Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 13


__ADS_3

Lagi-lagi si sundel itu bikin darah tinggi ku naik saja. Dasar wanita nggak tau malu. Masak mulai tadi aku sindir nggak tersinggung juga. Kalau begini caranya bisa-bisa kesabaran aku habis. Aku manusia yang mempunyai batas kesabaran. Bukan seperti Raina berwujud wanita namun hati dan pikirannya berupa hewan. Terbukti dia tidak mempunyai rasa kasihan terhadap sesama wanita.


Suami orang di ambil.


Aku teringat dengan sundel tadi siang, kenapa itu manusia satu tidak merasa tersindir bahkan tersinggung? Lebih parahnya dia berani menghina pelakor lain tanpa introspeksi.


Kadang tanganku gatal ingin menampar dan menjambak dirinya tapi....


Masa iya orang percaya kali wanita secantik dan seimut sejagat raya ini melakukan hal seperti itu.


Lagi pula aku tidak ingin menyentuh diri nya dengan tanganku.


I am sorry!


Tidak sudi bersentuhan dengan yang rela menghancurkan keluarga orang lain demi kepentingan nya sendiri.


Belajarlah untuk mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu sadar untuk kekurangan diri sendiri. Karena untuk mengkoreksi kesalahan orang lain kita tidak perlu belajar sama sekali.


Raina, nama yang terlalu cantik untuk wanita sundel bolong seperti dia sepantasnya namanya itu Painem. Namannya saja bangus tapi sifatnya bikin geleng-geleng.


"Mama,"


Hadauh, apa lagi ini?


"Iya sayang, kenapa?"


"Thea pengen ice cream," pinta Thea.


"Ambil di kulkas sana," Thea menggeleng.

__ADS_1


"Enggak mau Ma, yang di kulkas sudah habis sama Thea."


Aku memutar bola mata malas. Terkadang aku malas menyimpan ice cream di kulkas yang karena ini, tuyul ku yang menghabiskannya.


Bukannya aku ini tak sayang atau pun malas untuk membelinya. Namun aku kasihan ke Putri tercintaku kalau kebanyakan ice cream nggak bagus untuk kesehatannya. Lagi pula siapa lagi yang akan menghabiskan ice cream kalau bukan tuyul ku itu. Masak iya aku yang akan habiskan. Kan nggak mungkin juga.


"Hmm, yaudah." Kataku menyetujui permintaan putri kecilku yang meminta ice cream.


Sore ini, jalanan komplek terlihat ramai apa lagi di lapangan badminton ibu-ibu ada dimana-mana.


Aku mencium bau sesuatu.


Bau-bau ghibah!


Emak-emak kalau sudah tidak ada kerjaan lain pasti menghibahkan tetangga, tidak heran aku dengan model emak-emak seperti itu.


"Tuh ada kakak Thea," Mbak Muna berjalan menghampiri ku bersama anak perempuannya yang baru berusia dua taun.


"Thea, sapa dulu itu dedek Kianya," kataku pada Thea.


"Dedek Kia," sapa Thea mematuhi perintahku.


"Hai kakak Thea," balas Mbak Muna bernada suara anak kecil sambil melampaikan tangan mungil anaknya.


"Lagi mau kemana, Mbak?" Tanyanya penasaran.


"Habis dari minimarket ini, beli susu buat Kia," ucap Mbak Muna menunjukan belanjaannya.


"Di minimarket rame nggak Mbak?"

__ADS_1


"Enggak kok, Mbak May. Coba aja ke sana," jawab Mbak Muna.


"Yauda saya ke sana dulu ya, dadah dedek Kia," kataku sambil mencium pipi Kia sebentar.


"Da...dah... juga Tante," balas Mbak Muna bernada anak kecil sambil melambai-lambaikan tangan Kia yang kecil.


"Ayo, Thea. Takut rame di sana," ucapku menarik tangan Thea.


"Ayo Mbak, saya duluan," pamit ku pada Mbak Muna.


"Iya Mbak, silahkan."


Aku menggandeng tangan Thea ketika melewati ibu-ibu komplek yang sedang berkumpul. Sejujurnya aku sangat risih jika harus melewati ibu-ibu yang sedang membicarakan ibu-ibu yang lain. Apa mungkin karena aku bukan tipe orang yang suka berkumpul, ya? Karena menurutku lebih baik menonton tv di rumah sambil menjaga anak dari pada duduk tak ada urusan yang jelas nanti.


Jatuhnya malah menjurus ke ghibah.


"Permisi, bu," ucapku sopan ketika melewati mereka.


"Iya mau mampir dulu, mbak?"tanya salah satu dari mereka yang lain.


Waduh, amsyong!


Ogah!


Aku tersenyum," Terimakasih, Bu. Lain kali saja, soalnya mau ke minimarket,"


"Lh gitu ya, Mbak. Hati-hati kalau begitu,"


Aku mengangguk tersenyum lalu melanjutkan langkahku kembali.

__ADS_1


__ADS_2