
Setelah neneknya selesai berbicara, Cindy menyahut, "Sejauh yang aku tahu, sepertinya Kusuma Group telah berganti nama menjadi Youshu Surya Group?"
"Youshu Surya Group?"
Nenek Cindy mengerutkan kening, memandang ke Cindy dan bertanya, "Cinn, apakah informasi ini dapat dipercayai?"
"Bisa!" Cindy menjawab dengan pasti.
Nenek Cindy berkata, "Tak peduli apa namanya, pokoknya kita mesti manfaatkan kesempatan ini untuk bekerja sama. Aku akan melihat kinerja kalian secara keseluruhan, dan mengatur ulang persentase kepemilikan aset masing-masing pada pembagian harta keluarga Akarsana nantinya."
Mendengar hal ini melibatkan "uang" dan kepentingan sendiri. Semua orang berebut untuk memamerkan kemampuannya kepada Nyonya besar Akarsana.
Putra sulung si Satria berkata, "Bu! Mengenai kerja sama, biarkan aku saja yang pergi mencari wakil presdir YSG, Pak Budiman, untuk berunding ya?"
Anak ketiga si Margareth juga berkata, "Menantu laki-laki aku bekerja di Dinas Industri dan Perdagangan, dia akan berbicara dengan kepala dinas mereka, dan lihat apakah mereka akan mendapatkan kesempatan untuk berunding dengan YSG?"
Putra bungsu si Setiawan berkata, "Bu, aku memiliki hubungan yang baik dengan beberapa pimpinan eksekutif dari YSG, aku akan berusaha untuk menghubungi mereka juga."
Hanya tersisa keluarga Mega yang tak mengucapkan sepatah kata pun.
Mega merasakan kecemasan yang mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Jika keluarganya tidak berpartisipasi dalam proyek kali ini, kelak jika nenek Cindy sudah meninggal, harta warisan yang bisa dia dapatkan pasti tidak banyak. Dia menerima nasib bahwa suaminya hampir pailit, yang lebih gawat lagi, anaknya sendiri juga menikah dengan pria yang tak berguna, sama sekali tidak bisa diandalkan.
Tepat ketika Mega kehilangan akal, Marco berbicara, "Wakil Presdir Pak Budiman dari YSG adalah teman sekelas dari kakak laki-lakiku dulu. Aku akan meminta bantuan kakakku untuk melakukan sesuatu!"
Mendengar ini, Mega merasakan kegembiraan yang meletup-letup di hatinya. Marco benar-benar sangat memberinya muka di saat yang mendesak! Betapa baiknya jika Marco adalah menantunya.
Mega dengan ekspresi pamer melirik ke Margareth, dan berkata sambil tersenyum, "Bu! Ada teman sekolahnya Cindy yang bantuin, pasti akan berhasil, Ibu tenang saja!"
Nenek Cindy bersuara "Hmm!" dan berkata, "Aku harap kalian tidak mengecewakan aku! Jika kita kehilangan topangan besar dari YSG, fondasi yang sudah Ayah kalian bangun demi keluarga kita ini, akan hancur di tangan kita sendiri."
Cindy sebenarnya ingin mengungkapkan bahwa Yoshua adalah sopirnya Kennedy, presdir dari YSG. Melihat Yoshua duduk di sebelahnya hanya menundukkan kepalanya untuk menikmati makanan, sama sekali tidak tertarik dengan urusan ini, jadi Cindy tidak ingin mengungkitnya. Aneh sekali, padahal Yoshua kali ini memiliki peluang besar untuk membuktikan dirinya di depan semua anggota keluarga Akarsana, tetapi dirinya malah acuh tak acuh.
Nenek Cindy berkata, "Sudahilah! Karena semuanya punya cara masing-masing, maka akan kunantikan kabar baik dari kalian nantinya. Ayo lanjutkan makan!"
Tengah makan, nenek Cindy bertanya kepada dirinya, "Cinn! Bagaimana soal perkara gugatan itu?"
"Sudah tidak ada masalah! Aku sudah melunasi semua hutang yang tersisa."
"Kamu sudah mendapatkan pinjaman?"
"Iya, sudah!"
