
" Ada yang ingin aku sampaikan pada kamu Bang". Fia mengajak suaminya duduk di tepi ranjang.
" Tunggu Fi , bolehkah aku minta sesuatu pada mu !". Abizar menarik kedua tangan
" Apa Bang ?".
" Bisa kamu rubah panggilan kamu kepadaku !".
" Aku harus panggil Abang apa ?".
" Panggil Beb , Yang...atau cinta mungkin ".
Fia malah tertawa, " Gak ada yang lain apa , aku geli mendengarnya ".
" Jangan tertawa, di coba aja dulu , aku kepengen dengar !".
" Gak ah , Mas aja boleh engga ?".
" Mas ???...boleh deh, dari pada kamu panggil Abang , aku berasa kayak abang - abang tukang bakso ".
" Ayo coba , panggil aku !".
" Mas..Mas Bizar...".
" Hmmm....not bad , bolehlah ,aku suka ".
" Sekarang udah boleh ngomong ?".
" Silahkan sayang , Mas mu ini siap untuk mendengarkannya!". Abizar menarik Fia untuk duduk di pangkuannya.
" Mas ..!".
" Begini saja , jangan menolak !".
" Jangan macam - macam ya !". Bagaimana mau berbicara kalo tangan Abizar sudah berkelana kemana - mana. Salah satu tangannya pun sudah menerobos dan mengobrak - abrik di bawah sana. Shafia dibuat kalang kabut oleh suaminya...mulutnya yang ingin berbicara kini malah mengeluarkan suara laknat...yang makin menyulut semangat Abizar .
" Ja....akkhhhh ". Abizar makin nakal , kalo begini terus lain ceritanya, pasti ujung - ujungnya suaminya ini minta bergelut di atas kasur, begitu pikir Fia.
" Mmmmassssss.........". Abizar tersenyum smirk...ia tau istrinya sudah masuk perangkapnya.
" Kita selesaikan ini dulu , baru setelah itu kamu bisa cerita ". Fia pun tak dapat menolak , karena dirinya pun menginginkan sentuhan Abizar, suaminya ini pintar sekali membuatnya tak berkutik.
Abizar memang selalu tidak tahan jika berdekatan dengan Shafia , sejak pertama ia bisa menyentuh Fia , sejak itulah ia selalu ketagihan.
Abizar mengusap peluh di kening istrinya, lalu mengecupnya dalam..." Terima kasih sayang....kamu memang obat mujarab untuk ku !".
__ADS_1
" Karena semakin sering aku menyentuh kamu , maka tubuh ku terasa makin sehat dan segar ".
" Nah , sekarang kamu mau ngomong apa ?". Fia akhirnya bangun dan duduk bersandar , Abizar pun mengikuti Fia, ikut bersandar di ranjang.
" Kamu tau Mas , ternyata aku bukan anak kandung Papa Haris dan Mama Elma , entah aku anak siapa ".
" Kamu tau dari mana Fi?". Abizar gak terlalu kaget dengan ucapan Fia, mungkin karena melihat perlakuan Papa Haris dan Mama Elma sebelumnya pada Fia sangatlah berbeda dengan Shofea , yang terlihat begitu mereka sayangi.
Dan sepertinya feeling nya dulu benar , Fia memang bukan anak kandung mertuanya itu.
" Dari Kak Fea , tapi aku juga sudah merasa dari dulu, Mas Bizar lihat kan , aku dan Kak Fea gak ada mirip - miripnya , ditambah perlakuan Papa dan Mama padaku waktu itu ".
" Lalu apa yang ingin kamu lakukan ?".
Fia melihat raut muka suaminya yang terlihat biasa saja , tak terkejut sedikitpun. " Mas sepertinya gak kaget dengar kabar ini ".
" Aku harus apa sayang..., bagiku sama saja , gak ada bedanya , mau kamu anak Papa Haris dan Mama Elma atau bukan , Cinta Mas tetap buat kamu seorang sayang ".
" Mas malah ngegombal ih , kirain Mas bakalan gak mau lagi sama aku , karena aku bukan anak kandung Mama dan Papa ".
" Dibilang Mas cinta sama kamu kok ,masih gak percaya ".
" Iya , iya ...aku percaya sama Mas ".
" Kamu mau mencari orang tua kandung kamu Fi ?". Abizar menebak apa yang diinginkan istrinya.
