Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 6


__ADS_3

"Dengar ini Thea, jika suatu saat nanti kalau kamu terjadi apa-apa jangan mudah nangis ya, Mama nggak suka! Kamu harus bisa berdiri sendiri dan jangan cengeng. Oke," ucapku pada Thea sambil mengelus rambutnya.


"Iya, ma."


Anak yang pintar, kamu harus pintar seperti Mamamu ini, Nak. Jangan mau ditindas oleh siapa pun terlebih jika kamu tidak bersalah sedikit pun.


Kita memang perlu mengajarkan kerasnya hidup pada anak-anak kita agar dia tidak manja.


"Thea kenapa lari-lari?" Tanyaku kembali.


"Thea mau susu, Ma,"


Haduh!


"Yaudah Mama buatin dulu yuk," ajak ku menuntun tangannya mengikuti ku.


"Yuk,"


Walau belum cuci muka wajahku tetap cantik ya, kan, kata Mamaku tapi! Jangan protes, iyakan aja oke.


"Thea lihat Papa nggak" tanyaku pada putri cantikku sembari membuatkan nya susu untuknya.


Thea menggeleng," Thea nggak tau Ma, tapi tadi pagi Thea dengar suara orang jalan, nggak tau siapa,''


Pasti itu Mas Rafi, siapa lagi kalah bukan dia! Kemana dia paling-lah?


Sudah ngga usah di ragukan lagi paling ke sana Ke sundel kegatelan itu.


Sebel?


Banget.


Mana ada sihh, seorang wanita yang kuat di perilakukan seperti itu. Apa lagi aku yang menemaninya setiap suka dan duka nya hingga akhirnya bisa membuat kejayaan seperti sekarang ini.


"Oh, ini susunya," kataku sambil memberikan segelas susu hangat pada Thea.


"Makasih, Ma. Thea ke kamar dulu ya, mau bersiap berangkat ke sekolah


"Iya sayang,"


Thea berjalan hati-hati membawa susunya, melihat Thea sudah tidak ada di pandanganku segera aku berlari ke kamar mandi untuk Mandi.


***


Segarnya, mandi sudah, cantik sudah, seksi sudah, makan aja yang belum. Berarti aku harus masak sekarang sebelum perutku keroncongan minta di isi.


Sebelum masak aku kembali ke kamar mengambil ponselku yang ada di meja samping tempat tidurku.


Kenapa ada ponsel Mas Rafi disini? Apa dia pergi tanpa bawa ponselnya? Hmmm, entah.


Aku menbekukkan badan lalu melangkah keluar baru saja sampai pintu kamar, aku menepuk dahi ku.


"Kenapa enggak aku cek aja?"gumanku sambil kembali berjalan mengambil ponsel Mas Rafi.


Tanpa menungguh lama aku langsung membuka aplikasi chatting dan dugaan ku benar, chat dari sundel bolong itu paling atas. Dari mana aku tahu itu chat dari sundel bolong? Ya dari foto profilnya!

__ADS_1


Aku emosi, tidak hanya itu yang membuatku


emosi, nama yang di pakai di kontaknya itu.


'Syantik kuh' disertai emoticon love


Sedangkan namaku di hpnya dikasih nama 'Emaknya Thea'


Memang minta di hajar tuh orang, sudah punya istri masih aja ke cantol sama janda bolong itu.


Baiklah, semakin kalian dekat semakin senang pula aku memberi hukuman.


Aku membuka chat dari sundel bolong itu, chat mereka sangat-sangat lah mesra membuatku muak.


Punya suami bodoh! Masa ponselnya tidak di kunci membuatku lebih leluasa melakukan semua semauku. Kayak nggak tau apa sifat istrinya ini.


Ku baca terus pesannya. Hingga tibalah di pesan terakhir.


'Mas, sini! Di kamarku banyak sekali tikus, aku takut Mas'


Antara marah dan ingin tertawa, semuanya campur aduk. Aku ingin marah karna tuh suami oon ku pergi ke rumah sundel itu. Kedua aku ingin tertawa karena rencana keduaku berhasil.


Rasa in, emang enak. Rasain ini semua berawal dari kamu dan akan berakhir dari kamu juga.


*****


"Mas, kamu dari mana aja?" Tanyaku menyambut Mas Rafi yang baru masuk ke dalam rumah.


