
Berjalan jalan bersama dengan Cantika adalah segalanya, dimana mereka kembali merajut perasaan yang sempat terputus sebelumnya. Kini, sudah waktunya mereka bersiap untuk pulang. jadinya, mereka akan kembali ke Indonesia besok sore. Jadi malam harinya, Ares mengajak Cantika pergi untuk makan malam di salah satu restaurant yang ada di bawah. Dimana hal itu berhasil membuat Cantika terkagum dengan desain interiornya. “Apa kau tertarik dengan desain seperti ini saat kita menikah nanti?” tanya Ares menyadarkan.
“Hmm, aku ingin yang lebih sederhana.”
“Tapi aku akan pertama Fernandez, aku rasa aku pantas mendapatkan yang terbaik, kau juga demikian.”
Setelah mengdarkan pandang, Cantika menatap Ares yang duduk di hadapannya. Tempat makan mala mini berada di gedung yang berbeda dengan hotel mereka, berada di atap dengan pemandangan langsung ke danau yang begitu indah. Dalam hati, Ares berdoa semoga saja tidak hujan sesuai perkiraan sang peramal cuaca. “Baiklah, kita bicarakan saja lagi nanti ya. dengan keluargaku, dan juga keluargamu.”
“Jadi tidak sabar untuk menikahimu,” ucapnya membuat Cantika terkekeh. Wanita itu juga tidak menyangka akan berakhir seperti ini dengan Ares. Pikirnya, dia dan Ares akan tetap menjadi orang asing yang saling menyimpan perasaan masing masing.
Ares itu konyol, mengira dirinya kanker sampai tidak mau menemui Cantika. Karena kejujurannya, Cantika memaafkan. Memulai hubungan awalnya diragukan, tapi Tuhan seolah memberikan peringatan kalau keduanya tidak bisa dipisahkan dengan kejadian malam itu.
“Ares, jika aku tidak hamil, apa kau akan tetap menikahiku?”
“Kau bercanda?” tanya Ares dengan matanya yang tajam. “Kalau tidak hamil, bukankah artinya kita bisa melakukannya berulang kali lagi sampai kau hamil.”
“Ares.” Cantika memalu karena kalimat tersebut.
“Berhenti memikikan yang tidak penting. Kau benar benar mau menerimaku kembali kan? Itu artinya kita siap membangun hubungan dengan jalan pernikahan. Kau hamil atau tidak, aku bertanggung jawab atas perbuatanku yang merusakmu malam itu. aku menyesal, tapi inilah bentuk pertanggung jawabanku, aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di sisa hidupmu,” ucapnya menggenggam tangan Cantika yang membua perempuan itu tersenyum. Menyimpan perasaan dan kenyataan kalau dia masih tertarik pada Ares itu tidaklah mudah, mungkin benar ini jalan Tuhan yang membuat Cantika kembali padanya.
“Terima kasih, aku bahagia sekali mendengarnya. Lain kali kalau ada apa apa, katakan padaku termasuk diagnosis dokter ya?”
Ares terkekeh dan mengangguk, ketika dirinya menunduk hendak mencium tangan Cantika, sang pelayan lebih dulu datang dengan menu yang Ares pesan. Membuat Cantika menarik tangannya karena malu. Ares sendiri hampir mencium piring yang sebelumnya ada di bawah tangan Cantika. Menyebalkan sekali pria itu datang di waktu yang tidak tepat.
“Selamat menikmati, Tuan dan Nona.”
“Terima kasih,” ucap Cantika melihat menu menu yang dipesankan oleh Ares. Ini sangat sesuai dengan kesukaan Cantika, bagaimana Ares bisa mengingat semua itu?
“Mau aku buka kepitingnya?”
“Aku bisa melakukannya sendiri.”
Diperlakukan layaknya tuan putri, bagaimana bisa Cantika berpaling. Meskipun Ares terkadang konyol.
Merasa ditatap lama oleh Cantika, Ares salah tingkah sendiri. namun dia berusaha untuk tetap terlihat keren. Lama lama tidak tahan juga, “Cantika, aku tau aku tampan. Berhenti menatapku seperti itu ya, aku tetap milikmu kok.”