" Jangan berprasangka buruk dulu , mau bagaimana pun mereka tetap orang tua kamu sayang , lagi pula kamu gak tau apa yang sebernarnya terjadi , hingga kamu sampai di besarkan oleh Papa dan Mama ".
" Kalo aku bertanya pada Papa , kira - kira mereka akan marah engga ya Mas ?".
" Dicoba aja dulu , Mas akan selalu bantu kamu ".
" Terima kasih Mas ".
" Sama - sama sayang , tapi bisakah ucapan terima kasih kamu diganti dengan yang lain..".
" Dia bangun lagi sayang....". bisik Abizar, menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua , memperlihatkan pada Fia, sesuatu yang sudah berdiri tegak menantang .
" Lagi ..Mas ??.
" Mau ya ..please.....". pintar sekali Abizar memanfaatkan suasana...menang banyak pokoknya....
*
*
__ADS_1
Nicholas kini bersimpuh di kaki Papa Haris, dan terus mengucapkan kata maaf.
" Sungguh Om , saya tidak tau kalo Fea tengah mengandung , seandainya saya tau, saya pasti bertanggung jawab Om , karena saya mencintai Shofea ".
" Kamu bilang cinta sama putriku ,tapi kamu malah merusaknya, jika kamu mau bertanggung jawab, seharusnya sejak kamu menodai anak saya kamu langsung menikahinya !".
" Maafkan saya , saya memang bodoh , seharusnya saya lakukan itu meski Fea menolaknya....".
" Fea menolak karena tau kamu lelaki macam apa ....memaksakan kehendak dengan cara paksa..".
" Saya memang lelaki brengsek, saya khilaf , karena Fea selalu menolak saya , makanya saya kalap dan hilang akal ...Maafkan saya Om Tante !".
Mama Elma masih menangis sesenggukan, dia baru tau ternyata selama ini Shofea menyembunyikan kepedihannya sendirian, tanpa mau berbagi padanya, sebagai seorang ibu , tentu saja Mama Elma merasa sangat kecewa pada Fea dan juga pada dirinya sendiri.
" Om Tante , tolong maafkan teman saya , dia benar - benar sudah menyadari kesalahannya.. selama ini dia juga tersiksa karena rasa bersalahnya pada Shofea ".
" Pa ".Mama Elma mengusap pelan bahu suaminya , agar lebih tenang dalam mengambil keputusan.
" Apa Mama mau memaafkan bajingan ini?".
" Mama rasa Fea menginginkan itu Pa , mungkin dengan kita memaafkan dia , Fea akan lebih tenang di alam sana ".
" Papa menghajar dia sampai matipun tak akan pernah bisa mengembalikan Fea pada kita ".
Papa Haris menghembuskan nafasnya kasar...tangannya terasa sakit karena sudah menghajar Nicko tadi...cukup puas rasanya melihat maha karyanya yang tercetak di wajah tampan Nicko, kini wajah tampan itu sudah tak berbentuk lagi.
" Pergilah, kami sudah memaafkan kamu , dan jangan pernah menampakkan wajah mu di depan ku lagi !". Ucap Papa Haris dengan memalingkan wajahnya ke samping .
Lega hati Nicko saat ini , tapi ia belum puas , ada satu lagi keinginannya , yaitu Mikayla.
" Terima kasih Om ,Tante ,.... eemmm bolehkah saya berkenalan dengan Mikayla ".
Mumpung masih disini , sekalian saja ,pikir Nicko .
" Apa maksud kamu ?"
" Tidak ada Om , sungguh ...saya hanya...hanya inginnn....". Nicko tak berani melanjutkan ucapannya melihat Papa Haris yang kembali memasang muka tak bersahabat.
" Kalian sebaiknya pulang dulu !". Mama Elma yang tau situasinya makin panas , menyuruh Nicko den Fandi untuk pulang.
" Nanti akanTante bantu , tapi Tante tak berjanji akan berhasil ya...berdoa saja , karena luka yang sudah kamu torehkan ke kami sangat lah dalam ".
Nicko pun akhirnya pulang dengan langkah berat, ia tau ia banyak menorehkan luka pada Fea dan juga kedua orang tuanya.
Makasih bagi yang sudah mampir.....
__ADS_1
Baca juga karya othor yang lain....ditunggu.......