
Ketika Yoshua kembali, dia melihat istrinya sedang berbincang dengan seorang pria tinggi dan tampan yang berdiri di samping mobil Bentley di bawah gedung.
Yoshua mengenal pria ini, dia adalah Marco teman kuliahnya yang menyukai Cindy. Dengar-dengar dia pergi ke luar negeri setelah wisuda, tidak kepikiran bahwa dia akan kembali pada saat seperti ini.
Mungkin Cindy dan Marco berbincang terlalu serius sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Yoshua.
Terdengar Marco berkata, "Cin, aku tidak nyangka kamu akan menikah secepat ini."
Cindy membelai rambut yang jatuh di telinganya, menatap Marco dan berkata, "Setelah wisuda, kakekku bersikeras agar aku menikah dengannya."
"Tapi aku dengar bahwa dia tidak punya apa-apa ketika pertama datang ke keluargamu. Kamu tuh pintar, mengapa kamu menikah dengan orang tidak berguna seperti dia?"
Cindy menjelaskan. "Saat itu, kakekku sakit parah. Ini adalah satu-satunya keinginannya. Kakek sangat menyanyangi aku, aku juga tidak tega menolak permintaannya."
"Apakah menurutmu layak menghabiskan seumur hidup dengan pria miskin seperti dia?"
Cindy menghela napas dan berkata. "Mungkin ini nasib hidupku!"
"Lalu berapa yang harus kamu bayar ke Ciputra Jaya Group?"
"Aku menjual rumah dan mobil, dan masih kekurangan 1.5 miliar. Kalau memang tidak cukup, peralatan perusahaan bisa dibongkar dan dijual, setidaknya masih bisa dapat 500 juta nanti."
"Jangan menjual peralatan. Aku bisa pinjamin uang. Aku percaya bahwa dengan kemampuanmu, kamu pasti bisa mulai membangun dari awal lagi."
Ketika Cindy mendengar bahwa Marco bersedia meminjamkan uang, dia bertanya dengan penuh semangat. "Serius? apakah kamu benar-benar bersedia meminjamkan uang kepadaku?"
"Tentu saja bisa.”Marco mengangguk, dan menambahkan kalimat lain di akhir. "Namun, aku akan meminjamkanmu uang dengan satu syarat."
"Syarat apa ya?"
"Bercerailah dengan suamimu!"
Marco menatap terus tubuh Cindy yang indah tanpa mempedulikan sopan santun, ingin sesekali memeluknya dan segera menciumnya.
"Ini......"
Cindy terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Marco kembali berkata, "Kamu pertimbangkan saja, jika aku tidak pinjamin uang, kamu mungkin harus pergi ke pengadilan dan masuk penjara. Semoga kamu bisa menyadari masalah mana yang lebih serius. Selain itu, apa gunanya kamu pertahankan suami yang tidak berguna itu?"
Pada saat ini, Yoshua berteriak pada Marco. "Anjing yang baik tidak menghalangi jalan, permisi!"
Ketika Marco hendak marah, tiba-tiba melihat bahwa pria yang menyenggolnya adalah suaminya Cindy, si Yoshua.
Yoshua membuat suara seperti meludah. Lalu ia menghela napas pelan dan menatap lawan bicaranya dengan tatapan tajam. "Aku pikir kamu adalah orang baik, yang mau pinjamkan uang kasih Cindy. Ternyata kamu hanya ingin merusak kebahagiaan keluarga orang lain, mau nyuruh aku dan Cindy bercerai, lebih baik kamu pergi, jangan bermimpi! Pertama, kami tidak memiliki hubungan yang rusak, dan kedua, tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, bahkan jika kami sampai ke Dinas Urusan Sipil, perceraian kami tidak akan disetujui."
Marco memandang dan membandingkan Yoshua, melihat tampangnya yang mengenakan sepasang sandal jepit di kakinya, memakai t-shirt berleher bulat dan celana pantai bermotif bunga, bahkan merangkul kantong tas dari beras di bahunya. Berdiri di sisi Cindy terlihat seperti seorang putri dan badut.
