Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 7


__ADS_3

Jarwo yang memakai baju serba hitam langsung pergi meninggalkan ku di taman.


Raina, Mas Rafi. Akan ku korek semua bukti kalian, kamu tidak akan perna bisa mengelak lagi, kita lihat sepintar apa kalian menyembunyikan hubungan kalian yang sudah jelas-jelas nampak di depan mata.


Kini, aku menelfon seseorang karena perlu bantuan dengannya.


"Hallo dengan pengacara Arman," sapa ku dengan penuh hormat


"...."


"Saya minta bantuan anda untuk membantu saya di pengadilan,"


"...."


"Baik, terima kasih,"


"..."


"Ya, terima kasih,"


Aku langsung mematikan panggilan nya sembari tersenyum menang.


Sudah ku putuskan bahwa aku akan menggugat cerai dari suamiku, tapi nanti setelah semua bukti terkumpul dan semua harta jatuh ke tanganku.


Biarlah dia hidup miskin layaknya seperti aku dan dia dulu. Enak saja sundel itu datang untuk menikmati hartaku. Aku yang susah payah ke sana ke mari demi mendapatkan semua ini. sedangkan dia...?


Sambil menunggu Jarwo mencari bukti. Aku akan terus mengerjain mereka tidak perduli netizen yang selalu mengatakan untuk segera digrebek atau labrak. Menurutku itu sudah sangat biasa, aku ingin yang luar biasa.


Agar menjadi sejara di kemudian hari. Buat contoh wanita-wanita di luar sana apa bila mengalami hal yang sama seperti ku.


Ku ingatkan untuk para wanita diluar sana jangan mudah menyerah. Hanya menunjukkan air mata kepedihan dan kekecewaan. Lawan mereka yang telah mengkhianati kita dengan cara tak terduga. Jangan langsung di grebek atau di labrak.


Jika, kau lakukan itu kau tidak akan perna bisa membalas perbuatan mereka. Namun jika kalian berperilaku seperti ku, jaillin mereka, pasti bisa membalas perbuatan mereka kepada kita. Dengan begitu, bukan hanya hati mereka yang akan tersakiti, tetapi juga mereka dengan melukai sedikit fisiknya, namun tak terlalu bahaya. Hanya untuk main-main saja.


Jadi, jangan gegabah, beri mereka sedikit demi sedikit hukuman. Memang mereka tidak langsung jera tapi apa kalian tahu jika akhirnya seperti apa?


*****


Kini aku sudah berada di sebuah rumah sederhana milik Pak Mat, si pawang ular kobra.


Kalian pasti pada bertanya ya kan untuk apa aku kesini? Untuk apa lagi sih, kalau bukan untuk mengerjai si sundel itu. Aku menyewa Pak Mat semalaman hanya untuk menaruh ular kobra yang panjang itu di rumah sundel dengan pengawasan Pak Mas sendiri. Aku sengaja memilih ular yang sudah benar-benar jinak karena aku tak tega melihat si sundel itu mati.


Kalau pun nantinya ia mati dan di identifikasi penyebab kematiannya dan tau kalau aku yang melakukan. Bisa-bisa aku akan di penjara. bagaimana nantinya dengan masa depan putri tercintaku? Masa iya suami ku dan wanita sundel bolong itu yang akan merawatnya? Nggak mungkin kan. Anaknya saja di kasih ke Papanya dan ibunya sibuk mencari lelaki lain yang lebih tajir darinya.

__ADS_1


Membayangkan saja, membuat kepalaku ingin pecah!


Sudahlah ini saatnya bermain-main dengan wanita sundel bolong itu, sambil menunggu surat gugatan dan bukti semua keluar aku akan terus mengerjainmu.


"Oke Pak, nanti malam jam sebelas, ini nomernya," aku memberikan kartu nama ke pak Mat.


"Oke Bu, saya akan kabarin nanti malam,"


"Ya pak. Ingat! Ularnya harus aman, jangan sape gigit target saya. Entar dia mati saya yang ribet," ucapku waspada.


"Di jamin aman Bu. Ibu tenang saja,"


Aku tersenyum lebar mendengarnya. Memang senang melihat mereka sengsara karena ulah mereka sendiri.


