STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
salah langkah


__ADS_3

Untungnya asisten Ares mengatakan kalau Cantika tinggal turun ke bawah untuk mendapatkan sarapannya. Dirinya tinggal menyebutkan nama kemudian bisa masuk ke dalam. Melihat bagaimana sarapan mewah tersaji dalam jajaran stand. Uhhh, Cantika ingin memakan semuanya. Jadi dia mengambil baki dan memilih makanan yang akan dia lahap.


Satu baki penuh tanpa tahu malu kemudian mengambil duduk di kursi ujung yang dekat dengan kaca aquarium.


Tersenyum miris, mengingat Ares begitu menyebalkan karena telah menipunya. "Heran sekali," Gumamnya seperti itu. "Aku kesal dengan Ares."


Bahkan Cantika membayangkan kalau omelet itu adalah wajah Ares hingga dia memotongnya dengan penuh kekesalan. Kemudian menarik napasnya dalam dalam. "Tenang, dia yang menggajimu. Kalau tidak seperti ini, nanti kau tidak akan punya uang."


Berucap seperti itu pada diri sendiri.


Sampai tiba tiba ada seseorang yang duduk di kursi depannya. Saat Cantika mengangkat kepalanya, dia mendapati Ares yang tersenyum di sana. "Kenapa meninggalkan aku?" Tanya pria itu dengan gigi yang diperlihatkan dengan jelas.


Ketika Cantika hendak beranjak pergi, pergelangan tangannya ditahan. "Jangan pergi, aku ingin bicara tentang  perusahaan. Aku membutuhkanmu di sini untuk mendengarkan. Please, ini juga demi perusahaan kita nantinya."


Menarik napasnya dalam. "Jadi? Seperti apa?"


Untuk membuat Cantika percaya padanya, sekarang Ares menjelaskan perihal rapat dan agenda yang akan mereka lakukan selama satu minggu ke depan di California. Dimulai dari pesta, menarik investor dan hal hal lainnya. "Gimana? Selama itu kau harus jadi pendampingku."


"Tuan Ares yang terhormat, saya belum pernah berpengalaman sama sekali terkait hal ini. Jadi tuan Ares yang terhormat, saya mungkin tidak mampu. Bagaimana kalau saya dipulangkan saja dan digantikan dengan asisten pribadi anda yang lainnya?"


"Tidak bisa. Kau tidak bisa meninggalkan aku. Tidak ada yang namanya calon istri meninggalkan calon suamimya."


"Maksud?"

__ADS_1


Ares berdehem dan mengalihkan perhatiannya. Menghembuskan napas, harusnya dia tidak melakukan kesalahan dengan menyambit hal tersebut. Jadi untuk kali ini saja, Ares akan menggelengkan kepalanya. "Bukan apa apa, Cantika. Jangan dianggap serius."


Sakit hati Cantika, dia memang selalu dipermainkan seperti ini oleh Ares. Puncaknya saat ibunya meninggal, Ares tidak ada di sisinya. Orang orang yang selalu ada untuknya pergi. Bahkan sekarang, Cantika merindukan Athena. Teman masa kecilnya.


"Cantika? Kenapa menangis?"


Bahkan Cantika tidak sadar ketika omelet miliknya ditusuk kemudian dimakan oleh Ares. "Cantika jangan menangis. Nanti aku bawakamlagi omelet yang baru ya? Aku bawakan sekarang oke?"


Pandangannya tidak luput dari telur yang sudah tidak bersisa. Begitulah rasa cintanya pada Ares yang tidak bersisa karena diselimuti oleh perasaan marah.


***


Untuk hari ini, Ares meminta Cantika untuk tetap berada di hotel supaya beradaptasi. Cantika sampai berdecak mendengarnya. Adaptasi? Memangnya dia tidak pantas dalam keadaan yang seperti ini?


"Aku rindu dengan Cantika! Ingin bertemu dengannya!"


"Nanti akan membawanya ke sana kalau dia sudah bersedia menjadi istriku. Kalau kau tidak menurut dan tetap datang ke sini. Aku akan mematahkan lehermu."


Ingat Ares dan Athena? Dua anak itu kini tumbuh menjadi anak yang masih saja bertengkar satu sama lain. Bahkan karena tumbuh di negara berbeda, kadang mereka mengeluarkan umpatan satu sama lain hingga membuat kedua orangtuanya marah besar.


"Jangan datang atau aku akan mengatakan pada Daddy kalau bukan lalu kau pacaran!"


"Menyebalkan!" Teriak Athena lalu menutup telponnya. Ares menarik napasnya dalam, merasa lega luar biasa.

__ADS_1


Lega ketika ancaman itu berhasil, Ares bisa bersantai. Sebenarnya tidak santai, dia memikirkan bagaimana cara mendapatkan perhatian Cantika lagi. Sekarang dia sedang apa ya? Apa yang dia lakukan?


Karena penasaran, Ares keluar dari kamar menuju balkon. Karena balkon mereka juga bersebelahan, jadi memungkinkan untuk Ares melihat apa yang dilakukan Cantika. Sayangnya ada jarak hingga Ares tidak bisa melihat dengan jelas.


"Cantika sayangku, kau sedang apa?" Tanya Ares dengan berjinjit di dekat pagar pembatas.


Brak! Pintunya tertutup secara tiba tiba yang membuat Ares berdecak. "Berisik! Bagaimana kalau aku ketahuan?!" Teriaknya pada pintu tersebut.


Dari dalam kamar, Cantika sudah mendengar suara itu. Dia jadi takut dan enggan untuk menanggapi. Buru buru dirinya mengambil tas kemudian pergi untuk jalan jalan. Lagipula Ares bilang eksekusinya nanti malam. Jadi dia bisa bersantai untuk sekarang ini.


"Tidak terlihat!" Rengek Ares dengan kesal. Dia menghela napasnya dalam dan hendak kembali ke dalam. Namun, pintu itu terkunci dari dalam. Ditambah lagi Ares tidak memegang ponsel.


Jadi… .  Dia sendirian di balkon? Terkurung di luar seperti rapunzel menunggu pangeran?


"Cantika?!" Panggilnya berharap tuan Puteri itu menolongnya. "Hallo?" Panggilnya lagi.


Sampai hujan tiba tiba datang, mengguyur langsung wajah Ares yang mengadah ke atas. Balkon ini tidak memiliki penutup, begitu terbuka hingga tubuhnya langsung diguyur air.


"Tuhan, inikah akhirnya?"


JDER! Petir tiba tiba menyambar yang mana membuat Ares mundur dan berjongkok ketakutan di sana. "Hiks! Mommy!"


***

__ADS_1


__ADS_2