
Aku berjalan masuk ke dalam rumah menyusul Raina yang sudah entah ada dimana. Rumahku sangat terang karena bantuan lampu emergency, jadi aku tak perlu menyalahkan lilin lagi.
"Mbak!" Panggil Raina yang sudah berdiri bersama Mas Rafi di depan kamarku.
"Iya, kenapa Mbak Raina?"tanyaku yang padahal sangat malas bertanya.
"Saya boleh tidur disini?"dia menunjuk kamarku, sontak membuat aku terkejut
"Nggak itu kamar saya, Mbak tidur di depan tv sana," jawabku kesel.
"Tapi saya mau disini Mbak, bolehkan?
Apa ini yang dinamakan dikasih hati minta ampela.
Aku menggeleng," no, ini kamar saya,"
"Lah, saya mohon Mbak," ucap Rina memelas.
Tiba-tiba Mas Rafi menghampiri ku dan mengelus punggungku.
"Uda biarin aja May, Mbak Raina kan tamu. Jadi kita harus layani,"
"Apa katamu? Tamu? Tamu macam apa yang seenaknya sendiri ," ucapku kesal pada Mas Rafi.
"Udah jangan gitu ah, nggak baik. Biarin aja dia di kamar kita, kita kan bisa di kamar yang lain.?
"Nggak bisa enak aja ini kamar kita, rumah kita, dia itu tamu. Ya harus turutin dong apa kata tuan rumahnya. Bukan malah seenaknya sendiri kayak gini."
"Bukan gitu May, diakan tamu kita harus bisa menghormatinya,"
"Nggak ada yang namanya tamu kalau seperti ini,"tujuk ku ke muka Raina.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Mas ada hubungan terlarang belakangku selama ini dengannya, emm"
"Eng-enggak kok May, Mas aja baru kena saat kita mau ke resto kemarin."
"Jangan bohong," Selidik ku.
"Iya Mas nggak bohong,"
"Awas saja kalau sampai aku tau kamu ada hubungan dengannya, aku minta cerai dari kamu,"
Mas Rafi langsung menelan Slavinanya susah paya.
Ku tatap wajah Raina tajam, " Apa kau lupa ucapan mu tadi nyonya Raina terhormat. Kau akan menjaga adapmu, mana buktinya,"
"Iya Mbak maaf, saya akan tidur di depan tv sekarang."
"Bagus, kalau kamu tau siapa kamu disini,"
Raina pun langsung turun tanpa menjawab pertanyaan yang ku lontarkan kepadanya.
"Tamu macam apa si Raina itu, menurutku biasanya tamu akan memilih diam dan mengikuti tuan rumah, ini malah sebaliknya." ucapku lirih melihat sambil melihat punggung Raina semakin lama semakin jauh dan menghilang.
"Sabar..."
"Tapi, Mas...."
"Huss, sabar," kata Mas Rafi.
"Yauda iya," ketus ku
"Ayo! Perintahku sambil menarik tangan Mas Rafi agar ikut denganku. Tak ku biarkan pelakor iyu berkuasa di rumahku, awas saja!
__ADS_1
"Iya May, pelan-pelan!"
Aku tak menggubris nya malah aku semakin mempercepat jalan karena emosi.
Sebenarnya, wanita sundel bolong itu mau apa? Mau seenaknya aja? Eh, dia masib manusia.
Kenapa aku merasa ada firasat aneh yang akan terjadi, aku merasa bahwa sundel bolong itu merencanakan sesuatu.
Awas saja kalau dia macam-macam, aku tutuk kepalanya pake panci.
"May, udah-udah. Ngapain sih?"tanya Mas Rafi melepaskan tangannya dari gandengan ku.
Aku menatap kesal ke arahnya,"tanya Mas Rafi melepaskan tangannya dari gandengan ku.
Aku menatap kesal ke arahnya," Jangan ke sana atau...." aku menunjuk ruang tamu.
"Atau apa May,"
"Atau aku akan mengugat cerai dari Mas mulai detik itu juga...." kataku.
Mas Rafi menelan Slavina takut.
"I-iya May," patuhnya.
"Yuk cepet!" Kataku sambil terus menariknya tangannya Mas Rafi masuk ke dalam kamar tak lupa ku kunci pintunya agar tidak diganggu pelakor yang tidak tau diri itu.
Aku pikir pelakor itu main syantik dengan cara pura-pura bersikap alim. Tapi ini malah bar-bar, atau malah ingin menantang ku,"
Kalau benar dia menantang ku, kita lihat saja. Apa yang bisa ia lakukan kepadaku, aku sangat menunggu tindakannya karena aku rasa Raina sudah tahu jika aku mengetahuinya ada hubungan dengan suamiku.
Raina oh Raina, semakin kamu mendekat pada keluargaku semakin terancam pula hidupmu.
__ADS_1
Aku punya banyak uang yang bisa menghancurkan hidupmu. Tapi maaf, aku terlalu sayang pada uangku jika untuk melawan mu. Aku ingin melawan mu dengan tanganku sendiri.