
Di bawah terik matahari dengan suhu tinggi lebih dari 30 derajat, banyak orang mengantre untuk membeli es krim di depan jendela takeaway KFC di bawah Gedung Santika, Kota Medan.
Seorang gadis kecil berusia 4 atau 5 tahun yang manis dan cantik, memeluk paha seorang pria yang mengenakan sandal jepit dan celana kotak-kotak bermotif bunga, dengan manja dia berkata, "Ayah..! Aku ingin makan es krim."
Pria itu membelai kepala kecil gadis itu dengan lembut, dan berkata, "Anak baikku Yessy, kamu bakal jadi gemuk kalau makan terlalu banyak es krim, lho. Tunggu nanti pulang Ayah buatkan untukmu ya!"
"Tidak! Aku maunya makan es krim KFC, kalian sudah lama tidak membelikanku."
Pria itu tidak ingin berdebat lagi, akhirnya ia pun memutuskan membelikan es krim untuk putrinya. Tetapi, setelah obrak-abrik semua isi kantong di celananya hanya menemukan 5 ribu saja untuk dia naik bus pulang nanti. Lagi pula, harga es krim itu 15 ribu, juga tidak cukup untuk beli satu.
Yoshua memasukkan uang itu kembali ke sakunya, membujuk putrinya dengan lembut. "Yessy, uang Ayah tidak cukup. Kita tunggu ibumu keluar dari pengadilan sebentar lagi, biarkan Ibu yang membelikan untukmu, boleh?"
"Iya!" Mata gadis kecil itu bersinar penuh harap. Dia bertanya dengan suara kekanak-kanakan. "Ayah, rumah besar kita udah dijual, kapan ya kita bisa tinggal kembali di rumah besar itu?"
"Secepatnya ya! Nanti kalau sudah dapat pekerjaan, Ayah akan hasilkan uang dan beli rumah itu kembali."
Segera setelah Yoshua menjawab, ada seorang wanita tua berusia awal 50-an dengan rambut pendek dan keriting berkata pada seorang wanita tinggi dan cantik dalam setelan pekerja kantoran di sebelahnya. "Cindy, untuk apa kamu masih bersama Yoshua? Dia hanya pria yang tidak berguna, membelikan es krim yang tidak seberapa saja dia tidak tidak mampu."
Perusahaanmu menghadapi kebangkrutan, mobil dan rumah pun dijual. Orang tidak berguna ini masih makan dan tinggal di tempatmu. Hari-hari seperti ini kapan akan berakhir?"
"Bu! Apa yang ibu bicarakan di depan anak kecil?” Cindy sedang dalam suasana hati yang buruk, dengan ekspresi tidak senang di wajahnya.
"Jika kamu bercerai dengan pria ini, aku akan memberimu 1.5 miliar untuk membayar gugatan pengadilan. Kalau tidak, jangan panggil aku ibu!"
Cindy berkata dengan sedih. "Dulu kakek yang atur pernikahan ini sebelum beliau meninggal, Ayah dan Ibu juga pernah menyetujuinya. Sekarang anakku sudah besar, aku harus bagaimana?"
"Bukankah kakekmu sudah meninggal? Kamu kan cantik, masa tidak ada yang mau. Setelah kamu cerai, pasti ada beberapa pria dari keluarga kaya yang mengantre untuk menikahimu."
"Bu! Yoshua akan mencari pekerjaan, orang bisa berubah kok, aku percaya padanya."
Ibu Cindy mendengus dan berkata. "Jika kamu tidak cerai dengannya, kamu tunggu masuk penjara saja! Lio, ayo pergi!"
Lio Bonardi, Ayahnya Cindy adalah pria yang tunduk pada istri, dia menghela napas, dan mengikuti istrinya pergi.
Cindy berjongkok sedih di jalan dan menyembunyikan wajahnya sambil menangis.
Yoshua berjalan ke arahnya sambil gendongin anaknya, dia berbujuk dengan lembut. "Cindy, jangan menangis lagi! Banyak orang lihatin. Ayo pulang ke rumah!"
"Rumah..? Apakah kita masih punya rumah?”Cindy berkata pelan sambil mengangkat wajah cantiknya yang dibasahi dengan air mata.
"Walaupun rumah yang disewa itu atidak kecil, asalkan kita sekeluarga bersama terus, di manapun itu adalah rumah kok.”
Cindy menyeka air mata dari pipinya dan berkata kepada Yoshua. "Kamu bawa Yessy pulanglah dulu, aku akan cari orang lain untuk pinjam uang lagi."
Yoshua serahkan anaknya ke tangan Cindy dan berkata. "Kamu sudah banyak meminjam dari yang lain, bahkan rumah dan mobil pun sudah dijual. Baru saja, ibumu bilang, kalau kamu tidak bisa bayar 1.5 miliar itu ke Ciputra Jaya Group, kamu berisiko masuk penjara. Biarkan aku saja yang pergi mencari pinjaman uang."
"kamu? … " Cindy mengernyitkan keningnya dengan wajah yang meremehkan.
