
"Thea, sekarang kamu tidur ya,"ucapku pada putriku yang sangat cantik ini. Sama sepertiku.
wah... kepedean banget ya kan.
Sudah kita biarin aja. Anggap saja seperti itu.
Pemaksaan!
Ini bukan pemaksaan, melainkan bangga terhadap diri sendiri. Bersyukur apa adanya atas apa yang Allah berikan kepada kita.
"Mama, Papa kenapa?" Tanya Thea melihat ayahnya terus bolak-balik ke kamar mandi.
"Papa mu lagi mules sayang, kamu tidur aja ya,"ucapku sambil mengelus kepalahnya dengan Lembut.
Oh putriku, kalau suatu saat nanti kamu sudah besar dan memiliki suami seperti ayahmu, belajarlah dari Mamamu ini sayang. Hajar mereka sampai habis! Jangan lemah dan cengeng, wanita tak selemah yang mereka pikir. Gunakan otakmu ya, nak. Guman ku dalam hati sambil mengelus kepalanya.
Aku tuntun tubuh anakku masuk menuju kamarnya sendiri.
Setelah memastikan Thea masuk kamar dan Tidur aku bergegas kembali ke kamarku. Terlihat suami tercintaku sedang tidur kelelahan mungkin kerena efek obat pencahar yang aku berikan.
Malangnya nasibmu, Mas.
Aku tidak langsung tidur, melainkan mengambil ponsel untuk mengejek sosial mediaku, apa ada yang berkomentar di status yang aku baut tadi lagi.
Ternyata ada!
Siapa?
Si sundel bolong!
Dia berkomentar di statusku dengan isi komentar seperti ini.
'Mbak May kenapa? Ada masalah ya? Kalau mau cerita silahkan saya siap jadi teman curhat Mbak'
Yeh elah Maimunah! Mana mungkin diriku cerita tentang dirimu ke dirimu sendiri, gila aja!
Aku balas,'Tidak Mbak, saya baru lihat film serial di channel ikan terbang tentang azab pelakor'
Mampus!
Kesel aku, dia masih tidak tersinggung juga, kalau begitu aku punya ide lain. Kejahilan ku tak berhenti disini, aku akan terus menjahili mereka sampai mereka menyerah, Maysa kok dilawan yang ada kalian yang akan menyesal.
Aku menoleh ke Mas Rafi yang tertidur pulas di sampingku.
__ADS_1
Saatnya!
Aku berjalan mengendap-endap keluar kamar setelah sudah di luar kamar aku berlari ke arah gudang tempatku menyimpan barang-barang yang tak terpakai.
Aku masuk sambil menutup hidung berjalan mencari sesuatu yang aku butuhkan.
Nah!
Masih ada!
Sebuah kotak kecil yang memiliki ventilasi udara sedikit sudah aku temukan, dengan cepat aku berlari keluar tak kuat akan bau apek yang menusuk hidung.
Aku tersenyum menyeringai sambil memandangi kotak yang ada di tanganku tak lupa juga aku mengambil sebuah benda perkakas linggis untuk melancarkan aksiku.
Ini baru yang ke dua Raina masih banyak hukuman yang menanti untukmu sundel bolong kegatelan seperti kamu itu.
Aku mengunci kembali gudangnya lalu berjalan keluar dengan mengendap-endap, akan aku berikan hukuman ini untuknya.
Kota ini berisi apa?
Beberapa ekor curut eh tikus atau curut ya? Ah entahlah apa namanya yang penting sangat menjijikkan, aku akan taruh sepuluh curut ini di dalam kamarnya melalui jendelanya nanti.
Kalau bar-bar bisa, kenapa harus cengeng?
Aku berjalan ke luar rumah menuju ke rumah si sundel bolong itu, pelan namun pasti. Setelah sampai di depan rumahnya aku tersenyum lebar pertanda kejahilanku akan berjalan lancar, aku berjalan lagi ke samping rumahnya. Aku tahu kamarnya berada di samping kanan makan dari itu aku berjalan dan berhenti tepat di depan jendela yang aku yakini kamar si sundel itu.
