Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 10


__ADS_3

Baiklah Raina, ini baru tingkatan yang ketiga, aku ada tingkatkan lagi yang akan membuatmu semakin ketakutan. Aku senang melihat kamu ketakutan layaknya sedang melihat seorang anak kecil yang melihat badut ancol yang sedang stand up komedi.


*********


Pagi hari aku berada di dapur sedang mengotak ngatik bubuk masakan buat sarapan pagi. Seusai masak dan mencuci bekas-bekas alat tempur. Aku berjalan ke ruang tamu. Belum sampai ruang tamu aku melihat Mas Rafi jalan tergesa-gesa menuju pintu depan.


"Loh Mas mau kemana?"tanyaku sedikit berlari menghampiri suamiku yang baru saja hendak keluar rumah.


Mas Rafi menoleh," Ada urusan May,"


Aku berdesih tidak percaya, pasti Mas Rafi ingin pergi ke tempat si sundel bolong itu.


Tidak!


Aku tidak akan membiarkannya!


Sebisa mungkin aku harus menghalangi Mas Rafi pergi, agar sundel bolong itu tahu rasanya tidak di respon.


"Mas," panggilku dengan wajah memelas.


"Iya, kenapa?"


"Aduh... kepala ku pusing banget, kamu jangan pergi ya, kepala aku sakit," jawabku sambil memegang kepala dan pura-pura ingin jatuh ya spontan langsung ditopang oleh Mas Rafi.


"Hadu May, kamu kenapa? Kamu sakit?


Heh Bambang permono! Tadi aku bilang apa? Sakit kepala! Masih aja di tanya kamu sakit? Haduhhh punya suami kok rada gimana gitu, ya.


"Iya, Mas. Kamu jangan pergi dulu ya, jagain aku please," ucapku memohon padanya.


Tampak Mas Rafi berfikir sebentar.


"Yaudah iya, sekarang kita ke kamar dulu ya," ajak Mas Rafi sambil merangkul bahuku menatahku masuk ke dalam kamar.


Berhasil!


Raina, akan aku rebut suamiku kembali dan akan aku jauhnya suamimu ku dari bencana yang kau ciptakan, sebagaimana ia merasakan sakitnya penghianatan.


Hisss,


Kau ini May ngga mungkin lah nenek gayung itu akan tersakiti hatinya yang dia inginkan hanyalah harta suamimu saja.


Namun sayang sungguh sayang kau wanita bodoh. Ngga tau siapa aslinya istrinya Rafi ini. Wanita super cerdik dan super jail tiada tanding. Kau akan bertekuk lutut di hadapanku Raina.


Tidak lama lagi kau akan menyesal telah bermain-main dengan ku. Kita lihat saja seberapa kuat dan bertahannya kau dengan hubungan ini.


Untuk saat ini aku akan mencegah suamiku ke rumah si sundel itu. Biarkan si sundel itu menunggu suamiku, aku akan terus mencegah suamiku untuk pergi ke rumahnya, enak saja dia selalu bersama suamiku, anakku juga butuh ayahnya! Kalau aku sihh sama sekalih nggak butuh, andai saja aku tidak memiliki anak dengannya. Sudah ku tinggalkan dia dengan membawa semua harta kita biar dia memulai kembali dengan si sundel itu.

__ADS_1


Jarwo mengirim foto? Foto apa?


Aku segera membuka chat dari stalker bayaran ku.


Waht!


Omg!


Apa-apaan ini!


Jarwo mengirim foto Raina dan suamiku duduk di sebuah taman berduaan dengan mesra, bagaimana tidak mesra? Kepala Raina menyender pada bahu suamiku.


Omaygat!


Kalo begini aku lama-lama bukannya main cantik tapi malah main kejam dan sadis.


