Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 4


__ADS_3

"Mang saya beli sayur kangkung, tahu, tempe, dan ikan mujaer sekilo ya Mang,"pesan Raina sambil berdiri menggeliang aku terus menerus menahan tawa.


Kasihan ya dirimu Mbak, tapi ini belum seberapa! Lihat saja lanjutannya.


"Mana Mang pesanan saya!" Ujar Raina terlihat buru-buru sambil meremas bajunya sendiri, aku tahu dia sangat kegatelan.


"Ini Mbak, jadi enam puluh tujuh ribu," Mang juned memberikan belanjaannya kepada Raina.


"Ini Mang, sisanya ambil saja!" Raina memberikan uangnya lalu mengambil belanjaan -nya kemudian berlari pergi.


Ingin sekali diriku tertawa, namun aku menahannya.


"Mbak Raina nya kenapa? Bukannya dia bilang sakit kakinya, ya?" Tanya Mbak Muna merasa heran. Aku hanya tersenyum menahan tawa.


"Mang Junet ayam satu ekor, jadi berapa?"tanyaku pada Mang Junet.


"Ayam tiga puluh lima ribu di tambah sama sayur asem jadi empat puluh lima ribu, Mbak."jawab Mang Junet sambil menyerahkan belanjaan kepada ku.


"Ini, Mang. Makasih," aku memberikan. Uang pas padanya lalu berjalan pulang sambil tertawa mengingat jalan Raina, tidak perduli ada yang menganggap ku gila sekali pun yang penting aku puas.


"Mama" panggil putriku Thea ketika aku baru sampai dari berbelanja.


"Kenapa sayang?" Tanyaku lembut mengelus rambut hitamnya yang tergerai rapi.


"Mama, Papa!" Ujar Thea, memanggil Papanya.


"Papa kenapa?" Tanyaku lembut.


"Papa pergi lagi ke rumah Tante Raina,"


Mataku melotot, benarkah?


"Darimana Thea tau?"tanyaku lembut pada putri tercintaku yang baru berusia 5 tahun.


"Tadi Papa keluar terus Thea ikuti, Papa ke rumah Tante Raina,"


Hah, putriku tidak mungkin bohong. Memang minta di tempeleng itu laki! Mau selingkuh aja sampek anaknya tau ayahnya pergi ke rumah selingkuhannya. Lama-lama aku getok juga tuh mereka pake gagang sapu biar tau rasa!


Menyebalkannnnn!!!


"Oh yasudah biarin aja, mungkin Papa mu lagi ada urusan sama tante Raina. Mending kamu masuk ke dalam aja ya sayang, belajarlah biar tambah pinter, katanya mau jadi orang sukses seperti Mama, ya harus pintar."pinta ku pada Thea. Bukan Thea namanya jika tidak patuh.


"Iya, ma." Thea berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Menyebalkan! Emosiku memuncak.


Itu lagi sundel bolong lagi kegatelan aja masih ganjen! Eh bentar, jangan-jangan dia minta suamiku yang garukin lagi.


Mas Rafi!!! Awas kau ya kalau pulang ku semur kau Mas. Teriakku dalam hati.


Aku masuk ke dalam dengan kesal lalu ku mengambil ponselku yang ada meja ruang tamu, aku membuka sosial media ku untuk membuat status.

__ADS_1


'Kalau gatel ya garuk, bukan malah rebut suami orang!' itu caption yang aku tulis di statusku di sertai emot marah.


Awas aja kalau kamu pulang Mas, aku bejek-bejek jadi bakso tau rasa kamu!"


*****


"Assalamu'alaikum," salam Mas Rafi.


"Walaikumsalam!" Jawabku sedikit jutek


"May, Thea mana?"tanya Mas Rafi menghampiriku yang sedang menata makanan di meja makan.


"Lagi tidur."


"Oh,"


"Dari mana saja Mas," jebak ku siapa tau dia mau berkata jujur dan aku akan meringankan hukuman mereka.


"Dari luar, cari udara segar"


"Dari luar cari udara segar apa memandangan yang lebih segar."


"A-apa maksudmu sihh, May. Aku hanya mencari udara segar saja."


