
Setibanya Yoshua di "Yoshu Surya Group", tidak ada yang berani mencegatnya lagi. Karena semua orang tahu bahwa dia adalah sopir baru yang direkrut oleh Kennedy.
Tetapi ketika seorang satpam melihat bemper depan Phaeton yang dikendarai oleh Yoshua mempunyai bekas tabrakan yang terlihat tidak kecil itu, dia tidak bisa menahan tawa dan berkata, "Sialan! Kemampuan setir seperti itu pun berani jadi sopirnya Pak Kennedy?" Lalu dia mengambil foto dan dengan cepat menyebar di grup chat antara karyawan "YSG".
Yoshua langsung pergi ke kantor Dewi dari "Departemen Periklanan dan Hubungan Masyarakat".
Semenjak Dewi tahu bahwa Yoshua adalah sopir yang sangat dihargai oleh Kennedy. Sikapnya terhadap Yoshua pun berubah dari sikap sinisnya sebelumnya.
Dia dengan susah payah berhasil naik ke posisi ini, tidak ingin kehilangan kesempatan gaji tahunan berjumlah miliaran dengan begitu saja.
"Yosh, Cindy tidak ikut datang?”Dewi berinisiatif menuangkan segelas air untuk Yoshua.
Yoshua kaget melihat perlakuan Dewi dan dengan nada rendah menjawab, "Iya, Cindy lagi ada urusan yang lain, dia suruh aku ke sini ambilkan draf desain."
Dewi datang mendekat ke Yoshua, dan jarak keduanya tidak lebih dari 30 cm. Seketika, tercium wewangian seperti aroma rusa kesturi dari tubuhnya Dewi yang merasuk ke hidung.
Dengan ekspresi menawan di wajahnya, Dewi berkata dengan penuh kelembutan kepada Yoshua, "Yosh.. kamu sekarang adalah orang terpentingnya Pak Kenn. Sekarang YSG ada proyek pembangunan kota baru, nah... aku punya sepupu dari bidang teknisi, kamu apa bisa bantu aku untuk coba bicarakan hal ini sama Pak Kenn? Kalau urusan ini tercapai, aku bakal kasih kamu komisi sebesar 5%, dan traktir kamu makan-makan." Dia dengan lembut mencolek punggung tangan Yoshua 2 kali.
Dewi memang memiliki parah wajah yang cantik dan tubuh yang indah, tapi dia terlalu licik. Jika Yoshua bisa dirayu dengan cara seperti ini, maka dia terlalu meremehkan daya tahan nafsu Yoshua selama bertahun-tahun.
Yoshua dengan pelan mendorong pergi tangannya Dewi, dan secara tidak sengaja menyentuh ke bagian dadanya yang lembut.
"Uh..! Kamu jahat ya..." Ucap Dewi dengan suara manja.
"Maaf, kamu terlalu dekat denganku. Aku tidak sengaja menyentuhnya!"
Ttidak usah jelaskan kok, aku mengerti!" Dewi mengibaskan rambutnya, menunjukkan dirinya yang sedang berbunga-bunga seperti burung merak yang lagi kasmaran.
Yoshua berpikir dalam hati, "Ngerti palakmu!" Tetapi dia berkata melalui mulut pada Dewi, "Dew, urusan seperti ini, kamu pergi cari Pak Budiman saja! Apa gunanya kamu cari aku?"
"Ya.. Bukannya ujung-ujungnya Pak Budi pun harus dengarin keputusannya Pak Kenn? Lagian.. kalau omongan Pak Budi bisa berguna, untuk apa aku masih cari kamu?"
"Maaf! Untuk urusan ini, aku tidak bisa bantu kamu." Yoshua langsung menolak Dewi dan berkata, "Berikan draf desain padaku, aku masih mau pergi antar Pak Kenn nanti."
Ketika Dewi mendengar Yoshua menolak untuk membantunya, wajahnya yang cantik pun langsung terlihat muram. Namun, setelah berpikir-pikir lagi, sekarang memang hanya bisa melalui Yoshua untuk mendekati Kennedy. Dewi pun segera berkata sambil tersenyum, "Oke! Kapan-kapan baru bahas soal ini lagi deh. Tapi, aku dengar-dengar, keluarga Akarsana juga sedang berusaha untuk bisa kerja sama dengan YSG. Nanti kamu coba pikirkan dulu, kalau kamu punya permintaan, cari aku ngomongkan langsung aja."
__ADS_1
Dewi mengedipkan mata pada Yoshua, seolah menyiratkan sesuatu.
"Oke! Aku akan pertimbangkan!"
Yoshua berpikir 2 kali, si Dewi sepertinya memiliki nilai guna, jadi dia belum sepenuhnya menolak mentah-mentah.
Setelah mendapatkan draf desain, saat Yoshua hendak pergi, dia melihat paman pertamanya Cindy, Satria Akarsana, berjalan keluar dari kantornya Budiman.
Melihat ekspresi sedih diwajahnya Satria, Yoshua tahu bahwa Budiman telah menyulitkan Satria!
Ketika Satria melihat Yoshua, dia tampak tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dan bertanya, "Yosh, kok kamu ada di sini?"
"Oh, aku ke sini untuk urus sesuatu."
"Urus sesuatu?"
Satria mengira bahwa Yoshua datang untuk membantu adik keduanya si Mega untuk berunding perihal kerja sama, dia menertawakannya sambil berkata, "Yosh! Lebih baik kamu pulang saja dan kasih tahu ibu mertuamu, tak usah simpan niatnya lagi untuk bisa mendekati Youshu Surya Group. Jangankan ibu mertuamu, aku saja gagal, dia pun tak akan berhasil!"
