
Hari hari yang dilewati Ares kini terasa lebih menyenangkan. Saat jam tidurnya berkurang, itu tidak membuat Ares kesal. Dia malah merasa bersyukur mendapatkan nikmat sebagai seorang ayah, diberikan kesempatan oleh Tuhan menjalani peran ini. ketika pulang bekerja, akan ada sosok yang menyambutnya dengan senyuman. Dua perempuan cantik yang selalu membuat Ares berusaha pulang lebih awal, lebih cepat menyelesaikan pekerjaan.
“Woahh, anak Papa sudah mandi?” begitu Ares datang, dia mendekati Cantika yang sedang menggendong Aeri. Seperti biasa, mereka menunggu di balik pintu.
Namun seperti biasa juga, Ares tidak diizinkan untuk menyentuh sang anak sebelum mandi. Karena Cantika tau kemana saja jadwal sang suami hari ini, khawatir ada kumannya.
“Papa mandi dulu ya, nanti bermain bersama. Okey?”
Bayi itu tertawa seolah paham dengan apa yang dikatakan oleh Ares.
“Iya, Papa harus ganti pakaian. Kalau tidak, Mama tidak akan memberikan jatah neenen pada Papa.”
Yang seketika mendapatkan pelototan dari Cantika. Sudah dikatakan kalau Cantika tidak nyaman jika Ares mengatakan hal hal vulgar dengan keberadaan para pembantu di sekitarnya.
“Hahaha, hanya bercanda, Sayang. aku mandi dulu ya. nanti malam boleh kan?”
“Mandi, Ares.”
“Uhh, baiklah baiklah.”
Cantika memutarkan bola matanya. Dia memeriksa ke dapur, melihat makan malam yang sedang dibuat pelayan. Terkadang Cantika yang memasak jika Aeri mau dilepaskan, tapi sekarang ini sang anak agak rewel rupanya. Sepertinya dia kelelahan dengan kelas tambahan.
__ADS_1
Memang, Aeri memiliki kelas bermainnya. Satu berada di luar rumah, satunya lagi guru yang datang. Tidak lama, masing masingnya hanya satu jam. Sebenarnya Cantika tidak mau melakukannya, meskipun isinya berbalut permainan semua. Namun, Ares beberapa kali berkata, “Begini, Sayang. kau ini terlahir pintar, sedangkan aku tidak. Aku khawatir kemungkinan Aeri mungkin akan menuruniku. Siapa yang tau kan? Jadi aku ingin meminimalisir kemungkinan itu. kau tidak mau Aeri berada di peringkat paling bawah kan?”
Cantika kalah berdebat, jadi ya sudahlah dia menerima keputusan sang suami, lagipula ini memang baik.
“Bagaimana pelajaran tambahan hari ini?”
“Ares, tempatnya masih agak jauh. Bisa tidak kalau kita panggil gurunya ke sini juga?”
“Apapun untukmu, Sayang.” Ares duduk di samping sang istri dan mengecup pipinya. Berhasil membuat Aeri menangis saat itu juga. “Aeri juga mau? Uh, Sayangnya Papa. sini, Nak. Biar Papa cium,” ucap Ares mengambil alih sang anak dan mengecupinya berulang kali,, yang berhasil membuat Aeri berhenti menangis. “Ya ampun, kau genit ya seperti Mama.”
“Hei.”
“Dia tau mana yang tampan, Sayang. lihat, langsung berhenti menangis.”
Cantika mengangguk, dia melihat wajah sang anak yang benar benar duplikat Ares. Pasti nantinya akan sangat popular, ahh Cantika jadi ingat ketika dirinya menjadi fans berat Ares. “Jangan tidur dulu, Mama tidak mau menyusui Papamu,” bisiknya pada sang anak.
Namun kenyataannya, Aeri malah terlelap. Sepertinya bayi itu kelelahan, bahkan tidurnya lebih cepat.
“Asyik sudah selesai,” ucap Ares sambil bertepuk tangan. “Sayang, duduk di sini,” ucapnya menepuk bagian sisi tempat tidurnya. Ares menyimpan buku dan kacamata. Membuat Cantika merasa horror. Entah bagaimana juga dirinya selalu mengeluarkan buaah daadanya dan berbaring menghadap Ares membiarkan pria itu memainkannya.
“Jangan ditekan, aku tidak mau bajunya basah. Aku malas ganti baju lagi.”
__ADS_1
“Iya, Sayang.” Ares hanya mengusapnya, menciumnya dengan tangan lain merambat menyentuh pantat Cantika.
Karena harus menahan diri itu membuat Ares frustasi juga apalagi melihat tubuh Cantika yang semakin montok. Dia hanya bisa melakukan ini sebagai pengalihan perhatiannya. Namun, sepertinya untuk yang sekarang membuat Cantika teranggsang juga. Satu hal lainnya, Cantika belum memberitahu Ares kalau mereka bisa melakukannya sekarang.
Karena tidak tahan dengan tangan Ares masuk ke celana dan meerremas panttatnya, akhirnya Cantika berkata, “Ares, sebenarnya kita sudah bisa melakukannya hari ini.”
Yang berhasil membuat manik Ares membulat, dia menatap Cantika tidak percaya. “Benar?”
“Iya, kalau kau mau melakukannya tidak apa. Lagipula besok aku tidak punya banyak kegiatan.”
Cantika pikir, Ares akan langsung meraup bibirnya. Tapi pria itu malah beranjak dari atas ranjang dan mendekati Aeri. “Ares, apa yang kau lakukan?”
Ternyata, Ares menjentikan jari di samping telinga Aeri yang membuat bayi itu langsung terkejut kemudian menangis. “Ares!!” cantika kesal.
Namun, sang suami menahannya. “Biar pengasuh yang mengambil alih ya. dia tidak berguna kalau kau yang mengasuh Aeri sepanjang hari. Lagipula hanya malam ini,” ucap Ares menggendong Cantika secara tiba tiba yang membuat perempuan itu memekik.
“Ares aku malu.”
“Tidak usah, kita suami istri. Wajar jika mereka melihat kebersamaan kita.” Sebelum masuk ke kama lain, Ares meminta sang pengasuh untuk pergi ke kamarnya dan menidurkan Aeri.
Namun ternyata, Aeri rewel sekali, dia tidak mau ditidurkan. Sang pengasuh dan pembantu di sana jadi bingung sendiri. “Haruskah kita memberitahu Nona Cantika?”
__ADS_1
“Silahkan, kau kau mau dipenggal oleh Tuan Ares,” jawab sang pengasuh.
Karena mereka tau apa yang dua orang itu lakukan. Kenyataan kalau Ares tidak memakai pengaman dan Cantika melupakannya, mungkin itu yang membuat Aeri gelisah dan terus menangis. Dia enggan memiliki adik.