
Melihat apa yang dirinya lakukan Verite bangun dan membersihkan debu dari pakaiannya, dia merasa benar benar lelah, adrenaline meninggalkan tubuhnya, dia melihat apa yang tersisa dari konstruk Mefras dan mengambilnya.
‘Aku rasa kita perlu membuat tubuh baru untukku.’ Mefras bilang.
‘Kamu tidak apa apa Mefras?’ Verite bertanya, Mefras tidak hanya meloncat ke wajah monster yang jauh lebih besar darinya tetapi juga menjadi korban serangan Verite.
‘Iya, konstruk itu hanya tubuh sementaraku, jika konstruk itu hancur aku akan kembali ke dalam tubuhmu.’ Mefras bilang, ‘Aku akan merindukan tubuh tubuh konstruk itu tapi kehidupanmu jauh lebih berharga dari robot kayu itu, kita bisa membuatnya lagi.’ Mefras menenangkan Verite.
‘Iya, aku tahu itu, tetapi konstruk itu adalah karya pertamaku jadi aku tidak bisa tidak merasa sentimental.’ Bilang Verite.
‘Ah, tidak apa. Aku mengerti, aku juga sering memiliki sebuah rasa sayang terhadap benda yang sering digunakan, seperti ketika aku sudah lama memakai laptop dan enggan menggantinya saat diinginkan.’ Mefras mengingat laptop lamanya dan sekarang dia teringat dengan game game yang dia simpan dan tak akan pernah selesaikan.
‘Paling tidak dunia ini lebih menarik dari duniaku.’ Mefras menyuarakan pikirannya.
‘Tapi dunia ini lebih berbahaya.’ Verite membalas.
‘Betul, tetapi menghindari bahaya tidak akan membuat kita senang, kita semua akan mati suatu hari nanti, aku mati karena terpeleset kulit pisang, jadi bagaimana kalau kita mengejar yang tinggi?’ Mefras bertanya.
Verite berpikir, pertarungan dengan monster burung ini membuat Verite merasa takut akan hidupnya, di saat itu adalah saat yang paling dekat untuk Verite dengan kematian.
Saat paruh monster itu hampir memutuskan lehernya Verite merasakan semua kehidupannya berkedip di matanya, dia menemukan seberapa rentah kehidupan manusia, seberapa mudahnya api kehidupan bisa hangus.
Mefras sudah menceritakan kepada Verite seberapa konyolnya kematiannya, tapi mendengar cerita orang dan benar benar mengalaminya adalah sesuatu yang berbeda.
Verite tidak tahu apa yang akan dia lakukan nanti, apakah dia ingin mengejar mimpi yang tinggi atau puas dengan yang dia lakukan sekarang tapi Verite tahu apa yang dia akan inginkan sekarang, dia ingin mandi dan tidur.
“Verite kamu tidak apa apa?” Seorang gadis muda berambut coklat kemerahan mendekatinya, dia adalah Datura, anak dari petani yang di serang oleh babi hutan sebelumnya.
“Iya aku tidak apa apa.” Verite menjawab. “Aku lebih khawatir dengan temanku.” Dia bilang, berpikir dengan apa yang terjadi dengan Regulus dan Helian.
Regulus tiba tiba muncul dari belakang, “Sepertinya kamu tidak perlu bantuanku ya? Aku hampir turun tangan sebelum kamu melempar konstrukmu ke wajah monster itu.” Regulus berkata.
“Huh, apakah kamu mengawasi ku?” Verite bertanya.
“Iya, sejak kamu pergi aku sudah mengikuti mu.” Dia mengkonfirmasi.
__ADS_1
“Jadi kenapa kamu tidak menolongku?” Verite bertanya, tidak seperti Helian Verite tidak punya sebuah ganjaran di misi ini.
“Aku hanya ingin mengukur kemampuanmu, Duke Bloome menawari mu untuk menjadi muridnya secara pribadi jadi aku mengira kamu memiliki bakat yang tinggi dan aku benar, aku juga akan meloncat jika aku merasa kamu dalam bahaya.” Bilang Regulus.
“Aku mau marah denganmu tapi bagaimana tentang Helian?” Verite bertanya.
Regulus hanya menunjuk ke belakangnya dan Verite bisa melihat Helian mendekati mereka, dia terlihat kotor dan lelah,mungkin lebih dari Verite.
“Apakah kamu baik baik saja Helian?” Verite bertanya.
Helian menangguk. “Aku berhasil mengalahkannya, sayangnya aku tidak bisa membawanya kesini.”
“Aku penasaran, kenapa kamu membahayakan hidupmu seperti ini?” Verite bertanya, dia tidak yakin Helian akan menjawab tai dia penasaran apa yang membuatnya mampu membahayakan dirinya seperti ini, apalagi jika di memilih menjadi petualang dia mungkin akan menemui bahaya yang lebih dari ini.
