Suami Sampah Menjadi Orang Terkaya

Suami Sampah Menjadi Orang Terkaya
Kamu sangat keren tadi


__ADS_3

Kepala perawat berkata dia sama sekali tidak mengenal Yoshua, Carissa tidak menyerah dan terus menelontarkan pertanyaan, akhirnya dijelaskan apa alasannya. Dari perkataannya, dia bilang bahwa kepala rumah sakit yang secara langsung menelepon datang, menyuruh mereka untuk meminta maaf sama Yoshua yang terlibat masalah tadi.


Carissa sontak bertanya sama Yoshua lagi, "Ayo katakan aja, ada apa sebenarnya?"


Yoshua sudah menyiapkan skenario terlebih dahulu, dia mentidakui bahwa tadi dia pergi ke kantor direktur rumah sakit untuk menyampaikan komplain, tak terpikir, ternyata direktur itu bisa dengan secepat ini menangani masalah ini.


Carrisa sedikit ragu dengan penjelasannya Yoshua. Untungnya tepat saat itu juga, Cindy dibawa keluar oleh staf medis setelah operasi.


Yoshua dengan cepat menghampiri, mendorong ranjang itu, mengikuti perawat menuju kamar pasien.


Carissa bertanya pada kakaknya dengan prihatin, "Kak, gimana keadaanmu?"


Cindy mengedipkan matanya 2 kali, memberikan isyarat bahwa dia baik-baik saja.


Dokter yang mengikuti berkata, "Tubuh pasien sedikit lemah, mungkin belakangan ini dia terlalu banyak bekerja, asupan nutrisi pasien harus diperkuat lagi setelah keluar dari rumah sakit ya."


Mendengar perkataan dari dokter, Yoshua merasa bersalah di dalam hatinya. Sejak perusahaan "Desain Kemasan Yezzy" digugat hukum, kualitas hidup di rumah merosot. Asal ada uang yang tersisa, akan dipakai untuk membelikan makanan yang disukai Yessy.


RS Harapan Bersama adalah rumah sakit swasta kelas atas, kamar VIP super yang Cindy tempati berukuran lebih dari 50 meter persegi. Peralatan listrik dan peralatan sanitasi semuanya tersedia lengkap, dan perawatan khusus juga disediakan.


Dokter yang bertugas tadi setelah menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan pergi meninggalkan ruangan.


Setelah infus 2 kali, Cindy akhirnya merasa baikan, tetapi bekas operasi tadi masih terasa sakit, membuatnya mengerang beberapa kali.


Yoshua menggenggam tangannya Cindy, bertanya padanya dengan prihatin, "Cinn, apa kamu ada baikan?"


"Luka operasinya masih sedikit sakit!"


"Mau nambah infus pereda nyeri tidak?"


"Tak perlu, aku tidak selemah itu."


Yoshua tak habis berpikir, istrinya pada saat seperti ini pun masih mau memaksa diri.


Cindy menatap kedua orang tuanya, Mega dan Lio, dan bertanya dengan pelan, "Ayah, Ibu! Kok kalian ada di sini?"


"Kalau kamu bukan putri kandungku, malas juga aku bela-belain ke sini," bisik ibu Cindy berbicara pada dirinya sendiri dengan suara rendah.


"Kenapa hal-hal yang baik jadi terdengar buruk di mulutmu sih?" cetus ayah Cindy. Dia menopang kacamata di pangkal hidungnya dan menghibur Cindy yang terbaring sakit, "Cinn, rawatlah sakitmu dengan tenang dulu. Kalau uangnya tidak cukup, ambil sama Ayah dan Ibu ya.. "


Yoshua sontak menjawab, "Ayah, makasih ya, tapi kami punya uang kok!"


Mega memutar bola matanya ke arah Yoshua dan berkata dengan sinis, "Bukannya semua uangmu itu hasil pinjaman? Hati-hati mana suatu hari nanti kamu pinjam uang dengan bunga tinggi yang tak bisa kau lunasi, mungkin tangan dan kakimu akan dipotong orang nanti."


"Sudahlah Bu! Kakak perlu istirahat dengan tenang, kalau kalian mau ribut, ribut di luar saja deh." Sahut Carissa dengan mukanya yang tidak senang.

__ADS_1


"Kamu... Ugh, dasar anak ini..."


Pada saat ini, Marco tiba-tiba mendorong pintu kamar dari luar.


Marco membawa sekeranjang buah di 1 tangan, dan sebuket bunga segar di tangan lainnya.