Nenek Cindy melirik ke Mega sebentar. Saat itu, Mega yang berpesan kepada semua orang untuk tidak meminjamkan uang kepada Cindy. Mega adalah dalang dari ide-ide tak cemerlang yang dia pikirkan itu.
Mega ingin memanfaatkan masalah ini untuk memaksa Cindy bercerai dengan Yoshua, tidak terduga rencananya gagal.
__ADS_1
Mega tahu, Yoshua lah yang meminjam uang dari luar untuk membantu Cindy melunasi hutangnya. Dengan tatapan jengkel dia bertanya, "Yosh, aku tanya sama kau, dari mana kamu meminjam semua uang itu?"
"Dari seorang teman."
"Hah.. teman? "
"Yosh, selain si idiot Tono itu yang bisa kau sebut sebagai teman, dari mana lagi kau punya teman? " lanjut Mega bertanya dengan tertawa dingin.
Cindy membela suaminya dan berkata, "Bu..! Siapa yang tidak punya teman sih."
"Cinn, coba pikir, teman yang mana sih yang bisa sekali pinjam duit langsung 2 miliar sekaligus. Jangan sampai nanti kamu dijual sama dia pun kamu masih membelanya ya."
"Bu! Tolong jangan campuri urusanku lagi..."
"Ugh kamu......!"
Mega semakin naik darah, putri sulungnya ini terlalu keras kepala! Anak gadis yang sudah dewasa memang susah tuk dengarkan perkataan orang tua lagi. Dengan luapan emosi dia mengatai anak keduanya, "Cars, ingat baik-baik ya, kelak kalau cari pacar buka matanya lebar-lebar, jangan ikutin jejak kakakmu, menikah dengan suami bodoh."
"Bu! Mereka menikah atas keinginan dari mendiang kakek kok. Ibu dan Ayah juga setuju saat itu, kenapa salahkan kakakku terus sih?"
"Kakekmu dulu banyak mengenal orang-orang penting, siapa yang tahu apa yang pak tua itu......" Mega melirik suaminya Lio Bonardi, menghela napas dan berkata, "Dulu aku hanya ingin membantu kakekmu mewujudkan permintaan terakhirnya itu. Siapa tahu begitu cepat tiba-tiba kakakmu sudah hamil?"
Tampang Yoshua seperti seolah-olah tak ada badai petir apapun, tidak peduli apapun yang orang cemooh, semuanya seperti tidak ada hubungan sama sekali dengan dirinya, dia seperti berada di tempat yang tak bisa dijangkau, pada dasarnya dia dalam keadaan menutup diri.
Tiap Mega memandang ke arah Yoshua, makin dipandang makin naik pitam rasanya.
"Benar...! Marc, kamu deh yang paling serasi sama Cindy." Tawa Mega sampai matanya menyipit.
Yessy berkata dengan cengengesan, "Jangan.. jangan katakan Ayahku yang jahat-jahat, dia akan sedih. Dalam hati Yessy, Ayah dan Ibu adalah pasangan paling serasi."
"Yessy, kamu masih kecil, kamu belum mengerti masalah orang dewasa."
“Engtidak... Aku udah besar, aku sebentar lagi 5 tahun lho setelah ulang tahun!” Katanya sembari menguap.
Kata-kata Yessy membuat semua orang di meja itu tertawa geli.
Yoshua merasa menghadiri acara keluarga di sini membuang-buang waktu saja. "Cinn, anak kita ngantuk tuh, ayo pulang aja!" ajak Yoshua.
"Okeee!"
Cindy langsung berdiri dari tempat duduknya dan berkata kepada neneknya, "Nenek, izin pamit dulu ya, Yessy sudah ngantuk."
Nenek Cindy mengangguk, tidak menahan mereka untuk pergi.
Mega mengedipkan mata pada Marco, Marco menyadari maksudnya, dia bangun dari tempat duduknya, bertindak seperti sangat ingin membantu, dia berkata, "Cinn, sekalian aku setir bawa kalian pulang yuk!"
__ADS_1
"tidak perlu, kami punya mobil."
"Masa, bukannya mobil kalian dijual?" Marco bertanya bingung.
Cindy menjelaskan, "Yoshua sekarang bekerja jadi sopir mobil khusus, saat tidak ada tugas, mobil itu disimpan di rumah kami."
