
Satu jam kemudian.
"Alhamdulillah.... akhirnya Mama sadar juga," Ucapku lembut sambil membantu Mama bersandar.
"Maysah sangat khawatir dengan keadaan Mama,"Mama tersenyum kepadaku, membelai rambutku dengan sayang.
"Nenek kenapa? Kenapa nenek Ma...? Nenek sakit...?" Ucap Thea bertubi-tubi.
Mama mengelus pipi Thea, mengajaknya ke dalam pelukannya, menciumnya berulang-ulang" Nenek ngak papa sayang. Nenek hanya kelelahan saja."
"Beneran Nek,"
"Iya sayangnya Nenek, kamu main lagi sana. Nenek sudah tidak apa-apa. Nenek hanya butuh istirahat sebentar aja sayang,"
"Bener ya," Mama mengangguk
"Thea tinggal main ya, Nek,"
"Iya sayang," Thea pergi setelah mendengar jawaban Mama. Sebelum itu ia mencium pipi Neneknya berulang-ulang kali dan aku hanya tersenyum saja.
"May..."Panggil Mama lemah,
"Iya Ma..."
__ADS_1
"Apa kamu tetap dengan keputusanmu, Nak? Apa kamu ngak ada niatan untuk ngasih anak mama kesempatan, Nak?"
"Maafin Maysa Ma, Maysa tetap dengan teguh dengan keputusan May. May sudah terlanjur kecewa dengan Mas Rafi. Istri mana yang rela suaminya nyari wanita lain di luar,"
"Mama ngerti dengan perasaan kamu sayang. Mama juga seorang wanita. Tapi sayang, kasihan putrimu dia masih butuh sosok seorang ayah, Nak! Bukan Mama memaksamu, kamu berhak mengambil keputusan."
"Iya Ma, Maysah tau. Thea tidak akan kurang kasih sayang kedua orang tuanya. Mas Rafi berhak menemui putrinya aku pun mengizinkannya walau tidak setiap harinya. Aku akan membatasi pertemuan mereka,"
"Sekali lagi Maysa minta maaf, Maysa tidak bisa merubah keputusan yang Maysa buat. Bahkan surat pengadilan pun sudah Maysah urus tinggal menunggu hari dimana surat itu akan keluar,"
"Kamu sudah mengurus surat gugatan cerai kamu?"
"Iya ma..." ucapku tertunduk tak berani memandang wajah ibu mertuaku yang bersedih.
"Maafin Maysa. Maysa tetap dengan pendirian May,"
Hurff, Mama menghela nafas panjang-panjang.
Jujur saja aku merasa bersalah pada ibu mertuaku. Namun rasa kecewa ini tak kan perna sembuh atas apa penghianatan yang Mas Rafi lakukan kepadaku.
Sekuat apa pun aku tahan aku juga seorang wanita. Hatinya mudah rapuh.
Jujur aja aku takut Mas Rafi mengulang kembali kesalahan yang ia lakukan jika aku memberinya kesempatan.
__ADS_1
"Baiklah sayang, jika itu memang keputusan yang menurutmu baik. Mama akan mendukungmu. Walau jujur aja mama belum ikhlas melepas mu, namun bagaimana lagi. Ini semua di mulai dari anak Mama, Maka ia harus berani mengambil resikonya."
Aku tersenyum kepadanya"Terima kasih Ma....Sekali lagi Maysah minta maaf,"
"Ini bukan kesalahanmu sayang, anak Mama yang salah. Biarkan ia mengambil pelajaran dan balasan atas apa yang dia perbuat, Nak," aku memeluk tubuh Mama menumpahkan air mata yang selama ini aku tahan.
Aku bersyukur memiliki ibu mertua sepertinya. Menganggap ku seperti anaknya sendiri.
"Sudah sayang jangan nangis lagi." Mama melepas pelukannya menatapku dengan penuh cinta mengusap air mataku." Mana wajah Maysa yang selama ini Mama kenal, tersenyumlah sayang, Mama akan selalu ada untukmu," Aku tersenyum sesuai perintahnya.
"Bagaimana dengan Papa Ma..."
"Biakan Mama yang akan membicarakan ini dengan papamu, Mama yang akan meyakinkannya. Sekarang tersenyumlah, tunggu waktu yang kau nantikan itu iba"
"Ya ma..." Aku memeluknya sekali lagi dan mengucapakan beribu-ribu kata terima kasih kepadanya.
"Oh ya Ma. Maysa titip Thea sebentar ya, Ma. May mau keluar ada urusan yang harus May selesaikan,"
"Iya sayang, hati-hati," aku mengganggu patuh mencium tangannya dengan takzim dan pergi meninggalkannya.
Aku harus selesaikan rencana pembangunan restoran baruku. Sebelum saat dimana hari itu diba. Aku sudah memulai bisnis ku sendiri. Tanpa campur tangan Mas Rafi.
Walaupun uangnya berasal dari Mas Rafi dan Raina. Namun itu sudah selayaknya atas apa yang mereka lakukan kepadaku.
__ADS_1