Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 41


__ADS_3

"Yang sabar ya Mbak May...?" Tinggalkan aja laki-laki seperti dia. Kami yakin kamu wanita kuat." Ucap ibu-ibu kompleks saat melihatku datang menyaksikan mereka sedang dihakimin.


"Iya Bu, makasih ya, Bu?"


Mas Rafi melihat ku, dia berdiri menghampiriku. Tunduk di kakiku. Aku berjalan mundur tak kuat dengan bauk busuk dari tubuhnya. Di tetap mengikuti ku menahan kaki ku.


Oh tidak.....


Tolong....


Celana kesayanganku jadi korbannya....


Terkenak noda lumpur hitam, bau air God yang nempel di baju Mas Rafi.


"May... Tolong Mas. Maafin Mas, Mas janji tidak akan mengulangi kembali. Beri Mas kesempatan kedua, Mas janji akan setia tidak akan mengulangi kembali kesalahan, Mas!"


"Sudah Mbak May, jangan maafin suami seperti dia. Suami yang tidak tau kata terima kasih. Kalau saja aku ada di posisi Mbk, sudah aku bunuh dia tak lupa pula ku potong burungnya. Tidak perduli hukum bertidak. Asal hati ku terobati," ucap Mbak Muna geram


"Aku setuju itu Mbak," ucap salah seorang warga yang mendengarkan ucapan Mbak Muna.


"Lepas Mas! menyikirlah dari kakiku...!" usir ku, kakiku gerak-gerakkan agar mudah untuk dilepaskan.


Mas Rafi tetap menahan kakiku semangkin kuat." tidak akan aku lepaskan May, sebelum kamu memaafkan, Mas!"


Aku hanya terus tersenyum memandang Mas Rafi. Aku tendang tubuhnya dengan kaki satu ku. Hingga gegamannya sedikit longgar. segera ku lepas dan mendorongnya kuat hingga dia tersungkur ke aspal.


Aku berjalan sedikit menjauh.


"Jangan terus mintak maaf, percuma kamu mintak maaf aku tidak akan memaafkanmu. apa kamu lupa atas apa yang kamu lakukan kepadaku?" ucapku sedikit emosi.


"Perempuan mana yang rela suaminya main belakang saat masih ada istri sahnya di sampingnya?"


"Apa kamu kira, jika suami telah bekerja maka tugas mereka telah selesai."


"Ck. Berkerja, uang aja dari aku. Aku yang berkerja selama ini. Resto sebesar itu siapa yang mengembangkan jika bukan, aku."


"Yang kau bisa hanya menghabiskan uang ku dengan wanita mu itu."

__ADS_1


Mas Rafi mendekat kepadaku lagi, jongkok tunduk di kaki ku dan hendak menahan kakiku lagi, dengan cepat aku menendangnya tempat di sudut sudut bibirnya hingga berdarah.


Tak berdosa kan,


Akukan bukan lagi istrinya...


Terlihat Mas Rafi menyentuh sudut bibirnya yang berdarah." Maafin Mas, May....!" Lirihnya.


Aku berberjalan menghampiri Raina di belakang kerumunan ibu-ibu yang menonton. Terlihat Raina terduduk lemas tak berdaya di aspal dengan wajah penuh akan luka lembab dan tak terbentuk lagi.


Ku seret paksa Raina dengan langkah yang cepat membuat Raina kesulitan dalam berjalan hampir aja dia terjungkal. Namun aku tak perduli aku tetap menyeretnya melempar keras disamping Mas Rafi.


"Tak perlu kau mintak Maaf terus. Percuma kau mintak maaf aku tak kan memaaafkanmu." Ucapku pada Mas Rafi.


"Lihatlah! Di samping mu!" pintahku.


"Kasihankan dia wajahnya sudah tidak terbetuk lagi bergitu pun bajunya. Sangat menjijikkan kalau dilihat ya, kan?" sinis ku.


