Suami Sampah Menjadi Orang Terkaya

Suami Sampah Menjadi Orang Terkaya
Nita Yuanto yang Cari Masalah Sendiri


__ADS_3

Sesudah bangun di pagi hari, Yoshua mengantar putrinya Yessy ke taman kanak-kanak seperti biasa. Yang mengejutkan, Suliya sudah kembali bekerja.


“Pak Yoshua!” Suliya dengan antusias melangkah maju untuk menyambut Yoshua.


"Bu Suliya, apakah Ibumu lebih baik?"


"Ya! Terima kasih atas bantuanmu, Pak Yoshua."


Suliya langsung menggandeng dan memeluk Yessy, dan Yessy berkata dengan manja, "Bu Suliya, aku sangat merindukanmu ketika kamu tidak ada beberapa hari ini!"


“Yessy, Bu Suliya juga merindukanmu!” Suliya tersenyum, dan dengan lembut memegang dahi Yessy.


Yoshua tiba-tiba teringat kalau istrinya Cindy akan menghadiri reuni kelas di malam hari. Dia juga harus mengikutinya istrinya agar tidak diganggu oleh Marco. Tidak mungkin jika tidak ada yang mengurus anak mereka, ketika melihat Suliya, mata Yoshua langsung terlihat cerah, dan sepertinya dia sudah memiliki kandidat terbaik.


“Bu Suliya, bisakah membantuku?” Yoshua bertanya pada Suliya.


Yoshua meminjamkan uang kepada Suliya agar dia bisa menyembuhkan penyakit ibunya. Sekarang ada kesempatan untuk membalas dirinya, dia pasti tidak akan melewatkannya.


Suliya tersenyum dan bertanya pada Yoshua, "Pak Yoshua, silakan beritahu aku! Selama aku bisa melakukannya, aku rela mengorbankan segalanya untuk melakukannya!"


“Itu bukanlah hal yang besar”, Yoshua tersenyum, lalu berkata, “Aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk menjaga Yessy setelah pulang sekolah. Malam ini aku ada urusan dengan istriku, mungkin aku akan menjemputnya saat malam hari.”


"Boleh!" Suliya menyetujuinya. Selain sangat menyukai Yessy, dia sangat bersyukur bisa membalas kebaikan Yoshua. "Pak Yoshua, aku akan membawa Yessy kembali ke rumahku sesudah pulang kerja. Alamatnya akan aku kirim ke ponselmu."


“Baik!” Yoshua mengangguk.


Suliya berkata kepada Yessy, "Yessy, ucapkan selamat tinggal pada Ayah."


"Selamat tinggal Ayah!"


"Selamat tinggal!"


Sesudah Yoshua selesai berbicara, dia berbalik dan pergi.


Sesudah meninggalkan taman kanak-kanak, Yoshua menelepon Kennedy dan memintanya untuk menelepon orang yang bertanggung jawab atas "The Imperial Hall", karena dia ingin bertemu dengannya terlebih dahulu.


Kennedy memberi tahu Yoshua kalau orang yang bertanggung jawab atas "The Imperial Hall" adalah Fenny Gunawan, setengah jam lagi dia akan menunggunya di "Kafe Espresso" di Jalan Kartini.


Yoshua mengira-ngira perjalanannya dari tempatnya ke "Kafe Espresso" di Jalan Kartini, ditambah dengan waktu jika macet di jalan, dia butuh hampir setengah jam untuk tiba di sana. Jadi, sesudah menutup telepon, Yoshua langsung pergi ke "Kafe Espresso" di Jalan Kartini.


Kafe Espresso adalah kafe rantai ritel di Indonesia.


Kopi di sini sangat murni, ketika Yoshua bergantung pada istrinya untuk hidup, dia suka datang dan nongkrong ketika ada waktu luang. Karena suasana budaya kedai kopi ini sangat kental, ada banyak rak buku di kedai kopi, itu seperti perpustakaan mini.

