
Pertahankan suami yang selingkuh lalu merebut kembali dia dari pacarnya itu bisa, namun aku tak sekuat dan semampu itu. Aku tidak mau mempertahankan suami yang sudah mengkhianati iu, aku takut akan terulang kembali untuk yang kedua kalinya.
Jika takdir berkata lain, aku mungkin akan tetap bersamamu Mas Rafi.
Tapi jika takdir berpihak kepadaku. Aku memilih untuk berpisah, tidak akan mempertahankan rumah tangga yang kehilangan cinta.
Cinta, kasih sayang dan misteri sangat di perlukan dalam sebuah rumah tangga. Cinta itu bagaikan pondasi sebuah rumah, kasih sayang bagaikan semua bahan material walaupun sedikit tapi sangat diperlukan. Jika, tidak ada perabotan rumah akan teras kosong bukan? Begitupun dengan rumah tangga, semuanya memerlukan kesiapan tiga hal itu.
Tapi
Cinta adanya pernikahan tidak akan adanya sebuah rumah tangga.
Teringat masa-masa pernikahanku dengan Mas Rafi, dulu kami adalah teman dekat yang akhirnya menikah. Namun tuhan membalikan hatiku. Setelah pernikahan kami, aku sangat mencintai suamiku, tapi itu sekarang sudah habis terkikis dengan kelakuannya yang menyakitkan hati.
Apalagi kalau bukan.
Selingkuh!
Malam ini aku berharap misi selanjutnya akan berhasil, aku ingin semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Mas Rafi, dia sedang duduk di sampingku sambil membaca koran kemarin, ide busuk ku muncul seketika. Aku tahu suamiku ingin kopi, makan akan aku buatkan dengan senang hati.
Aku beranjak dan duduk namun dengan segera tanganku dipegang oleh Mas Rafi.
"Mau kemana Dek?"
"Mau bikinin kopi buat Mas. Kenapa gitu?" Jawabku sedikit acu. Bukan sedikit acuh ya, memanglah acu, sejak aku mengetahui perselingkuhannya di belakangku.
Entahlah aku bingung, kurang apa sihh aku. Sampai-sampai kepincut sama wanita sundel bolong itu yang bisanya hanya mengabiskan uang ku saja.
Dan juga suamiku memang bodoh banget. Sesuatu hal apa sih yang membuatnya kepincut dengannya. Semuanya sama denganku, punya mata, hidung, telinga, semua nya deh sama, sampai aku ngga bisa sebutkan satu persatu. Satu lagi yang aku tak sukai dengan jalan pikirnya, ngasih uang seenaknya saja ke sundel itu. Emang muda apa cari uang. Mudah mah tinggal metik daun.
Bodohnya itu loh kok dipelihara?
Heran aku?
"Nggak dikasih sianida kan?" Masih ada guratan ketakutan di wajahnya. aku tersenyum sambil menggeleng.
Wahh,
Ternyata dia takut juga dengan ucapku tadi. Mangkanya sadar dong jangan main belakang jadi gini kan. Siapa yang repot kau sendiri. Aku mah tinggal nikmatin aja pemandangannya.
"Ya nggak lah, mana mungkin aku kasih sianida untuk suamiku. Nanti aku jadi janda dong, nanti Thea jadi ana yatim, yah kan," jawabku meyakinkan.
"Kamu nggak bohongkan."
Aku menggeleng,"Nggak"
__ADS_1
"Emang kenapa sihh? apa jangan-jangan kamu selingkuh ya?" pancing ku.
"E-enggak dong May," Jawabnya gugup.
"Terus kenapa kamu ketakutan?'' tanya ku dengan sedikit nada tinggi mencoba menyakinkan bahwasanya aku benar-benar tidak tau dan menebak-nebak saja.
"A- aku, aku cuman takut saja dengan ucapan mu tadi sore aja. Bisa jadikan kamu mencobanya dengan memberikan aku sianida,"Ucapnya mencoba menyakin-nyakinkan. Namun sayangnya aku sudah tau semuanya kali Mas!