"Baiklah Jarwo, terima kasih. Terus cari bukti, uang akan menyusul," kirim ku pada Jarwo


"Dugaan ku tak perna salah, sekali kamu masuk ke dalam jangan harap kamu bisa keluar dan jangan malah membuat lubang yang lain, Mas,


Kebusukan demi kebusukan akan terbongkar, baiklah aku sudah pikirkan baik-baik jika aku benar-benar ingin pisah dengan ayah dari anakku ini.''


Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandainya kamu menutupi kebohongan mu akhirnya ketahuan juga.


"Mama," Thea memanggilku sembari membawa sebuah buku gambar.


Sama sepertiku yang memiliki kecantikan tiada tanding di dunia ini.


Preeetttt,


Terlalu tinggi mengkhayal entar jatuh tersungkur ke tanah baru tau rasa, kau May. Hahaha....


Baik Raina atau siapa pun tidak ada yang bisa ngalahin ke cantikan ku. Namun sayang Mas Rafi tak bisa melihat itu semua ia lebih memilih Raina yang bisanya hanya meminta uang tanpa mau usaha.


"Tadi Thea gambar Mama sama papa sama Thea juga,"Thea menunjukan buku gambar yang memperlihatkan sebuah corat-coret tidak jelas kepadaku.


"Mama yang mana?"tanyaku bingung, karna bingung dengan corat-coret yang membuat kepala ku pusing.


"Ini Mama, ini Papa terus ini Thea," Thea menunjuk gambar sebelah kiri ketika menyebutku


What?


Di dalam gambar aku hanya sebuah garis vertikal yang di ujungnya di beri alisan pensil seolah- olah seperti rambut.


Haduh anakku yang paling cantik, masa iya Mama mu yang cantik ini gambarnya seperti itu.


"Bagus kan,Ma?"tanya Thea menatapku.

__ADS_1


Aduh, mau bilang bagus takut dosa karena berbohong. Mau bilang jelek ya kasihan anakku.


"Bagus dong sayang, jawabku mengelus rambut Thea, tak apalah aku berbohong yang penting anakku senang.


"Mama bohong,"


Lah?


"Bohong gimana?"tanyaku bingung.


"Gambaran Thea jelekkan?


Kalau dia tahu jelek kenapa masih nanya bagus apa nggak? Eh, namanya juga anak kecil.


"Kok Thea bilang gitu sihh, sayang,"


"Soalnya tadi kata Papa jelek." Jawab Thea dengan raut wajah sedih.


Dasar Rafi Mubarok kurang ajar sekali kau ini! tinggal bilang bilang iya bangus aja, apa susahnya sihh, bikin anaknya sedih. Dasar bapak tidak berperikemanusiaan!


"Udah biarin aja, Papa kamu yang bohong. Bukan Mama," Ucapku menenangkan Thea.


"Mama beneran? Papa yang bohong,"


"Iya sayang,"


"Yey berarti gambaran Thea bagus." Ucap Thea berjingkrak gembira.


"Sini buku gambarnya," pintaku yang langsung Thea berikan.


"Penghapus ambil," perintahku.


Thea tak berkata apapun. Ia langsung berlari ke kamarnya. Gak lama ia kembali membawa sebuah penghapus berukuran kecil.


"Ini Ma," Thea menyerahkan penghapus nya kepadaku.


Segera aku hapus gambar Mas Rafi dari gambaran Thea, lalu menggambarnya kembali di sebelah yang lain berserta Thea tanpa aku.


"Kenapa di hapus, Ma?"tanya Thea.


"Memang harusnya begini, Thea ada disini dan sini." Aku menunjuk gambar Thea di sampingku dan di samping Mas Rafi yang lain.


"Kenapa nggak bertiaga aja,"


Aku mengelus pucuk kepada Thea," Mama yakin, suatu saat nanti kamu akan mengerti."


Thea hanya diam mencerna ucapku walau aku tak yakin dia mengerti, secara usianya baru lima taun

__ADS_1


"Simpan lagi buku gambarnya," perintahku yang langsung di laksanakan oleh Thea.


__ADS_2