
Setelah Andika dan Aurora turun dari mobil, Andika dengan bangga menepuk-nepuk bemper depan mobil VW yang dibawa Yoshua.
Yoshua menyalakan flash ganda dan turun dari mobil, dia mengambil foto dengan ponselnya ke berbagai arah mobil.
Carissa bertanya, "Dika, Rora, kenapa kalian berdua muncul di sini lagi?"
Dengan ekspresi arogan, Aurora mencibir, "Cars, kakak iparmu menabrak BMW-nya Dika. Sekarang kalian harus ganti rugi."
Carissa memandang Yoshua dengan simpati, berkata dengan pelan, "Kak, ini urusanmu, kamu yang selesaikan dengan mereka aja!"
Andika bertanya kepada Yoshua. "Mau lapor polisi, apa selesaikan secara pribadi? Kalau secara pribadi, kamu berlutut di tanah, panggil aku kakak 3 kali, maka akanku biarkan masalah ini."
"Cars, keluarga kakakmu hampir bangkrut. Ditambah kali ini dia menabrak mobil mewah, wah... menambah musibah di atas penderitaan namanya. Bagaimana kalau kamu biarkan kakak iparmu untuk berlutut dan memohon kepada Dika saja?"
Carissa dengan nada tinggi menjawab, "Rora, sudah cukup! Tak peduli betapa buruknya kakak iparku, hanya aku yang boleh menghinanya. Kalian tak usah bersandiwara di sini lagi deh. Bukankah itu hanya BMW yang rusak? Asuransi mobilnya kakak iparku sudah cukup untuk membayarmu."
"Oke!! Harga mobil ini 1.3 miliar, cepat suruh kakak iparmu bayar!" Perkataan dari Andika ini jelas untuk mencari kegaduhan dengan Carissa.
Yoshua mengangkat alisnya dan berkata, "Aku tadi bawa mobil dengan normal, kalian yang menyerong secara paksa. Apalagi, posisi serongan mobilmu itu melewati marka utuh. Mobilku ada rekaman pengemudi, kalau dilihat-lihat, yang harus bertanggung jawab sepenuhnya adalah kamu. Dan... harga mobilmu 1.3 miliar ya, harga mobilku 5 miliaran. Kamu ganti rugi tidak?"
Mimik muka Andika berubah seketika, dia melihat posisi serongan mobilnya memang telah menerobos marka utuh, dia menyalahkan dirinya dalam hati karena tidak berpikir teliti dalam rencana jahatnya itu. Namun, mendengar Yoshua bilang bahwa mobil VW-nya itu berharga 5 miliaran, dia tertawa nyengir dan berkata, "Mobil rusak seperti itu seharga 5 miliaran.. kamu mau takutin siapa?"
Yoshua melipat lengannya dan berkata datar, "Kamu akan tahu kalau kamu ke belakang mobilku lihat logonya."
Andika, Aurora dan Carissa bersamaan berjalan ke belakang mobil, terlihat ada sebuah baris huruf "Phaeton" di bawah logo Volkswagen.
Aurora berseru kaget dan bertanya, "Ini mobil Phaeton?!"
Yoshua langsung menjawab, "Ya! Kualitas impor terbaik. Harga mobilnya 5.3 miliar! Jadi, kalian mau lapor polisi, apa urus secara pribadi?"
Meskipun Carissa tidak terlalu paham tentang mobil, tapi dia tahu Phaeton adalah mobil mewah yang memberi kesan sederhana.
Saat berada di dalam mobil, telah dia rasakan interior mobil itu yang sangat mewah, ternyata mobil yang dia duduki tadi adalah Phaeton yang bergengsi.
Tanpa diduga, keadaan berbalik begitu cepat, mangsa besar ditelan dalam 1 lahapan. Carissa mencibir ke Andika dan berkata, "Dika, kakak iparku berkata tadi kamu sengaja melewati garis putih utuh untuk membuat kecelakaan ini, kamu harus bertanggung jawab penuh. Spare part mobil ini saja lebih mahal daripada BMW milikmu. Mau cari polisi atau selesaikan pribadi nih?"
