Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 2


__ADS_3

Assalamu'alaikum Mbak Raina." Salam ku pada Raina selingkuhan suamiku, hari ini aku sengaja datang ke rumahnya sekedar ngobrol-ngobrol atau lebih tepatnya menghibah, yang sering di lakukan ibu-ibu atau emak-emak kalau sedang ngumpul.


"Walaikumsalam, eh Mbak May. Ada apa?" Tanya Raina membukakan pintu untukku. Yang membuat aku melongo adalah pakaiannya, ia memakai piyama super mini yang pastinya menonjolkan lekuk tubuhnya yang erotis.


Kalau begini pantas saja suamiku ke cantol dengannya, dasar ulat bulu. Guman ku dalam hati menelan Slavina ku susah payah.


"Ini loh Mbak saya bawakan makanan." Kataku menunjukkan rantang makanan yang aku bawa, sengaja aku membawahkan makanan untuknya agar terlihat lebih akrab, itung-itung sebagai rasa kasihancku karna dia jarang makan seperti yang ku tau kalau suamiku setiap kali datang kemari pasti minta makan dariku.


Mana mungkin sihh, si dia masakan membuat tubuh mulusnya jadi jelek saja. Ada-ada saja pemikiran mu ini May, wanita di depanmu ini mana mungkin masak, kalau ia masak bisa-bisa kulitnya itu kasar, membuat pesonanya menjadi berkurang.


Ini adalah awal mula perang di mulai. Kita lihat saja siapa yang menang.


Tenang saja!


Aku tidak memberinya racun atupun sianida, aku tak sejahat itu. Hanya saja aku menambahkan sedikit cairan racun tikus untuknya, eh tidak-tidak. Aku tidak memberi apapun, kasihan. Jika dia langsung mati karna aku belum melihatnya memelas minta maaf kepadaku.


"Oh iya Mbak, mari masuk."


Wah, kesempatan emas ini, aku harus menjadi mata-mata untuk melihat rumah Raina. Tanpa menunggu lama aku langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamunya, rumahnya terlihat wajar saja, ada jendela, pintu, tembok, atap dan lain-lain.


"Sebentar ya, Mbak May. Saya ambilkan minum dulu," kata Raina memintak izin. Raina berjalan pergi, aku tersenyum.


Aha!


Aku punya ide, akan aku beri ketakutan padanya. Maaf ya Raina, aku memang kejam tapi itu kerena kamu ingin bermain-main dengan seorang Maysa, si wanita cerdik dan pintar yang tak perna tertandingi oleh siap pun.


Raina tak muncul muncul membuatku bete, mataku seperti mata elang yang melihat-lihat seluruh ruangan tamu karen jenuh.


"What!" Teriakku dalam hati.


Tak sengaja mataku terpaku pada sebuah kemeja yang menggantung di balik sofa.


Itu sepertinya kemeja laki-laki, tapi bukankah disini Raina tinggal sendirian? Ada yang tidak beres ini, aku terus memperhatikan kemeja itu sampai akhirnya. Aku ingat kemeja siapa itu.


"Mas Rafi kurang ajar!" Gumanku dalam hati.

__ADS_1


"Itu kemeja suamiku! Emang mintak di smackdown Mas Rafi! Awas aja kau Mas, tak akan aku biarkan kamu bahagia dengan ulat bulu itu.


"Benarkan apa yang aku duka dia sedang main dengan wanita ini, awas ya kalian berdua akan mendapatkan balasan yang setimpal dari ku. Kita lihat saja sampai kapan kalian akan bertahan dengan hubungan ini," umapatku kesal.


Emosiku langsung memuncak ketika melihat Raina datang sambil tersenyum.


Pura-pura sekali dia. Dia pikir aku tak tau apa, dasar sundel bolong. Terlihat oke di depan tapi di belakang bolong. Huh, lama-lama ku masukkan kalian ke dalam botol terus aku ceburkan ke kali citanduy! Umpat ku kesal dalam hati.


"Ini Mbak, silahkan di minum," Raina menaruh teh hangat di hadapanku lalu ia duduk di sampingku.


"Terima kasih Mbak."ucapku pura-pura tersenyum, aku curiga dengan teh hangatnya. Apa dia memberikan sianida di dalamnya.


