
"May,"
Aku menengok ke arah Mas Rafi, suamiku yang berdiri di samping tempat aku duduk.
"Dalem, kenapa?"
"Kamu nggak masak May? Mas laper." Jawab Mas Rafi mengeluh.
"Loh, emangnya Mas butuh makanan," Tanyaku berlagak polos.
"Ya butuh, emangnya aku setan apa," ketus Mas Rafi.
"Oh ya sudah, aku bikinin telur ceplok saja ya. Aku nggak belanja soalnya." ujar ku menatap Mas Rafi.
"Telor ceplok?"
"Iya, mau nggak, kalau nggak mau ya sudah aku masakin mie instan gimana,"
"Kedua-duanya saja,"
"Kalau aku masak kedua-duanya, nanti kalau Thea minta makan pakai lauk apa, aku kan nggak belanja hari ini,"
"Ya udah deh, telor ceplok saja," jawab Mas Rafi pasrah dan mengalah.
Aku berjalan menuju dapur tempatku bergulat dengan sayuran. Sambil menyiapkan telurnya sesekali aku melirik ke ruang tamu, terlihat Mas Rafi sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Jangan lupa kopinya," teriak Mas Rafi dari tempat nya.
"Iya," jawab ku tak kalah teriak.
Aku heran, aku pikir Mas Rafi tak butuh makan. Tapi ia kan baru saja pulang dari rumah selingkuhannya. Memangnya tidak di beri makan di sana? Oh, no. Kasihan sekali kamu Mas, mencari selingkuhan yang tidak becus seperti itu. Gumam ku dalam hati sambil terus mengaduk kopi pesanannya.
Jangan kaget, aku memang tahu suamiku selingkuh di belakangku. Namun dia tidak tahu kalau aku tau, karna diam-diam aku selalu mengecek posel nya. Bodohnya, ia tidak perna mengunci ponselnya. Serta nama silingkuhanya pun tidak pakai nama ini sial segala, langsung seperti saja namanya.
Namanya adalah Raina selingkuhanya
sekaligus tetangga baru ku atau dalam kata lain tetangga sekaligus sainganku. Baru dua bulan janda muda itu pindah sudah membuat Mas Rafi jatuh ke pelukanya, apa lagi beberapa tahun mungkin kini ia sudah memiliki anak dengannya. Aku tak herah sihh, memang Raina memiliki wajah cantik dan porsi tubuh ideal yang membuat para laki-laki akan melolot melihatnya.
Apa kalian bertanya aku marah??.
Tentu, aku sangat marah! Apa lagi aku sudah berumah tangga hampir enam taun dengan Mas Rafi.
__ADS_1
Kami menikah memulai semua dari nol hingga kini menjadi besar. Dulu aku menikah dengan Mas Rafi harus rela setiap hari jualan cilok dan bakso keliling, sekarang aku tinggal duduk saja di rumah sambil minum teh hangat karena usahaku dan Mas Rafi sudah berkembang pesat.
Aku mempunyai 30 restoran bakso yang tersebar di seluruh kota. Usaha tak menghianati hasil. Awalnya hanya tukang cilok bakso keliling sekarang menjadi pengusaha restoran cilok bakso. Bukankah hidupku beruntung?
Namun yang namanya buaya ya tetep buaya,
melihat usaha sudah maju dan kami berubah menjadi orang yang serba kecukupan, Mas Rafi serakah akan perempuan.
It's oke, kamu boleh selingkuh Mas. Tapi ingat, aku tidak bodoh! Aku akan memberimu hukuman dengan permainan cantikku. Bahkan kamu sendiri tidak akan perna menyangka jika istri yang tak kalah cantik dengan selingkuhan mu itu yang melakukannya.
Maka jangan salahkan aku kalau aku sudah bertindak. Ini semua bermula dari mu Mas. Perang akan dimulai.
Ck ck, sebenarnya wanita itu tidak bodoh hanya saja mereka selalu mengunakan perasaan dibanding pikirannya sedangkan aku, aku mengunakan pikiran untuk memberinya pelajaran ke mereka berdua. Mereka belum tahu saja siapa Maysa sebenarnya. Aku akan terus berpura-pura tidak tau sampai mereka sendiri yang kelelahan. Mas Rafi, dasar suami bodoh! Kamu menikahi ku tapi tak ingat siapa si pintar Maysa.