Berhasil membuat Cantika memalingkan wajahnya saat itu juga, dia malu ketahuan. Ahh, Ares merindukan pemandangan itu, dimana Cantika berhasil memalu karena dirinya. Menggemaskan sekali.
***
Dalam perjalanan pulang, Ares memelankan laju mobil karena tidak ingin kehilangan moment dengan Cantika. Menggenggam tangan sosok itu dan bertanya, “Bisa kau ceritakan apa saja yang kau lewati selama aku tidak ada? Aku akan menuliskan semua kepahitanmu, mengingatnya dan berusaha menebusnya di masa depan dengan membahagiakanmu.” Diakhiri dengan kecupan di punggung tangan.
Lihat, betapa manisnya sosok ini. “Tidak perlu mengetahui semuanya, aku sudah berhasil melewatinya, jangan diingatkan lagi.” Lagipula, puncak kesakitannya hanya saat kehilangan Kakek dan juga Mamanya. Sisanya, Cantika bisa mengatasinya dengan Galuh yang ada di sampingnya. Ah pria itu, akankah dia marah ketika mereka bertemu. “Aku hanya berharap Galuh lekas pulang supaya aku bisa bicara dengannya. Kau tau, Ares? Aku merasa tidak tenang.”
“Hmm, aku paham.” Karena Ares sendiri sudah menyuruh Samuel untuk membuat Galuh pulang lebih cepat bagaimanapun caranya.
“Ngomong ngomong… kenapa mobilnya melaju pelan sekali?” Cantika menoleh ke samping dimana bahkan pejalan kaki lebih cepat darinya.
“Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, berdua seperti ini.”
“Akan lebih baik kalau kita melakukannya di kamar, tidur di atas ranjang lebih nyaman kan?”
__ADS_1
Ares langsung tersenyum, dia pikir Cantika akan memintanya pisah kamar malam ini karena sebelumnya dia bilang harus beres beres, “Kalau begitu. Masalah beres beres biar yang lainnya saja yang melakukannya ya. aku ingin memelukmu sepanjang malam.”
Tidak ingin berdebat, Cantika hanya mengangguk. Dia memang mengizinkan Ares tidur bersama dengannya. Bukan dalam arti berhubungan badan, hanya saja Cantika merasa kecanduan dengan pelukan Ares. Toh selama Ares tidak melakukan hal lebih dari pelukan dan kecupan, Cantika merasa itu semua masih aman. Bahkan ciuman di bibir juga belum mereka lakukan lagi, Ares sepertinya begitu menjaga perasaan Cantika supaya nyaman.
Begitu sampai di hotel, Ares langsung menarik Cantika untuk masuk ke kamarnya. “Tidur di sini saja bagaimana? Biar kamarmu nanti dibereskan oleh orang orang suruhanku.”
“Ares aku tidak nyaman jika menyuruh orang membereskan barang pribadiku. Aku hanya membereskannya sebentar ya, jadi nanti kita bisa tidur sampai siang.”
“Kenapa tidak besok saja?”
“Ares, besok kan kita harus bertemu dengan orang penting. Kau tidur duluan kalau memang mengantuk ya,” ucap Cantika kemudian melangkah masuk ke kamarnya sendiri meninggalkan Ares di sana.
Belum sempat menutup pintu, Cantika kembali berbalik dan berkata, “Ares mandi dulu ya, nanti baru boleh tidur.” mengatakan itu karena dia tidak mau Ares tidur dalam keadaan tubuh yang kotor yang nantinya akan membuat Ares sendiri sakit. Tapi sayangnya hal itu disalah artikan oleh Ares, karena dia ingat beberapa malam sebelumnya dirinya tidak mandi sebelum tidur akibat lelah sudah berjalan jalan.
Ares panic seketika. “Tidak, Cantika tidak boleh ilfeel dengan tubuhku, bau badanku, aku harus mandi dan harum,” ucapnya segera pergi ke kamar mandi. Melihat sabun yang tinggal setengahnya, Ares panic dan lansung menghubungi bagian layanan kamar untuk membawakan lagi sabun untuknya.
“Kenapa hanya satu?” tanya Ares dengan kesal.
“Ada butuh banyak, Tuan?”
“Tentu saja, kau pikir satu liter sabun cukup membuatku wangi? Tentu saja tidak.”
