
Mendengar perkataan suaminya, Mega semakin murka. Mega menunjuk ke kepala Lio dan meraung, "Ini semua gara-gara kalian para lelaki yang tidak becus. Jika bukan karena ayahmu yang sekarat itu maksain Cindy nikah sama Yoshua, pasti Cindy sudah menikah dengan orang kaya sejak lama."
Seorang asisten dokter di depan ruang operasi berteriak pelan pada Mega, "Keluarga pasien tolong kecilkan suaranya!"
Barulah Mega mengbungkam mulutnya, dia melototi suaminya, lanjut melototi menantunya, semuanya semakin dilihat semakin membuat dirinya geram.
Carissa berkata, "Waduh kenapa rumah sakit ini bertindak seperti itu, aku akan pergi untuk bicara dengan mereka!"
Carissa memiliki kepribadian yang sangat lugas, jika ada yang bertentangan dengan dirinya, dia akan terlibat dalam perdebatan.
Mega khawatir putri kecilnya akan ditindas orang, dia memelototi Yoshua dan berkata, "Ngapain di situ? Melamun aja, cepat panggil Carissa kembali."
"Tapi Cindy sebentar lagi keluar dari ruang operasi!"
"Cindy bisa jadi istrimu, beneran hal yang tersial dalam hidupnya. Bahkan Cars pun bisa usahakan tuk carikan kamar kosong buatnya, kamu malah di sini gerak tak gerak, dasar manusia sampah."
Yoshua diceramahi Ibu mertuanya dengan kata-kata kejam sampai dia berbisu tak bisa jawab apa pun, dia cepat beranjak dari tempat duduknya.
Saat dia sedang cari Carissa, sembari menelepon ke Kennedy, bertanya padanya, "Apa Paman Kenn ada mengenal orang dalam di RS Harapan Bersama?"
"Tuan, jangan-jangan kamu tidak tahu? RS Harapan Bersama kan kita yang buka. Waktu itu, saat ku menyuruhmu tuk tanda tangan surat perjanjian, kamu tidak baca ya isinya."
Mendengar itu, Yoshua sedikit mengernyitkan alisnya, dokumen serah terima aset keluarga yang dia pegang saat itu setebal 1 buku kecil, dia hanya menandatangani namanya saja di bagian yang perlu tanda tangan, tanpa membaca isi apapun.
"Paman, Cindy sakit! Tadi kepala perawat di sini bilang sudah ada 1 kamar kosong tersedia, saat kami pergi urus keperluan administrasi rawat inap, dia ditelepon sama supervisor dan bilang kamar itu sudah direservasi orang lain. Tolong bantu aku nelpon ke pengurus rs untuk pastikan lagi."
"Oke, aku secepatnya telepon ke sana." Kennedy langsung menutup telepon usai bicara.
Setelah menemukan Carissa, dia melihatnya sedang berdebat hebat dengan beberapa perawat di sana. Di antaranya, ada seorang pria paruh baya berkaca mata yang mengenakan jubah putih, terlihat adalah atasan level kepemimpinan.
Terdengar Carissa sedang menyampaikan keluhannya, , "Bagaimana rumah sakit kalian ini bekerja sih, jelas-jelas kalian sendiri yang duluan datang menawarkan kami sisa kamar yang kosong, baru saja ikut pergi urus administrasi, eh.. lalu kalian bilang kamarnya udah dipesan orang lain."
__ADS_1
"Bu.. kamar itu memang sudah dari awal direservasi, hanya saja mereka yang di ruang perawat tidak tahu."
"Kamu siapa? Apa omonganmu bisa mewakili RS Harapan Bersama?"
"Saya Susilo dari departemen anorektal rumah sakit ini." Susilo melanjutkan kata-katanya dengan tatapan tegas, "Kalau kamu masih ribut begini terus, aku akan lapor polisi!"
"Hah! Mau menakut-nakuti ya?" Carissa menunjuk ke Susilo bertanya lagi, "Aku tanya sama kamu, apa kamu adalah supervisor yang disebut sama kepala perawat tadi?"
"Benar, nama saya adalah Susilo, wakil supervisor di sini."
"Wow! Ternyata seorang wakil supervisor, aku tebak kamu pasti disogok orang ya, makanya tidak mau kasih kami kamar itu."
Susilo tersangkut di benaknya sebentar oleh kata-kata Carrisa, wajahnya langsung berubah drastis dan membela dirinya, "Jangan asal ngomong ya, hati-hati aku menuntut kamu atas penghinaan."
"Kamu kira aku bakal takut!" Carissa melototnya dengan sepasang mata miliknya yang indah itu, dia tak sudi mengalah.
Yoshua menghampirinya dan segera menarik Carissa dengan bujukan, "Cars, sudahlah! Ayo kita balik saja."