"Lihat aja Raina, kamu pikir aku diam saja. Dasar pelakor!" Guman ku sambil berusaha mencongkel dengan linggis yang aku bawah.
Tekk.
Jendelanya terbuka, seperti dia tidak mengunci jendelanya sehingga dengan muda aku mencongkelnya.
Sebentar!
Dia tidak mengunci jendelanya? Kenapa aku menjadi curiga seperti ini jangan-jangan......
Ah tidak peduli, yang kini di dalam otak ku adalah keberhasilan aksi ini.
Aku membuka jendelanya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara apapun. Jendela sudah terbuka. Aku menyibakkan gordennya dan tampaklah si sundel bolong Tenga tertidur.
Mulutku menganga karena si sundel itu memakai baju yang super transparan, wah mata ku ternodai kalau seperti ini.
Pantas saja suamiku kegatelan ke kamu kalau kamu seperti ini. Diriku saja kalau tidur nggak seperti dirimu. Wanita murahan oh tidak si sundel kegatelan. Sudahlah sama saja baik wanita murahan ataukan si sundel bolong kegatelan.
__ADS_1
Tak menunggu lama aku membuka pintu kecil
yang ada di kotak bawahku, bibirku tersenyum senang melihat para curut itu bergerak ke sana kemari.
"Tenang, kamu akan hidup bebas." Bisik ku pada curut-curut di tersebut
Aku melirik ke kanan dan ke kiri akibat takut ketahuan.
Dan
Yah!
Misi kedua harus berjalan, aku melepas para pasukan curut itu di dalam kamar sundel. Ketika aku lepaskan semua curut itu berlari ke bawa tempat tidur si sundel.
Mantap!
Ini baru yang kedua, belum yang lainnya.
Melihat aksi ini berjalan lancar aku bergegas menutup jendela lalu berlari pulang sambil bernyanyi suka ria ku.
"Masih banyak kejutan lain Raina, ini belum seberapa."guman ku.
******
Pagi-pagi sekalu aku dikejutkan dengan Mas Rafi yang sudah tidak ada di dalam kamar, baru saja mata ini terbuka suamiku sudah tidak ada, kemana dia?
Tiba-tiba putri kecilku, Thea. Berlari ke arahku sehingga tubuh gempal nya itu bergoyang ke sana kemari.
"Thea, hati-hati sayang!"
Brakk.
Telat, Thea sudah terjatuh duluan akibat tersandung ujung karpet bulu yanga ada di lantai kamarku.
"Huwaaaaaa Mama....hiks" Thea menangis kejer namun tak mau bangun dari jatuhnya.
Ini nih ciri-ciri istri yang kan mudah ditindas, kalau sudah jatuh hanya bisa menangis! Oh tidak bisa, anak ku harus pintar. Aku membiarkan dia menangis tanpa ada rasa sedikit pun ingin menolongnya. Mungkin kata orang sana aku di katain kejam, aku tidak kejam hanya saja memberinya pelajaran berharga bila suatu saat nanti dia mendapatkan suami seperti Ayahnya. Ia harus bisa menjaga dirinya sendiri sejak masih dini.
"Jangan nangis doang, berdiri sendiri,"Ucapku sedikit tegas, Thea menangis lalu berusaha untuk berdiri sendiri tanpa bantuanku. Bukan aku tak sayang anak namun itu aku lakukan agar dia tidak mudah menyerah dan bisa melakukan semua halnya sendiri tanpa bergantung dengan orang lain.
"Sini sayangku," panggil ku pada Thea sambil merentangkan tangan. Thea berlari padaku lalu memeluk tubuhku dengan erat. Ku balas pelukannya.
Kasihan sekali putri cantikku. Maafkan Mamamu ini ya putriku. Bukannya Mama ngga sayang kepadamu melainkan memberikan pelajaran berharga kepadamu. Kamu harus menjadi wanita kuat seperti Mamamu ini jangan muda di tindas orang-orang seperti si sundel itu. Kau putriku aku yakin kau akan kuat seperti Mamamu ini, putri cantikku.
__ADS_1