Suara Di Kepala Sang Rival

Suara Di Kepala Sang Rival
Bab 9: Konstruk 2


__ADS_3

Pembuatan Thaumaturgy konstruk yang Verite lakukan berjalan dengan lancar, setelah menyerahkan pembuatan kaki dan tangan konstruk ini ke Helian dan Caena dia tinggal membuat bagian tubuh dan kepala konstruk.


Dia memilih untuk bekerja di bagian kepala dan badan konstruk karena dia akan menempatkan batu mana dan semua pathway thaumaturgy terletak di bagian dada konstruk ini.


Jadi ini adalah pekerjaan yang hanya Verite bisa lakukan, Verite juga akan menambahkan ukiran formula ke tangan dan kaki yang Helian and Caena pahat setelah mereka selesai.


mengukir sebuah formula adalah hal yang sederhanda, Verite akan melakukannya setelah semuanya selesai karena Verite masih merahasiakan kemampuan Thaumaturgy nya dari orang lain.


'Verite.' Mefras bersuara di kepala Verite.


'Iya?'


'Tentang menyembunyikan kemampuan Thaumaturgy kamu, bagaimana kalau kamu ceritakan kepada Caena dan Helian?' Tanya Mefras.


'Huh, Tapi kamu yang menyarankan aku untuk merahasiakan kemampuan ku untuk sementara.' Bilang Verite, merasa bingung kenapa Mefras merubah pikirannya.


'Iya sih, Aku masih berpendapat bahwa memamerkan kemampuan Thaumaturgy kamu itu tidak baik tetapi aku rasa menunjukkan kemampuan kami kepada mereka berdua adalah hal yang tidak buruk, paling tidak kalau boneka yang mereka buat bekerja.' Bilang Mefras.


'Ah' Verite mengerti maksud Mefras. 'Iya, jika aku berhasil membangun sebuah Boneka konstruk yang hidup aku paling tidak harus memberi tahu teman sekamarku.'


'Iya, biarpun seberapa baiknya kita menyembunyikan kemampuan kamu, jika aku bergerak dengan konstruk itu maka cepat atau lambat rahasia kita akan keluar.' Jelas Mefras.


'Baiklah, aku akan memberitahu mereka jika kita berhasil.' Verite memutuskan, dia akan memberi tahu Helian dan Caena jika dan hanya jika Mefras berhasil menggunakan Thaumaturgy konstruk itu sebagai tubuhnya.


Verite melihat hasil ukiran di tangannya, dada dari konstruk itu sudah hampir selesai, tapi sayangnya dia harus menunda menyelesaikannya karena dia masih harus bekerja, jadi dia taruh dada konstruk itu ke dalam lemarinya dan siap berangkat.


Sesudah melapor dengan pak Jardi seperti biasanya Verite berjalan keluar, sebelum dia berlangkah jauh dari Blooming Bud Helian dan Caena datang menyapanya.


"Hey Verite, kamu mau ke Bloom and Gloom?" Tanya Helian.


"Iya seperti biasa, kalau kamu Caena?" Tanya Verite.


"Aku juga mau kesana." Jawab Caena.


"Kamu ingin membeli barang?" Tanya verite, mungkin kayu mana yang dia berikan tidak cukup atau rusak?

__ADS_1


"Oh tidak, aku juga akan kerja disitu." Jawab Caena. "Kamu tahu pekerja yang patah kaki itu? Katanya dia berhenti bekerja di Bloom dan Gloom." Jelas Caena.


"Ah dia gak apa apa?" Tanya Verite.


"Aku tidak tahu." Caena mengeleng kepalanya.


"Aku harap dia bisa sembuh, cedra seperti itu akan menyusahkan kehidupan sehari hari mi." Bilang Helian


"Iya." Setuju Verite. "Aku tidak mau membayangkan apa yang terjadi jika aku tidak bisa berjalan." Verite merinding membayangkannya.


"Ngomong ngomong bagaimana kerja kalian dengan bagian konstruk itu?" Tanya Verite, mengalihkan pembicaraan.


"Ah, aku sudah membuat tangan kirinya, aku mungkin bisa membuat tangan kananya besok,  juga biar kubilang tangan itu tidak terlihat seperti tangan manusia, kamu mendapat desain itu dari mana Verite?" Tanya Helian.


