Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 17


__ADS_3

Pagi hari lampu sudah kembali terang benderang, itu semua aku rasakan karena Kilauan lampu yang menyorot masuk ke dalam mataku. Aku melirik jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul enam pagi.


"Huahh," aku menguap sambil menengok ke samping tempat tidurku.


Lah?


Dimana Mas Rafi?


Aku tak mendapati Mas Rafi ada di sampingku, dimana dia?


Tiba-tiba aku teringat bahwa Raina menginap di rumah ini, dengan cepat aku bergegas keluar kamar berlari ke ruang keluarga ku yang di tempati oleh pelakor tidak tahu diri itu.


Saat aku berjalan sampai ruang tamu, terlihatlah Mas Rafi dan Raina berbincang-bincang sesekali mereka tertawa bersama.


Wah, tidak bisa di biarkan ini!


"Mbak May baru bangun?"tanya Raina menyadarkan keberadaan ku.


Ingin aku jewer telinga si sundel ketika ia bertanya, pertanyaan itu seolah mengejekku secara halus.


"Mbak belum pulang," tanyaku lebih menyindir pedas.


"Hussstt, nggak boleh gitu May," kata Mas Rafi , aku mendengus menatapnya kesal.

__ADS_1


"Terus kenapa, inikan sudah pagi lampu sudah nyala, matahari sudah terbit. Apa salahnya ucapan ku,"


"Ya Mbak, sebentar lagi saya pulang,"jawab Raina.


"Bangus kalau kamu tau,"


"Thea mana?" Tanyaku dengan wajah datar.


"Masih di dalam kamarnya, belum bangun." Jawab Mas Rafi.


"Oh, Bi Mina udah datang?"tanyaku pada Mas Rafi. Bi Bina adalah pembantu keluargaku yang pulang kampung beberapa hari yang lalu karna anaknya sakit, seingat ku hari ini iya akan pulang.


"Uda May, pagi tadi."


"Terus Bi Mina dimana sekarang?"


"Oh," kataku sambil duduk di samping Mas Rafi, walau aku baru bangun tidur dan belum sempat cuci muka, aku yakin saat ini pasti terlihat uwow.


Senyuman menyeringai terbit di bibirku ketika tak sengaja mataku dan mata Raina bertemu.


Tak ku sangka diriku bisa berekspresi sangat kejam, terbukti ketika alisku mengangkat, mataku menyipit dan bibirku menyeringai.


Dengan sengaja aku memeluk lengan kanan Mas Rafi dengan mesranya.

__ADS_1


"Mas," panggil ku dengan suara sedikit mendesah manja.


Sebenarnya aku geli namun itu semua ku lakukan demi kelancaran rencana ku yang berikutnya.


"Kenapa May?" Tanya Mas Rafi lembut.


"Nanti sore kita jalan-jalan ya,"


"Hmm, kemana?"tanya Mas Rafi.


"Kemana-mana yang penting jauh dari pelakor, jaman sekarang banyak banget pelakor. Heran aku Mas, memangnya pelakor itu nggak laku sama yang bujangan ya?" Jawabku sambil melirik Raina.


Oh ya ampun, kata yang keluar dari mulutku sangat pas sekali.


"Ishhh, kamu ini. Ya Mas mana tahu," ucap Mas Rafi.


"Mas, kalau kamu sampai tergoda dengan pelakor pasti kamu tau dong siapa Maysa ini?" Ucapku pada Mas Rafi walau sesekali aku melirik Raina.


"Iya sayang, enggak."


Bullshit!


Sekarang aku percaya bahwa laki-laki itu tidak bisa di percaya karena kepercayaan yang diberikan atas percaya padanya dikhianati dan kepercayaan nya hilang seketika.

__ADS_1


"Bagus, kalau sampai tergoda lihat saja permainan yang akan datang," ujar ku sambil beranjak dari sofa lalu meninggalkan mereka.


Aku berjalan ke dapur, kebetulan Bi Minah sedang membuat minuman. Sepertinya itu untuk Mas Rafi dan sundel bolong itu.


__ADS_2