Mendengar perkataan Yoshua barusan, Cindy seperti mendengar lelucon yang amat konyol di dunia, dia berkata kepada Yoshua sambil mencibir. "Yosh, kamu punya teman dari mana? Oh, aku hampir lupa. Kamu dengan temanmu sih Tono itu lumayan baik ya, tapi kan dia hanya seorang pekerja kuli di jalanan, bagaimana dia bisa pinjamin uang?"
__ADS_1
"Aku pasti akan menemukan cara untuk mendapatkan pinjaman kok!"
Yoshua tidak menghiraukan sama sekali perkataan menyindir dari Cindy, dia memakai sandal jepit berjalan semakin jauh.
Energi tubuhnya Cindy seperti terkuras habis, dia menggendong anaknya Yessy dan menangis sedih.
Demi keluarga ini, dia bekerja keras di luar seperti laki-laki, tetapi suaminya sendiri sama sekali tidak memiliki motivasi untuk bergerak. Jika bukan karena kakek Cindy yang bersikeras agar Yoshua dari keluarga miskin itu diterima di keluarga Bonardi. Dengan parasnya yang cantik, dari dulu pun dia sudah bisa menikah dengan keluarga kaya, dan menjalani kehidupan sebagai Nyonya sultan yang membuat iri semua orang.
Cindy masih tidak mengerti mengapa mendiang kakek bersikeras membiarkan dirinya dinikahi Yoshua.
"Bu, berhenti menangis, oke?"
Cindy memeluk Yessy erat dalam pelukannya, dan berkata pelan. "Ibumu ini yang tidak berguna yang membuat perusahaan bangkrut dan kehilangan rumah besar kita. Yessy, maafkan ibu..."
Yessy mengulurkan tangan dan menyeka air mata yang berjatuhan dari pipi Ibunya, dia berkata menghibur. "Bu! Jangan sedih. Yessy tidak ingin tinggal di rumah besar, Yessy hanya ingin bersama Ibu dan Ayah. Ayah juga berkata dia akan bekerja keras untuk menghasilkan uang, nanti kita baru tinggal di rumah besar lagi ya."
Ekspresi Cindy sedikit terkejut, dia berpikir. "Jika orang yang tidak berguna itu bisa dipercaya, bagaimana mereka bisa jatuh ke situasi buruk seperti saat ini!"
Cindy membuka perusahaan bidang desain kemasan, dulu ketika bisnisnya lagi lancar, Yoshua secara nalurari memiliki uang untuk dihamburkan, dia bisa bermalas-malasan di rumah setiap hari. Tapi sekarang, perusahaannya tiba-tiba digugat atas pelanggaran merek dagang, klien yang sebelumnya bekerja sama dengan perusahaannya membatalkan kontrak mereka satu per satu. Hingga mereka menjual semua rumah dan mobil pun tidak cukup untuk bayarin hutang, masih kekurangan 2 miliar.
Yoshua berjalan melewati beberapa jalan raya, duduk di tempat yang tidak ada seorang pun di sana.
Dia menghela napas dalam-dalam, mengeluarkan ponselnya dan melamun.
Dia menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya, sambil berpikir lama.
Setelah beberapa lama, tampaknya keputusan besar telah dibuat, dia berkata pada dirinya sendiri. "Tidak! Aku tidak bisa membiarkan istri dan putriku mengalami kesusahan!"
"Paman Kenn, ini aku Yoshua!"
"Wih! Anak ini akhirnya terbuka hati nuraninya, sudah bersedia untuk menghubungi aku nih?" Kata Kennedy sambil tertawa.
"Tolong beri tahu ayah aku, bahwa aku ingin pembagian harta keluarga dan mendapatkan kembali apa yang pantas aku dapatkan."
Kennedy terkejut mendengarnya, setelah sejenak, dia berkata. "Tuan Yosh, apa sudah kamu pikirkan betul-betul! Jika kamu mau melakukan pembagian, itu berarti kamu akan kehilangan hak untuk mewarisi keluarga sepenuhnya, dan saudaramu yang lain akan mendapatkan kesempatan lebih dengan gampang!"
“Aku sudah pikirkan kok!”Yoshua menjawab tanpa ragu-ragu.
"Kalau begitu datang ke rumahku sekarang, aku akan melaporkan masalah ini kepada Ayah kamu, dan biarkan akuntan yang menghitung aset yang pantas kamu dapatkan sesegera mungkin."
"Terima kasih, Paman Kenn!"
Setelah menutup telepon, Kennedy segera melakukan panggilan dan melaporkan kepada orang di telepon. "Pak, si tuan muda Yosh ingin membagi harta keluarga."
Orang di telepon terdiam untuk waktu yang lama, akhirnya berkata. "Kenn, berikan saja padanya! Dan, berikan dia harta ibunya juga. Haish! Aku, Andre Kusuma pada masa hidup ini, merasa paling berutang kepada Yosh dan ibunya."
"Bukankah kamu yang paling optimis tentang Tuan Yosh, bukankah kamu ingin dia mewarisi usaha keluarga?"