"Oh aku sama, Aku sudah menyelesaikan kaki kanannya, besok mungkin aku bisa menyelesaikan kai kirinya." Caena membicarakan kemajuannya. "Dan aku setuju dengan Helian, desain itu tidak terlihat seperti desain manusia." Bilang Caena.


"Ah itu adalah desain yang pernah aku lihat di suatu buku cerita, cerita tentang raksasa merah yang melawan monster dari langit luar." Bilang, desain itu memang benar terdapat dari sebuah cerita, cerita yang Mefras ceritakan kepada Verite.


"Ooooooh... Kamu masih punya bukunya? Aku ingin melihatnya." Tanya Caena.


"Sayangnya aku tidak punya buku itu jadi maaf mengecewakan kalian." Jawab Verite.


'Mungkin kamu bisa menggambarkannya untuk mereka.' Mefras bilang.


'Aku bisa menggambar sedikit tapi menggambar hal kayak gitu akan memakan banyak waktu ku." Bilang Verite, Mefras sudah menunjukkannya beberapa gambar dari buku cerita yang dia baca, jumlah detil yang pelukis masukkan ke gambar gambar itu benar benar gila.


'Iya, lebih baik memakai waktunya belajar Thaumaturgy ya.' Tambah Mefras.


'Ya begitulah,tapi sebagai catatan itu bukan berarti aku tidak tertarik untuk menggambar ya.'


'ya tentu, lebih baik kamu memiliki banyak keahlian, jadi psa kamu dewasa kamu bisa punya banyak pilihan untuk bekerja.'


'Pilihan ya...' Pikir Verite, dia menekuni Thaumaturgy karena dia menemukan bahwa dia punya keahlian di bidang, mungkin jika Verite punya keahlian lain dia akin memilih bidang lain.


'Kamu masih muda ambil banyak pengalaman dan kamu bisa memilih apa tempatmu di masyarakat saat kamu dewasa."

__ADS_1


Hal yang dikatakan Mefras ini mebuatnya berpikir tentang masa depannya.


"Verite kenapa kamu diam?" Tanya Caena, dia melihat Verite dengan agak khawatir.


"Tidak apa apa Caena..." Verite berhenti. "Caena, Helian..."


"Iya Verite?" Helian dan Caena berhenti dan melihat Verite.


"Apakah kalian punya gambaran  tentang apa yang kalian lakukan setelah kalian dewasa?" Verite memutuskan untuk bertanya kepada dua orang yang seumur denganya.


Caena diam, dia berpikir tentang apa yang dia akan lakukan "Sebelum kamu bertanya tentang ini aku tidak terlalu memikirkannya, aku kira aku akan memilih salah satu pekerjaan yang disalurkan oleh Blooming Bud tapi sekarang aku tidak yakin..." Caena melihat ke Helian, yang tampangnya agak ragu. 'Bagaimana kalau kamu Helian?"


"Aku..." Helian diam. "Aku tidak tahu juga, aku hanya mengikuti apa yang orang dewasa katakan selama ini." Bilangnya.


"Ah, sepertinya kita semua belum memikirkan masa depan ya." Bilang Verite, merasa lega karena bukan hanya dia yang memiliki keraguan.


"Memang kenapa kamu bertanya seperti itu Verite?" Tanya Caena.


"TIdak apa apa, pertanyaan ini tiba tiba muncul di pikiranku." Jawab Verite.


"Sekarang kamu membuatku memikirkannya juga." Caena berkata sambil memegang dahinya.


"Ya, ini tentunya sebuah bahan untuk dipikirkan." Kata Helian, Dia terlihat serius.


Verite merasa dia sudah membuka sesuatu yang tidak seharusnya dibuka.


'Lihat di positifnya.' Timpa Mefras. 'Ini berarti kalian menjalani hidup yang begitu nyaman kalian tidak perlu khawatir tentang hari esok.'


Verite tidak menghiraukan Mefras dan bicara kepada teman temannya. "Aku gak bermaksud apa apa bertanya soal itu, kita masih muda, masih banyak waktu untuk memikirkannya." Verite mengulangi kata yang sering Mefras ucapkan.


"Iya, aku kamu benar, aku mungkin harus lebih serius tentang masa depanku." Caena bilang.


"Iya, aku harus memilih..." Helian bilang, suaranya agak suram.


"Ya, pertama tama kita harus melakukan pekerjaan kita terlebih dahulu." Verite mengingatkan kenapa mereka di luar saat ini.

__ADS_1


__ADS_2