***
Seperti pakaian dalam dan hal hal pribadi, Cantika memilih membereskannya sendiri. tidak nyaman jika orang lain yang melakukannya. Selama satu jam membereskan, Cantika pikir Ares sudah tidur karena tidak datang ke sini. jadi, Cantika bisa mandi dengan santai sebelum nanti menyusul dan masuk ke dalam pelukan Ares.
Jujur saja, pelukan Ares itu paling nyaman setelah papanya, aroma tubuhnya yang harum dan wajahnya yang tampan. Astaga, Cantika merasa kembali ke masa dimana dirinya menjadi pengagum Ares untuk pertama kalinya.
“Hmmm, beginilah cara Tuhan kembali menyatukan orang tua kalian nantinya.” Tidak sabaran memiliki banyak anak. Cantika tau bagaimana rasanya menjadi anak tunggal, itu sangat tidak nyaman. Dia tidak punya siapapun untuk membagi perasaannya, jadi jika nanti dirinya menikah dengan Ares, mungkin Cantika akan memiliki lebih dari tiga anak.
“Tidak sabaran sekali,” ucapnya tersenyum sendiri. “Galuh akan mendapatkan penjelasan, jadi nanti hatiku akan benar benar tenang.”
Membilas tubuhnya dan berpakaian, Cantika segera menyusul Ares untuk terlelap. Namun begitu Cantika masuk ke kamar Ares, dia kaget mendapati pria itu baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang dibalut dengan handuk. “Ares, kau baru mandi atau baru selesai sejak tadi?” curiga karena wajah Ares yang begitu pucat.
“Hmmm? Sebentar ya, aku berpakaian dulu. nanti kita tidur.” melangkah ke walk in closet, Cantika berpaling tidak ingin melihat.
“Kemarilah, akan aku bantu keringkan rambutmu.”
“Sebentar.” Ares menaikan suhu ruangan. Dia menggigil karena sebelumnya berendam air hangat dan masuk ke ruangan dengan suhu rendah.
Cantika mengeringkan rambut sang kekasih dengan hair dryer. Ares duduk di atas karpet bulu sementara Cantika duduk di bibir ranjang. Dia melihat bagaimana jemari Ares, jadi begitu selesai mengeringkan rambut, Cantika ikut duduk di atas karpet bulu dan menggenggam tangan Ares. “Kenapa bisa berendam begitu lama? Kau ketiduran atau bagaimana?”
“Hmm? Ya aku ketiduran,” ucapnya bingung memberikan alasan apa. “Apa aku wangi?”
“Tentu saja, kau bau sabun.” Cantika menatap heran. “Ayo tidur, kau kedinginan seperti ini.”
“Aku ingin memelukmu dengan erat,” ucap Ares yang kenyataannya kedinginan. Dia meminta Cantika untuk memunggunginya supaya pelukannya bisa begitu erat. Ares khawatir jika mereka saling berhadapan dan malah membuat Cantika sesak dengan Ares yang terlalu berlebihan.
Cantika nyaman dipeluk seperti ini, pada akhirnya dia jatuh terlelap begitu dalam. Tidak sadar dengan Ares yang semakin mendekat, mengeratkan pelukan hingga bagian bawah Ares menyentuh pantatt kenyal Cantika. Dan itu menimbulkan sesuatu yang membuat tubuh Ares terasa panas. Apalagi ketika tangannya merambat dan menyentuh daada milik Cantika. Pikirannya bersorak, “Aku menyentuh daada seorang perempuan, Mommy! Dan ini Cantika!”
Bersorak demikian. namun, Ares segera menarik tangannya karena tidak ingin keterlaluan dan membuat Cantika tidak nyaman. “Tidak sopan,” gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Ares juga menarik dirinya dari Cantika, kemudian menundukan kepala melihat bagaimana bagian bawahnya sedikit menonjol. Ares terisak. Jika tetap di sini, dia akan membuat Cantika dalam bahaya, jika ke kamar mandi dirinya harus siap menahan rasa dingin lagi.
“Mommy,” ucapnya sambil melangkah menuju kamar mandi sambil kedinginan.
***
Keesokan harinya, Ares sudah lebih baik, dia tidak merasa kedinginan lagi dan bersiap untuk melakukan pertemuan dengan orang yang penting. Bukan menjalin kerjasama, hanya mengulas keuntungan mereka. ini perintah dari Daddy nya sebelum nanti Ares pulang ke Indonesia bersama dengan Cantika.