Marco pernah bertemu Yoshua sebelum pergi ke luar negeri. Dulu Yoshua selalu berada di keluarga Bonardi untuk makan minum gratis, dia dan Cindy juga belum mencapai tahap untuk membahas pernikahan saat itu.
Lain sama Marco yang mengenakan setelan jas kemeja putih dan celana panjang lurus di tubuhnya, rambut di kepalanya tampak rapi dan berkilau, menampakkan citra elit kelas atas. Sangat berbeda dengan penampilannya Yoshua yang terlihat compang camping, kedua orang merupakan perbandingan yang sangat kontras.
"Yosh, aku bujuk Cindy untuk cerai tuh demi kebaikan kalian sendiri. Asalkan kamu mau ceraikan Cindy, aku akan membeli kembali rumah besar itu dan memberikannya kepada kamu. Aku juga akan memberi kamu 1 miliar untuk membesarkan anak. Lagian, kamu tidak akan seegois itu melihat Cindy masuk penjara karena dia tidak bisa melunasi hutangnya ke Ciputra Jaya kan?"
Yoshua mengangkat alisnya dan menatap tajam ke arah Marco sambil mencibir. "Hei Co, singkirkan kemunafikanmu ya? Tidak peduli seberapa miskinnya aku, tidak bakal sampai menjual istri, apalagi melihat Cindy masuk penjara! "
"Kalau begitu Cindy masih kekurangan 1.5 miliar, rumah dan mobil pun sudah dijual, mau kumpulkan uang dari mana lagi? Batas waktu hanya tinggal beberapa hari lagi, masih bilang kamu tidak egois?"
Yoshua tertawa dan berkata. “Tentang uang mulu yang kamu ucapkan dari mulutmu itu, jika kamu ingin menggunakan uang untuk menekanku, kamu salah pilih orang!"
Marco dan Cindy tampak tercengang melihat tumpukan uang kertas yang masih ada bau tinta di dalam kantong beras itu.
Cindy keluarin segumpal, dengan sentuhan tangannyanya yang ringan, dia bisa tahu keaslian dari uang tunai itu.
"Yosh, dari.. mana.. kamu mendapatkan begitu banyak uang?”tanya Cindy dengan terbata-bata.
Yoshua meraih tangan istrinya yang lembut dan ramping, dan berkata dengan misterius. "Ayo pulang, kita bicarakan di rumah. Ada anjing di sini, jadi tidak nyaman untuk ngomong! Selain itu, aku juga mau kasih tau kamu kabar baik lainnya, aku sudah bantu kamu carikan klien besar, asalkan kita bisa menandatangani kontrak dengan perusahaan ini, aku jamin kita bisa dapatkan kembali rumah dan mobil dalam satu tahun." Selesai berbicara, dia membawa karung beras berisi uang di pundaknya dan mencibir ke Marco. "Hei Marco, maaf mengecewakanmu! Cepat atau lambat kamu akan mendapatkan pembalasan dari tindakanmu yang memalukan itu." Selesai berbicara, dia meraih tangan Cindy dan kembali ke rumah sewaan.
Marco melihat ke arah rumah sewaan dengan tatapan dingin di matanya, berkata dengan sinis. "Dasar kamu Yoshua! Tunggu saja kamu."
Setelah kembali ke rumah sewaan, Cindy melepaskan tangan rampingnya dari tangan besar Yoshua.
"Yosh, ayo bicara! Ada apa dengan 2 miliar ini?”Cindy bertanya kepada Yosh dengan ekspresi dingin di wajahnya.
Yoshua melihat ke kamar Yessy terlebih dahulu, dan melihatnya sedang tertidur. Kemudian dia berjalan kembali ke sisi Cindy dan berkata sambil tersenyum. "Sayang, aku udah dapat pekerjaan. Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu seorang bos besar dan bekerja sebagai supir penuh waktu, itu adalah uang yang dipinjamkan oleh bos besar.