__ADS_1
"Cars, bantu aku untuk bicara dengan kakak iparmu, kita selesaikan pribadi aja ya. Lihatlah mobil kakak iparmu, hanya tergores dikit saja di bemper bagian depan, aku akan ganti rugi 30 juta."
Carissa menampakkan raut puas dan berkata, "Ini sih tergantung keputusan kakak iparku."
Yoshua sengaja terlihat sedang ragu-ragu, kemudian berkata, "30 juta boleh aja sih... Tapi kamu harus panggil Carissa dengan sebutan "kakak terhormat" dulu sebanyak 3 kali, maka akan kubiarkan masalah ini. Kalau tidak, aku akan lapor polisi."
Andika terkejut ketika dia mendengar "lapor polisi". Dia kemudian teringat bahwa SIM-nya baru saja ditahan polisi beberapa hari yang lalu, jika dicek lagi oleh polisi lalu lintas, bisa-bisa ketangkap basah mengemudi tanpa SIM.
Merenungkan hal ini, dia takut setengah mati hingga tubuhnya berkeringat dingin. Dengan patuh dia memanggil Carissa "kakak terhormat" 3 kali, kemudian mentransfer 30 juta ke rekeningnya Carissa. Selesai itu, dia membawa Aurora untuk kabur dengannya.
Setelah masuk ke mobil lagi, Yoshua sambil menyetir, bertanya basa-basi pada Carissa, "Cars, teman sekelasmu itu ada penyakit ya?"
Carissa tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, "Hahah... Ya, sakit jiwa!"
Keduanya tertawa besar secara bersamaan.
Setelah saling bertukar pandangan, wajah cantik Carissa kembali terlihat dingin. Dia berkata dengan datar, "Kamu tampil baik kali ini. Tapi jangan berpikir kalau aku akan mentidakuimu sebagai kakak iparku ya."
"Lalu kamu masih memanggilku kakak ipar?"
Yoshua mengangkat alisnya dan menjawab dengan muka tebal, "Selama kakakmu tidak membahas tentang perceraian, aku tidak akan menceraikannya!"
"Kak, kamu..." Carissa marah hingga jantungnya berdentam-dentam, dia berkata dengan kesal, "Kalau begitu, kamu lihat saja nanti."
Setelah tiba di tempat Megawati Akarsana, ibu mertuanya Yoshua. Keluarga Akarsana sudah sedang menikmati makan malam.
Megawati melambai kepada putri kecilnya Carissa, memberi isyarat kepadanya untuk duduk di kursi di sebelahnya. Yoshua melihat sekeliling, tampak Cindy diatur duduk di sebelah seorang pria tampan, Marco yang baru saja kembali dari luar negeri.
Yoshua mengerutkan kening, dia tak menduga perlakuan keluarga Akarsana terhadap dirinya semakin berlebihan.
Ini adalah makan malam keluarga, tidak masalah jika dia tidak memiliki tempat duduk. Tapi, mereka malah mengundang orang luar untuk duduk di sebelah istrinya.
Dia tak bisa meneloransi sama sekali terhadap perbuatan mereka.
Tepat saat Yoshua ingin mengamuk, terdengar Cindy bertanya, "Mengapa kalian tidak ada siapkan tempat duduk untuk Yosh?"
__ADS_1
Dia dari tadi sibuk menjaga Yessy dan berbincang dengan para tetua, jadi belum sempat menyadari hal ini. Menengok Marco duduk di sebelahnya, tetapi suaminya malah jauh berdiri di sana, tidak diaturkan tempat duduk, dia sudah memahami sesuatu di dalam hatinya.
Mega, Ibunya Cindy, berkata dengan dingin, "Cin, mengapa kamu pedulikan orang tidak berguna itu? Marco akhirnya bisa kembali dari luar negeri, tidakkah kamu harus banyak menemaninya dulu?"