"Ini juga semacam perlindungan dan pengalaman baginya, aku tidak akan salah menilai! Oh ya, selain uang tunai, aku akan memberinya semua properti keluarga dari 3 provinsi Sumatra. Akan kusuruh Maya mengurus dan melaporkan kepadamu dalam sepuluh menit."
__ADS_1
"Oke, Pak!"
Tepat ketika Kennedy hendak mentidakhiri panggilannya, kalimat lain keluar dari telepon. "Kenn, tolong bantulah Yosh sebanyak mungkin, seperti kamu membantu aku sebelumnya!"
"Tenang saja, Tuan!”
Dua puluh menit kemudian, Yoshua muncul di sebuah vila yang megah.
Pemilik vila itu adalah Kennedy, orang terkaya yang terkenal di Kota Medan.
Di kamarnya, Kennedy menyerahkan setumpuk dokumen kepada Yoshua, dan berkata. "Tuan muda, Ayahmu telah setuju mengenai pembagian harta, ini adalah jumlah saham perusahaan yang pantas diterima oleh kamu dan Ibumu, bertotal 11,5%. Selain harta keluarga yang ada di 3 provinsi Sumatra, juga akan memberi kamu 20 triliun."
Yoshua melihat dokumen itu, isinya adalah analisis laporan keuangan yang sulit dimengerti. Dia menaroh berkas ke atas meja, sontak berkata.“Paman Kenn, tidak usah baca lagi! Tolong bantu proses serah terima sesegera mungkin! Cindy dan Yessy masih menunggu aku di rumah."
"Kalau begitu kamu bisa mentandatangani dokumen-dokumen ini dulu! Tuan Yosh, kamu harus pikirkan dengan baik ya, setelah kamu tandatangan, itu berarti kamu tidak akan ada hubungannya lagi dengan Kusuma Group di masa depan."
Yoshua mengambil dokumen itu dan langsung menandatangani beberapa salinan berturut-turut, dia berkata pada Kennedy. "Aku tidak menyanyangkan pewarisan usaha keluarga. Aku hanya ingin ibuku bisa hidup kembali!"
Kennedy menghela napas, "Haish! Yosh... bagaimana kamu tidak bisa mengikhlaskannya setelah bertahun-tahun."
"Paman Kenn, itu ibuku lho! Aku melihatnya mati di depanku dengan mataku sendiri, sedangkan Ayahku dengan beberapa rubah betinanya itu bahagia setiap hari. Menurutmu aku harus memaafkannya kah? Sebagai anak, aku tidak bisa!"
"Tapi bagaimanapun juga dia adalah Ayahmu!"
"Gimana dengan ibuku?..." Yosh bertanya pada Kennedy dengan tatapan tidak senang.
Kennedy menggelengkan kepalanya, seperti yang dikatakan dalam pepatah bahwa pejabat yang jujur dan adil pun mengalami kesusahan untuk menentukan benar atau salahnya suatu perkara dalam urusan rumah tangga. Dia tidak tahu apakah selama masa hidupnya bisa melihat Yosh dan Ayahnya menuntaskan permasalahan ini.
"Ngomong-ngomong, gimana kabarmu dengan istrimu sekarang?” Kennedy mengganti topik pembicaraan dan bertanya pada Yoshua.
Yosh mengerutkan kening dan berkata. "Perusahaan Cindy sedang dalam masalah. Aku curiga ada orang yang berbuat buruk pada perusahaannya. Paman Kenn, tolong bantu aku selidiki ya."
Kennedy tersenyum lugas dan berkata. "Tuan Yosh, kelak kalau ada apa-apa di masa depan, katakan saja langsung sama aku. Sekarang seluruh usaha keluarga di 3 provinsi Sumatra itu milik kamu. Aku dapat dianggap telah meninggalkan Kusuma Group, jadi orang yang bekerja untuk kamu nantinya."
"Paman Kenn, aku akan memperlakukanmu dengan baik!"
Kennedy tersenyum dan berkata. "Aku tidak lagi kekurangan uang, hanya berharap bisa melihat kamu bangkit dan berjuang kembali."
Yoshua berkata. "Paman Kenn, tolong transfer 200 miliar ke rekening bank aku dulu ya, dan taroh uang tunai 2 miliar ke dalam kantong ini, sisa uang yang lain, bantu aku simpan dulu untuk keperluan operasional perusahaan. Aku tidak akan mengecewakanmu!" Setelah berbicara, dia berbalik dan meninggalkan vila Kennedy.
Setelah dia pergi, Kennedy menghubungi Ayahnya Yosh lagi.
"Tuan, Yosh sudah selesai menandatangani dokumennya."
"Apa yang dia katakan?"
Kennedy berkata. "Tuan muda masih memendam kesedihan mengenai Ibunya!..."
"Haish!" Pak Andre menghela napas dan berkata. "Kenn, jika suatu hari aku dikendalikan oleh orang-orang itu, kamu harus memberi tahu Yosh yang sebenarnya."
__ADS_1
"Pak, kamu tidak akan membongkar hal ini dengan mereka, kan?"
"Ini urusanku, kamu hanya perlu melaksanakan apa yang aku perintahkan!"