"Emang kamu kira aku ini wanita apaan, dengan mencoba segala. Bagaiman kalau nyawa kamu nggak tertolong. Emang ada gantinya. Kamu ngga kasihan apa sama anak kamu, kalau dia yatim?"
Wah,
Ternyata diriku ini bisa kejam juga ya. Maafkan dosa-dosaku Ya Allah telah membentak suamiku. Namun ini bukan semuanya salahku, salahnya juga. Andai dia nggak selingkuh, pasti nggak akan terjadi hal seperti. Maafkan hambamu ini Ya Allah.
"Ya Maaf aku cuman takut saja. Sudah sana katanya mau membuatkan kopi,"
"Ya aku Maafin. Aku juga minta maaf telah membentak mu,"
"Sudahlah jangan kau hiraukan ucapan ku tadi. Aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kau minta Maaf,"
Perrttt,
Sudahlah biarkan saja, yang terpenting dosaku sedikit berkurang ya, kan.
"Ya sudah aku ke belakang dulu, mau buatkan kopi untukmu," ku langkahkan kaki ku menjauh darinya menuju dapur.
"Apa?"
"jangan manis-manis kopinya ya,"
"Lah emang kenapa?"
"Soalnya kamu uda manis,"
Aku memutar bola mata malas gombalan seperti ini sudah tidak mempan untukku kakanda. Itu semua karena penghianatanmu. Sungguh teganya engkau mengkhianatiku dan selingkuh dengan nenek gayung yang menyamar jadi sundel bolong.
"Oke," ucap ku lalu pergi ke dapur.
Mula-mula aku taruh kopinya berserta gulanya, lalu aku tuangkan air panas dari termos kemudian aku aduk hingga merata.
Ada yang kurang!
Aku mengeluarkan sesuatu dari balik kantong bajuku.
Sebuah serbuk yang di kemasin dalam plastik kecil. Aku tuangkan kedalam kopi, mengadukannya sampai rata dan tak terlihat.
Apa itu?
__ADS_1
Obat tidur.
Aku memberikannya dengan dosis lumayan tinggi yang mampu membuat suamiku tidur nyenyak hingga pagi tiba. Aku ingin rencana ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan agar pelakor itu ketakutan, aku juga tidak akan membiarkan suamiku ke sana sampai kita benar-benar pisah.
"Udah siap," Ucapku sambil mengaduk-aduk kopinya.
Setelah semuanya sempurna dan tidak mencurigakan aku kembali ke ruang tamu sembari membawa kopinya dengan senyuman yang terus mengembang di bibirku.
"Ini Mas," ucapku lembut sambil memberikan kopinya.
"Makasih ya May," ucapnya mencium pipiku.
Hadeuh, masih baik seolah tidak terjadi apa-apa, dasar suami ngeselin.
"Minum dong Mas, masak dianggurin. Dengan kasih sayang loh aku buatnya."ucapku sok manis.
Aku sengaja memanis-maniskan agar ia segera tertidur. Agar tidak mengganggu semua rencana ku, terutama rencana ku bisa berjalan dengan lancar.
"Iya sayang," jawab Mas Rafi patuh, ia langsung meminum kopinya. Seketika itu senyuman terbit dari bibirku.
Maafkan aku Mas, tapi ini caranya agar kamu tidak mengganggu ku.
"Enak Mas?"tanyaku tersenyum
"Enak dong,"
Aku melirik ke cangkir kopinya, ternyata tinggal setengah.
Mas Rafi haus atau gimana?
Tak lama Mas Rafi memperlihatkan tingkah aneh dia terus menerus menguap dan seperti orang mengantuk.
Itu tandanya.....
Obat tidurku berhasil!
"Mas kenapa?" Tanyaku pura-pura panik.
"Ngantuk May, Mas tidur duluan, ya," jawab Mas Rafi sambil berdiri lalu berjalan ke kamar meninggalkanku.
Aku ingin tertawa ketika melihat Mas Rafi berkali-kali menabrak dinding. Mungkin itu semua karena ngantuk yang tak tertahankan.
Maafkan diriku kakanda.
"Berhasil," ucapku sambil tersenyum menyeringai.
Saatnya menjalankan rencana ku yang selanjutnya.
__ADS_1