Mas Rafi, aku sudah tidak ada niatan lagi untuk melanjutkan pernikahan kita yang terombang ambing maafkan aku tapi ini juga salahmu. Untuk masalah Thea, aku yakin dia tidak akan keberatan. Lagian apa lagi yang harus dipertahankan dengan sosok ayah penghianat seperti itu.


"May, kamu dari mana? Kok baru pulang? Perasaan kamu berangkatnya dari tadi pagi deh," tanya Mas Rafi kepadaku.


Aku tersenyum manis padanya lalu membelai bahunya,"Ada urusan,"


"Oh, kamu udah makan?"tanya Mas Rafi.


Soh perhatian!


Baru inget apa gimana? kalau kamu sudah punya istri?


"Udah, Mas aku boleh tanya nggak?"


"Tanya apa?" Sebelah alis Mas Rafi menaik.


"Buat apa uang yang Mas ambil di restoran?"tanyaku menatapnya dalam.


Tiba-tiba tingkah Mas Rafi aneh, dia gelagapan seperti orang yang ketakutan dan panik.


"A-anu itu dek, u-uangnya buat investasi bisnis Mas," jawabnya gugup.


Apa investasi bisnis? Aku tidak mempercayainya.


"Bener buat investasi Mas?" Tanyaku menatapnya semakin dalam dan serius. Mas Rafi mengalihkan wajahnya dari tatapanku, aku tau dia berbohong.


"I-iya,"


huh,

__ADS_1


Aku menghela nafas pendek. Baiklah untuk kali ini, aku ikhlaskan uang dua ratus juta itu. Tapi ingat, itu adalah terakhir yang bisa dia ambil dari restoran. Karena semua restoran akan di pegang oleh ku.


"Oh, yaudah aku mau mandi dulu," kataku tersenyum manis padanya.


"Iya," jawabnya, aku membalikan badan ingin segera pergi ke kamar mandi.


"Eh sebentar, Mas," ujar ku membalikan badan.


"Ke-kenapa?"tanyanya masih dengan nada gagap eh maksudnya gugup


"Beli sianida dimana ya?" Tanyaku. Mata Mas Rafi tiba-tiba membulat terkejut dan bibirnya menganga.


"Ka-kamu beli sianida buat apa?"


Dasar penakut! Baru ditanya begitu saja sudah takut.


Aduh suamiku, lucu sekali wajahmu itu.


"Buat ngeracuni orang," jawabku asal.


"Hah? Kamu mau ngeracuni orang ? Siapa?'' Tanya Mas Rafi terkejut.


"Mas nggak usah kepo deh, lagian juga mana mungkin istrimu yang secantik dan seimut ini mau ngeracunin orang tapi...."


"Tapi apa?" Panik Mas Rafi, aku tahu dia takut aku membunuh orang atau dia takut kalau aku tahu tentang perselingkuhanya.


Oh, suamiku tersayang kasihan sekali dirimu, kau kira aku ini wanita bodoh apa. Yang bisa kau bodohi seenakmu sendiri.


Namun sayang nya tidak. Malah kau sendiri yang bodoh.


Mungkin dia lupa kali siapa istri cantiknya ini, atau ia belum sadar.


Sudahlah itu nggak penting. Yang terpenting saat ini aku bisa happy-hapyy dulu, bersenang-senang dengannya dengan wanita simpanan mu itu.


"Tapi kalau orang itu mengkhianati bahkan menyakitkan hatiku, dia pantas untuk di sianida kan," jawabku langsung melenggang pergi. Meninggalkan Mas Rafi yang masih bertanya-tanya.


Mampus!


Bodoh amat ah, biarin dia pusing.


Mangkanya jadi suami jangan sok sokan selingkuh, apalagi sukses bantuan istri aja bangga. Sadar lelaki, tak tau diri.


Jahat lah di porsinya, jangan berlebihan tapi harus kejam, eh.

__ADS_1


Perlahan namun pasti Mas, aku akan melepaskanmu pergi bersama sundel bolong itu, tapi tak kan ku izinkan kamu membawa serupiah pun uang hasil bisnis kita pergilah bersamanya, mulailah usaha dari nol seperti kita dulu.


Tenang, satu minggu lagi semuanya akan berakhir.


__ADS_2