Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 12


__ADS_3

"Wah, sukses banget ya Mbak," puji Raina padaku.


Cuih, pujian mematikan!


"Ah, bisa aja Mbak Raina, terima kasih ya, ini juga hasil perjuangan aku dan Mas Rafi selama ini," ucapku sengaja memanas-manasi. Biar mereka tau siapa yang selalu menemaninya di saat dia tidak punya apa-apa hingga pada akhirnya serba kecukupan seperti ini kalau bukan karna Maysa wanita cerdik dan pintar sejagat raya. Bukan Raina yang hanya bisanya menghabiskan uangku saja.


Tapi tenang saja kali ini kau bisa memakai uang ku namun lain hari kan ku tagih semua pemberian Mas Rafi kepadamu walau sepersen pun kan ku tarik semua.


Untuk saat ini aku biarkan kalian bersenang-senang. Tapi tidak mengunakan uang yang ada di resto karna semua uang yang ada di sana sudah aku awasi dengan sangat ketat.


"Romantis sekali," puji nya.


Idiw, iyai aja deh.


"Hehehe, makasih," jawabku tersenyum.


"Langgeng terus ya, mbak," kata Raina tersenyum manis pada ku dan pada Mas Rafi.


langgeng gimana nya? Kalau kamu nya selalu nyantol ke suamiku.


"Aamiiin, semoga aja dijauhkan dari pelakor," balas ku menekan kalimat akhirnya.


Raina terkekeh," iya Mbak, hati-hati sama pelakor apalagi jaman sekarang, huh. Pasti lebih genit dan menggoda."


Dia lagi ngomongin diri sendiri atau gimana?


Ck ck, manusia oh manusia selalu lupa dengan dirinya sendiri mereka sibuk berkomentar tanpa introspeksi diri. Ya seperti dirimu itu Raina, wanita sundel bolong. Terlihat oke di depan belakangnya bolong.


"Bener, Mbak. Kalo keluarga saya Sampek ke campur aduk sama pelakor saya goreng tuh pelakor serta suami saya di kuali besar sekalian irit untuk daging bakso," jawabku dengan nada mengancam.


"Wah, hati-hati itu pelakor nya ya, Mbak. Kalau salah masuk dikit bisa innalillahi,"


Sebenarnya hati si sundel itu terbuat dari apa sih? Apa iya dari tadi ia tidak tersinggung sama sekali? Kalau benar-benar tidak tersinggung jangan-jangan ada jin ifrit nya yang bersemayam di tubuhnya.


Wau, sungguh mengerikan.


"Maka dari itu untuk para pelakor hati-hati kalo masuk ke hubungan rumah tangga orang lain, mending kalo istri sahnya baik dan kalem apalagi pasrah. Gimana istri sahnya bar-bar? Mati tuh pelakor saya jamin," ujar ku penuh makna.

__ADS_1


"Bener tuh Mbak saya setuju," balas Raina.


Au amat ah, puyeng aku. Kenapa dia nggak kesindir-sindir juga sihh? Malah bersikap seolah dia itu di pihak ku dasar sundel bolong.


Kesel aku mulai tadi disindir nggak tersinggung-singung juga. Pakai cara apa lagi kalau seperti ini?


"Biasanya pelakor masuk ke dalam hubungan orang lain karena hidupnya tak sebahagia korbannya," ujar ku tersenyum penuh arti padanya.


"Yuk ah Mas, cus!" Aku menarik tangan Mas Rafi dan Thea agar cepat berjalan meninggalkan Raina dengan otak yang pastinya bertanya-tanya apa maksud dari ucapan ku tadi.


Aku kembali berbalik menghadapnya.


"Oh ya Mbak?" panggilku ke Raina menoleh dengan sedikit kikuk.


"Ya Mbak ada apa?" tanyanya sok manis. seperti gula padahal pahit rasanya.


"Kamu sudah kenal nggak sama suamiku, kenalin dia suamiku Mas Rafi." ucapku memperkenalkan suamiku Pada Raina


Mas Rafi menjabat tangan Raina sambil tersenyum penuh arti begitu pun Raina sambil menerima uluran tangan Mas Rafi.


"Raina," begitu pun Raina.


Ehemm, dehemku melihat tangan Mas Rafi tidak lepas-lepas dari Raina. Mas Rafi langsung melepasnya dan kikuk.


Sadar suami jelalatan. Nggak ingat apa sama istrinya yang ada di sampingnya.


Ku cungkil tuh matanya ya, biar sekalian nggak bisa melihat seumur hidup.


"Ingat dia temanku Raina. Kalau sampai aku tau Mas kecantol kepadanya kamu akan menerima balasnya dariku, kamu ingatkan siapa aku." Ancamku penuh penekanan.


"Iya sayang, mana mungkinlah aku berpaling dari mu wanita tercantik ku yang tidak ada seorang pun yang menandingi kecantikan mu," gombalnya.


Ck, yang namanya buaya ya tetep buaya.


"Okey aku pegang ucapan mu, ingat kalau sampai aku tau kamu ada main di belakangku. Lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan untukmu,"


"Iya sayang,"

__ADS_1


"Ya sudah yuk, cus. Kita langsung meluncur ke resto," Ucapku menarik tangan Mas Rafi dan Thea tanpa berpamitan ke Raina.


*****


Sepulang dari restoran, tubuhku terasa lelah sekali. Mungkin karena jarak yang lumayan jauh membuat tubuhku sedikit kewalahan, untungnya anak ku sudah tertidur di kamarnya sejak tadi perjalanan pulang.


Demi apa aku seperti ini kalau bukan demi wanita pelakor itu. Niatnya mau ngasih pelajaran malah diriku sendiri yang kini kelelahan karna terlalu jauh berjalan tadi.


"May," panggil Mas Rafi.


"Apa?"


"Masakin air panas buat Mas dong," pinta Mas Rafi.


"Di kamar mandi kan udah ada air panas! Ngapain perlu di masakin lagi?!" Tanyaku emosi, di dalam keadaan lelah seperti ini Mas Rafi masih sempat-sempatnya menyuruh.


"Yang di kamar mandi kurang panas May,"


Aku mendengus," Bawa aja kompor ke dalem kamar mandi! Sekalian masak di kamar mandi sono!"


"May, jangan marah-marah gitu dong, nanti cepat tua loh," ucap Mas Rafi mencoba mencairkan suasana.


"Nggak peduli, banyak skincare buat awet muda!" Ketus ku.


"Jangan gitu ah, nanti kalo kamu cepet tua Mas berpaling sama orang yang lebih semlohay gimana?"


Buaya buntung!


Yang namanya buaya mau istri cakep apa nggak juga tetep buaya! Pake alasan fisik segala.


Sana cari yang semlohay!


Yang semlohay belum tentu bisa bisnis bakso semlohay!


"Bodoh amat,"ucapku kesal sambil beranjak pergi meninggalkan Mas Rafi.


Entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi sangat kesal melihat Mas Rafi, seperti itu semua karena sundel bolong. wanita tak tau diri itu.

__ADS_1


__ADS_2