Suami Sampah Menjadi Orang Terkaya

Suami Sampah Menjadi Orang Terkaya
Menabrak mobil BMW orang lain


__ADS_3

Setelah pergi dari sekolah, Yoshua meminta Tono untuk kembali ke tempat tinggalnya sendiri terlebih dahulu.


Cindy tidak senang melihat Yoshua dengan Tono bersama, dia berpikir pergaulan Yoshua bersama "orang idiot" itulah yang membuat Yoshua terus-terusan bermalasan.


Yessy sangat senang duduk di dalam mobil.


Mengeluarkan rasa kegembiraan dengan suara kekanak-kanakannya, dia bertanya kepada Yoshua. "Ayah, bukankah mobil kita dijual? Ini mobil dari mana?"


"Anakku, mulai sekarang, ayah akan mengantar dan menjemputmu setiap hari. Sekarang, ayah jadi sopir untuk bos besar, kita bisa bawa mobil terus nantinya."


"Wow! Ayah hebat. Ibu pasti akan sangat senang jika dia tahu."


"Ibumu sudah tahu kok!"


Yessy terdiam beberapa saat, dan tiba-tiba berkata. "Ayah, ayah bekerja keras lah, nanti beli rumah besarnya kita lagi ya. Ibu menangis sepanjang hari karena tidak punya rumah untuk ditinggali."


Yoshua menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya menyentuh kepala kecil Yessy dengan penuh kasih. Dia tersenyum dan berkata. "Ya, Ayah pasti akan membeli kembali rumah besar kita."


Setelah kembali ke rumah sewa, Yessy menceritakan apa yang terjadi di sekolah hari ini kepada Ibunya.


Setelah mendengar ceritanya, Cindy mengangkat alisnya dan bertanya pada Yoshua. "Kamu mukulin orang ya?"


"Iya! Sebenarnya pertengkaran anak-anak itu bukan masalah besar, tapi orang itu menampar anak kita, mana bisa kubiarkan?"


"tidak sampai terluka kan?" Cindy bertanya dengan cemas.


"tidak sih, hanya menamparnya dan meninjunya."


Cindy menatap Yoshua dengan tatapan kosong dan berkata. "Aku bertanya padamu, apakah kamu terluka?"


Yoshua kaget dan merasa heran!


Dulu, Cindy tidak pernah peduli padanya. Hari ini, matahari benar-benar terbit dari sebelah barat, istrinya tiba-tiba peduli pada dirinya.


"Aku tidak apa-apa kok. Lihat kulitku ini masih tebal dan kasar." Yoshua melamun sebentar, merasakan kehangatan di hatinya.


"Baguslah kalau kamu baik-baik aja, bawa Yessy pergi cuci tangan dulu baru makan."


Yoshua melihat istrinya membuat 6 hidangan lezat di atas meja.


Ada sayap ayam goreng, kentang goreng, steak goreng yang Yessy suka, ada domba panggang dan kerang kukus dengan bihun yang menjadi favoritnya Yoshua. 1 masakan lainnya adalah brokoli kembang sepatu tumis yang disukai Cindy.


Yoshua menepuk pahanya, dia menyadari bahwa dia terlalu sibuk dengan urusan putrinya tadi dan lupa membeli bir.


"Aku turun ke bawah untuk beli bir ya!"


Cindy menjawab dengan cuek. "Sudahlah, tidak usah beli lagi, aku mau ngomong sesuatu denganmu nanti."


Yoshua menyesali ini di dalam hatinya! Jika dia ada membeli bir hari ini, Cindy pasti akan menemani dirinya minum beberapa gelas. Dia memikirkan adegan di mana keduanya mabuk dan tidur bersama saat awal pernikahan dulu.


Setelah mencuci tangannya, Yoshua membawa Yessy duduk di meja makan.

__ADS_1


Cindy memotong sepotong steak dan menaruh sayap ayam di piringnya Yessy.


Yoshua bertanya pada Cindy sambil makan. "Cindy, bukankah ada yang ingin kamu katakan padaku? Ada apa?"


"Ibu meminta kita pulang ke rumah nenek untuk makan malam besok."


Yoshua hanya menjawab Oh dan tak berkata apa lagi.