“Apa kita perlu untuk berpamitan dulu pada Athena?”
“Tidak usah,” ucap Ares frustasi, dia malas jika harus bertemu lagi dengan sang adik. “Sudah, dia tau kalau kita akan pulang hari ini. tidak usah menemuinya.”
“Baiklah.” Cantika kembali memakan cookies miliknya sambil menatap Ares yang sibuk memeriksa ipadnya. Dia ingin bersandar pada bahu Ares, tapi malu, jadi mendekat saja seolah melihat apa yang sedang diperiksa olehnya.
Untungnya, Ares peka dan langsung menarik Cantika hingga perempuan itu bisa bersandar padanya. “Lihat, ini adalah statistic penjualan produk buatan Daddy. Kau tau apa yang dia jual dengan bekerja sama bersama dengan pengusaha otomotif ini?”
Cantika menggeleng, perusahaan Fernandez itu terlalu luas dan banyak, dia tidak tau apa saja yang ada di bawah kendali mereka.
“Ini adalah kondoom, Daddyku merancangnya dalam bentuk mobil. Heran sekali dia, katanya sesuai kecepatan.”
Sementara Cantika? Dia bingung harus mengatakan apa, jadi hanya berdehem dan tetap menatap layar tersebut. “Ini sudah hampir jam makan siang, bagaimana kalau kita menunggu saja?”
“Tidak aku malas, biarkan mereka yang menunggu. Mereka yang lebih banyak mendapatkan keuntungan daripada perusahaanku.” Menyimpan ipad tersebut dan menarik Cantika ke dalam pelukannya sebelum membawanya berbaring, Cantika memekik sesaat, dia sedang mengunyah cookies dan malah ditarik untuk tidur.
Dalam posisi Ares yang lebih tinggi dari Cantika, pria itu bisa melihat belahan daada Cantika. Hingga baru saja Cantika akan membalas pelukan Ares, pria itu membawanya kembali duduk. Dia berdehem. “Lebih baik kita menunggu di sana ya, kasihan mereka sudah tua,” ucapnya begitu. “Ayo bersiap.”
Pertemuan dilakukan di café yang ada di hotel ini. cantika dan Ares melangkah dengan berpegangan tangan. “Jangan jauh jauh, nanti kau hilang. Orang orang di sini besar, Cantika.”
Membuat kekasihnya mengerucutkan bibir, Ares berhasil mengingatkan kalau Cantika itu kecil dan bisa mudah hilang. “Aku ingin menaikan tinggi badanku, Ares, apakah ada cara? Mungkin perusahaanmu bekerja sama dengan orang yang membuat tinggi badan seseorang naik?”
“Tidak.”
“Tidak apanya?”
“Tidak boleh tinggi lagi, kau sudah pas setinggi ini, Cantika. Dengan tinggi ini, aku akan mudah mengubah ubah posisi dan juga gaya. Aku juga tidak akan mudah kehilangan tenaga.”
“Maksudnya bagaimana?” tanya Cantika mengadahkan kepala menatap Ares.
Ketika tatapan mereka bertemu, Ares menggelengkan kepala seketika. Sial! Akhi akhir ini dirinya selalu berfikiran jorok tentang Cantika, dia selalu ingat bagaimana Cantika mengendarainya dan merintih di bawahnya. Tidak, dia tidak boleh menjadi pria brengsek. “Ares, kau baik baik saja?”
“Cantika, kita akan menikah secepatnya kan? Setelah mendapatkan restu dari Papah dan Nenekmu, lalu kita langsung ke Amerika untuk memberitahukan hal ini? ya?”
“Ya, kurasa lebih cepat lebih baik. Hamil tidaknya aku, kau bilang tidak masalah kan?”
“Iya,” ucap Ares dengan cepat. Dia ingin cepat cepat keluar dari lift, sepertinya mulai sekarang Ares harus menjaga jarak dengan Cantika.
“Ares, kau berkeringat banyak. Apa kau kepanasan?” tanya Cantika menyeka keringat tersebut.
Ares terkekeh. Apa manusia ada masa kawinnya juga ya? kenapa akhir akhir ini Ares begitu membutuhkan pelepasan?
***
__ADS_1