"A-anu dari sana"jawab Mas Rafi ambigu.


"Dari sana, sana mana?" Pancingku.


"Oh rumah tetangga. Apa nggak malu dengan wajah bantal seperti ini, lama juga hmm"


''Apa jangan-jangan kamu selingkuh ya, awas loh kalau sampai aku tau kamu selingkuh, ku beri kamu sianida sekarang juga. Biar tau rasa.''


"Ehh i-itu..."


"Sudahlah jangan diteruskan aku mau keluar jaga Thea, jangan keluar rumah sebelum aku sampai."


"Siap ratuku" patuhnya.


Biarkan saja dia senang-senang dengan sundel bolong itu, aku ingin tahu seberapa kuat ia akan bertahan dengannya.


*****


Kini aku sudah berada di restoran ku. Restoran ini sangat di gemari semua kalangan mulai anak kecil hingga orang dewasa. Terbukti ketika aku datang semua tempat duduk penuh.


"Santi, saya mau cek hasil pendapatan bulan lalu," Tanyaku pada santi manajer keuangan.


"Iya bu, tunggu sebentar," ujar Santi mengambil sebuah map di atas meja tempatnya duduknya.


"Ini, Bu. Ini semua hasil penjualan bulan lalu,"Santi memberikan map hijau itu kepadaku.


"Terima kasih," ucapku berjalan ke ruangan ku

__ADS_1


sambil bersantai ku baca hasil penjualnya dan seketika mataku melotot.


"Apa?" Kenapa hasilnya segini?" Geram ku


melihat angka yang tercetak jelas di map tersebut.


"Santiiiiiii!"teriakku memanggil Santi.


Santi datang dengan tergesa-gesa,


"Ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya Santi.


"Ini apa? Kenapa pendapatan bulan lalu kurang dua puluh persen dari pendapatan sebelumnya? Tanyaku emosi sambil menunjuk map hasil pendapatan.


Santi menunduk takut terlihat dari wajahnya.


"Pendapatan bulan lalu sepuluh persen dari sebelumnya, Bu," jawab Santi.


"Apa kamu bilang? Kenapa dapatnya segini?" Aku menunjuk angka penghasilan.


"Se- sebenarnya Pak Rafi beberapa hari yang lalu kesini dan mengambil dua puluh persen hasil pendapatannya, Bu. Maaf saya tidak bisa menolak,"


Untuk apa Mas Rafi mengambil uang sebanyak itu hasil penjualan, jika di total kan yang diambil Mas Rafi sekitar dua ratus jutaan. Tidak biasanya Mas Rafi mengambil uang sebanyak itu, ada apa ini? Jangan-jangan.....?


Kurang ajar ! Pasti uang itu untuk pelakor ngga tau diri itu.


Memang benar-benar menguras emosiku mereka, lihat saja. Aku ingin uangku kembali.


"Baik terima kasih. Kamu boleh lanjut bekerja,"


"Terima kasih, Bu," ucap santi yang langsung bergegas meninggalkanku.


Brakkk


Aku menggebrak meja, bisa-bisanya Mas Rafi mengambil uang sebanyak itu tanpa sepengetahuanku!


Keterlaluan!


Aku sangat yakin jika uang itu untuk sundel bolong itu, pantas saja beberapa hari yang lalu aku nampak ia pulang daru mall dengan belanjaan yang sangat banyak.


Awas saja!


Akan aku balas mereka berdua, tapi untuk sekarang aku akan main-main dulu, sampai mereka merasa jengah.


Kita lihat seberapa bertahannya kalian dengan kejahilanku.


Dasar sundel bolong sok kecantikan!


Lihat saja, aku akan balas semuanya lebih kejam dari ini.


Aku akan terus diam, sampai akhirnya mereka tersiksa sendiri toh, aku sudah tidak terlalu mencintai Mas Rafi karena cintanya sudah hilang bersama penghianatan nya. Untuk ke depannya aku tidak tahu akan terus bertahan dengan Mas Rafi atau tidak, untuk sekarang aku akan terus menghukum mereka dulu sampai puas.


****


"Kamu mengertikan tugasmu apa?"tanyaku pada Jarwo si stalker bayaran.

__ADS_1


"Mengerti, nyonya. Saya akan cari tahu dan cari bukti," jawab Jarwo membuat hatiku gembira.


"Bagus, pergilah!"


__ADS_2