
Pada hari ini, adalah jadwal Cindy keluar dari rumah sakit.
Orang tuanya Cindy, Mega dan Lio, pagi-pagi sekali sudah datang. Setelah membantu mengemasi barang-barang di rumah sakit, saat Yoshua hendak membawa Cindy pergi.
Mega menaikkan volume suaranya. "Tunggu sebentar!"
Cindy terkejut, mengerutkan keningnya dan dengan bingung bertanya kepada ibunya. "Bu, ada apa lagi?"
"Marco bilang dia akan datang untuk menjemputmu sebentar lagi!" Mega terus mengedipkan matanya pada Cindy.
Cindy tampak tidak senang dengan perkataan Mega. "Aku tak perlu dia jemput aku!" Mengangkat kepalanya dan bertanya kepada Yoshua. "Yosh, kamu ada bawa mobil ke sini kan?"
"Iya, ada!"
Yoshua berpikir dalam hatinya, tampaknya Marco bersikeras mau mengusik istrinya, ini sudah waktunya untuk menyadarkan dia, agar dia bisa menyerah.
"Kalau begitu ayo pergi, gak usah nunggu dia."
Cindy mulai keras kepala, dia berjalan keluar lebih dulu.
Ketika sampai di pintu masuk rumah sakit, terlihat sebuah mobil Bentley berwarna hitam yang parkir di depan hadapan Cindy.
Pintu mobil terbuka, Marco keluar dari mobil, lalu mengambil tas kecil dari tangannya Cindy, dan berkata, "Cinn, maaf, aku terlambat karena ada rapat tadi, ayo masuk ke mobil!"
Yoshua melangkah maju, meraih barang-barangnya Cindy yang ada di tangan Marco, dan berkata dengan dingin. "Eh Marc, kebaikan macam apa ini yang kau lakukan tanpa sebab yang jelas. Cindy adalah istriku, dia keluar dari rumah sakit, untuk apa kamu datang jemput?"
Wajah tampan Marco sekejap tampak canggung.
Terdengar suara Mega berkata, "Aku yang suruh Marco datang ke sini."
Marco langsung menyambung perkataan dari Mega. "Ya, ya, bibi yang minta aku ke sini untuk jemput Cindy."
Mega sengaja menarik perhatian dengan berkata. "Cinn, mobil yang Marco bawa adalah Bentley. Kamu belum pernah naik mobil seperti ini kan? Ayo masuk ke mobil."
Cindy menjawab, "Tak usah. Aku akan ikut mobilnya Yoshua, Yosh, di mana mobilmu?"
"Mobilnya ada di tempat parkir. Kamu tunggu di sini ya, aku pergi ambil dan bawa mobilnya ke sini." selesai berbicara, dia bergegas pergi dengan barang-barang di tangannya.
__ADS_1
Demi menjemput Cindy dari rumah sakit, Yoshua sengaja pergi ke tempat Kennedy untuk menukar mobil yang lain dulu. Meninggalkan Phaeton yang tergores di sana, dan menyuruh Kennedy untuk mencari orang memperbaikinya. Yoshua menukar mobil Phaeton itu dengan mobil khususnya Kennedy, Rolls Royce berlogo emas.
Ketika Yoshua menghentikan Rolls Royce itu di depan pintu masuk rumah sakit, Cindy, Mega dan yang lainnya masih melihat ke sekeliling, bertanya-tanya mengapa Yoshua belum keluar dari parkiran?
Melihat Yoshua berjalan keluar dari Rolls-Royce, seketika orang tuanya Cindy dan Marco melongoh dengan mulut terbuka. Reaksi Cindy masih lebih normal, dia mengetahui bahwa Yoshua membawa mobilnya Kennedy, tapi sama sekali tidak menyangka, dia bisa-bisanya membawa keluar mobil Rolls Royce itu.
"Cinn, ayo masuk ke mobil!" Yoshua dengan lembut menopang lengannya Cindy.