"Kak, bukankah apa yang kamu lakukan ini terlalu jelas maksudnya? Pada awalnya, kamu dan kak Lio juga tak menghalau pernikahan mereka. Sekarang, di hadapan Yoshua, kamu malah biarkan pria lain duduk di sebelah Cindy. Ini sih... kelihatan banget diskriminasi sama orang miskin!"
"Mar, jangan sok campur urusan orang deh!" Mega memelototi adiknya dengan tatapan marah.
Di keluarga Akarsana, neneknya Cindy mempunyai 4 anak kandung. Yang tertua adalah putra sulung Satria Akarsana; yang kedua adalah putri sulung Megawati Akarsana; yang ketiga adalah putri kedua Margareth Akarsana; terakhir yang termuda adalah si bungsu Setiawan Akarsana.
Yoshua sudah lama mengenal betul orang-orang di keluarga ini, semuanya suka memandang rendah orang lain.
Cindy meletakkan sumpitnya, membawa anaknya ke sisi Yoshua. Dengan wajah dingin, dia berkata, "Jika kalian memang tidak berencana untuk membiarkan suamiku duduk bersama, untuk apa aku menghadiri acara makan malam ini, tak usah ikut pun tak apa!"
Putra sulung keluarga Akarsana, Satria menegornya dengan marah, "Hei, dasar anak tak tau sopan santun! Nenekmu masih duduk di sini. Sebagian besar orang yang berada di sini adalah para tetua. Mengapa kamu bersikap lancang di sini?"
Mega berkata kepada putrinya, "Cindy, segaralah meminta maaf dengan nenek dan pamanmu, ya?"
"Aku tidak bersalah, mengapa aku harus meminta maaf?"
Margareth mencela dan berkata, "Cinn! Kami melakukan ini untuk kebaikanmu sendiri. Apa gunanya bersama lelaki payah itu? Dengarkan bibi, kamu duduklah dengan patuh. Begini, ambilkan beberapa lauk untuk Yoshua, biarkan saja dia makan di ujung sana."
Pada saat ini, wanita tertua dari keluarga Akarsana, nenek Cindy bersuara, "Cukup! Tambahkan saja 1 kursi lagi di sini."
Tidak ada yang berani mengelak dan tidak menuruti perkataan Nyonya besar Akarsana.
Si adik ipar Carissa melirik Yoshua sebentar, seolah mendapatkan bisikan dari hati, dia bergerak pergi memindahkan kursi, memisahkan tempat antara Cindy dan Marco.
Tidak tahu mengapa, meskipun Carissa tak menyukai Yoshua, tetapi dia lebih membenci Marco berkali-kali lipat.
Marco adalah seorang pria yang memiliki hati yang licik dan tidak bisa ditebak.
Nenek Cindy berkata, "Meskipun keluarga Akarsana bukan keluarga dengan otoritas tinggi, tapi bagaimana pun juga, kita ini juga termasuk keluarga kaya di Kota Medan. Alasan mengapa hari ini aku memanggil kalian semua ke sini adalah meminta kalian agar bisa mendukung Satria dalam menguatkan bisnis keluarga kita. Sekarang kemerosotan ekonomi memberi dampak yang tak kecil pada bisnis keluarga kita. Aku dengar, pebisnis top di kota ini, Kusuma Group telah memenangkan tender dalam proyek perencanaan pembangunan kota baru. Sebagai mitra lama Kusuma Group, untuk mengerjakan proyek sebesar ini, sampai detik inipun kita belum mendapat kabar tentang rencana kerja sama dari mereka. Aku curiga, mereka sudah menemukan mitra kerja yang lain. Kalian harus cepat bertindak, pergunakan semua koneksi yang kalian puunya, wujudkan rencana kerja sama ini. Keluarga Akarsana tidak meminta kalian untuk jadi yang paling sempurna, yang paling penting saat ini adalah mempertahankan usaha yang Ayah kalian turunkan ini."
Mendegar "Kusuma Group" disebut, Yoshua dan Cindy saling memandang. Tak disangka, bisnis keluarga Akarsana sedang menghadapi kesulitan, sedang berusaha mencari perlindungan di bawah markas besar "Kusuma Group".
__ADS_1