
Drrttt drrrtttt
Ponselku berdering pertanda ada panggilan masuk.
"Halo?"sapa ku.
"Bu, saya sudah di depan rumah anda," Suara Pak Mat dari sebrang sana.
Itu suara Pak Mat, dia sudah ada di depan rumahku? Aku melirik ke jam dinding yang tenyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktu ku minta Pak Mat melancarkan rencana ku.
Saatnya!
"Oke, Pak saya keluar," ujar ku langsung mematikan panggilannya.
Aku berlari keluar rumah, untungnya putri kecil ku sudah tertidur di kamarnya jadi aku lebih leluasa untuk melancarkan aksinya.
"Ayo, Pak," ucapku sambil mengunci pagar dari luar.
"Rumah targetnya dimana bu?" Tanya Pak Mat yang membawa tas besar di Teteng nya, aku yakin itu adalah ular kobra yang aku butuhkan.
"Di sana, ayo!" Aku menunjuk rumah Raina yang terhalang beberapa rumah dari samping rumahku.
"Ayo Bu," kata Pak Mat.
Aku berjalan terlebih dahulu diikuti Pak Mat di belakang, aku berjalan dengan hati-hati karna takut ketahuan.
Kalau sampai aku ketahuan salah satu tetangga disini bisa mati aku. Nanti dikira aku ini maling, bisa-bisa wajah cantikku ini penuh luka lembab habis pukulan warga-warga sini.
What!
Membayangkan saya membuat kepala ku ingin pecah.
"Ini rumahnya kita masuk sekarang!" Kode ku mengunakan bahasa tubuh
Pak Mat mengerti, ia mengangguk patuh berjalan duluan untuk masuk melewati gerbang rumah sundel yang tidak di kunci.
Dasar wanita bodoh yang tidak mempunyai rasa kewaspadaan sama sekali. Bagaimana nantinya kalau ada maling? Apa dia nggak Khawatir dengan semua itu?
Tapi nggak masalah sihh, aku malah senang kalau sampai rumahnya kemalingan. Itu kan menguntungkan bagiku ya, kan.
Aku diam sejenak. Tak lama setelah itu otak ku langsung memutar. Mengingat hubungan Raina dan Mas Rafi.
Oh oh, tidaaaaaak!
Kalau sampai rumahnya kemalingan entar dia minta uang ke suamiku bisa-bisa bangkrut aku. Apalagi kalau minta nya yang mahal-mahal. Kalau seperti ini bukannya untung malah buntung.
Susah payah aku mengumpulkan uang selebar demi selebar demi memajukan bisnisku, sedangkan dia tinggal menikmati saja.
__ADS_1
Sudahlah jangan pikirkan. Yang harus difikirkan rencana ku harus berhasil bagaimana pun caranya.
Maafkan aku Raina.
Oh, mengapa aku minta maaf? Inikan salahnya suruh siapa dia menganggu ketentraman rumah tanggaku. Jadi, dia harus siap menerima konsekuensinya ya, kan.
Aku mengawasi gerak-gerik Pak Mat dari balik tembok di dekat jendelanya. Sedangkan Pak Mat sedang berdiri tepat di depan jendelanya sembari mengeluarkan ular dari tas besar miliknya.
Astaga!
Kalau begini, aku yang akan takut Bambang!
Aku meneguk saliva kuat-kuat melihat besarnya ular kobra yang di keluarkan Pak Mat dari dalam tasnya tersebut, hingga tak terasa tubuhku mengeluarkan keringat dingin.
Ya ampun!
Kalau begini, aku yang akan pingsan di tempat!
Woy, siapa pun tolong aku!
Demi melawan ketakutan ku, aku memilih memejamkan mata dari pada harus pisan di situasi yang seperti ini.
Bisa-bisa rencana ku akan gagal, niatnya ingin ngerjain Nenek gayung malah aku sendiri yang kenak
Terdengar suara jendela di buka, aku tahu Pak Mat masuk ke dalam Raina tanpa aku lihat.
Perlahan mataku terbuka, aku melihat Pak Mat berjalan mengendap-endap mendekati Raina yang sedang tertidur. Beruntung nya malam ini Raina memakai baju tidak seperti waktu itu, kalau tidak aku khawatir Pak Mat si pawang ular itu akan khilaf.
Senyuman tercetak di bibirku ketika Pak Mat menaruh ular itu di atas tempat tidur milik Raina. Setelah ularnya di lepas Pak Mat berlari keluar jendela.
Kami mengawasi lewat jendela, kita lihat apa reaksi si sundel bolong saat melihat ada ular besar berada di dekatnya. Mantap, aku akan tertawa puas jika dia ketakutan. Kalau tidak aku akan kecewa berat. Sia-sia aku menyewa si pawang ular ini. Jika, akhirnya targetku tak terjadi apa-apa.
Nggak mungkin kan pasti dia ketakutan. Aku sendiri saja ketakutan apa lagi dia ya, kan.
Ular kobra itu menggeliat mendekat ke tubuh Raina, aku dapat melihat Raina bergerak risih ketika kepala ular kobra sudah berada di dekat wajahnya.
Harusnya kamu itu bangga Raina, bisa di cium ular ya, kan. Tidak banyak loh orang yang mendapatkan ciuman dari seekor ular seperti itu. Apa lagi ulasnya sebesar itu. Guman ku dalam hati sambil tersenyum senang melihat ular itu menelusuri wajahnya.
"Bangun," aku tersenyum senang.
Satu.....
Dua....
Tiga...
"Aaaaaaaaaaaaa,"suara teriakan menggelegar berasal dari Raina, sontak aku dan Pak Mad langsung tertunduk di bawah jendela Raina agar tidak ketahuan karena Raina sudah bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Aaaaaa, pergi," teriak Raina, aku mengintip lewat cela jendela Raina, Raina sedang duduk di sudut kamarnya sambil menangis ketakutan.
"Ayo ular, dekati dia," lirihku tersenyum senang melihat dia begitu ketakutan.
"Pergi!!!!aaaaaaa,"
"Jauh-jauh!!!"
"Jangan dekati aku;"
"Tolong,"
Brakkk
Tubuh Raina jatuh pingsan dan tergeletak begitu saja di lantai kamarnya, aku tersenyum puas.
"Pak, ambil cepat ularnya," kita harus segera pergi, sebelum kita ketahuan para warga disini!" Pintaku pada Pak Mat yang langsung di laksanakan.
Pak Mat langsung meloncat masuk ke dalam kamar, ia mengambil ularnya kembali lalu keluar.
Aku meneguk saliva kuat-kuat melihat ular kobra begitu besarnya.
"Masukkan!" pinta ku tegas. Aku bergidik ngeri melihat ular kobra sebesar itu sedang membelit tubuh sang pawang ular.
"Iya bu,"
Sreeeet....sreeett
Terdengar suara resleting tas, itu berarti ularnya sudah di masukkan kembali ke dalam tasnya. Syukurlah, sungguh aku benar-benar takut melihatnya.
"Udah Pak?" Tanyaku.
"Uda bu,"
Aku tersenyum mengeluarkan amplop coklat dari saku ku lalu memberikan amplop itu ke Pak Mat,
"Ini uang untuk Pak Mat, terima kasih sudah mau membantu saya,"
"Sama-sama, Bu,"
"Kita pulang sekarang, Pak!"
"Iya bu,"
Pak Mat dan aku langsung berlari keluar gerbang, tak lupa untuk ku tutup gerbangnya kembali.
Senangnya hatiku bisa mengerjain Nenek gayung itu Guman ku dalam hati sambil terus menerbitkan senyum dari bibirku.
__ADS_1