"Oh kirain cari wanita lain di luar sana,"


"Ya-ya nggak lah May, cuma kamu wanita satu-satunya di hatiku,"


Pretttt....


"Awas kau ya Mas. kalau sampai aku lihat kamu menduakan ku. Kamu akan ku beri sianida sekarang juga sama seperti berita di tv kemarin."


"Iya, Mas janji ngga akan menduakan mu."


Di kira aku bodoh apa. Ngga tau kelakoan suami di luar sana. Dasar suami tercintaku yang bodohnya ngga ketulungan.


"Mas laper May," keluh Mas Rafi.


"Kalo laper ya makan."jawabku seadanya.


"Ya disiapin dong May, masa Mas ambil sendiri," ujar Mas Rafi.


Lah, bener-bener kagak di kasih makan kayaknya ni suamiku sama si sundel bolong itu.


Untung saat itu aku kasih makan tuh sundel. Mungkin saja kalau aku tidak kasih makan dia tidak akan makan sama sekali kalau masak sendiri. Palingan beli di luar, habis-habisin uang aja.


Tapi tadi pagi ku lihat dia belanja kan sama aku dan ibu-ibu komplek. Oh iya siihh, mana bisa tuh sundel masak kalau miss terlarangnya kegatelan, ya kan. Hahahaa....


"Iya,iya." Kata ku patuh sambil mengambilkan


Nasi untuknya, tak lupa aku beri sayur asem dan ayam goreng berserta sambalnya.

__ADS_1


"Ini Mas," ucapku sambil menyerahkan piring padanya.


"Makasih sayang,"


Hilih sayang katanya.


"Cobain Mas, enak nggak," tanya ku tersenyum


Mas Rafi menyuapkan satu sendok nasi ke mulutnya.


Uhuk...uhuk


Mas Rafi terbatuk-batuk.


"Kamu kenapa, Mas?"


"Enak?"


Mas Rafi menatapku dalam-dalam,"Enak kok."


Aku tersenyum,"Bener, Mas?"


"I-iya"


Berbohong kamu rupanya Mas, sengaja aku beri lada sangat banyak pada sayur asem yang kamu makan itu dan kamu masih bilang enak suamiku yang malang.


"Harus habis loh, jangan sampai ada sisa. Mubazir loh Mas. Masih banyak loh orang-orang di bawah kita yang kesusahan.


Hanya diangguki oleh Mas Rafi.


Habisin Mas, mules-mules dah tuh perut. Guman ku dalam hati senang, sambil terus memperhatikan Mas Rafi makan.


Aku terus memaksa Mas Rafi menghabiskan makannya walaupun berkali-kali ia bilang sudah kenyang.


"Udah ah May, Mas udah kenyang tau,"alasan Mas Rafi.


"Kalau Mas ngga mau makan aku ngambek! Itu artinya Mas bohong dong yang yang katanya masakan ku enak,"


Mas Rafi langsung memeluk dan mencium pipi kanan ku.


"Iya sayang," Ucapnya lembut.


Yess, aku ingin lihat kamu mondar-mandir ke kamar mandi, Mas. Aku sangat menantikannya!


Terkadang jahat itu perlu daripada baik namum tak dihargai.


Terkadang pula pelakor harus diberi pelajaran yang oke biar tau rasa tuh pelakor, enak sekali di mau merebut suami orang aja.


****


Malam ini aku terus melihat Mas Rafi bolak-balik ke kamar mandi. Sebenarnya tidak hanya bubuk lada yang aku beri tapi obat pencahar, sesekali ngerjain suami yang selingkuh itu perlu.

__ADS_1


Mas Rafi terlihat kewalahan kerena harus terus ke kamar mandi tapi itu adalah pemandangan yang menyenangkan menurutku. Makanya kalau sudah punya istri jangan main-main apa lagi istrinya pintar seperti aku, tak kan. Ku biarkan kalian bahagia.


Melawan pelakor dan suami penghianat itu jangan pakai emosi, cukup rileks, santai dan tenang saja, gunakan pikiranmu untuk mengerjain mereka. Pada akhirnya jadilah ratu cerdas ketika Mak lampir dan kakek cangkul berpacaran.


__ADS_2