
"Oh, iya-iya Mbak. Semoga saja cepat ada pengganti ya, biar ada yang ngelonin kalau tidur." Ujar ku terkekeh menggodanya.
"Hahaha, iya iya Mbak."
"Oh.. ya Mbak, apa Mbak nggak rindu sama anak Mbak kalau anak Mbak tinggal sama ayahnya."
"Jelas rindu dong Mbak, mana ada sihh seorang ibu nggak rindu sama anaknya,"
"Oh kenapa ngga Mbak ajak kemari saja,"
"Kalau tinggal di mari nggak ada temennya Mbak, kan kasihan kalau sendirian,"
"Kan ada anak saya Mbak, bisa di ajak teman sama anak Mbak. Emang Mbak nggak rindu kalau anak Mbak terus-terus tinggal di sana,"
"Ngga usah dek Mbak. Anak saya lebih suka tinggal di sana. Biasanya kalau dia rindu selalu minta ayahnya vidio call sama saya,"
He... mana mungkin kau rindu dengan anakmu. Kau saja disini lebih ngurusin suami orang dari pada anakmu. Kalau pun anakku main sama anakmu aku akan melarangnya, biarin aja Kau sendiri yang sibuk merawatnya dari pada ngurusin suami orang.
Kalau anakku berteman dengan anakmu yang ada nantinya suamiku lebih mudah dekat denganmu. Dan bisa-bisa anakku nanti melihat kelakuan bejat ayahnya. Nanti ia kenak imbasnya lagi. Mending nggak udah dah, dari pada nantinya anakku yang akan di rugikan. Guman ku dalam hati sambil memandangnya dengan tatapan tak suka. Setelah itu kembali menatapnya seperti biasa saja atau biasa dikatakan menatapnya dengan wajah murah senyum
"Oh gitu ya Mbak,"
"Iya Mbak.."
"Mbak saya pamit pulang dulu ya, sudah sore soalnya, saya takut Mas Rafi, suami saya nyariin." Pamit ku sambil menekankan kalimat terakhirnya.
"Iya Mbak, ini makanannya makasih loh," ucap Raina menunjuk makanan yang tadi aku beri.
"Sama-sama. Yuk Mbak saya pulang duluan. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku tersenyum sambil terus berjalan menjauh dari rumahnya, tapi ketika sudah agak jauh aku kembali sambil mengintip lewat pagar tetangga Raina. Ternyata Raina sudah masuk.
Kesempatan bagus.
Aku kembali berjalan mengendap-endap ke halaman rumahnya, di halaman rumahnya ada pakaiannya yang sedang di jemur. Aku tersenyum menyeringai mendapati beberapa Cd nya yang berwarna coksu dan merah muda bertengger rapi di jemuran.
Oke Raina, ini saatnya kau mendapatkan pelajaran kecil dariku. Semoga senang ya. Hahaha....
Aku mengeluarkan sebuah plastik kecil dari kantung celanaku. Plastik kecil ini berisi serbuk berwarna putih, tak lupa aku juga mengambil sarung tangan. Plastik yang sengaja aku siapkan untuk menjalankan misi ku ini.
Raina, maafkan aku ya. Hahaha....
Sebenarnya aku sangat malas memegang Cd nya tapi mau tak mau aku harus memegangnya agar misi ini berjalan lancar dan mulus tanpa ada hambatan.
Aku taburkan bubuk putih ini pada semua Cd nya dan lebih tepatnya di tengah-tengah sambil tersenyum senang. Setelah aku taburkan merata , aku taruh kembali seperti semula lalu aku berlari meninggalkan tempat itu takut kalau sampai ketahuan.
"Kita lihat apa reaksi mu besok Mbak Sundel," ucapku sambil tersenyum menyeringai menatap rumahnya.
__ADS_1
Kalian pasti penasaran apa yang aku taburkan tadi bukan? Bon cabe? Ya bukanlah, masa iya bon cabe berwarna putih lagian pula aku tak tega jika ia kepedihan diarea intimnya, aku tak sejahat itu.
Lalu apa?
Jawabannya adalah
Jeng...jeng...jeng
Obat gatal!
Biar mampus tuh sundel bolong ganjen. Biar merasakan gatal yang luar biasa di area terlarangnya. Obat ini tidak bahaya, hanya saja akan memberikan efek gatal yang luar biasa pada area intimnya nanti.