__ADS_1


Sesampainya di kafe, dia hanya bertemu dengan seseorang yang kira-kira berumur 30-an, seorang wanita yang bertubuh montok berdiri. Lalu Yoshua melambaikan tangan padanya.


Wanita itu mengenakan gaun ketat model Korea berwarna krem. Tidak tahu apakah itu karena pakaiannya terlalu ketat atau karena wanita itu terlalu montok, dan memberikan ilusi kepada orang yang melihatnya. Dan juga membuat orang khawatir jika pakaiannya sewaktu-waktu bisa sobek.


Wanita itu memang sangat cantik. Wanita dewasa di usia tiga puluhan memiliki feminitas yang tidak bisa ditandingi oleh gadis-gadis muda.


Dengan tatapan hormat, Fenny memanggil Yoshua, "Apakah Anda Tuan Muda Yoshua?"


Yoshua mengangguk, dan memberi isyarat, "Silakan duduk!" kepada Fenny.


Fenny melihat Yoshua dengan tatapan tajam, dan langsung berkata, "Tuan Muda Yoshua, aku pikir Kennedy yang mengambil ahli hallku. Tak kusangka Pak Yoshua adalah bos yang sebenarnya."


"Aku hanya tertarik pada hall kelas atas di Kota Medan, dan aku tidak tahu kalau Kennedy mengambil hall milik Kak Fenny."


Yoshua mengatakan yang sebenarnya, dia hanya meminta Kennedy untuk membantunya  membeli beberapa hall dan restoran kelas atas.


Kennedy bekerja dengan penuh semangat, dia benar-benar membeli sebuah hall untuk dirinya. Dia juga mengatakan kalau ada dua restoran kelas atas lainnya, dan minggu ini dia sudah bisa melihatnya.


"Kak Fenny! Pak Kenn berkata kalau kamu adalah orang yang bisa dipercaya. Aku ingin bertanya tentang situasi “The Imperial Hall" saat ini.


Fenny menjelaskan dengan singkat kepada Yoshua. Dia mengatakan, meskipun pemasukan uang harian di "The Imperial Hall" lumayan bagus, tapi uang yang akhirnya dia dapatkan tidaklah banyak. Jika tidak, Fenny juga tidak akan menjual hall nya pada Kennedy.


Yoshua berkata dengan cuek, "Tidak apa-apa! Aku bukannya menjalankan hall untuk mencari keuntungan!"


Yoshua tampaknya sudah mengetahui pikiran Fenny, dan menjelaskan sambil tersenyum: "Tujuanku membuka hall adalah untuk memintamu membantuku membuat beberapa dokumen profil pelanggan. Hanya dengan menguasai hubungan dengan mereka, maka bisa memiliki sumber daya yang lebih luas, bukan begitu?"


"Tuan Muda Yoshua, perkataanmu memanglah benar! Tapi ini adalah hal tabu. Tidak ada yang suka jika privasi mereka disebar luaskan."


"Aku hanya melakukan persiapan saja! Ini sudah di era big data. Kita bisa saja mendapatkan informasi seseorang hanya dengan menggunakan internet. Jangan terlalu membesar-besarkannya!"


Yoshua berkata kepada Fenny, "Kamu seharusnya tahu kalau Kennedy membantuku membeli hall dan restoran kelas atas. Jika kamu melakukannya dengan baik, aku akan mempertimbangkan untuk menyuruhmu mengelola klub dan restoran yang lainnya. Dividen laba bersih 10% untukmu dari masing-masing toko. Bagaimana dengan Kak Fenny, apakah kamu tertarik?"


Fenny mengangguk cepat dan setuju.


Dia adalah seorang wanita yang bisa mengembangkan sebuah toko kecil menjadi hall pribadi. Harus diakui, kalau Fenny adalah wanita yang mempunyai keteguhan. Bahkan Kennedy, orang terkaya di Kota Medan bekerja untuk Yoshua. Tidak perlu memikirkan latar belakang Yoshua, dia pasti orang yang luar biasa! Justru karena inilah Fenny berniat bekerja untuk Yoshua. Selain itu, dia bisa mendapatkan 10% laba bersih dari setiap toko, itu bahkan lebih baik daripada membuka toko sendiri.