Cindy menganggukkan kepalanya, kemudian dia berkata kepada Marco. "Marc, makasih ya udah datang jauh-jauh kemari untuk jemput aku, kami pergi dulu."
Marco mengangguk-angguk kepalanya, ekspresi wajahnya sungguh tidak enak dilihat saat itu.
Yoshua tidak lupa menyerang Marco melalui kata-kata, "Marc, jangan jadi sok hebat hanya karena kamu membawa Bentley ya! Orang yang benar-benar kaya, sangatlah rendah hati."
Mega dan suaminya saling memandang, juga ikut naik ke mobil Rolls Royce. Meski keluarga Akarsana adalah keluarga kaya di Medan, tetapi mereka belum pernah menduduki mobil mewah seperti Rolls Royce yang berharga puluhan miliar.
Karena mobil jenis ini, bukanlah sesuatu yang bisa dibeli walaupun memiliki uang, mobil ini adalah mobil yang melambangkan status kedudukan seseorang. Di Kota Medan, hanya ada 2 Rolls Royce.
Ayah mertua Yoshua, si Lio, menelontarkan pujiannya terhadap Yoshua, "Yosh! Bisa juga ya kamu. Baru saja beberapa hari tak ketemu, kau sudah membawa Rolls Royce!"
"Ayah, ini mobil bosku." Jawab Yoshua sambil menyetir.
"Dia adalah Ken..."
Begitu Yoshua ingin mengatakan "Kennedy", Cindy bergegas menyela, "Oh! Ayah, bosnya Yoshua adalah Pak Kenu."
Dia tidak ingin orang tuanya tahu bahwa Yoshua bekerja untuk Kennedy. Jika tidak, dengan kepribadian ibunya, pasti akan mengganggu Yoshua tanpa henti dan menyuruhnya untuk pergi cari Kennedy.
Mega melipat lengannya dan berkata dengan dingin. "Yosh! Kamu memang ada sedikit lebih baik dari dirimu yang sebelumnya, setidaknya kamu tau untuk pergi bekerja sekarang. Tapi yah... masih jauh dari kriteria calon menantu yang aku inginkan."
Yoshua hampir curiga bahwa telinganya salah dengar, ini pertama kalinya ibu mertuanya memujinya. Dengan bersemangat berkata. "Ibu, aku akan berusaha lebih keras lagi."
"Cuma berusaha keras saja tidak cukup, sebaiknya harus bisa kejar status sosial yang tinggi. Kalau tidak, bukan kami yang memandang rendah kamu, orang lain yang akan menjelek-jelekkan bahwa Cindy cantik dan berbakat malah nikahnya dengan suami yang biasa-biasa saja.."
"Bu.. Ibu mulai cerewet lagi deh!"
Cindy tidak ingin mendengarkan omelan ibunya, jadi dia menyela.
__ADS_1
"Eh... dasar kamu, sudah besar sekarang jadi tak sudi dengarkan Ibu ceramah lagi ya. Ibu cuma ngomong sebentar aja, kamu sudah gak senang dan anggap ibu hanya mengomel-omel saja."
"Ibu emang suka omel-omel! Kalau tak percaya, coba saja tanya sama ayah?"
Lio tersenyum kecil dan berkata. "Emang agak cerewet sih!"
"Apa kamu bilang??" Mega mencubit telinganya Lio dan bertanya dengan tajam.
"Haish! Kamu tak hanya suka omel-omel, juga sedikit suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga."
Melihat kedua orang tuanya sedang bertengkar mulut, Cindy mengerutkan bibirnya dan tertawa kecil. Sepertinya adegan ini sudah menjadi hal yang biasa sejak lama.
Yoshua mengantar kedua mertuanya pulang dulu, kemudian membawa Cindy pulang bersamanya ke rumah kontrakan.