"Mbak, boleh saya tanya?" Tanyaku sedikit sopan.


"Oh boleh Mbak, silahkan." Jawab Raina tersenyum.


"Mbak di sini tinggal sendirian, "kan?"


Raina mengangguk pelan.


"Terus itu kemeja laki-laki siapa," aku menunjuk kemeja suamiku dengan tangan sedikit bergetar kesal.


"I-itu punya pacar saya Mbak," Jawab Raina gugup.


Hatiku menggebu-gebu, rasanya tanganku gatal ingin menjambak si sundel bolong itu. Enak sekali dia bilang suamiku adalah pancarnya. Belum tahu dia rasanya di sate mungkin!


"Oh gitu Mbak, semoga langgeng ya sama pacarnya."Ucapku menahan tangan yang hampir kelepasan.


"Aamiin, Mbak makasih!" Jawabnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Uwow, benar-benar minta di sate dia. Enak saja suamiku akan menjadi kekasihnya sampai langgeng, tidak akan langgeng lihat saja nanti. Apa yang bisa aku lakukan untukmu wanita sundel bolong, Guman ku dalam hati menampakkan senyum agar tidak terlihat.


Huh, menyebalkan!


"Mbak, lihat berita tadi pagi enggak?" Tanyaku dengan tangan yang sudah siap mengepal memukulnya namun sekuat tenaga ku tahan.

__ADS_1


"Berita apa ya, Mbak?


Wah, ternyata si sundel ini nggak nonton Tv, Pas banget ni aku gunakan sindiran. Dasar wanita bodoh. kita lihat saja apa kau akan percaya dengan perkataan ku, si sundel bolong. Guman ku dalam hati dengan sedikit tersenyum agar tidak ketahuan.


"Berita tentang pelakor yang dibunuh sama istri sah pacarnya. Huh, kasihan banget tahu Mbak. Mana tuh pelakor nggak tau diri lagi, kalo saya yang jadi istri sahnya mungkin pelakornya sudah saya mutilasi untuk dijadikan santapan anjing tetangga," jawabku berceloteh sambil menyindir.


Aku lirik Raina yang salah tingkah, haha. Mantap banget kan aku menyindirnya dan dia percaya dengan ucapan ku dati dasar wanita bodoh.


"Masa sihh, Mbak? Itu pelakor nya nggak punya otak kali ya," sahut Raina.


Tuh kan dia percaya dengan ucapku, si sundel wanita bodoh. Wow.. amazing, dia masib bisa menghujat pelakor lain tanpa ngaca.


"Iya Mbak, hih amit-amit deh," balasku sambil mengedikkan bahu ku jijik.


"Iya, Mbak kalo ada pelakor sikat aja!" Sahut Raina terkekeh.


Wah, wahhhhh... pelakor tak tahu diri dia rupanya sudah di sindir malah ngomporin, widi mantap kali aku bisa ngerjain dia.


"Hih, kali suami saya kepicut sama pelakor, saya kebiri nanti," ucapku penuh penekanan.


"Biar nggak ke luar masuk sangkar ya, Mbak,," Tanya Raina tertawa.


"Iya, takut kena HIV juga," jawabku ngasal.


"Hahaha..., Mbak May bisa aja."


Dia tertawa? Hmm. Sekarang kamu bisa tertawa Mbak sundel. Tapi lihat saja, akan aku beri pelajaran dengan sangat-sangat cantik, namun sayang bodoh.


"Mbak, kalo saya boleh tau Mbak punya anak?" Tanyaku penasaran.


"Punya Mbak, tapi ikut ayahnya,"Jawab Raina


"Oh gitu, emangnya Mbak kenapa bisa pisah gitu?" Tanyaku semakin penasaran.


"Biasalah Mbak, suami saya cemburu an alhasil ya pisah karena kita berantem terus setiap hari," jawabnya bergitu gamblang.

__ADS_1


Yaiyalah Mbak suamimu cemburuan. Wong dirimu saja ganjen Mbaknya!"


Untuk matan suami Raina aku hanya ingin mengatakan, keputusanmu sangat-sangat tepat, ku doakan kau tidak lagi mendapatkan wanita seperti mantan istrimu ini.


__ADS_2