Di keluarga Bonardi, sejak kematian kakeknya Cindy, bisnis keluarganya anjlok. Kemudian, Cindy mendirikan perusahaan "Desain Kemasan Yezzy", barulah ada perkembangan yang terasa lagi. Pihak keluarga dari Ibunya Cindy, keluarga Akarsana, adalah keluarga lokal yang memiliki pengaruh tidak kecil di Kota Medan.


Namun, orang-orang di keluarga nenek dari sebelah Ibu Cindy itu, selalu memperlakukan yang kaya dan berkuasa dengan baik, dan mendiskriminasi yang miskin dan tidak berdaya" mereka membenci yang miskin dan mencintai yang kaya. Mereka juga memandang rendah ayahnya Cindy, apalagi Yoshua, yang dianggap tukang mengandalkan wanita. Oleh karena itu, Yoshua segan untuk pergi ke rumah neneknya Cindy. Kalaupun pergi dia hanya menjadi objek ejekan belaka.


"Omong-omong, mobilnya Pak Kenn boleh kita gunakan dulu ya?” Cindy bertanya tiba-tiba.


"Selama Pak Kenn tidak ada memanggil, kita bisa terus menggunakannya. Biasanya, mobil ini aku pakai sendiri."


"Kalau begitu besok aku pergi ke sekolah untuk jemput Yessy, kamu pergi jemput Carissa pulang ya, sekalian bawa dia ke rumah nenek."


"Oke!" Yoshua mengangguk.


Cindy memiliki seorang adik perempuan bernama Carissa Bonardi yang 5 tahun lebih muda darinya, sedang duduk di bangku kelas 3 SMA.


Adik iparnya Yoshua ini memiliki banyak akal licik di pikirannya. Dia selalu memikirkan segala cara untuk membuat Yoshua bercerai dengan kakaknya.


Yoshua benar-benar dibikin pusing karena ulah adik iparnya si Carissa.


Keesokan harinya, sekitar pukul 3 sore.


Karena ini hari Jumat mendekati libur akhir pekan. Sepulang sekolah, selalu ada 2 atau 3 murid-murid yang berjalan keluar dari sekolah bersama-sama.


Yoshua melihat Carissa dan 2 gadis cantik berjalan keluar dari sekolah bersama. Dia buru-buru menyapanya dan memanggil. "Carissa!"


Begitu Carissa melihat Yoshua, seluruh dirinya menjadi tidak leluasa.


Kedua anak perempuan dari keluarga Bonardi itu, tidak tahu gen apa yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Paras keduanya tidak mirip dengan orang tua mereka, tetapi mereka berdua adalah wanita yang sangat cantik.


Carissa dengan cemberut berkata kepada Yoshua. "Mengapa kamu di sini?"


"Kakakmu memintaku untuk menjemputmu ke rumah nenek!" jawab Yoshua.


Seorang gadis di sebelahnya menunjuk Yoshua dan mencibir pada Carissa. "Car, jangan-jangan dia adalah suaminya kakakmu yang sering kamu katain tidak berguna itu ya?"


Carissa memelototi Yoshua dan berkata dengan suara dingin. "Mulai kedepannya, jangan datang ke sekolah untuk menjemputku lagi."


"Kalau bukan kakakmu yang suruh, aku juga malas mau datang."Jawab Yoshua menyeringai, wajahnya terpampang ekspresi enggan.


"Kalian menjual rumah dan mobil, pakai apa untuk menjemputku? Nyuruh aku jalan kaki pulang?"


Yoshua melambaikan kunci mobil di tangannya dan berkata. "Aku punya mobil."


Pada saat ini, seorang pria kaya yang mengendarai BMW Seri 5 mengendarai mobilnya ke arah Carissa dan yang lainnya, dia menyapa gadis cantik yang berbicara di sebelah Carissa tadi. "Aurora, ayo masuk ke mobil! Kita pergi ke cinema nanti sore yuk."

__ADS_1


Gadis yang dipanggil itu bernama Aurora Indira. Dia, Carissa dan ada dua gadis lainnya disebut sebagai 4 bunga sekolah "SMA 1 Kota Medan".