Mega melihat Marco datang, wajahnya dari suram langsung menjadi cerah. Dia langsung menyapanya dengan tersenyum lebar, "Marco..! Kamu ada di sini ya, kok baru datang?"


"Iya soalnya tadi masih ada urusan di kantor. Tante, gimana operasinya Cindy?" Tanya Marco dengan tampang yang sopan.


Mega menjawab, "Hanya operasi kecil, tidak jadi masalah..!" selesai bicara, dia menoleh ke Cindy dan mengedipkan matanya, "Cinn, Marco datang jenguk kamu lho!"


Yoshua mengerutkan keningnya, kelakukan ibu mertuanya ini semakin kelewatan, bisa-bisanya, di hadapan Yoshua langsung, Mega menjadi perantara untuk merujuk pria lain agar bisa dekat dengan istrinya, apa Mega menganggap dirinya tidak ada di situ!


Marco memberikan keranjang buah dan bunga ke ibu Cindy, dia berjalan mendekati ranjang pasien, memedulikan keadaan Cindy,  "Cinn, masih sakit kah?.. "


"Aku baik-baik aja Co! Sebenarnya kamu ga perlu datang kok."


"Bagaimana pun dulu kita itu teman sekampus, sesibuk apa pun, aku pasti akan datang untuk jenguk kamu. Oh ya, aku kenal wakil direktur rumah sakit di sini, aku memintanya untuk merawat kamu dengan perhatian khusus ya."


Mega tiba-tiba teringat soal kejadian tentang kepala perawat dan wakil supervisor yang datang untuk meminta maaf. Seolah-olah seperti telah mengerti segalanya, dia berkata, "Oh...! Aku tau sekarang, tadi kedua orang itu datang untuk minta maaf atas desakan dari wakil kepala rumah sakit ini ya."


"Minta maaf?"


Marco bingung tak mengetahui apa yang dimaksud.


Marco hanya membalas "oh.... ", meskipun dia tak tahu apa kejadian tadi apakah wakil direktur yang menyuruh mereka untuk minta maaf, tapi dia sendiri sedang disanjung tak berhenti sama Mega, dia pun dengan sungkan mendengar semua kata pujian, bersikap seolah-olah hal baik itu memang dia lah yang melakukannya, sengaja bersikap seperti berhati besar, dia berkata, "Tante, itu cuma bantuan kecil aja kok, ga perlu dipikirkan juga sih."


Carissa menjadi tidak senang dan berkata pada ibunya, "Bu..! Bukannya tadi kak Yoshua yang bantuin kita komplain ke direktur rs, barulah Pak Susilo dan kepala perawat itu meminta maaf sama kita."


Mega melihat Yoshua tidak menjelaskan apapun, dengan sangat yakin dia berkata, "Cars, orang bilang apa kamu percaya-percaya aja. Kalau tiap orang bisa cari direktur untuk komplain, dia tak perlu kerja yang lain lagi, cukup mengurus perkara seperti ini saja sudah cukup sibuk."


Carissa memelototi Yoshua, mencurigai apakah Yoshua berbohong lagi!


Yoshua berdiam seribu kata, ada perkataan yang sulit terucap dari mulutnya.


Tok. Tok. Tok...! Terdengar suara orang ketuk pintu.


Mega mengira perawat mau masuk untuk memeriksa keadaan Cindy, dengan nada perintah berkata, "masuk!"


Ada 4 orang yang datang, diantaranya ada seorang pria tua berambut putih yang berusia 60an tahun, seorang pria yang berusia sekitar 50 tahun, dua lainnya adalah Susilo dan kepala perawat yang meminta maaf kepada mereka sekeluarga sebelumnya.


Ketika Marco melihat orang-orang yang datang adalah pemimpin rumah sakit, dia langsung menyambut mereka dengan senyuman. Dia berkata pada pria berjubah putih yang berusia sekitar 50 tahun itu, "Pak Yudho, terima kasih ya atas bantuannya dalam membantu kami mengganti ke kamar super VIP ini."


Direktur RS Harapan Bersama bernama Emu, wakil direktur bernama Yudhoyono.

__ADS_1


"Mendengar perkataan dari Marco, Yudho mengangkat dahinya dan menjawab, "Marco, selesai mengangkat teleponmu, aku langsung pergi rapat, belum sempat membuat mengatur lebih lanjut, kamar ini bukan aku yang suruh ganti."