“Kalau ditanya kenapa… jawabanku adalah aku ingin bersiap siap untuk masa depan.” Helian menjawab.
“Kalau kamu mati disini kamu tidak akan punya masa depan?” Verite bertanya.
“Iya, tapi semua orang akan maat suatu hari, aku hanya ingin mempersiapkan diriku untuk menghadapi masa depan.” Helian menjawab.
‘Tidak ada jawaban yang benar Verite.’ Mefras menjawab, sepertinya dia mendengar apa yang Verite pikirkan. ‘Jika kamu tidak mau menjadi murid Duke Bloome itu adalah pilihanmu, ini adalah kehidupanmu, kamu bisa memilih apa yang membuatmu senang dan tenang yang penting kamu memutuskan ini setelah memikirkannya dengan matang.’
Mefras benar, Verite masih memiliki banyak waktu untuk memikirkan keputusannya.
‘Lagipula kamu masi bisa mempelajari Thaumaturgy tanpa menerima tawaran Duke Bloome ataupun menjadi anggota guild petualang.’ Mefras tambahkan.
Dengan itu Verite dan kawan kawan memutuskan untuk beristirahat di desa malam ini.
*****
‘Selamat pagi Verite.’ Mefras menyapa.
‘Selamat pagi Mefras.’ Verite menjawab.
pagi hari telah tiba Verite bangun dari tempat tidur jerami yang disediakan oleh Datura, setelah bangun dan menyiapkan dirinya Verite pergi ke rumah kepala desa untuk bertemu dengan Regulus dan Helian yang tidur di tempat lain, mungkin karena Verite adalah seorang gadis.
__ADS_1
‘Jika mereka berani menyentuh anak gadisku mereka akan mendapat sendal.’ Mefras bilang.
‘Iya iya bapak.’ Verite bilang dengan sinis.
Verite masuk kedalam rumah kepala desa dan melihat Helian dan Regulus sudah duduk menunggu disana, di lantai banyak makanan yang dipajang.
“Silahkan makan dulu, maaf kami tidak memiliki banyak pilihan tetapi silahkan nikmati yang ada.” Nenek kepala desa bilang kepada Verite, Regulus dan Helian sudah memulai memakan makanannya.
“Dengan hewan yang kalian buru semalam desa kami bisa memiliki makanan lebih untuk beberapa minggu jadi aku berterima kasih.” Kepala desa itu menunduk.
“Kami hanya melakukan tugas kami.” Helian bilang.
“Iya, tapi aku tidak memasukkan monster saat mengirim surat permintaan ke guild petualang.” Bilang nenek kepala desa. “Aku tidak menyangka ada monster juga ikut dengan babi itu, mungkin dia melihat kesempatan dan mulai mengikutinya, desa ini hanya berisi dengan anak anak dan orang tua, kami tidak akan bisa melawan mereka jika kalian tidak datang jadi terima kasih.”
“Oh iya Verite, monster yang kamu bunuh aku sudah merapikannya jadi kamu bisa membawanya pulang.” Regulus bilang, melihat ekspresi Verite yang bingung dia menambahkan. “Bagian dari tubuh monster itu lumayan berharga dibanding binatang besar dan tidak akan ada yang mengklaimnya ketika mereka sudah menyaksikan kamu yang memburunya.”
Verite mengerti penjelasannya, Verite membasmi monster itu jadi mayatnya menjadi milik Verite.
setelah mereka makan Verite memutuskan untuk berjalan jalan keliling desa sebelum kembali ke kota Azalea, Helian memutuskan untuk membantu memotong hasil buruannya.
Verite berjalan memutari desa, seperti yang dikatakan kepala desa, desa ini hanya memiliki anak anak dan orang tua, orang dewasa bugar seperti ayahnya Datura tidak terlihat sama sekali.
“Hey…” Seseorang memanggil Verite.
Datura datang dari belakang Verite dan menyapanya.
“Namamu… Verite kan?” Dia bertanya.
“Iya.” Verite menjawab, tidak yakin dengan apa yang dia inginkan.
“Verite… Aku ingin berterima kasih dengan apa yang kamu lakukan.” Datura membungkuk.
“Ah tidak apa apa, aku hanya melakukannya karena aku bisa.” Verite bilang.
“Iya, tapi aku harus mengatakannya, ketika kalian datang aku merasa ragu kalian bisa melakukan apa apa, dalam pikiranku aku mengatakan “Guild Petualang berani mengirim anak anak dan memanggilnya bantuan?” Ketika aku melihat anak anak seumurku datan kesini dan mengatakan mereka akan mengatasi babi hutan raksasa yang membuat ayahku hampir mati.” Datura menunduk lagi. “Jadi sekali lagi maaf dan terima kasih.”
__ADS_1
Verite menangguk, dia memutuskan untuk menerima terima kasihnya.