
“Aku masih menanti apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi sepertinya aku akan lebih lama di sini. Maaf,” ucap Galuh yang membuat Cantika menarik napasnya dalam.
“Iya, tidak apa apa jika kau memang sibuk di sana.”
“Apa kau merindukanku di sana?” tanya Galuh yang mana membuat Cantika terkekeh. Pada akhirnya, Cantika menceritakan apa yang terjadi serinci rincinya tentang Ares yang kini menjadi majikannya dan pekerjaannya dipindahkan ke kantor pusat yang sama sekali tidak berurusan dengan alat music.
“Aku tidak tau apa yang dia rencanakan sekarang ini. Ares dan tingkahnya yang aneh, aku menjadi khawatir.”
“Tapi…, kau tidak akan kembali dengannya kan?” tanya Galuh memperlihatkan raut wajah ketakutan di sana, ya, mereka sedang melakukan panggilan video call. Galuh yang memulai, karena dia merindukan Cantika dan selalu ingin ada di samping sosok itu dalam senang maupun susah. Dan mencoba menjadi yang terbaik, karena Galuh sangat mencintainya. “Cantika? Apa aku masih belum cukup menarik perhatianmu.”
“Maafkan aku,” ucapnya yang membuat Galuh tertawa.
“Hei, tenanglah, aku hanya mengatakan hal random. Tidak masalah, hatimu hanya menjadi milikmu. Tapi jika kau butuh sesuatu, aku akan di sana. dan aku masih akan berjuang di sisa waktu yang aku punya untuk membuatmu jatuh cinta, supaya kau mencintaiku juga.”
Cantika mengakhiri panggilan itu dengan senyuman, mengatakan pada Galuh untuk menjaga kesehatannya sebelum dia menghela napas dalam. cantika menatap langit langit, menjadi seorang sekretaris di perusahaan besar membuatnya kelelahan dalam menyesuaikan diri. Dia harus mempelajari cara menjad sekretaris yang sempurna supaya terpakai oleh atasan.
Namun jika atasannya Ares, dia hanya menorehkan luka untuk Cantika sendiri.
TING TONG.
Bel apartemennya berbunyi, Cantika segera membukanya dan kaget mendapati Nenek dan juga Papahnya di sana. “Kenapa tidak bilang kaalau kalian akan ke sini?”
“Kejutan, Nak. Papah ingin makan malam bersama denganmu, sekalian merayakan karena kau naik jabatan.”
__ADS_1
“Loh, kalian tau dari mana?” tanya Cantika kaget.
“Tentu saja dari temanmu itu, siapa Namanya, Bu?” tanya Papahnya Cantika pada sang Ibu.
“Siapa ya, lupa, dia juga berkkerja di kantor lama denganmu. Jadi, dimana sekarang cucu cantik Nenek bekerja?”
Cantika terdiam sebelum akhirnya menjawab, “Di kantornya Ares.”
Yang mana membuat Papah dan juga neneknya langsung diam seketika. Karena mereka tau bagaimana sakit hatinya Cantika pada sosok itu.
“Fernandez?”
“Iya, Fernandez.”
****
Cantika menceritakan apa yang terjadi secara detail pada Neneknya. Mengingat sang Nenek menginap di apartemennya untuk mengetahui apa yang terjadi. dan helaan napas menjadi suara balasan atas apa yang diceritakan oleh Cantika.
“Kau tidak befikir kalau Ares ingin kembali mengulang kisah denganmu, Cantika?”
“Tidak, lagipula kenapa dia mau denganku lagi, Nek?”
“Dari ceritamu, dia mengatakan kalimat kalimat yang sama saat mengejarmu,” ucap sang Nenek mengingat apa yang diceritakan oleh Cantika.
__ADS_1
“Tapi mana mungkin, mungkin dia hanya inginmain main denganku, Nek?”
“Jadi, kau akan membiarkannya saja?”
“Tidak tau,” ucap Cantika dengan suara yang pelan pelan.
Neneknya menghela napasnya dalam. “Yaudah sana kau mandi, Nenek akan siapkan sarapan untukmu. dijadikan pikiran, sana.”
Cantika mengangguk, dia pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Nenek yang kini memasak. Namun suara bel berbunyi membuat Nenek mengurungkan niatnya. Dia melangkah untuk membuka pintu tersebut.
“Ares?”
“Nenek?” tanya Ares dengan mata yang berkaca kaca.
Baru juga Nenek hendak marah, Ares lebih dulu memeluknya kemudian menangis. “Hiks… huhu… Nenek apa kabar? Nenek baik baik aja kan? Nenek maaf Ares tidak ada di saat Nenek kesusahan… hiks… hikss….”
Sementara itu di sisi lain, Cantika dengan santainya mandi. sampai 30 menit kemudian dia memakai pakaiannya dan bersiap di walk in closet. Cantika mempercantik dirinya sendiri hanya dengan ulasan liptint dan bbedak.
Dan saat keluar, dia kaget melihat ada Ares yang sedang duduk di sofa dengan Nenek yang ada di sampingnya.
“Sana, bilang sendiri pada Cantika. Jelaskan pada dia alasan kau meninggalkannya,” bisik Nenek masih bisa di dengar Cantika.
Ares menggelengkan kepalanya. “Malu,” ucapnya seperti perawan yang akan dinikahkan..
__ADS_1
****