
Akhirnya, Ares bisa puas dengan berduaan bersama dengan sang istri. Dia melepaskan kerinduannya setelah hampir dua bulan tidak menyentuh Cantika. Pagi ini, Ares bangun dengan wajahnya yang cerah. Dia bahkan memindahkan sang istri yang terlelap ke kamar mereka. di kamarnya, Aeri tidak ada. “Untung saja anak itu tidak rewel,” pikirnya. Karena semalam memang melelahkan untuk Cantika, jadi Ares akan membiarkan sang istri terlelap sementara dirinya mandi dan siap siap pergi bekerja.
Saat Ares sedang memakai baju, Cantika membuka matanya perlahan dan menatap sang suami. “Jam berapa?” bertanya dengan suara parau. Jujur, untuk bergerak saja begitu malas. Tubuhnya terasa remuk atas apa yang dilakukan oleh Ares semalam. Membuat Cantika pusing bukan main, tubuhnya tidak henti dihentak dengan kuat.
“Tidur saja lagi, aku sudah meminta pelayan menyiapkan sarapan.”
“Aeri?”
“Bersama pengasuhnya. Dia tidak rewel.”
Cantika menghela napasnya dalam dan mendudukan dirinya. Berdesis menahan sakit.
“Ingin berendam air hangat? Akan aku siapkan.”
“Tidak perlu, kau sudah mandi, Ares.”
“Aku tidak masalah mandi lagi,” ucapnya dengan semangat. Karena Ares baru memakai celaana dalam, dia tinggal membukanya dan berjalan ke arah Cantika. Membuat perempuan itu memalingkan wajah. sungguh meskipun mereka suami istri dan Cantika sudah sering merasakan benda itu di dalam tubuhnya, tetap saja rasanya malu melihat Ares tanpa busana seperti ini.
Digendongnya Cantika dan berendam bersama. Tahu seperti ini, Ares tidak akan mandi tadi. Tapi karena dengan mandi lagi bersama dengan Cantika, Ares mendapatkan kesempatan meremmas lagi daada sang istri. Jadi tidak masalah untuknya kembali mandi.
__ADS_1
“Ares, sakit. Jangan ditekan,” ucap Cantika risih.
Ares malah nengorek ngorek dan memainkan ujung daada Cantika. “Lucu sekali, kenapa berwarna pink ya? kenapa tidak hijau?”
“Kau ingin aku tidak normal?”
“Maksudnya, kenapa Tuhan menciptakan ini berwarna pink, atau rambut kenapa tidak ada yang warna kuning?”
“Ares berhenti membuatku pusing dengan harus befikir,” ucap Cantika memohon. Satu satunya cara membuat Ares bungkam tentu saja dengan diberikan kecupan di pipi dan bibir. Berhasil membuat Ares tersipu dan melupakan pertanyaan dari dalam otaknya.
Setelah mandi, Ares masih menggendong Cantika, membantu sang istri berpakaian bahkan menyisir rambutnya.
“Tidak mau digendong,” ucap Cantika merasa malu. “Aku berjalan saja, tidak apa apa.”
“Tidak,” bohongnya.
Namun hal itu malah membuat Ares berbinar. “Berarti nanti malam kita bisa melakukannya lagi?”
Yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Cantika, Ares hanya tertawa dengan bodoh dan mengucapkan kata syukur karena Cantika sudah tidak sakit dan mereka bisa melakukannya lagi nanti malam. “Mungkinkan setelah melahirkan, kau jadi memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri lebih cepat, Sayang?”
__ADS_1
“Aduh, Ares, kepalaku pusing,” ucap Cantika memilih untuk meninggalkan Ares.
Pria itu segera menyusul sang istri keluar kamar. Perhatiannya langsung tertuju pada seorang bayi yang sedang dijemur. “Aeri, anak kesayangan Papa. apa tidur semalam nyenyak? Wah, Aeri hebat ya sudah bisa tidur tanpa kami. Ke depannya, seperti itu ya. mohon bantuannya,” ucap Ares duduk di samping sang anak yang sedang berjemur. Aeri tidak bergerak karena dia tidur.
“Perutmu bulat sekali, Aeri. Seperti gentong,” ucapnya menekan nekan perut sang anak.
“Ares, jangan melakukan itu pada anakmu,” ucap Cantika memperingati.
“Tidak, aku hanya akan menggendongnya. Sudah cukup lama dirinya berjemur.” Ares membawa Aeri ke dalam gendongannya. Dia cium pipi sang anak berulang kali hingga membuat Aeri menggeliat merasa teranggu.
“Kenapa wajahmu merah, Aeri?” tanya Ares ketika sang anak menggeliat.
Dan…. BRUTTT! Anak itu kentutt begitu keras hingga membuat Ares kaget. Dan sialnya, bukan hanya angina yang dibuang, tapi juga kotoran. “Bi! Aeri tidak pakai popok?” tanya Ares ngeri merasakan tangannya basah, hangat kemudian bau menyengat memasuki indra penciumannya.
“Tidak, Tuan.”
“Sepertinya dia buang air besar,” ucap Ares dengan tatapan miris.
Sementara bayi itu bergerak dan menatap Ares dan tersenyum.
__ADS_1
***
Tamat ya.