Yoshua khawatir kalau Keluarga Akarsana akan merugikannya, maka itu dia membangun kekuatannya sendiri. Jika bawahannya tidak berjuang dan melakukan persiapan untuk masa depan baginya. Kekayaannya cepat atau lambat pasti akan dilahap habis.


Dia memiliki kesan yang baik tentang Fenny. Pada pandangan pertama, dia melihat kalau wanita ini adalah wanita yang cerdas dan pekerja keras.


"Kak Fenny, istriku dan yang lainnya akan reuni dengan teman sekelasnya nanti malam, dan sepertinya mereka akan pergi The Imperial Hall. Tolong bantu aku melakukan sesuatu!"


"Melakukan apa?

__ADS_1


Yoshua membisikkan sesuatu pada Fenny. Dia terus menerus menganggukkan kepalanya, dan berkata pada Yoshua agar dia tidak perlu cemas! Dia akan melakukannya.


Sesudah selesai berbincang-bincang, Fenny meninggalkan kafe terlebih dahulu.


Yoshua mengganti ponselnya dengan kartu lain dan membuat panggilan yang sudah beberapa tahun tidak dia hubungi.


Sesudah panggilan tersambung, wanita di telepon itu tampak sangat emosional. Dia bertanya dengan suara gemetar, "Kakak Yoshua! Apakah itu benar-benar kamu?"


"Ini aku, Nita!"


"Wow!" Wanita di telepon tidak bisa menahan emosinya dan langsung menangis.


"Kak Yoshua, kamu pergi selama bertahun-tahun, dan tidak ada berita sama sekali. Kenapa kamu begitu kejam padaku?"


"Nita, kamu tahu apa yang terjadi pada keluargaku waktu itu. Aku kabur dari rumah, jadi tentu saja aku tidak akan menghubungi siapa pun."


Apakah kamu baik-baik saja sekarang?" Wanita itu berhenti terisak pelan dan bertanya pada Yoshua.


“Sangat baik” Yoshua menjawab, dan sesudah beberapa lama, dia berkata, “Aku sudah menikah.”


Ketika mendengar Yoshua mengatakan "sudah menikah!", wanita itu langsung terdiam untuk waktu yang lama.


Yoshua bertanya, "Nita, apakah kamu masih di sana?"


“Ya!” Nita Yuanto merasakan mulutnya bergetar, dan bertanya, “Apakah dia cantik?”


“Cantik!” Yoshua berkata kepada Nita, “Apakah kamu ingat Kakek Bonardi, pengurus rumah tangga lamaku? Dia adalah cucu dari Kakek Bonardi.”


Sesudah Nita mendengarkannya, hatinya seperti tertusuk pisau.


“Kak Yoshua, kamu meneleponku, apakah hanya ingin memberitahuku tentang pernikahanmu?” Nita mengubah topik pembicaraan dan bertanya.


"Tentu saja tidak!" Yoshua berhenti dan bertanya, "Nita, kamu sekarang di rumah atau di luar negeri?"


"Bekerja di 500 perusahaan top dunia di luar negeri."


"Aku ingin memulai bisnis sendiri. Ayo pulang dan bantu aku! Aku tahu kemampuanmu."


Nita ragu-ragu untuk sementara waktu, dan akhirnya mengatakan sesuatu dengan canggung, "Oke! Aku akan mengajukan pengunduran diriku ke perusahaan,aku mungkin akan mengalami kerugian beberapa miliar. Kelak kamu harus membayarku kembali!"


"Jangan khawatir! Kak Yoshua tidak akan merugikanmu."


Sesudah menutup telepon, air mata Nita mengalir lagi. Lalu dia bergumam pada dirinya sendiri: "Nita, mengapa kamu begitu bodoh, jelas-jelas tahu kalau Kak Yoshua sudah menikah, kenapa kamu cari masalah sendiri?..."

__ADS_1


__ADS_2