Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik

Suamiku Selingkuh, Aku Main Cantik
Part 28


__ADS_3

Di salah satu kafe ternama di Jakarta aku dan Pengacara Arman sedang berbincang-bincang sebentar sambil memberikan berkas yang diperlukan Pengacara Arman untuk persidangan ku nanti.


''Kira-kira kapan surat dari pengadilan akan keluar, Pak,"


"Secepatnya Bu, selesai dari sini saya langsung mengurung surat perpisahan ibu,"


"Kurang lebih semingu lagi, surat itu akan keluar,"


"Baik Pak, saya tunggu infonya."


"Oh ya Pak, Masalah harta Mas Rafi apa kan masih belum bisa Bapak usahakan agar jatuh ke tangan saya,"


"Jawaban saya sama seperti kemarin, Maaf saya tidak bisa bu,"


"Usahain dong Pak, Bapak gimana sihh! Kan saya sewa bapak agar bisa memenangkan semua ini di pengadilan?" Kataku sedikit menaikan nada suara,


Lagi-lagi pengacara Arman masih terlihat santai bahkan menyeruput kopinya.


Benar-benar menyebalkan.


Rasanya tangan ku ini gatal ingin mencabut itu


kopi terus ku siram ke mukanya.


Kalau tidak ingat hukum di negri ku ini mungkin sudah dari tadi ku lakukan.


"Tenang Bu, saya pengacara profesional, saya hanya bisa membatu di sekitar kewajiban saya. Kalau lebih dari itu adalah kewajiban pihak yang menyewa jasa saya yaitu ibu."jawab pengacara Arman amat sangat santai


"Kalau harta itu diganti dengan nama anak saya kan bisa, Pak,"


"Nanti saya usahakan, ya bu,"


"Baik Pak, saya tunggu kabar baiknya. Maaf jika tadi ucapan saya sedikit kasar,"


"Tidak Masalah ,bu,"


''Sekali lagi saya minta maaf,"


"Iya bu Tidak masalah,"


"Terimah kasih,''

__ADS_1


Selesai menemui Pengacara Arman aku langsung meluncur mencari tempat strategis untuk membangun usaha baruku.


Aku tidak harus mengharapkan uang Mas Rafi yang belum tentu ku dapatkan. Aku harus memikirkan masa depan anakku.


Aku ingin membuktikan pada dunia aku bisa menjadi single mom sukses tanpa bantuan siapa pun.


Dengan uang dari ancaman itu. Dari pada uang itu aku buat foya-foya mending aku buat bisnis baru jauh lebih bermanfaat


Seusai menemukan tempat yang ku inginkan. Segera ku meluncur ke agen properti untuk mengurus surat jual belinya.


Selesai dari situ aku segera pulang ke rumah kasihan anak ku tinggal sendirian di rumah.


Entah kemana larinya suami pengecut ku itu.


Sesampai rumah ku lihat Mas Rafi duduk di sofa nyamanku sambil bermain bersama Thea.


"Dari Mana saja May,"


"Seharusnya kata itu ku tunjukkan ke kamu Mas,"


"Dari mana kamu saja kamu, mulai kemarin malam tidak ada," Ucapku sedikit kasar.


Nggak tau apa istrinya lelah begini, baru dateng sudah ngajak ribut aja.


"Urusan apa, jangan bilang kamu cari bukti palsu untuk di tunjukkan kepadaku," ku lihat wajah Mas Rafi sedikit tegang.


"Kamu bicara apa sih May, Jangan ngawur De!"


"Oh takut ya, kamu cari bukti palsu untuk Mas tunjukkan ke aku, nyata nya kan Mas Belum ngasih aku bukti atas investasi yang Mas lakukan,"ucapku sedikit melunak


"Nggak May, Mas tidak perna melakukan apa yang kamu tuduhkan tadi,"


Ck, mulutnya perlu di suci dulu biar bersih


"Oh, ya sudah kalau gitu, mana bukti yang ku minta kemarin,"


"Besok aja yah May,"


''Tidak ada kata besok, Mas lupa apa yang May katakan kemarin Malam, perlu May ulang,"


"Tidak May, Mas tidak lupa. Hanya saja Mas lupa naruhnya dimana."

__ADS_1


''Mas sudah nyari kemana-mana tapi tak kunjung ketemu juga,"


Ck, Mulutnya perlu di kasih baygon sekalian bukan mulutnya aja yang berhenti tubuhnya juga, arwahnya pindah ke alam lain.


"Aku ngak butuh alasan, aku butuh bukti,"ucapku sedikit geram


"Besok aja ya May,"ucap Mas Rafi memelas.


"Mas udah lelah nyari sana mari ngak ketemu-temu juga,"


"Besok ya." bujuknya.


"Ya May besok, Mas janji de besok pagi Mas langsung kasih itu bukti ke kamu,"


Aku diam sejenak aku lupa. Sekitarku masih ada anak kecil yang mendengarkan pertengkaran orang dewasa.


Lebih baik ku udah i aja pertengkaran ini.


Yang penting, dan bagaimanapun nantinya pasti aku yang akan menang.


"Nggak masalah besok, tapii....,"ucapku dengan sedikit senyum yang tak bisa diartikan.


"Tapi apa May,"terlihat wajah Mas Rafi ketakutan


"Tapiii..., untuk malam ini kamu tidur di luar, aku nggak mau alasannya apa,"


"Tapi Mas lelah. Mas mau istirahat sebentar saja. Lagian bagaimana caranya Mas nyari kalau kamu usir, kan lemarinya ada di dalam kamar may,"


"Aku nggak mau tau, Mas keluar sendiri apa perlu May tarik, tapi jangan salahkan May, kalau may durhaka sama Mas,"


"Ini adalah hukuman yang sangat ringan Mas, jalani saja, kamu pasti suka. Sudah sana jangan banyak bengong. Sebelum sepatu hak tinggi ku melayang," Mas Rafi langsung pergi dengan wajah sedikit geram.


Aku tak perduli,


Ku langkahkan kaki ku ke dalam kamar. Sebelum itu ku minta Bik sumi mengantarkan Thea ke dalam kamarnya.


Selesai mandi, badan segar kembali pikiran kembali rileks. Ku baringkan tubuhku di atas kasur dan bersandar di tepian kasur dengan janggal bantal.


Aku tersenyum mengingat perkataan ku tadi kepada Mas Rafi.


Ternyata aku bisa kejam juga ya!

__ADS_1


Entahlah kemana dia pergi. Entah ke rumah sundel atau yang lain.


Namun naluri ku berkata Mas Rafi pasti ke rumah nenek gayung itu. Semakin kamu menjadi-jadi semakin banyak pula bukti yang ku kumpulkan demi melanjutkan rencana ku.


__ADS_2