Aurora jelas-jelas sedang pamer ke Carissa, setelah dia naik ke mobil, dengan nada mengejek dia bertanya. "Cars, mau pergi sama-sama tidak nih? Atau kamu mau menaiki mobil kakak iparmu yang jelek dan rusak itu?"


"Aku sih tidak mau jadi pengganggunya kalian berdua."


Pria yang membawa mobil itu bernama Andika Mulyono, merupakan salah satu orang yang mengejar Carissa sebelumnya. Kemudian, Aurora malah bergerak lebih cepat, mendekatinya lebih dulu. Aurora tampaknya memiliki hubungan yang baik dengan Carissa, tetapi secara diam-diam dia selalu ingin bertentangan dengan Carissa.


Carissa bertanya pada Yoshua. "Di mana mobilmu?"


Yoshua menjawab, "Di tempat parkir pinggir jalan!"


"Terus kenapa masih berdiri tak gerak di sini? Kamu tidak ingin semua orang di sekolah ini tahu, bahwa kamu adalah manusia tak berguna, kan?"


Yoshua tidak ingin berdebat dengan Carissa, dia sangat gesit dan pintar dalam berbicara, dirinya tak bisa mengalahkannya.


Ketika Aurora melihat mereka berdua menaiki Volkswagen abu-abu, dia memutar matanya dan berkata kepada pacarnya Andika. "Dika, dengar-dengar kakaknya sudah mau bangkrut. Mobil yang dipakai kakak iparnya itu pasti mobil pinjaman. Bagaimana kalau kita memberikan mereka pelajaran? Nanti kita menjebaknya dalam kecelakaan lalu lintas, mereka pasti kewalahan membayar ganti rugi."


Setelah Carissa menolak pengejarannya, Andika menaroh kebencian kepada Carissa di dalam hatinya, dia segera mengangguk dan berkata. "Rora, ide bagus, kencangkan sabuk pengamanmu."


Setelah Carissa naik ke mobil, dia merasakan interior di dalam mobil itu yang sangat mewah, tidak seperti sedan biasa.


"Kak, dari mana kamu mendapatkan mobil ini?“ Carissa bertanya dengan curiga.


Sambil menyetir, dia menjelaskan. "Pekerjaan aku adalah menjadi sopir bos besar. Mobil ini milik bos aku."


"Bos kamu cuma pakai VW?"


Ketika Carissa masuk ke mobil, dia hanya memperhatikan logo Volkswagen pada mobil itu, dia tidak menyadari bahwa mobil yang dinaikinya adalah Phaeton seharga 4 miliar.


"Ya! Emangnya kenapa dengan VW?"


Carisa tertawa dan berkata. "Aku tidak menyangka kamu akhirnya mau bekerja. Namun, bos kamu tampaknya tidak memiliki banyak uang. Jika dia mampu memperkerjakan sopir mobil khusus, seharusnya dia memakai Mercedes- Benz atau BMW aja. Tapi, untuk kamu, mobil ini sangat berlebihan sih."


Yoshua tidak peduli dengan cibiran adik iparnya, lagian dia juga tidak mampu meladeni omongannya. Dia menanti kesempatannya di masa depan untuk meluruskan adik iparnya itu.


Saat Yoshua melaju untuk melewati persimpangan lampu lalu lintas, sebuah BMW tiba-tiba berpindah jalur dan berbelok, insiden itu terjadi terlalu tiba-tiba, Yoshua tidak sempat menghindar, seketika terdengar suara "Brak!..." dan kedua mobil itu saling bertabrakan.


Yoshua menginjak rem segera dan bertanya kepada Carissa yang berteriak "Aduh!" "Cars, kamu baik-baik saja?"


Carissa memajukan kursi mobilnya karena dia ingin berdandan. Jadi, lututnya kepentok.


Dia berteriak pada Yoshua. "Kamu gimana sih, bisa nyetir tidak?"


Joshua mengabaikannya, menyentuh bahunya dengan ringan, dan menunjuk ke arah depan mobil.


Carissa melihat ke depan, ternyata, mobil yang ditabrak adalah mobil BMW yang dikendarai sama Andika dan Aurora.


"Kak, gawatlah kamu! Kamu menabrak mobil BMW mereka."


Carissa melirik ke Yoshua dengan perasaan simpati.

__ADS_1


__ADS_2