Yoshua berpura-pura terkejut dan berkata, "Paman, bukankah keluarga Akarsana dan YSG adalah mitra kerja pada dulunya? Paman dan Pak Budi kan sudah kenalan lama, tidak mungkin Pak Budi tidak beri muka ke paman kan?"
"Oh, kalau begitu sih kami pasti tidak mampu bersaing dengan paman! Paman, lanjutkan usaha kerasnya ya, aku pergi dulu."
Yoshua berkata sambil melambai ke arah Satria, dan pergi dengan tergesa-gesa.
Satria mendengus kesal, bergumam pada dirinya sendiri, "Mega terlalu ceroboh, kenapa suruh pengecut itu yang ke sini, apa gunanya dia?"
Setelah Yoshua masuk ke mobil, dia langsung kembali ke kantor dan memberikan draf desain itu kepada Ivonna.
Setelah Ivonna melihatnya, dia dengan percaya diri berkata bahwa dia bisa melakukannya, kemudian dia membantu Yoshua untuk kalkulasi, dari 2 draf desain ini saja, perusahaan bisa menghasilkan setidaknya di bawah setengah miliar.
Jika "Youshu Surya Group" terus memberikan draf desain seperti ini, maka ada harapan bagi Cindy untuk mendapatkan kembali rumah dan mobilnya.
Memikirkan rumah itu, Yoshua tiba-tiba merasa bahwa dia seharusnya membeli kembali rumah besar yang semula dijual mereka itu. Mumpung Cindy berulang tahun di bulan depan, dia bisa memberinya kejutan besar. Tapi, nantinya dia harus menyiapkan alasan-alasan palsu lagi, untuk mengelabui Cindy agar bisa mempercayainya.
Tak peduli lagi! Yang terpenting adalah membeli kembali rumah itu dulu, baru memikirkan hal belakangan yang lainnya. Tak bisa membiarkan kedua istri dan anaknya tinggal di rumah kontrakan terus.
__ADS_1
Yoshua kemudian menyetir menuju "Perumahan Permata Hijau"
Perumahan Permata Hijau adalah kompleks perumahan kelas menengah ke atas yang terkenal di Kota Medan. Di ibukota provinsi ini, harga rumah di sini hampir mencapai 30 juta per meter persegi. Yang harus diketahui adalah, harga rata-rata rumah di seluruh Kota Medan hanya sekitar 8 juta per meter persegi.
Setelah tiba di rumah aslinya, Yoshua membunyikan bel pintu.
"Siapa ya?"
Terdengar suara seorang pria dari telepon video.
Yoshua menjelaskan, "Aku adalah pemilik asli yang sebelumnya dari rumah ini, ada hal yang ingin aku perbincangkan sama kalian."
Setelah dibukakan pintu, Yoshua masuk ke rumah dari keluarga yang baru saja pindah ke situ. Melihat seluruh dekorasi di dalam rumah yang sudah berubah total, tidak ada lagi gaya dekorasi pernikahannya yang dulu, dia merasa sangat menyayangkannya.
Jika bukan karena berada di situasi putus asa, bagaimana Cindy bisa menjual rumah dan mobilnya.
Nama lengkap penghuni baru adalah Evan Wibowo. Evan dan istrinya adalah pekerja kerah putih di perusahaan asing, termasuk pekerja terdidik yang memiliki status sosial yang tinggi.
Evan mengenali Yoshua, setelah membiarkan Yoshua masuk ke dalam rumah, dia bertanya kepadanya, "Pak Yosh, ada urusan apa kah?"
"Begini! Awalnya, perusahaan istriku terkena gugatan, saat itu keadaan kami sangat terdesak, makanya mau tidak mau harus menjual rumah ini. Sekarang, kami ingin membeli rumah ini kembali, tidak tahu apakah Pak Evan berniat menjualnya?
Evan dan istrinya saling berpandangan, kemudian Evan berkata dengan dingin, "Pak Yosh lagi bercanda ya? Kami baru saja selesai merenovasi dan pindah ke rumah ini. Lalu kamu sekarang mau membelinya dari kami lagi, kami tak akan jual lagi."
"Iya, apalagi kami habiskan waktu hampir 1 bulan untuk kerjakan renovasi. Kami juga suka sama tata letak rumah ini, jadi tak akan dijual lagi!" Sahut Istri Evan sekali lagi menolak permintaan Yoshua.
Yoshua menjelaskan, "Rumah ini memiliki arti khusus bagi keluarga kami! Aku percaya bahwa tak ada bisnis yang tak dapat dinegosiasikan di dunia ini. Tolong bukakan harga saja?"
Mendengar itu, Evan dan istrinya saling berpandangan dan bertanya kepada Yoshua, "Pak Yosh, ini baru saja lewat 1 bulan, kalian sudah punya duit untuk beli rumah nih?"
"Kalian tidak perlu khawatir soal uang. Tolong bukakan harga saja?"
Evan ingin membuat Yoshua menyerah, jadi dia berkata kepadanya, "Pada awalnya, kami membeli rumah ini dengan harga 3 miliar, dan kami menghabiskan hampir 800 juta untuk renovasi. Tetapi dengan harga pasar saat ini, setidaknya seharga 5.5 miliar. Kamu mau beli lagi boleh! Asalkan kamu langsung bayar 6 miliar tanpa tawar menawar lagi. Kalau tidak, tak perlu bahas lagi!"
Yoshua menjawab sambil tersenyum, "Oke, 6 miliar deal!"
__ADS_1