Cindy akan beristirahat di rumah selama 2 hari sebelum pergi ke perusahaan. Dia berkata dengan serius pada Yoshua. "Yosh, besok-besok kalau kita sendiri yang pakai mobil, bawanya mobil biasa aja, bawa Rolls Royce itu terlalu mencolok."
"Oke! Tapi mobilnya Pak Kenn yang paling biasa pun berharga setidaknya 2 atau 3 miliar. Phaeton yang kemarin-kemarin aku bawa kan tabrakan, Pak Kenn suruh Kak Johan bawa pergi perbaiki dulu. Kalau Rolls Royce terlalu menarik perhatian, nanti aku ganti yang lain saja, Mercedez Benz atau BMW." Yohsua tiba-tiba kepikiran bahwa istrinya belum ada mobil untuk dikendarai, dia berkata kepadanya. "Cinn, perlu gak aku pergi pinjam mobil sama Pak Kenn untuk kamu yang pakai sendiri. Soalnya, perusahaan kamu perlu urus banyak kegiatan bisnis lainnya, tiap hari naik taksi juga bukan cara yang tepat."
"Jangan pinjam lagi! Kamu baru saja kerja sama Pak Kenn belum lama, kita jangan merepotkan orang terus. Gini aja! 2 miliar yang kamu kasih ke aku waktu itu masih ada sisa beberapa ratus juta, kamu kan lumayan ngerti soal mobil, besok temanin aku pergi ke showroom jual beli mobil bekas, aku beli mobil bekas dari sana saja."
"Kamu mau beli yang harganya berapa?"
"Asal bisa nyala dan berfungsi apapun oke!"
Karena Cindy bersikeras menolak, Yoshua tidak lagi memaksanya untuk memakai mobilnya Kennedy.
Di sore hari, Yoshua pergi ke tempat Kennedy untuk menukarkan mobil, dia kemudian memilih Mercedez Benz berharga 2 miliar, membawa Rolls Royce memang terlalu menarik perhatian di mana-mana. Mobil Merci yang berharga 2 miliaran ini pun sudah merupakan mobilnya Kennedy yang paling biasa.
Setelah menjemput Yessy dari sekolah, Yoshua melihat Yessy kelihatan murung sepanjang perjalanan. Yoshua mencoba untuk menghiburnya, "Yessy sayang, kenapa suasana hatimu hari ini sepertinya tidak indah ya?"
Yessy dengan cemberut berkata. "Aku benar-benar sangat marah hari ini." Dia berbicara sambil menendang-nendangkan betisnya ke bawah.
"Ada apa Yessy?" Yoshua sambil menyetir menolehkan kepalanya untuk bertanya pada Yessy.
"Itu si Gwennie, dia bilang rumah kita sudah dijual, terus sekarang tinggalnya di kandang anjing."
Setelah Yoshua mendengar ini, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan keningnya. Dia berpikir dalam hati. Anak-anak sekarang, kenapa kecil-kecil saja sudah mulai membanding-bandingkan?
__ADS_1
Yoshua mengenal anak yang bernama Gwennie itu, rumah mereka dan rumah Yoshua awalnya berada di kompleks perumahan kelas atas yang sama. Mereka pasti tahu masalah tentang perusahaanya Cindy yang bangkrut sampai rumah pun dijual, lalu anak-anak asal membicarakan ini di sekolah.
Melihat kemarahan putrinya, Yoshua langsung mengeluarkan kata-kata untuk menghibur gadis kecil yang ia sayangi tersebut. "Yessy, meskipun rumah yang kita tinggali sekarang agak tua dan kecil, tapi itu adalah rumah tempat orang tinggal, bukan rumah anjing. Dan juga, ayah berjanji untuk cari uang yang banyak, terus nanti kita beli rumah besar kita lagi ya. Kalau saat itu tiba, Yessy kasih tahu sama Gwennie, keluarga kita juga sama bisa tinggal di rumah besar ya."