
Aku berjalan ke kamar Thea untuk mengecek putri ku apa ia sudah tidur atau belum. Aku membuka pintunya pelan-pelan dan ternyata Thea belum tidur. Dia masib duduk diujung kasurnya lalu melirikku sambil tersenyum.
"Mama mau temenin Thea tidur?"tanya Thea begitu senang.
Aku mengangguk. "Iya sayang,"
"Yey," Thea antusias.
"Tapi Thea harus janji, Thea harua langsung tidur, oke?" Kataku sambil bergegas menidurkan Thea.
"Iya Mama,"
Aku langsung duduk memposisikan diri disisi kasur sebelah Thea.
Thea bobo...
Oh Thea bobo...
Kalau tidak Bobo digigit kebo...
__ADS_1
Aku menyandung lagu nina bobo yang di ganti menjadi Thea bobo, karena takut si Nina bobo itu datang eh bukan-bukan.
Sambil terus bernyanyi aku aku mengelus-elus kening Thea agar ia cepat masuk ke dalam alam mimpinya.
Beberapa menit berlalu...
Thea sudah tertidur, aku tersenyum memandang wajah imut yang natural. Aku sangat bangga memiliki anak sekuat dan secantik Thea, semoga saja di saat dia sudah besar akan menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.
"Sebentar lagi kamu harus sial kehilangan papa kamu Nak," ucapku sambil mencium pipi gembul Thea.
"Maafkan Mama, memisahkan mu dengan papamu. Suatu saat, saat kau sudah besar kau pasti tau apa Mama maksud,"
ku bergegas tiduran di sebelah Thea, baru saja mataku terpejam tetapi aku teringat sesuatu.
Hampir saja aku lupa!
Senyuman menyeringai tiba-tiba terbit di sudut bibirku, aku bangun kembali lalu duduk menyenderkan di ujung kasur. Segera aku mengambil ponsel yang tadi sengaja aku letakan di meja sebelum menidurkan Thea
Aku mengetik sesuatu si sana sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
****
Author Pov.
Sementara disisi lain Raina yang sibuk dengan Skincare terganggu dengan suara dentingan pesan berasal dari ponselnya, awalnya ia cuek karena masih sibuk dengan rutinitas malamnya mempercantik diri tetapi setelah sekian lama ponselnya terus berbunyi yang mau tah mau Raina harus melihatnya.
"Saya tahu perselingkuhan kamu dengan Pak Rafi.
"Saya juga punya banyak bukti"
Raina terkejut membaca pesan dari orang tak dikenalnya. Ia membalas sesegera mungkin kalau dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Rafi. Ponsel berdenting kembali pertanda pesannya sudah di balas, orang itu mengirimkan sebuah foto ia dan Rafi waktu di sebuah taman dekat kafe. Raina langsung panik seperti kebakaran jenggot.
"Apa mau mu?" Balas Raina panik.
Ting.
Tak menungguh waktu lama pesan dibalas.
"Tak perlu repot-repot saya akan adukan semua ini kepada istri Pak Rafi,"
__ADS_1