"Kalian tidak tahu... mobil yang dipakai kakak itu bukan mobil biasa, dia memakai VW Phaeton, harganya 5 miliaran lho..." Puji Carissa kepada Yoshua secara tiba-tiba.
Ketika mendengar "Phaeton", semua orang di ruangan itu tercengang. Tampaknya bosnya Yoshua memiliki latar belakang yang tidak biasa.
Yoshua melirik ke Carrisa dengan mimik yang terharu, tak menunggu lama, dia langsung menggendong anaknya dan pergi bersama istrinya.
Seketika Marco merasa tak seru lagi, lagian dia hanya orang luar di situ, untuk apa dia masih berlama-lamaan, dia berasalan masih punya urusan lain, ikut meninggalkan tempat itu juga.
Menantu Margareth yang bekerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan tertawa sinis dan berkata, "Cuma jadi sopir aja, apa yang harus dia bangtidakan."
"Eh... Kakak iri ya? Dengar-dengar sih bosnya kakak iparku super tajir."
Carissa tidak tahu siapa bos Yoshua. Tapi dia tidak senang dengan sepupu ipar dari keluarga bibi Margareth yang selalu mengejek keluarganya.
"Mau bosnya setajir apapun, itu uang bos nya, dia tetap harus bekerja untuk orang dengan digaji."
"Itu juga lebih hebat daripada kamu yang cuma tahu jadi anjing pengikutnya atasanmu!"
Margareth tidak senang saat mendengarnya, dan berkata dengan kesal, "Cars!!! Jaga omongannya ya?"
"Oh...iya! Aku salah ngomong, Bukan anjing pengikut namanya, tapi jadi cacing dalam perut! " Dia bangun dari tempat duduknya, berkata, "Aku udah selesai makan, pamit dulu ya!" Tak peduli yang lain lagi, dia langsung mengambil ransel dan pergi.
Margareth bergemetaran karena marah, menunjuk ke arah Mega sambil berkata, "Kak! Lihatlah anak yang kamu didik itu? benar-benar kurang pendidikan."
"Ih, anak-anak yang kamu didik juga tidak bagus-bagus amat kok!" Mega langsung beradu mulut dengan adiknya, Margareth.
"Plakkkk!" Nyonya besar menepuk meja dengan keras dan berkata, "Sudah cukup kalian! Yang kecil tidak berakal, apakah kalian yang tua pun sama? Keluarga yang harmonis baru akan sejahtera. Tengoklah kalian satu per satu, saling menjebak dan berdebat terus tiap hari. Aku peringatkan dulu di awal, jika ada di antara kalian yang tidak berkontribusi dalam rencana penting dengan Youshu Surya Group, jangan salahkan aku kalau tidak membagikan sepeser harta apapun nantinya." sontaknya dan berjalan pergi dengan tongkat.
Setelah Yoshua dan Cindy sampai di rumah sewa, anak mereka sudah tertidur.
Yoshua dengan lembut memindahkan anaknya ke atas kasur, dia pergi ke kamar mandi untuk nyalain pemanas air, kemudian keluar dan berkata pada Cindy, "Cinn, airnya udah dipanaskan ya, kamu pergi mandi dulu ya!"
Cindy melipat lengannya, menatap suaminya dan bertanya, "Yosh.. aku mau tanya! Nenek tadi mengungkit tentang rencana keluarga Akarsana untuk kerja sama dengan Youshu Surya. Ini berkaitan dengan pembagian warisan keluarga di masa depan. Kenapa tidak mau bilang kalau kamu kenal sama Pak Kenn?"
"Untuk apa? Apa rencana kerja sama antara Akarsana dengan Youshu Surya bisa tercapai atau tidak bukan urusan yang bisa kucampur. Aku hanya seorang supir saja."
"Tapi setidaknya kamu kenal Pak Kenn, jadi kamu punya peluang lebih besar dari mereka!"
Yoshua tertawa dan bilang, "Sayang... kalau kamu memang ingin bantuin keluarga nenekmu untuk kerja sama dengan Youshu Surya, aku coba minta persetujuan Pak Kenn?"
__ADS_1
"Ehm.. lupakan saja, kamu benar sih! Kamu hanya seorang sopir, takkan ada gunanya kamu bahas ini dengan Pak Kenn....!"