"Apa kamu tidak ingin membantunya. Mungkin kamu ingin menikahinya atau apa gitu? Seperti pagi tadi...,"


"Oh iya, aku mau tanya? Apa kamu lupa yang terjadi pada pagi tadi? Kamu menamparku, melempar ku keluar rumah tanpa rasa kasihan, demi wanita mu. Dan sekarang kamu mintak belas kasihan dariku."


"Kamu nikahin aja kekasih gelapmu, biar dosamu sedikit berkurang!" ucapku semangkin sinis.


Aku menoleh arah Raina, aku berjongkok tepat di hadapan Raina.


Ku pegang rahang Raina kuat hingga ia melintih kesakitan.


"Aww... sakitt... lepas...?"


"Hmm... aku tidak dengar?" aku semangkin menambah tekannya.


Semangkin dia merintah kesakitan, minta di lepaskan.


"Aku hanya ingin tanya satu hal ke kamu!" ucap ku.


"Kamu seorang wanita kan?"

__ADS_1


Raina hanya diam.


"Jawab?" semangkin aku tekan ranganya hingga nancap kuku ku yang panjang di pipinya.


"Iya... " jawab Raina lirih.


Aku tersenyum sinis. Aku lepas cengkramannya sedikit hempaskan wajahnya. hingga berpaling ke kanan.


Aku bangkit dari jongkokku.


"Kau tau hati wanita?" Tanya ku memandang wajah Raina sambil ku injak tangannya.


"Aku rasa kamu sudah tau jawabannya. Untung aja kamu bukan berhadapan dengan wanita yang mudah termehek-mehek. Kamu ingin rebut suamiku kan? Ambil aja, ambil sepuasmu, kau apa kan dia aku persilahkan. Tapi dengan satu syarat jangan sampai kau ambil uangku sepersen pun, aku tidak ikhlas!"


"Uang yang selam ini kau pakai dari Mas Rafi itu adalah uang ku, dia tidak punya apa-apa tanpa bantuan ku." Aku mengangkat kakiku dari tangan Raina.


Nampak tangan Raina membiru.


Huuuu...


Aku mengehela nafas sebentar.


"Aku rasa wejangan ku sudah selesai. Aku harap kalian sadar atas kesalahan kalian. Jangan perna sakiti hati wanita di luar sana lagi cukup aku yang merasakan, jika ingin mengulang, ingatlah dirimu juga seorang wanita. Jika kau berada di posisi wanita tersebut aku yakin belum tentu kau kuat."


"Untuk mu, mantan suamiku. Aku persilahkan kamu melanjutkan hidup baru mu bersama wanitamu. Jika kau masih punya hati dan ingin aku maafkan, tinggal aku, biarkan aku hidup tenang bersama putriku. Jangan lagi kau usik ketentraman keluargaku. Cukup ini yang terakhir, jangan kau ulang kembali." Ucapku bijak.


Entah dari mana aku menemukan kata-kata tersebut. Namun kata ini juga mewakilkan diriku dan para wanita di luar sana yang merasakan sakit atas penghianatan yang dilakukan suami kita.


pesan dariku, untuk mu para wanita di luar sana.


Jangan perna mudah rapuh saat mendapatkan lelaki seperti mantan suamiku buatlah dia menyesal dan tuduk kepadamu dengan cara mu sendiri dengan cara tak terduga, hinga ia mengemis memintak maaf darimu atas kesalahan yang dia perbuat.


"Untuk ibu-ibu dan para warga kompleks, saya persilahkan lakukan sesuka hati kalian untuk pasangan yang sedang berbuat mes**m ini yang merusak nama baik dari kompleks ini." ucapku tegas pada warga kompleks.


Aku berjalan mundur, menjauh dari kerumunan warga. Para warga mendekat kearah pasangan mes**m itu.


Dan benar aja, mereka langsung menghakimi mereka kembali. Terutama para ibu-ibu kompleks mereka pada berlomba-lomba meluapkan kekesalan mereka kepada pasangan tersebut.

__ADS_1


Hingga Akhirnya para warga kompleks mengusir mereka dari lingkungan kompleks dengan tidak hormat.


__ADS_2