
Itu artinya, aku bisa memenangkan hak asu Thea dan merebut semua harta Mas Rafi.
Aku harus bisa menang di pengadilan nanti,
"Pak Rafi begini..." ucapku memulai pembicaran.
"Begini apanya?" Potong pengacara Arman.
Hih, aku belum ngomong Bambang!
"Jadi begini, saya dan suami saya ada problem ," kataku. Terlihat alis kanan pengacara Arman mengangkat ke atas.
"Problem apa?"
"Suami saya selingkuh, saya ingin menggugatnya tapi...."
"Tapi?"
"Saya ingin semua hartanya jatuh ke tangan saya, apa bisa?"tanyaku penuh harapan.
"Sebentar, apa kalian selalu cekcok? Atau dalam kata lain sering bertengkar?" Tanya pengacara Arman, aku menggeleng, toh memang benar aku jarang bertengkar dengan Mas Rafi.
"Hmm, apa suami anda tahu kalau anda ingin menggugat cerai?"
Aku menggeleng.
__ADS_1
"Lalu,"
"Saya ingin gugatan itu sebagai surprise untuknya, sekaligus hadiah atas perselingkuhannya," jawabku tersenyum sinis.
"Apa anda punya anak?"
"Punya, mananya Thea. Dia baru berusia lima tahun," jawabku.
"Apa anda ingin hak asu anak jatuh ke tangan anda?"
"Ya, tentu."
"Hak asuh anak muda sangat bisa jatuh pada tangan anda karena usianya masih di bawah umur lalu?"
"Saya ingin semua harta suami saya jatuh ke tanganku, apa bapak bisa?"tanyaku. Pengacara Arman memijat pelipisnya ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibirku.
"Saya tidak yakin, karena itu milik suamimu," jawabnya.
"Lalu saya harus bagaimana agar harta suami saya jatuh di genggaman saya?"tanyaku serius.
"Saya bisa membantu anda mendapatkan harta namun... harta gono-gini bukan seluruhnya."
Apa?! Terus bagaimana caranya menguasai harta Mas Rafi?
"Hah? Apa yang harus saya lakukan agar semua hartanya jatuh ke tangan saya?"tanyaku menggebu-gebu.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, anda bisa berfikir sendiri bagaimana caranya,"
Pengacara apaan kalau begini? Aku ingin semua harta jatuh ke tangan ku bukan hanya gono gini!
"Bapak gimana sihh! Kan saya mau sewa bapak agar bisa memenangkan semua ini di pengadilan?" Kataku sedikit menaikan nada suara, tetapi pengacara Arman masih terlihat santai bahkan menyeruput kopinya.
"Tenang Bu, saya pengacara profesional, saya hanya bisa membantu di sekitar kewajiban saya. Kalau lebih dari itu adalah kewajiban pihak yang menyewa jasa saya yaitu ibu."jawab pengacara Arman amat sangat santai.
Omaygat!!!
"Haduh, baiklah. Aku mengerti sekarang," kataku mencoba pasrah.
"Kapan ibu akan menggugatnya?" tanyanya.
"Saya ingin secepatnya dan surat gugatan itu keluar beberapa hari lagi!"jawabku mantap.
"Baiklah, saya akan mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk di pengadilan nanti, ibu langsung bisa mengajukan gugatan itu pada pengadilan dan pengadilan akan mengurusnya segera,"
"Baiklah, akan saya lakukan setelah dari sini, terima kasih Bapak Arman. Maaf saya tadi sedikit terbawa emosi," ucapku
"Tidak masalah,"
"Terima kasih sekali lagi,"
"Ya, sama-sama."
__ADS_1