Ini belum seberapa Mbak sundel, kita lihat apa yang aku lakukan berikutnya.
Tak sabar rasanya menantikan besok pagi, bagaimana reaksinya ya, kalau dibayangkan, hus sudahlah nggak usah kita pikirkan, lihat aja besok. Semoga saja berhasil.
*******
Malam hari.
"Mas,"
Mas Rafi menoleh sedikit.
"Apa May?"
"Jalan-jalan kemana?"
"Cari jajanan aja, aku pengen ngemil. Boleh ya,"
"Ya sudah Mas ganti baju dulu, kamu tunggu ya." Kata Mas Rafi masuk ke dalam kamar
Ada apa ini? Tumben sekali Mas Rafi mau aku ajak jalan-jalan, biasanya ia selalu menolak dengan seribu alasan. Jangan-jangan ini efek sindiran ku tadi siang, wih mantap. Berarti aku harus terus menyindirnya kalau begitu
"Ayo May," ajak Mas Rafi sudah siap dan keluar dari dalam kamar dengan pakaian gantinya.
"Kemana?" Tanyaku.
"Katanya mau jalan-jalan, ayo''
"Emang tadi aku bilang gitu ya? Kok aku lupa?" Tanyaku sok polos alias pura-pura lupa.
Biarin aja biar dia kapok. Kita lihat aja apa wajahnya kecewa ataukah sebaliknya. Guman ku dalam hati sambil mainkan gawai ku di atas sofa nyaman depan tv.
"Iya May, tadi kan kamu bilang mau jalan-jalan."
"Ah masa sih?"
"Iya."
__ADS_1
"Oh, nggak jadi ah aku mau tidur aja." Ujar ku meninggalkan Mas Rafi dengan wajah bingungnya.
Kasihan sekali dia, sudah berganti pakaian tapi hanya di kerjain saja. Maafkan istri cerdas mu ini ya Mas.
Ah, tak sabar menunggu besok pagi.
*******
"Selamat pagi." Sapa ku pada ibu-ibu komplek yang sedang memilah-milah sayuran segar Mas Juned.
"Pagi, Mbak May." Balas Mbak Muna salah satu tetanggaku.
"Pagi juga Mbak May." Balas ibu-ibu yang lain, aku tersenyum pada mereka.
"Mang, sayur asem ada?" Tanyaku pada Mang Juned.
"Ada Neng, mau beli berapa ikat," ucapan Mang Juned mengeluarkan sayur asem kepadaku.
"Satu aja Mang, gak usah banyak-banyak entar dikira mau syukuran." Jawabku terkekeh kepadanya.
"Ini Neng." Mang Junet memberikan satu ikat sayur asem ke dalam plastik.
"Cie Mbak May suka yang asem-asem nih." Goda Mbak Muna padaku.
"Daripada suka suami orang Bu." Jawabku asal.
"Mbak May bisa aja." Balas Mbak Muna tertawa.
"Pagi ibu-ibu."
Wah, itu suara si sundel bolong. Guman ku dalam hati aku menoleh kebelakang, benar saja itu di berjalan sambil tersenyum pada kami.
Sebentar. Lah? Itu jalannya kenapa kayak rapet gitu? Kadang-kadang menggeliat lagi.
Ups, aku baru ingat. Pasti efek obat gatal itu sudah bereaksi padanya. Pantas saja ia berjalan sangat dan kadang menggeliat. Wishh, ternyata dugaanku benar!
"Lih Mbak Raini kenapa jalannya begitu?" Tanya Mbak Muna membuatku ingin tertawa terpingkal-pingkal.
"Oh ini Mbak, kaki saya lagi sakit,"jawab Raini tersenyum.
Pintar sekali dia berbohong! Kenapa tidak bilang saja sihh, kalau miss terlarang nya kegatelan. Eh, jangan-jangan! Entar mintak di garukin lagi. Guman ku dalam hati bergidik ngerih.
"Cepet sembuh, ya Mbak,"ucapku pura-pura
simpati padanya, padahal bersorak-sorak gembira. Tak bisa ku bayangkan bagaimana gatalnya. Huh, mantap!
"Terima kasih, Mbak May."ucap Raina tersenyum padaku.
"Iya,"
__ADS_1