
Tak sengaja lima meter dari minimarket aku berpapasan dengan Raina yang membawa kantung plastik besar, aku yakin dia habis belanja.
"Eh, Mbak May," sapa Raina.
Aku terpaksa tersenyum.
"Mau kemana, Mbak?"tanya Raina begitu ramah. Mungkin jika orang yang baru mengenalnya tak menyangka jika dia adalah seorang pelakor berbulu domba.
"Mau ke minimarket Mbak, soalnya Thea minta ice cream." Jawab ku seadanya.
"Loh, emang di rumah nggak ada stok ice cream gitu Mbak? Ya ampun sayang atau kalah begitu, untuk apa punya kulkas kalau nggak digunakan menyimpan stok makanan,"
Yeh buset, itu mulutnya minta disembelih atau gimana si?
Please deh, nggak usah nyinyir!
Kulkas punya saya, yang mau belu ice cream saya, terus ngapain dia yang repot.
Mangkin lama mangkin ngelunjak saja.
Bisa-bisa aku tidak tahan dengan semua ini. Ingin rasanya aku mencakar wajah tuh sundel biar tau rasa. Namun aku mencoba sabar, menahan amarahku. Aku ingin liat sebesar apa nyalinya.
__ADS_1
Ya walaupun nanti aku sendiri yang sakit. Namun tak masalah. Rasa sakit ini tak sebanding dengan pembalasanku beberapa hari lagi.
Camkan itu Raina. Wanita sundel bolong!
"Iya, Mbak," jawabku mengiyakan saja supaya cepet.
"Jangan lupa beli stok makanan, biar nggak repot-repot ke minimarket, Mbak,"
Aku tersenyum," Terima kasih sudah mengingatkan, Mbak nggak tahu apa-apa tentang keluarga saya beserta isi di dalam rumah saya. Alangkah lebih baiknya Mbak diam dari pada mempermalukan diri sendiri," ujarku sudah dilanda emosi tingkat akut.
"Eh maaf Mbak, kok jadii panas gini ya," ucap Raina dengan wajah tak bisa diartikan.
"Mbak, maaf ya. Tadi saya nggak bermaksud apa-apa,"kata Raina masih terdengar di telingaku.
Aku tak menggubris nya, toh untuk apa?
Memang benar ya, manusia lebih suka mengomentari kehidupan orang lain tanpa introspeksi diri dengan kehidupan apa sudah sempurna atau belum. Mereka sibuk mencari sesuatu yang lain, padahal kesalahan sendiri ada di peluk mata.
Apalagi manusia seperti Raina, dia salah pun tak merasa salah. Entah apa yang ada di otaknya! Aku sering berfikir sebenarnya Raina itu benar manusia atau sundel bolong jadi-jadian? Atau mungkin wewe gombel?
Huh, entahlah apapun dia yang penting manusia seperti Raina harus di musnahkan! Bukan tubuhnya namun sifatnya.
__ADS_1
Aku dan Thea bergegas masuk ke dalam minimarket, tak lama setelah membeli ice cream dan beberapa bahan panganan aku keluar dari minimarket.
Astaga!
Sundel bolong itu masih ada di tempatnya, sepertinya ia masib menungguku. Kalau ada jalan lain mungkin aku akan pilih jalan itu daripada melewati dirinya. Sungguh menyebalkan nasibku hari ini.
"Eh Mbak May," sapa Raina kepadaku.
"Bareng yu Mbak," ajaknya aku menoleh dengan tatapan tajam.
"Dari tadi Mbak masib disini cuma untuk menunggu saya?" Tanyaku.
"Iya Mbak, biar sekalian bareng," jawabnya.
Aku mendengus sambil berguman," cih, pura-pura baik!"
"Yuk Mbak," ajaknya sambil mengandeng tangan Thea sebelah kiri.
Aduh anakku, jangan sampau kamu terpengaruh dengan virus pelakor yang di tebarkan olehnya ya sayang, kamu kuat!
"Ya," jawabku simpel, padat dan jelas.
__ADS_1