"Bukan ya....?"


Wajah Marco menunjukkan ekspresi tercengang.


Direktur rumah sakit Pak Emu langsung menyahut, "Tak perlu tebak lagi, aku yang mengatur penggantian kamar." Selesai bicara, dia langsung berjalan menuju ke hadapan Yoshua, dengan nada yang sopan ia berkata, "Pak Yoshua, apakah kamu puas dengan kamar pasien yang ini?"


"Iya, puas!"


Yoshua menganggukkan kepala, mengedipkan mata pada Pak Emu, dan berkata dengan sungguh-sungguh , "Pak, terima kasih telah menangani keluhan aku dengan adil. Lain hari, untuk menunjukkan rasa terima kasih ku, aku akan memberikan karangan bunga ke rumah sakit."


"Tidak... tidak perlu kok! Kejadian ini memang disebabkan oleh kelalaian staf rumah sakit kami, aku yang harus berterima kasih padamu atas pendapat dan saran berharga yang kamu berikan. Untuk menunjukkan rasa maaf kami, uang pengobatan dari istrimu tidak perlu dibayar. Semoga Pak Yoshua bisa memberikan kami saran berharga lagi di lain waktu."


"Aku sangat puas dengan sikap dan cara penanganan dari rumah sakit ini. Terkait wakil supervisor yang bernama Pak Susilo, tolong diobservasi lagi. Jika sikap kerjanya terjadi masalah lagi, urusan tidak bisa diselesaikan hanya dengan minta maaf nanti."


"Oh iya.. iya.. baik! Aku akan menyuruhnya untuk memperhatikan sikapnya.


Pak Emu mengedipkan matanya pada Susilo, Susilo sontak dengan sangat tulus berkata, "Pak Yoshua, saya akan memperhatikan sikap saya lagi."


Yoshua mengeluarkan suara "Mm!", dan berkata dengan nada datar, "Kalian sudah boleh keluar dulu. Istriku butuh istirahat dengan tenang."


"Baik! Sampai jumpa Pak Yoshua, kalau ada masalah apa-apa, silahkan untuk langsung mencari saya ya." selesai bicara, Emu bersama Yudho, Susilo dan kepala perawat berjalan keluar dari ruangan.


Setelah keluar, Yudho dengan sangat tidak sabar bertanya pada Emu, "Pak Emu, siapa sih Yoshua itu? Kenapa bapak begitu sungkan sama dia? "


Emu menjawab pertanyaannya dengan mimik yang tegas, "Pokoknya kalian hanya perlu tahu, jangan pergi cari masalah sama orang itu." Selesai itu, dia memperingatkan Susilo lagi, "Lain kali lebih hati-hati kalau bertindak!"


"Iya, saya sudah tahu Pak!"


Setelah Emu dan lainnya keluar dari ruangan, Yoshua berkata pada ayah mertua, ibu mertua dan Marco. "Cindy perlu banyak istirahat, kalian juga keluar dulu aja!"


Pada momen ini, aura pada diri Yoshua tiba-tiba terlihat sangat berbeda, sekarang ini, dia seperti pria kuat yang bisa menanggung semua rintangan, dirinya yang sebelumnya  selalu tampak tak berdaya, ini menjadi perbandingan yang sangat kasat mata.


Karena Marco terlalu penasaran dan ingin segera menanyakan pada Yudho tentang Yoshua, dia pergi duluan dari sana, kemudian disusul oleh kedua orang tua Cindy.


Setelah keluar, Mega baru menyadari sesuatu, "Lhooo! Kok manusia tak becus itu memerintahkan kita sih?"


"Sudahlah! Yoshua memang benar kok, Cindy perlu istirahat dengan tenang, kita jangan bikin keributan lagi di sini, biarkan Carissa saja yang bantu jagain kakaknya."


"Mentang-mentang pria tak becus itu kebetulan ketemunya sama direktur yang enak untuk diajak bicara, kasih dia muka sedikit, dia udah merasa dirinya sangat hebat."


"Sudah..! Ayo pergi."


Lio membujuk dengan berbagai kata, akhirnya Mega mau meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Si adik ipar, Carissa menatap fitur wajah Yoshua yang kelima indranya terpampang rapi dan jelas satu per satu seperti pahatan patung, sambil tertawa pulas dia berkata, "Hehe.. Kak, tampang kamu saat mengusir Ibu aku dan Marco keluar dari sini tadi.. benar-benar keren…..!"


__ADS_2