Untuk Raina, aku akan membalasnya dengan sangat-sangat cantik. Hingga mereka berdua tak mengenali siapa yang telah berbuat dan siapa yang akan disalahkan.
Dasar ulat bulu, baru dua bulan saja sudah nyantol ke suami orang. Belum merasakan bagaimana rasanya dipanggang mungkin dianya ya.
"May, mana kopinya!"teriak Mas Rafi.
"Bentar, Mas!"
Ingin rasa aku memberi sianida di dalam kopinya tapi sayang. Aku masih takut menjadi janda. Lagi pula anakku masih kecil, dia masih butuh ayahnya. Aku juga ingin melihat bagaimana tersiksanya mereka akibat perbuatan mereka sendiri.
Andai aku masih belum punya anak sudah ku bunuh dia sekarang juga. Aku nggak perduli apa kata orang nantinya. Yang terpenting diriku terbebas darinya.
Sayangku Thea maafkan Mamamu ini ya jika suatu saat nanti Mamamu ini kelepasan. Guman ku dalam hati sambil berjalan ke arah Suamiku.
"Ini Mas kopi sama telor ceplok nya," aku memberikan kopi dan satu piring nasi dengan lauk telur ceplok yang tadi aku buat.
"Makasih," ucap Mas Rafi masih sibuk dengan ponselnya. Tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.
Tak perlu di ragukan lagi. Paling dia whassappan sama si janda gatal itu,
"Mas!" Aku merebut ponselnya. Terlihat reaksi Mas Rafi gelagepan.
"May siniin hp Mas!"
"Makanya kalau mau makan simpen dulu!" Ujar ku menyerahkan kembali ponselnya sengaja aku tidak memeriksanya lagian juga aku pun sudah atau siapa yang mengechatnya.
Dianya aja yang bodoh di kira aku diam tidak bisa bertindak gitu. Jangan harap kau akan lepas dari hukuman ku.
__ADS_1
"Mas," panggilku duduk di sebelahnya. Ia menengok sambil menguyah makanannya.
"Apa,"
"Mas, tadi ada berita di TV,"
"Berita apaan?"
"Berita ada laki-laki yang nyelingkuhin istrinya mati gara-gara sianida."
Mas Rafi langsung berbatuk-batuk, menatapku.
Sindiran ku tenyata bereaksi rupanya. Aku mengunakan istilah tv karna memang Mas Rafi nggak perna lihat TV. Perna sihh, tapi bisa di hitung pakek jari.
"Mas, kenapa?" Tanganku sambil menepuk-nepuk bahunya.
"Enggak, cuma keselek aja," Jawab Mas Rafi gugup.
Kau kira aku tidak tau apa, sudahlah kita lihat saja bagaimana alur ceritanya nanti, guman ku dalam hati.
"Oh dikira kenapa," ucapku berlaga sok tidak tau.
"May, ini nggak ada sianida nya kan?" Tanya Mas Rafi menunjuk piring berisi makanan sisanya sambil menatapku.
"Lah? Kok Mas jadi kayak ketakutan gitu? Emangnya Mas selingkuh?" Aku mencoba memancing nya. Jika ia mengaku maka hukumannya akan aku ringankan.
"E-enggak kali aja kamu mau tiru berita di TV,"
"Ya enggak lah, tapi...."
"Tapi apa?"
"Tapi kalo Mas selingkuh kenapa enggak?"
Bushh
Wajah Mas Rafi berubah menjadi merah padam aku ingin ketawa sebenarnya namun aku hanya bisa menahannya.
"Coba de Mas pikir, kalau memang aku ngasih tuh makan sianida mungkin kini Mas tinggal nama saja, tapi nyatanya nggak-kan?
"Udah ah May, Mas mau mandi dulu," Mas Rafi bergegas meninggalkanku, dengan raut wajah cemas tak bisa ia sembunyikan dariku.
__ADS_1
Hadeuh, Mas Rafi oh Mas Rafi. Tampan tapi bodoh! Dia pikir aku akan diam saja jika mengetahui ia selingkuh, oh tidak! Aku akan membalasnya sayang.