulu makanannya, aku sudah mentraktirmu. Apa kau tidak kasihan?”


“Harusnya kau tidak melakukan ini,” gumam Cantika sambil menusuk nusuk daging di depannya. Kali ini dia dan Galuh sedang makan malam di sebuah resto, aneh sekali saat Galuh memperlakukannya dengan begitu lembut. Padahal mereka berdua terbiasa berbicara seenaknya; barbar tanpa batas.


“Hanya dua bulan,” batin Cantika.


Kenyataannya dia lebih nyaman dengan Galuh sebagai sahabatnya.


“Bagaimana kalau setelah ini kita ke mall? Membeli hiasan rambut untukmu.”


“Aku tidak butuh itu,” ucap Cantika dengan malas.

__ADS_1


“Ayolah, aku yang meminta. Ya? Kita beli yang banyak.”


“Bagaimana kalau besok saja?” cantika menatap dengan memohon. “Hari ini kita jalan jalan saja pakai motor, aku ingin menghirup udara segar.”


“Baiklah, ayo kita lakukan.”


Lagi lagi Galuh harus bersabar agar bisa mendapatkan Cantika. Jadi setelah mereka makan malam bersama, keduanya memutuskan untuk membelah kota Jakarta dengan motor vespa antic milik Galuh.


Mood Cantika sedikit naik, dia tersenyum saat angin menerpa wajahnya yang tidak tertutip kaca helm.


“Jangan lupa pegangan,” ucap Galuh memperingati.


“Nanti saja.”


“Tapi aku akan mengebut sekarang, Ca.”


“Aaaaaa!” teriak Cantika dengan kuat, seketika dia memeluk Galuh. Kemudian keduanya tertawa.


Dan teriakan Cantika sebelumnya itu menarik perhatian orang orang, termasuk Ares yang berada di dalam mobil. Dia menatap kepergian sosok itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Samuel yang melihatnya itu tertawa. “Kasihan, jomblo ngenes,” sindirnya. “Perlu gue susul gak? Gue injek gas nih?”


“Lu mau dikeluarin atau potong gaji? Oh, atau gak mau kerja di manapun? Mau gue blacklist?”


Ngeri sekali, Samuel langsung bergidik dan meminta ampunan. “Bercanda doang kali, yang sabar, Ar. Gue serius. Tapi udah gue duga sejak lama sih kalau Cantika bakalan sama Galuh, waktu lu gak ada, Cuma itu cowok yang ada disekitar Cantika.”


“Ya elu sama si Arin kemana bego?”


“Ya pacaran, kita kan pacarana,” ucapnya kemudian teringat sesuatu. “Tapi sekarang udah putus. Hiks, kasian gue.”


“Jomblo lu juga? Kasian.”


“Kagak dong. Hahahaha! Gue udah punya gebetan baru lagi sekarang,” ucap Samuel, sesekali menatap Ares dari kaca spion dalam. Sial sekali dia menjadi bawahan si bintang sekolah lagi. Sampai Samuel menyadari kalau raut wajah Ares menjadi memelas. “Eh, Ar, jangan gitu dong. Gue kan Cuma bercanda, ayolah lu pasti bis dapetin lagi Cantika.”


“Boro boro, dia lama lama sama gue aja gak mau.”


“Ya iyalah gak mau, kan bukan siapa siapa.” Sedetik setelahnya, Samuel diberikan tatapan yang tajam. Dia kembali berdehem. “Beda lagi kalau lu jadiin sekretaris, pasti dia nemenin lu kemana mana. Nostalgiaan lagi deh, kayak pas pacaran.”


Wajah Ares berubah menjadi cerah seketika. “Sekretaris ya? Pindah jabatan?”


Samuel bergidik ngeri melihat ekpresi wajah Ares. “Semoga aja Cantika buka mata, Ares mulai stress sekarang,” gumamnya.

__ADS_1


****


__ADS_2