Carissa melepaskan dirinya dari tangan Yoshua, dengan marah berkata, "Kak, kamu masih seorang pria bukan? Kamu takut sama dia karena dia wakil supervisor?
Carissa dengan ekspresinya yang bingung bertanya pada Yoshua, "Kak, beneran nih?"
"Sekarang kita balik dulu ke depan ruang operasi sambil nunggu kakakmu keluar, nanti kamu juga tahu kok benar apa ngtidak!"
Carissa berpikir keras dalam hatinya, giginya yang putih menggigit bibirnya yang merah, dia seperti telah membuat keputusan yang amat besar dan berkata, "Baiklah, aku akan percaya sama kamu kali ini!"
Saat mereka berdua pergi dari sana, orang-orang di ruang perawat mulai mengoceh.
Siapa sih itu? Kelihatannya sangat sok. Dia bahkan berani meminta wakil supervisor kita untuk meminta maaf kepadanya, mereka tidak tahu kalau Pak Susilo itu adalah murid banggaan yang direktur rumah sakit bawa sendiri ke sini, kalaupun masalah ini ribut sampai ke direktur sana, juga tidak akan membuahkan hasil.
Mega melihat mereka berdua sudah kembali, dilihat dari mimik wajahnya Carrisa, sudah bisa tahu kalau tidak ada hasil yang baik.
__ADS_1
"Cars! Kenali kenyataan saja. Makanya, kelak kalau cari pacar, carilah yang berkemampuan, jangan seperti kakakmu, carinya sampah masyarakat."
"Ibu..! Kak Yoshua bilang dia punya cara untuk dapatkan kamar itu kembali. Selain itu, kepala perawat dan wakil supervisor tadi akan meminta maaf pada kita."
"Cars, omongannya saja kamu percaya! Kamu kira dia bos di sini? Aku dengar sih, rumah sakit ini adalah rs dengan fasilitas medis terbaik di kota kita. Latar belakang bosnya sangat misterius, bahkan orang lain pun tak tau identitas asli dari pemilik rumah sakit ini."
Carissa memang tidak sepenuhnya percaya sama Yoshua, mendengar perkataan Ibunya barusan, membuat dia semakin kecewa lagi. Dengan mata penuh kebencian, dia berkata, "Kak, kamu terlalu mengecewakanku!!!"
Saat ini, ada suara langkah kaki yang cepat menuju datang.
Mereka semuanya menatap ke arah datangnya suara itu, melihat orang-orang yang datang adalah si kepala perawat dan wakil spv yang bertengkar sama Carissa tadi, buru-buru berjalan datang.
Carissa sedikit mengernyit dan berpikir, "Jangan-jangan?.... "
Susilo datang ke hadapan Yoshua, dengan tatapan yang hormat bertanya pada Yoshua, "Apakah Anda Pak Yoshua?"
"Iya benar!" Yoshua mengangguk kepalanya.
"Halo, Pak Yoshua, tadi sikap kerja saya yang tidak baik. Untuk kamar single yang kalian pesan tadi masih milik kalian, saya sudah membatalkan reservasi dari pasien yang belum datang untuk berobat itu."
Kepala perawat yang sebelumnya datang ke situ juga meminta maaf, "Saya benar-benar sangat minta maaf, ini adalah kelalaian kami yang menyebabkan ketidaknyamanan pada kalian. Kamar single yang kalian pesan, sudah kami upgrade ke kamar super VIP secara gratis, saya memohon untuk tidak mengejarkan pertanggungjawaban kami lagi."
Semua mata tertuju ke Yoshua, baik kedua mertua Yoshua maupun Carrisa tercengang habis, mereka tidak mengerti apa yang terjadi.
Yoshua dengan sikap sewajarnya menegur Susilo dan kepala perawat, "Rumah sakit adalah tempat yang mementingkan etika kedokteran, apalagi RS Harapan Bersama adalah rumah sakit swasta, sangat penting untuk memperhatikan aspek pelayanan. Untungnya kami yang ketemu masalah ini, kalau orang lain, mungkin sudah kena imbas dari kalian kan?"
"Iya... iya. Semuanya kesalahan kami!" Jawab Susilo terus-terusan mengangguk kepala, seperti cobek yang sedang menumbuk bawang putih.
"Sudahlah, kubiarkan masalah kali ini karena kalian sudah menyesalinya dengan tulus! Sekarang minta maaflah sama adik ipar dan ibu mertuaku!"
Susilo tidak berani berkata "tidak", dia bersama kepala perawat dengan sangat serius dan penuh hormat meminta maaf kepada Ibu mertua Yoshua terlebih dahulu, dan meminta maaf kepada Cindy lagi.
__ADS_1
Susilo pergi duluan dan kepala perawat masih berada di situ.
Carissa menarik kepala perawat ke sisinya, bertanya padanya sambil menunjuk Yoshua, "Emang dia siapanya kalian? Kenapa tampaknya kalian sangat takut sama dia?"