__ADS_1
"Emang kamu baru ke sana kerja berapa lama sih, terus mereka bisa langsung pinjamin 2 miliar gitu? Kamu pikir aku bodoh ya?"
"Lihat, ini adalah tanda terima pinjaman yang kusalin!"
Yoshua menyuruh Cindy untuk melihat tanda terima pinjaman yang sudah dia siapkan lebih awal.
Cindy mengambil dan melihat selembaran kertas itu yang berbunyi. "Pada hari ini, Yoshua telah meminjam uang senilai 2 miliar, akan dilunasi dalam 10 tahun, dengan pembayaran tahunan sebesar 200 juta. Jika tidak dapat melunasinya, pembayaran dilakukan dengan pemotongan gaji hingga tahun 2030. Peminjam, Yoshua."
Melihat tanda terima pinjamin itu, Cindy akhirnya paham asal usul uang itu. Berkat kebaikan dari bos itu, Yoshua bisa lebih awal mendapatkan pembayaran gaji 10 tahun di muka.
Bukti sudah terpampang, meskipun Cindy masih memiliki keraguan di hatinya. Tapi dia akhirnya bisa menerima dengan tenang uang 2 miliar itu dari Yoshua.
Yosh berpura-pura pasang tampang menyedihkan, memeluk pinggang istrinya yang ramping, menyeringai dan berkata, "Cin, gajiku selama 10 tahun dipotong lho, aku masih harus andalin kamu untuk jagain aku di masa depan."
"Hnng! Akhirnya kamu bisa berguna juga. Aku sudah menjagamu begitu lama, jadi tidak bakal keberatan untuk jagainmu selama 10 tahun lagi. Namun, aku harap kamu bisa tahu berjuang, kembangkan diri dan jangan bermalas-malasan di masa depan! Aku harap suamiku adalah pria yang hebat, bukan orang yang dipandang rendah. Jika kamu masih berdiam tanpa bekerja seperti sebelumnya, aku tidak keberatan untuk cerai."
"Tapi kakek menyuruh kita menjalani kehidupan dengan baik, hidup bersama sampai tua.”Yoshua mengungkit tentang Kakeknya Cindy.
"Jangan sengaja mengungkit tentang kakek untuk menekanku. Lagi pula aku yang jalanin hidup bersamamu, bukan sama kakek. Oh ya, kamu mengatakan sebelumnya akan ada klien besar yang akan diperkenalkan untukku. Apa itu serius?"
Mata Cindy penuh harapan, jika itu serius, si Yosh yang biasanya tidak berguna ini, benar-benar memainkan perannya sampai pada level yang berbeda.
"Tentu saja serius dong. Pernah dengar tentang Kusuma Group tidak? Kita akan dipercayakan untuk desain kemasan produk makanan mereka."
"Kusuma Group?"
Mata Cindy melebar, dia tidak bisa mempercayai apa yang didengarnya. Dengan terburu-buru berkata. "Tentu saja aku pernah dengar, Kusuma Group adalah perusahaan grup terbesar di Kota Medan. Aku mengerjakan banyak pekerjaan sebelumnya, tapi belum kesampaian untuk kerja sama dengan Kusuma Group. Siapa bos besar kamu? Kok bisa hebat begitu."
Yoseph mengangkat bahu dan berkata. "Bos besar yah bos besar! Aku hanya tahu nama belakangnya Kusuma sih. Tapi siapa sebenarnya nama lengkapnya, aku pun tidak tahu."
"Nama belakangnya Kusuma? Berapa umurnya?"
"Usianya sekitar 60 puluh tahun!”Yoshua menjawab dengan seolah-olah hal itu benar adanya.
Cindy dengan terkejut bertanya. "Hah! Jangan-jangan bos besar kamu itu si....?"
"Siapa?"
__ADS_1
"Andre Kusuma, orang terkaya di Kota Medan!"